
Hari demi hari, aku pun sebisa mungkin menutupi rasa gelisah, rasa penat dalam hati ku. Aku tak ingin menambah kesedihan hati Sekar. Ah, istriku itu sangat mengerti mimik wajah ku. Maka sedapat mungkin aku memendam rasa stress ku akan permintaan Bapak dan Ibu untuk menikahi Arum. Sekar adalah istri yang begitu sholehah, ia juga anak yang sholehah. Ia khawatir sekali jika perlakuan ibu padanya akan menyulut emosinya.
Kegelisahan ku kian menguat kala ku lihat perkembangan kesehatan Bapak kian memburuk. Satu dua dari keluarga ku pun memberikan nasihat halus pada ku untuk mempertimbangan permintaan Bapak. Sekar memang mengizinkan aku menikahi Arum. Dan aku tahu bagaiamana Sekar, Ia bukan perempuan lemah, yang akan dengan mudah menangis tersedu-sedu hanya karena luka kecil di tangannya. Maka jika dibandingkan dengan Arum. Sahabat masa kecil itu adalah gadis yang manja, juga terlalu manja bagiku. Sedari kecil, aku tahu ia selalu dituruti kemauannya oleh orang tuanya. Mungkin kehidupannya yang hampir tidak pernah rekosoh, maka mau tidak mau dia selalu merasa ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Kala saat itu aku bertemu dia ketika baru saja mengurus jenazah di desa sebelahnya. Mudin atau orang yang selalu bertugas mengurus jenazah di tempatnya sedang mudik.
Kala itu ku beri dirinya nasihat bahwa aku tak mungkin menikahi dirinya, namun diluar dugaan. Arum justru masih memelas pada ku untuk mengabulkan permintaan bapak.
“Mas, apakah begitu sulit mengabulkan permintaan Bapak?” Tanyanya saat aku berada di sisi kanan masjid.
“Maaf Arum. Aku sudah menikah, menikahi kamu berarti aku menyakiti istriku.” Ucap ku tegas.
“Tetapi bukankah Mbak Sekar menyakiti mas, dia memiliki masalah dengan tuba falopinya? Maka bagaiamana bisa kalian memiliki keturunan.” Tanyanya pada ku.
Ku tatap wajah cantik Arum yang terlihat pucat, mungkin karena tanpa polesan make up yang biasa ia gunakan. Aku tak habis pikir, bagaiamana Arum bisa berpikiran seperti itu. Setahu ku, dia dulu adalah teman ku yang sangat semangat belajar mengaji.
“Darimana kamu tahu?” Tanya ku.
Aku sudah penasaran, rasa-rasanya tak mungkin Sekar menceritakan pada Arum perihal apa yang ia alami. Arum tersenyum dan mengatakan jika saat kami memeriksakan kondisi kami, ia ada di dekat kami.
“Aku bisa melihat jelas wajah sedih mu, Mas. Ku rasa, Mbak Sekar mengizinkan aku untuk menikahi mas, toh aku sering mendengar jika Mbak Sekar orang yang rendah hati tapi paham ilmu.” Ucapnya dengan enteng.
Aku berjalan mendekati sandal swallow milik ku, kembali ku tegaskan pada Arum bahwa aku tak akan pernah menikahi siapapun selama istriku masih ada disisi ku.
“Ada atau tidak adanya anak di pernihkahan kami. Aku akan tetap setia pada sekar, tak akan pernah menduakan dirinya. Assalammualaikum.” Pamit ku pada Arum.
NAmun yang membuat aku tak habis pikir, Arum menemui istri ku disaat hujan lebat turun. Sebuah pesan dari Sekar yang mengatakan jika ia berteduh di kediaman Arum membuat aku khawatir jika istri ku akan kembali merasa rendah diri hingga mengizinkan aku menikah dengan Arum. Istri ku adalah jodoh terbaik yang Allah kirimkan untuk aku. Aku bahkan tak tenang saat mengimami shalat magrhrib di masjid. Segera aku jemput Sekar saat itu juga, walau cuaca sedang hujan.
Apa yang aku khawatirkan terjadi, Sekar betul-betul mendengar apa yang diucapkan Arum pada ku. Entah bagaiamana aku harus menampik pikiran rendah dirinya, Ia selalu mementingkan aku. Aku berbekal dari ilmu yang diajarkan oleh Guru ku ketika di pondok pesantren, dan juga dibawah bimbingan Gus Damar atau biasa di panggil Ustadz Damar. Bahwa suami harus memuliakan istrinya, menyayangi dirinya, dan jalin komunikasi sebaik mungkin. Maka malam itu aku menegaskan sekali lagi, tidak akan ada lagi perempuan dalam hidup ku selain Ibu dan dirinya. Maka saat mudik ke JAwa, aku menyempatkan diri untuk sowan ke Gus Ali, guru ku.
“Gus, kulo ajeng taken antawis bektos kalih tiyang sepuh punapa kelebet jihad?” Tanya ku pada Gus Ali.
{Gus, saya mau bertanya antara berbakti dengan orang tua apakah termasuk jihad?}
“Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ûd bahwa berbakti pada orang tua itu berada di urutan ke dua setelah menegakkan shalat dan yang terakhir baru jihad di jalan Allah. Tetapi, berbakti pada orang tua adalah fardhu ‘ain sedangkan untuk jihad di jalan Allah adalah fardhu kifayah.” Jelas Gus Ali.
Aku menelaah penjelasan Gus Ali. Dimana jihad di jalan Allah termasuk fardhu kifayah hukumnya atau yang berarti jika sudah ada sebagian orang yang melakukannya, maka sebagian yang lain tidak wajib melakukannya sehingga tidak serta merta terkena dosa karena ketidakikutsertaannya.
“Tapi… Dalam keadaan tertentu, hukum jihad di jalan Allah bisa berubah menjadi fardhu 'ain, Tur.” Ucap Gus Ali lagi.
Aku menanti Sekar yang masih belum menyelesaikan wiridnya. Aku sesekali menoleh ke arah pintu, khawatir ia datang.
“Pripun, bilih tiyang sepuh nedha kita kangge emah-emah malih amargi pasangan kita wonten kekirangan, Gus?” Tanya ku pada Gus Ali.
{Bagaimana jika orang tua meminta kita menikah lagi karena pasangan kita ada kekurangan, Gus?}
Beliau menanyakan apakah ada masalah dalam rumah tangga ku,aku pun sedikit ragu namun akhirnya meminta pendapat, aku khawatir kondisi bapak yang kian hari kian lemah, permintaan nya masih tetap untuk aku menikahi Arum. Aku mengatakan hal yang sejujurnya aku berharap pencerahan dan bimbingan dari Gus Ali. Karena khawatir jika aku salah mengambil tindakan. Namun aku sangat kaget ketika Gus Ali mengatakan hal yang seharusnya tak ku harapkan di ujung obrolan kami.
“Yang jelas, kita membutuhkan generasi penerus. Jika istri mu mengizinkan maka kamu mendapatkan dua pahala, pertama kamu mentaati permintaan orang tua mu, kedua kamu bisa memiliki dan mendidik generasi penerus untuk agama dan bangsa. Istri mu tidak setuju kamu menikah lagi?” Tanya Gus Ali pada ku.
Aku hanya diam membisu, aku tak mampu menjawab pertanyaan Gus Ali. Aku tak mampu untuk menduakan Sekar. Jika dulu aku pasrah pada Gus Ali untuk siapa perempuan yang di pilihkan untuk ku, namun saat ini jika aku diminta untuk menikah lagi, walau Sekar mengizinkan aku, tidak. Aku tidak akan menduakannya apalagi memulangkannya pada kedua orang tuanya. Namun hati ku semakin menciut.
“"Ya, kalau dia ada kekurangan. Ceraikan saja kalau istri mu tidak mau di Poligami. Kita ini lelaki, tujuan menikah itu ya salah satunya memiliki keturunan, Sudah hak kamu menikah lagi. Kekurangannya alasan kamu harus menikah lagi. Bahkan dalam undang-undang P e r k a w i n a n diatur." Ucap Gus Ali dengan santainya tanpa tahu kegundahan ku, setelah itu. Aku tak mampu kembali mengucapkan keluh hati ku.
Maka saat ke kali Bening, aku harus mencari petuah, nasihat yang mungkin bisa memantapkan aku jika keputusan ku untuk tidak menikah lagi sesuai keingan bapak dan ibu adalah benar. Karena aku manusia biasa, aku tak bisa mengoreksi diri ku sendiri. Maka aku butuh sosok guru yang saat ini Umi Laila dan Kyai Rohim yang mungkin bisa memberikan petuah atau anak beliau yang menjodohkan aku dengan Sekar.