The Tears Of Wedding

The Tears Of Wedding
Bab 11 Permohonan Arum



Ia menatap ku dengan wajah memelas. Isak tangisnya menggoyahkan hati ku yang telah mendidih. Hati mana yang tak panas, saat ada perempuan lain dengan entengnya ingin suami yang ia cintai juga mencintai dirinya untuk menikah dengannya. Namun seketika aku teringat masalah yang ada padaku, tuba falopi. Aku pun mencair ditengah panasnya aliran darah yang mendidih.


"Aku mohon Mbak, dengarkan aku dulu... " Pintanya padaku dengan suara memelas.


Aku pun tak bergeming dari posisi ku. Aku menatap pintu yang tertutup, terdapat sebuah boneka beruang yang tergantung dengan memeluk anaknya.


"Maafkan aku Mbak. Saat mas Guntur dan Mbak Sekar ada di rumah makan tepat di belakang kalian. Aku duduk tepat di balik dinding triplek. Maka tanpa sengaja aku mendengar obrolan kalian, aku bahkan melihat hasil pemeriksaan dokter yang sempat tertinggal di rumah makan itu. Aku bahkan melihat ekspresi kalian berdua dari pantulan cermin yang ada di atas ku." Ucap Arum


Bibirku keluh, aku tak mampu mengucapkan satu kalimat pun. Tiba-tiba tubuh ku lemas. Arum menarik kursi kayu yang ada di sisi meja. Aku pun reflek duduk di kursi itu. Aku menoleh ke arah perempuan yang terlihat pucat itu.


"Ku pikir... selama empat tahun aku berjuang menjalani pengobatan ketika pasca operasi di bagian kepala saat itu, aku bisa sembuh. Ternyata tidak... kanker sudah menyebar sekalipun penggumpalan darah di bagian otak ku sudah diangkat." Ucap Arum pelan. Kami menghadap ke arah yang berbeda.


Arum duduk di atas tempat tidurnya seraya menatap ke arah sebuah foto masa kecilnya. Foto dimana ia berulang tahun. Ada Mas Guntur, Yadi dan Yani di sana. Sedangkan aku, aku hanya menatap pintu yang tertutup di hadapan ku.


"Aku tahu, hanya Allah yang tahu kapan malaikat izrail datang untuk menjemput ku. Namun yang membedakan aku dan orang lain. Aku sudah mendapatkan sirene walau tak tahu kapan ajal akan datang... " Ucapnya lirih.


"Lalu? Apa hubungannya dengan ingin menikah dengan mas Guntur?" Tanya ku sinis.


Aku sempat mengizinkan mas Guntur menikah, saat ku lihat suami ku kian terdesak dengan permintaan orang tuanya. Namun saat aku bertemu langsung dengan Arum. Ada rasa tak suka, ternyata praktek untuk ikhlas dan ridho itu tak semudah bibir yang berucap. Rasanya sesak di dada, berat sekedar untuk menghembuskan nafas.


"Aku hanya membayangkan betapa malang diriku, saat nanti aku meninggal dunia namun tak memiliki keturunan. Sedangkan anak sholeh salah satu amal jariah kita kelak saat tak lagi di dunia." Ucapnya.


"Kamu sepertinya tahu perkara agama. Tentu kamu paham jika kamu hadir djantara aku dan mas Guntur." Ucap ku datar.


"Tak sampai bertahun-tahun Mbak... aku tak merebutnya dari mbak. Tapi aku meminjamnya sebentar dan memberikan apa yang belum dia miliki..." Ucap nya kembali terisak.


"Mas Guntur bukan barang. Yang bisa dipinjamkan kepada siapapun yang membutuhkan. Maafkan aku Arum. Aku tak mungkin memberikan izin ku. Karena mas Guntur sendiri tak menginginkannya." Jelasku pada Arum.


Baru aku akan berdiri, Arum menahan kembali langkahku. Aku haru menoleh ke arah dirinya. Kalimatnya kembali memprovokasi aku.


"Mbak Sekar egois... " Ucapnya dengan nada bicara masih lembut.


Ku beranikan menatap Arum dengan tatapan tak suka.


Ia mengatakan aku egois. Andai dia tahu selama hampir 8 tahun aku membina rumah tangga, hampir sedikit sekali aku mementingkan urusan pribadi ku. Aku selalu mendahulukan kepentingan Ibu, bapak dan adik-adik mas Guntur. Jika bukan karena cinta mas Guntur yang begitu besar. Maka aku sudah menyerah. Tapi tidak, suami ku itu sangat memahami aku walau sedikit terlambat. Ia memberikan aku waktu untuk tetap bisa menjalani kegiatan ngaji ku.


Suami ku tak pernah sekalipun kasar pada ku. Baik dzohir dan batin. Jika diawal-awal pernikahan saja ia tak terlalu baik namun ia selalu berhati-hati dalam ucapan dan sikap. Apalagi sekarang, ia menghujani aku banyak bunga-bunga cintanya. Maka semua ketidaksukaan Ibu dan bapak padaku aku anggap hanya iklan dalam hidup ku.


"Mbak... jika nanti aku punya anak.... Bukankah sepeninggal aku. Mbak bisa mendapatkan sebuah kesempatan menjadi ibu, ibu dari anak ku. Aku akan begitu tenang... Jika aku memiliki keturunan dari mas Guntur dan ibu sambungnya Mbak Sekar. Aku banyak mendengar tentang sosok Mbak dari ibu-ibu." Jelasnya padaku.


Tiba-tiba ponsel ku berdering. Ku lihat panggilan dari Mas Guntur.


"Assalamualaikum, Mas."


"Maa sudah ada di depan. Ayo pulang, besok sore kita sudah mau berangkat. Packing barangnya belum selesai toh." Ucap Mas Guntur yang telah menjemput ku. Ia menggunakan motor win nya.


"Aku permisi, mas Guntur sudah berada di depan. Terimakasih untuk kebaikan mu menyambut ku untuk berbuka di sini." Pamit ku pada Arum.


"Mbak... ku mohon... kabulkan permohonan ku... Tidakkah mbak bahagia jika lelaki yang mbak cintai memiliki keturunan? Bukankah istri sholehah itu yang pandai menyenangkan suaminya?" Ucap Arum.


Aku berjalan ke arahnya. Ku ulurkan tangan ku. Saat ia menerima uluran tangan dari ku. Aku pun berusaha mengungkapkan isi hati ku.


"Bukan hanya itu Mbak Arum... tapi yang paling penting. Keridhoan suami, bagimana kita melakukan sesuatu untuk menyenangkan dirinya jika ia sendiri tidak ridho. Aku selama ini dan sampai kapanpun akan mencari ridho suami ku, bukan kebahagiaan aku atau dirinya. Semoga Mbak Arum diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani pengobatan. Yakinlah Allah punya banyak jalan untuk hambanya menggapai kemuliaan. Karena jika mbak Arum berada di posisi ku. Mbak Arum mungkin akan melakukan hal yang sama seperti aku." Ucapku sebelum ku akhirnya berpamitan dengan kalimat salam.


Ia mengikuti aku, tampaknya dirinya tak berani menemui Mas Guntur. Ku cium punggung tangan mas Guntur seperti biasa. Satu usapan diberikan suamiku pada kepala ku. Paham bahwa aku ingin menjelaskan sesuatu. Ia justru menahan bibir ku untuk mengucapkan sesuatu.


"Nanti saja cerita dirumah, mana kunci motornya. Biar di bawa Leo." Ucapnya.


Aku merogoh tas ku, lalu kuserahkan sebuah kunci motor pada mas Guntur. Ia tampak setengah berlari ke arah Leo yang berdiri disisi motor astrea mas Guntur. Kami pulang ditengah rintik hujan. Aku melamunkan pembicaraan kami tadi. Aku teringat kalimat Arum yang mengatakan aku egois. Ku sandarkan kepala ku pada punggung Mas Guntur.


"Arum bilang apa?" Tanya Mas Guntur yang melambatkan laju motor honda win miliknya.


Aku melingkarkan tanganku pada pinggangnya.