The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 32 Jalan Surga ku



Selepas maghrib aku dan mas Guntur ke rumah ibu, berniat mengantar oleh-oleh dari Jawa. Tiba di kediaman ibu, tampak bapak sedang menonton televisi. Tampak acara reality show Rina Nose yang sedang menjadi seorang perempuan yang sedang viral, Bapak dan ibu tampak tertawa ketika penonton di televisi itu ikut tertawa, namun saat aku dan mas Guntur mengucapkan salam, seketika bapak dan ibu langsung bungkam.


“Assalammualaikum,” ucap kami bersamaan, aku pun mencium punggung tangan bapak dan ibu. Ibu cepat menarik kasar tangannya saat aku selesai mencium punggung tangannya. Aku pun menyerahkan plastik hitam yang merupakan oleh-oleh dari Jawa. Ibu dan bapak menjawab salam ku dengan dingin. Aku melihat plastik hitam yang ku serahkan masih di letakkan ibu diatas meja. Maksud hati ingin aku sajikan satu bakpia khas daerah ku, namun suara ibu mencegah ku untuk membawa kembali oleh-oleh itu ke dapur.


“Ndak usah disajikan, kamu itu keterlaluan. Pulang dari mudik bukan ke rumah orang tua dulu, malah ke tetangga dulu… Ibu tidak sudih makan oleh-oleh mu. Bawa lagi saja pulang. Kasihkan dengan Neneng atau Ani, sana…!” Ucap ibu penuh emosi, seraya tangannya mengecilkan volume televisi dengan remote kontrol yang  ada di meja.


“Bu… Sekar baru juga pulang… Ibu apa ndak bisa apa-apa itu jangan pakai emosi, itu yang buat darah tingginya sering kumat. Apa-apa kok di buat emosi…” Ucap mas Guntur pelan.


“Halah! Kamu kapan bela ibu, kamu jelas sudah makan guna-guna Sekar, bahkan dulu Arum yang cantik itu bisa kamu tolak Cuma karena Sekar, asal kamu tahu di desa sebelah gosip tentang Sekar sedang begitu hangat.” Ucap ibu tanpa memikirkan perasaan ku, ah aku sudah biasa dan hapal jika ibu lebih percaya ucapan orang lain daripada anak dan menantu. Dan kali ini sudah pasti ibu terpancing oleh provokasi Mbak Ani yang memang sengaja memanasi ibu mertua ku yang memang tingkat keponya cukup tinggi tentang apa yang aku kerjakan dirumah dan apakah aku dan mas Guntur baik-baik saja. Rasanya aneh saat orang tua lain ingin anaknya rukun dan akur, ibu tampaknya menantikan aku dan mas Guntur ribut atau mas Guntur murka pada ku.


Beruntung aku dan mas Guntur sama-sama sudah siap bekal mental, ilmu dan kedewasaan untuk menjalani pernikahan kami.


“Bu, itu yang menyebarkan gosip siapa… Sekar itu ke Jawa, aku yang suruh Bu..” Jelas mas guntur.


“Kok gosip, itu kenyataan, mbah dukunnya sendiri bilang. Itu santet dari Jawa. Lah yang dari sana dan sedang disana kan Sekar, semua orang tahu kalau Arum menyukai kamu, dan Sekar istri kamu.” Ucap ibu seraya memindahkan saluran televisi yang katanya mengajarkan tentang Sunnah nabi, tapi hampir setiap sesi tanya jawabnya selalu mengkafirkan orang yang duduk bersama-sama dan membaca ayat-ayat al Quran yang di susun oleh Ulama terlebih dahulu. Dan saat ini sepertinya ibu menghentikan ibu jarinya untuk kembali memencet tombol remote itu.


“Ganti bu siarannya, itu cari ceramah yang adem kenapa…” Pinta mas Guntur pada ibu karena sang ulama tampak sedang berkobar-kobar mencaci maki seorang pemimpin di daerah. Ibu nya tampak tak mengindahkan permintaanya.


“Bu, kalau saya dan mas Guntur ada salah. Kami mohon maaf….” Ucap ku seraya mengusap lengan ibu yang berada di sisi ku. Ku pijat lengannya, aku hanya berharap hati ibu dilembutkan. Dalam setiap doa, shalawat yang aku lantunkan setiap hari selalu ku sematkan untuk kelembutan hati ibu dan bapak. Aku hanya berpikir jika saat ini ada rasa benci di hati kedua mertua ku, itu tentu Allah yang menaruhnya dalam hati. Bukan karena Allah tidak suka pada ku. Tapi jelas Allah punya cara untuk dekat dengan hambanya, mungkin dengan bencinya Ibu, Bapak padaku. Membuat tangis ku di setiap akhir malam menjadi yang di rindukan Gusti Allah. Aku hanya berusaha memperbaiki diri ku, adab ku pada ibu dan bapak. Jika perkara hasil, aku pasrahkan pada Gusti Allah.


“Salah kamu itu ya karena jadi istrinya Guntu….” Ucap Ibu ceplas ceplos.


“Maaf kalau ibu masih belum bisa suka sama Sekar, apa yang bisa Sekar lakukan bu. Agar ibu mau menerima Sekar sebagai menantu…” Ucap ku seraya menahan air mata yang ingin jatuh. Ada satu rasa yang menyusuri hati ku. Rasa sakit akan ucapan ibu tetapi aku tahu bahwa semua ini adalah ujian untuk ku agar lebih pandai mengolah rasa sabar.


Belum sabar namanya jika tidak dipertemukan dengan mereka yang menguji kesabaran kita, dan dawuh Kyai Abdurahahman Wahid bukan sabar namanya jika ada batasnya. Salah seorang ulama yang aku kagumi, beliau mau di cemooh baik itu fisik atau apapun kebijakannya kala menjabat orang nomor satu di Indonesia, beliau tidak pernah membalas atau menghujat baik. Tetapi beliau paham bahwa Allah lebih bersama mereka yang bersabar. Bahkan air mata beliau kala keluar dari istana kala itu disalah artikan oleh mereka yang punya kebencian untuk beliau, padahal saat itu beliau menangis karena beliau khawatir terjadi pertumpahan darah di negara yang ia cintai, itulah cucu Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari yang sampai saat ini masih aku kenang sebagai Ulama yang mengajarkan cinta, tanpa perlu diucapkan cukup di buktikan dengan ikhtiar walau dirinya sendiri tersakiti.


Begitu pun dengan diriku saat ini, aku harus sering tersakiti oleh Ibu, baik ucapannya maupun sikapnya. Namun aku mencintai mas Guntur, maka aku pun harus menerima kekurangan keluarganya termasuk sikap ibu. Aku yakin suatu saat nanti, doa ku akan di ijabah. Ibu akan menerima aku, menyayangi aku. Hanya Allah yang tahu, aku hanya bertugas ikhtiar.


Tampak ibu kali ini diam membisu, tak ada lagi nada sarkas pada ku. Aku duduk berlutut seraya ku cium punggung tangan ku. Aku tahu, kali ini aku salah. Harusnya siang tadi aku kemari, tapi mas Guntur minta di pijat pinggangnya, dan meminta agar malam saja ke tempat ibu. Maka meminta maaf agar ibu lego pada kami. Aku hanya tak ingin mas Guntur merasa selalu salah bersikap saat ibu terang-terangan menunjukkan kebenciannya di hadapan mas Guntur.


“Hhhhhh… Ibu mau istirahat. Capek.. Bapak mau istirahat apa masih mau nonton?” Tanya Ibu pada bapak seraya menepis tangan ku.


“Bapak masih mau ngobrol dengan Guntur…” Ucap Bapak.


Aku pun kembali ke kursi, ku seka air mata dengan punggung jari ku. Mas Guntur menatap ku dari tempatnya, ia tampak menahan rasa kesalnya pada Ibu.


“Dik, mas ambilkan minum.” Pinta mas Guntur.


Aku paham, mas Guntur ingin agar aku tak merasa sakit lagi kalaupun ada yang ingin kembali kalimat dari bapak yang akan menyakiti hati ku. Ku raih kresek hitam yang berisi oleh-oleh. Aku ke dapur seraya membawa satu nampan dengan ceret juga gelas. Aku pun membuka satu kota lumpia untuk Bapak. Saat kembali di meja depan.


“Kalau memang kamu tidak menyantet Arum, kamu harus membuktikannya…” Ucap Bapak tanpa melihat ku. Aku hanya menunduk, entahlah bagaiamana aku bisa menjelaskan sebenarnya yang terjadi. Tetapi sekalipun aku benar, aku tak berani mendebat mertua ku.


“Pak… itu fitnah, Sekar tidak melakukan hal keji itu…” Bantah mas Guntur.


“Ya, besok aku akan menemui Arum bersama Sekar. Bila perlu aku akan bertemu dengan dukun yang mengatakan jika Sekar yang mengirim santet itu.” Ucap mas Guntur penuh emosi. Namun ia masih mampu menahannya. Andai aku perempuan yang cengeng mungkin mas Guntur akan sering ribut dengan bapak dan ibu. Tetapi aku tak pernah menunjukkan bahwa aku teraniaya oleh bapak dan ibu, walau hati ini berkali-kali tergores, tapi aku memiliki tempat bersandar yang tak akan roboh, tempat mengadu yang pasti ada solusinya, hanya saja waktunya yang tak dapat di prediksi.


Tampak mas Guntur mengalihkan pembicaraan tentang perkembangan kebun dan harga jual beli getah karet yang akhir-akhir ini dibawah harga standar. Biasanya satu kilo harga karet akan mencapai 10 ribu akhir-akhir ini ternyata sempat mencapai angka 5 ribu perkilo.


“Ya itu bapak bingung, Yadi mungkin jadi menikah. Rencana tiga bulan lagi. Apa bapak jual saja kebun satu hektar buat acara ndunduh mantu dan biaya seserahan…” Ucap bapak khawatir.


“Jangan pak… Bapak dan ibu masih butuh untuk masa depan. Nanti biar Guntur ajak bicara Yadi. Disini kita tidak usah acara Pak, kita yasinan saja… jadi biaya sedikit ringan. Kita Cuma memikirkan untuk ke Jawa.” Ucap Mas Guntur memberikan saran. Namun tiba-tiba ibu dari dalam kamar muncul dari balik gorden.


“Tidak! Ibu maunya ngunduh mantu! Sudah ini ibu ndak ada anak lagi yang mau di nikahkan. Arisan ibu yang banyak itu kapan mau diambil, kamu ndak tahu kapan mau marhaban….” Ucap ibu dengan tatapan tak suka dengan saran mas Guntur.


Aku tahu, jika kebun di jual maka nanti ibu dan bapak hanya memiliki 3 hektar kebun, dengan kondisi harga karet sekarang saja posisi mas Guntur yang menyadapnya kadang ibu hanya dapat satu bulan satu juta dua ratus atau paling tinggi satu juta lima ratus, apalagi kalau di kurangi satu hektar.


“Bu… “ Ucapan mas Guntur terhenti saat ia melihat satu kedipan dari mata ku. Aku harus mengingatkan mas Guntur, tak ada hasilnya jika mengajak ibu bicara saat hatinya sedang emosi. Mas guntur pun menuangkan air putih lalu meminumnya, ia pun mengajak aku pulang. Saat tiba dirumah, mas Guntur tampak sulit untuk tidur. Aku yang berbaring di dadanya bisa merasakan jika napasnya masih terdengar belum teratur. Aku membuka kedua mata ku kembali.


“Mas….” Ucap ku pelan.


“Hem… tidurlah…” Ucapnya seraya mengusap rambut panjang ku.


“Mikirin masalah tadi?” Tanya ku.


“Hem…” Jawab mas Guntur singkat.


“Tidur dulu, nanti tak bangunin. Mungkin kita lagi diminta untuk bangun malam berdua…” Ucap ku.


“Kapan ibu dan bapak dilembutkan hatinya ya dik…” Ucap mas Guntur dengan napas yang berat.


“Allah yang lebih tahu, kita ndak boleh maksa mas… “ Semangat ku pada mas Guntur.


“Dosa ga mas ini…. Mas suka kesal sama ibu, apalagi kalau sudah memperlakukan kamu semena-mena. Mau dibentak ibu, di nasehati mental… “ Keluh mas Guntur. Aku bangun dan duduk bersila seraya menatap wajah mas Guntur dari remangnya sinar lampu ruang tengah.


“Dulu, Kyai Rohim tahu dawuh bahwa salah satu kesalahan yang Allah maafkan itu adalah salahnya kita sama orang tua selama kita merawatnya mas, makanya aku ndak mau pas mas pernah mengajak pindah jauh. Kita bisa mungkin mengirimkan uang setiap bulan, tapi beda mas jika kita merawat langsung. Belum lagi pahalanya saat cuma datang ke rumah ibu. Itu kita udah seperti ibadah ke Ka’bah. Berarti kita hampir setiap hari ke ka’bah….” Ucap ku.


Mas Guntur pun duduk di depan ku. Ia genggam tangan ku.


“Aku baru tahu kini kenapa dulu saat pernah mengantar Gus Ali ada pembicaraan dengan Gus Furqon, jika sejatinya lelaki atau perempuan yang menikah itu akan hidup dengan akhlak dan karakter pasangan kita bukan kecantikannya, karena cantik nanti akan luntur saat usia mulai lansia…. Tapi akhlak mu… tidak akan pernah menua, pupus… Kelak suami mu ini akan berdiri membela mu, jika di hari akhir nanti ada yang memberatkan mu,Dik. Karena aku saksi paling akurat bahwa akhlak mu selama di muka bumi ini begitu baik, baik pada orang tua dan aku sebagai suami mu…..” Ucap mas Guntur.


Ah…. Hati ku terasa nyes… adem, apalagi yang aku harapkan di muka bumi ini selain ridho suami ku. Karena suami ku adalah jalan ku ke surga atau neraka. Karena Rasulullah dulu pun pernah bertanya kepada perempuan yang juga ahli fiqh saat selesai membahas fiqh.


‘Bagaimana akhlak mu kepada suami mu?’ seandainya aku yang diberikan pertanyaan itu oleh Rasulullah, apa jawaban ku. Aku khawatir kelak bibir ini justru mengeluh karena suami ku punya ibu yang super keras hati, atau malah aku justru menjawab suami ku tak memberikan aku hidup yang bahagia, ungkapan hati mas Guntur malam ini membuat aku merasakan jangankan satu ibu, seratus ibu pun seperti mertua ku, akan aku hadapi dengan sabar. Karena aku telah memiliki jalan surga ku, ridho suami ku.


"Semoga Allah tidak mengambil rahmatnya yang saat ini aku miliki, mas." Ucap ku seraya merebahkan kepala ku di pangkuannya.~~~~