The Second Throne

The Second Throne
The Elfias Meadow (1)



...Dunia Peri...


..._1st Part_...


"Mereka datang!" warga Desa Zurich berteriak histeris menyambut kedatangan Luce dan para ksatria yang bermandikan darah para iblis. Terlebih lagi mengetahui bahwa di bagian paling belakang rombongan tersebut terdapat gerobak yang membawa potongan daging Anteloph, sejenis iblis level menengah yang menyerupai seekor rusa. "Akhirnya kita bisa makan daging lagi," kata mereka antusias.


"Selamat datang. Terima kasih atas kerja keras kalian." Eleanor menghampiri Luce yang terlihat sangat letih dengan bekas luka hampir memenuhi sekujur tubuhnya. Pakaiannya sobek di sana sini. Dari sarung pedangnya, tercium bau amis dan busuk yang sangat menyengat. Gadis itu kemudian berusaha memakaikan mantel bulu pada pemuda di hadapannya tersebut, walau kemudian ditepis penuh amarah.


"Ini yang terakhir," kata Luce dingin. "Mulai sekarang, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri."


Eleanor terdiam dan membuat Terence mendekatinya dengan raut wajah yang sama. Sementara Luce hanya membuang muka sebelum masuk ke dalam salah satu pondok dengan perapian menyala.


"Ternyata masih belum ditemukan, ya?" Eleanor bertanya. "Kalau begitu, jangan-jangan kita tidak akan bisa keluar dari tempat ini selamanya."


"Kita masih belum boleh menyimpulkan seperti itu," jawab Terence. "Perburuan kali ini memang tidak menghasilkan apapun kecuali bahan makanan bagi para warga, tapi setidaknya kita mendapatkan petunjuk mengenai kehadiran sekelompok naga di tempat kita berburu sebelumnya. Meskipun badai salju telah menghapus jejak mereka di tanah, tapi sesuatu yang menghancurkan ranting-ranting pohon di dalam hutan sana sudah cukup menjadi bukti bahwa ada iblis berukuran besar yang terbang sangat rendah untuk mencari makanan."


"Sebenarnya beberapa jenis iblis menyerupai burung dan kelelawar juga bisa melakukan hal seperti itu," imbuh Christoph dengan bekas sayatan di wajahnya menyerupai cakar. "Tapi di udara sedingin ini sepertinya hanya spesies naga yang mampu bertahan. Suhu bagian dalam tubuh mereka sangat panas dan lagi... Dengan kulit setebal itu pastinya..."


"Beristirahatlah!" potong Eleanor dengan nada sedih karena menyadari dia tak dapat membantu apapun selain berdiam di desa dan menjaga mereka yang tak bisa bertarung atau melakukan sihir untuk melindungi diri dari para iblis yang kadang-kadang menyerang. "Luce saja kelihatan letih sekali sampai malas untuk berbicara. Kalian juga sebaiknya beristirahat di dalam. Aku dan para wanita di sini akan menyiapkan hidangan terbaik untuk melepas rasa lapar kalian. Kami juga sudah menyiapkan air hangat untuk berendam. Obati luka-luka kalian dan berpakaianlah yang bersih. Aku akan menunggu di balairung bersama yang lain."


Eleanor kemudian pergi meninggalkan Terence dan Cristoph bersama para ksatria.


"Kalian dengar ucapan Nona Eleanor barusan?" Christoph berteriak lantang pada pasukan kecilnya. "Sepertinya malam ini kita akan berpesta!"


***


"Keterlaluan sekali!" Terence meninju dinding pondok yang terbuat dari batu. "Padahal dia sudah berjanji untuk tidak menunjukkan rasa kesalnya pada Eleanor, tapi dia malah membuat gadis tak bersalah itu seperti mau menangis."


"Sudahlah!" Christoph menepuk bahu kanan Terence untuk menenangkannya. "Kita yang bersalah karena tidak bisa mengimbangi kekuatan Pangeran Luce sehingga hampir sebagian besar iblis, dia yang menghabisinya. Wajar saja kalau dia ingin bertarung dengan caranya sendiri karena mungkin baginya, kita hanyalah penghambat."


"Penghambat katamu?" Terence semakin kesal. "Dia pikir karena siapa kekuatannya tumbuh pesat seperti itu?" Pria itu nyaris berteriak di lorong pondok.


"Daripada mengomentari soal itu, lebih baik kita segera bersiap untuk makan malam sebelum membuat Eleanor menangis lagi," kata Cristoph bijak dengan suara yang semakin menjauh.


Sementara itu, di salah satu kamar yang dilewati oleh Terence dan Christoph, Luce ternyata mampu mendengarkan semua percakapan antara kedua pria itu meskipun mereka saat ini telah berada di balairung desa.


"Saat bertarung melawan para anteloph semalam, sepertinya aku menyadari sesuatu." kata Luce memalingkan wajah pada seorang pria yang sedang duduk di hadapannya. "Aku sadar bahwa semua iblis dulunya adalah makhluk hidup yang sama seperti kita, namun karena suatu hal mereka jadi tak bisa mengendalikan hasrat mereka sendiri. Lalu pada akhirnya, kekuatan kegelapan mencuri kesempatan itu dan berusaha mengambil alih tubuh mereka."


"Anda mungkin benar, Yang Mulia," pria dengan surai kecokelatan yang diikat tersebut meyakinkan. Kiehl, namanya --- adalah magus terakhir yang melindungi Desa Zurich dengan membuat tabir tak kasat mata. "Anteloph itu dulunya adalah makanan para pemburu. Tidak heran jika mereka berubah menjadi iblis. Mereka mungkin ingin membalaskan dendam teman-teman atau anggota keluarga mereka yang mati akibat perburuan."


"Kalau tentang naga... dari yang saya tahu, setengah dari jumlah total warga desa ini menghilang satu persatu setiap harinya sejak badai salju yang dahsyat menerjang sepuluh tahun lalu. Penyebabnya adalah seekor naga es yang sedang mengumpulkan kekuatan di Celah Osiris. Naga tersebut mengubah semua warga yang telah diculiknya menjadi spesies Draeg, yaitu iblis naga yang dapat berubah wujud menjadi manusia bila terkena cahaya matahari. Jadi, tidak salah jika Yang Mulia mengatakan bahwa iblis dulunya adalah makhluk yang sama seperti kita."


"Karena itulah naga di wilayah ini menjadi makhluk nokturnal, yang hanya muncul pada malam hari atau ketika badai salju datang?" Luce menebak dengan yakin disambut anggukan oleh Kiehl.


"Terima kasih sudah mengingatkan," ucap Luce. "Sebagai satu-satunya magus yang tersisa di desa ini, kau salah satu informan penting bagi kami untuk mencari jalan keluar dari Pegunungan Iores. Mereka bilang Celah Osiris lebih berbahaya, tapi ternyata tempat ini juga menjadi sama mengerikannya ketika badai salju datang."


"Yang Mulia tidak perlu khawatir!" Pria bernama Kiehl itu berdiri penuh percaya diri. "Saya akan mempertaruhkan nyawa agar Yang Mulia bisa keluar dari tempat ini."


Luce menggeleng. "Kau tidak perlu berusaha seperti mereka. Aku sudah punya strategi sendiri untuk menghentikan naga-naga itu. Yang kau lakukan cukup memberi tanda pada tubuhku agar aku bisa meninggalkan jejak sehingga kalian dapat mengikutinya besok. Kalau sampai lewat 24 jam aku belum kembali, saat itu kalian baru boleh menyusul dan menyelamatkanku. Bukankah itu lebih mudah daripada mempertaruhkan nyawamu dan seluruh ksatria yang tersisa?"


"Tapi Yang Mulia, berarti anda..." Kiehl tiba-tiba berlutut dengan menundukkan kepalanya yang tertutup surai kecokelatan. "Anda akan mempertaruhkan nyawa anda demi kami? Bukankah begitu maksud Yang Mulia?"


Luce menghela napas panjang. "Itu bukan masalah yang serius. Lagipula, phoenix itu lambang keabadian. Jadi aku tidak akan mati semudah itu dan kalau sampai aku mati pun," pemuda itu teringat kenangan beberapa tahun yang lalu saat Raja-Tertinggi Eginhard Idylla menyelamatkannya dari kematian. "Aku akan hidup kembali jika jasadku dikremasi."


"Ah, itu..." Kiehl menegakkan kepala karena kehabisan kata-kata. "Semua orang rela melakukan apapun untuk mendapatkan kekuatan seperti itu, tapi kenapa Yang Mulia mengatakannya dengan raut wajah yang sedih?"


"Lancang sekali!" bentak Luce tiba-tiba. "Apa aku juga harus menjawab pertanyaanmu itu? Aku tidak mungkin menyesal mendapatkan semua hal di sekelilingku sekarang. Kekuatanku ini akan menyelamatkan umat manusia dan membalaskan dendam banyak orang yang dulu tidak dapat kulakukan. Walaupun itu artinya aku harus mengorbankan sisi manusia pada diriku."


"Mohon beri hukuman pada hamba, Yang Mulia!" Kiehl langsung bersujud ketika melihat kedua mata Luce yang berkaca-kaca, namun dipenuhi rasa marah dan kebencian. "Saya telah melewati batas sebagai seorang pengikut setia anda. Mulai saat ini, saya tidak akan bertanya apapun!"


"Angkat kepalamu dan berdirilah!" Luce memandang Kiehl kembali setelah menata pikirannya yang berkecamuk. "Sejak awal aku sudah berjanji akan menyelamatkan kalian dan aku tidak pernah melupakan janji itu meskipun sudah hampir satu bulan berada di tempat ini." Pemuda itu tiba-tiba sadar. Satu tahun itu terlalu lama, kan? "Kiehl!" panggilnya lirih.


"Saya, Yang Mulia," sahut Kiehl setelah berdiri dan memastikan Luce tidak merasa kesal lagi.


"Temani aku ke balairung sekarang," pinta Luce, membuat Kiehl kebingungan.


"Anda mau ikut berpesta bersama para ksatria?" Kiehl bertanya kemudian ingat bahwa dia tidak boleh bertanya apapun lagi sehingga dengan cepat kedua tangannya membungkam mulutnya sendiri. Benar-benar aneh. Tidak seperti Yang Mulia saja sampai mau bergabung bersama mereka. Biasanya Pangeran Lucas hanya menyendiri di dalam kamar untuk memulihkan diri, tapi kalau hanya sekali-kali tidak masalah, kan? Lagipula sebentar lagi aku akan bertemu kembali dengan Cecilia. Aku harus menyambut keinginan Yang Mulia dengan senang hati. "Baik, Yang Mulia!" Kiehl membungkukkan badan untuk menerima titah Luce. "Sesuai janji, saya akan mengawal anda ke mana pun anda pergi selama berada di desa ini."


***