
..._Beginning of The End_...
...3rd Part...
Namaku Lucas Androcles --- Lucas yang berarti cahaya dan Androcles yang berarti lelaki yang dikaruniai keagungan. Sebagai Pangeran Kedua Alcander, mereka memanggilku Luce. Rambut hitam, mata biru yang kini berubah keemasan, dan pakaian simpel ala ksatria pedang yang membuatku semakin berkharisma. Walaupun begitu, tak ada satupun dari pengikut setiaku yang memanggilku dengan sebutan pangeran. Paling tinggi, gelar yang biasa melabeliku hanya Tuan Muda. Sisanya, memanggilku dengan nama Luce.
Sejak lahir aku dikaruniai kekuatan yang akhirnya kini telah disempurnakan oleh kakakku, Jean. Phoenix, namanya. Kekuatan yang mampu mengendalikan panasnya api dan membuatku bisa hidup abadi bagai seorang raja iblis. Selain itu, aku juga bisa meghidupkan orang yang sudah mati --- orang yang tidak memiliki hubungan darah langsung denganku. Makananku... adalah darah manusia....
"Jadi semua orang bisa memberikan darahnya padamu?" tanya Terence sambil memacu dua ekor kuda yang menarik kereta penumpang. Di bagian dalamnya, dua bangku panjang yang berhadapan, menjadi tempat duduk bagi Luce, Eleanor, dan Christoph. Di sudut lainnya, ada setumpuk perbekalan yang mereka bawa dari Benteng Carliste menuju ke tempat pemberhentian selanjutnya.
"Aku bisa minum semua darah manusia, tapi lebih aman minum dari orang yang berhubungan darah denganku," jawab Luce.
"Sekarang kau jadi lebih mirip vampir daripada iblis," celetuk Eleanor. Gadis itu mulai tampak lebih sehat dari sebelumnya. Wajahnya merona merah dan kulit putihnya bercahaya, membuat Luce semakin tak tahan untuk menatapnya secara langsung.
Luce tak berkomentar apapun. Dia tak mengelak bahwa dirinya memang sudah ketergantungan dengan jenis makanan tersebut. Tubuhnya sudah lama mati. Walaupun mendiang Raja-Tertinggi telah membangkitkannya dari kematian, bukan berarti Luce bisa hidup sebagai manusia normal seperti pada umumnya. Dia terus-menerus berpikir bahwa mungkin suatu saat dia harus melakukan hal yang sama seperti Raja-Tertinggi karena sudah tidak sanggup lagi menanggung beban kekuatan yang tak pernah diinginkannya. "Suatu saat aku harus menyerahkan hidupku pada seseorang agar aku bisa mati dengan tenang," gumam Luce.
Dia tidak boleh mati sebelum tujuanku tercapai, Christoph menelan ludahnya ketika mendengar Luce mengucapkan hal yang paling tidak ingin dia dengar. "Tidak peduli anda seorang vampir atau iblis, kenyataannya semua orang peduli pada anda. Jadi, saya mohon jangan terburu-buru untuk membicarakan kematian. Saya yakin semua hal akan mengalir seiring berjalannya waktu. Anda harus lebih menikmati kesempatan hidup kedua anda, Yang Mulia."
Luce tersenyum. "Semenjak kau tahu bahwa aku dan Iliana telah dijodohkan sejak kecil, kau selalu memanggilku dengan gelar itu. Mulai sekarang, aku mohon padamu berbicaralah secara normal padaku. Tidak ada satupun orang di dunia manusia ini yang akan mengangkatku menjadi seorang raja hanya karena aku menikahinya. Percayalah, aku akan menjadi raja setelah aku memiliki kerajaanku sendiri. Jangan lupa dengan tujuan kita mulai saat ini."
"Tapi memanggil anda dengan cara seperti itu adalah hal yang akan selalu mengingatkan saya tentang tujuan kita," kilah Christoph. Mata kelabunya mengingatkan Luce pada seseorang yang sangat dia sayangi. Pelayan setianya, Ellgar Wagner yang selalu memanggilnya dengan sebutan 'Tuan Muda'.
"Terserah kau saja." Luce akhirnya menyerah. Kedua matanya menatap pemandangan langka di luar jendela kereta. Pegunungan bersalju dengan awan hitam yang menyelimutinya.
"Sebelum tiba di Eranth sepertinya badai salju akan menerjang kita lebih dahulu," kata Terence mengalihkan topik pembicaraan. Dari awal dia sangat tidak setuju Christoph ikut pergi menemani Luce. Suasana selalu menjadi tidak nyaman jika Christoph berbicara. Seperti kebanyakan orang, archerias itu seperti terobsesi pada kekuatan phoenix, tapi Terence sadar kalau dia tidak dapat menentang keputusan Luce. Aku sampai lupa kalau Luce itu sebenarnya seorang tawanan! Bagaimana bisa aku membiarkan dia yang mengatur segalanya?
"Bagaimana dengan bermalam di tengah perjalanan?" usul Christoph.
"Maksudmu bermalam di tengah hutan?" Eleanor mencibir. "Lupakan saja. Kami sudah pernah melakukannya. Semakin ke utara, keadaan di sekitar kita akan semakin berbahaya. Kabut Kegelapan bisa mencium keberadaan kita meskipun aku membuat tabir tak kasat mata. Lebih baik kita berhenti di penginapan saja. Sebelum masuk ke wilayah Gretasha, aku yakin masih ada jejak hidup manusia di sepanjang perjalanan. Kabar baiknya, di penginapan nanti kita biasanya akan mendapat banyak informasi tentang apapun."
Christoph menggeleng tidak setuju. "Kita sebaiknya menghindari kerumunan mulai sekarang. Jika Raja Hamlet benar-benar berhasil menduduki Axton, pastinya wajah Yang Mulia akan dikenal seluruh dunia sebagai seorang pengkhianat. Bahkan sekarang, Alcander mungkin sudah mengirim surat perintah penangkapan ke mana-mana dan jumlah imbalannya tidak mungkin sedikit."
"Dia benar!" Terence berteriak dari bagian depan kereta. "Lebih baik kita menghindari kerumunan manusia dan mendekati kerumunan iblis di tengah hutan. Bahkan Tuan Nicodemus dan prajuritnya mungkin saat ini sudah berhadapan dengan prajurit Alcander yang sedang mengejar kita, jadi menggunakan para iblis untuk berkamuflase tidak buruk juga. Setidaknya mereka tidak akan mengkhianati kita."
***
"Sudah kubilang, kan?" Christoph mengendap di balik semak tanpa zirah ksatria. Di sisinya, Terence sibuk mengamati sebuah penginapan yang ramai oleh sekelompok pedagang. Mereka sedang diperiksa satu persatu oleh beberapa prajurit yang mengenakan jubah merah bergambar mawar. "Tidak ada yang mengikuti kita di belakang, bukan berarti kita aman. Mereka hanya tidak melewati jalur yang sama dengan kita."
"Memeriksa satu persatu tubuh manusia... Bukankah itu tindakan yang melanggar hak asasi manusia?" tanya Terence dengan kening berkerut-kerut sementara tangannya sibuk menyobek lembaran perkamen. "Mereka bahkan sudah menempel lukisan wajah kita di sembarang tempat."
"Raja Hamlet pasti sudah menyadari sebelumnya soal simbol phoenix di tubuh kita," timpal Christoph. "Dia bahkan mungkin sudah tahu semua sejarah dan cara memanfaatkan kekuatan itu sehingga membuat situasi ini terjadi. Menjadi raja dengan membunuh raja sebelumnya --- Raja Hamlet pasti sudah memprediksi semua ini karena sejak awal dialah orang yang mencuri kekuatan tersebut."
"Tapi Luce tidak mungkin membunuh ayahnya sendiri. Dia bukan orang yang seperti itu." Terence berkilah.
"Aku tahu!" Christoph bangkit dan berjalan kembali ke dalam hutan diikuti oleh Terence. "Pangeran Lucas memang tak menginginkannya, tapi suatu hari akan ada situasi yang memaksanya untuk melakukannya. Begitulah cara iblis menguasai dunia manusia."
"Hentikan omong kosongmu itu! Situasi yang memaksanya katamu?" Tiba-tiba Terence menghentikan langkah Christoph dengan menarik kerah pakaian pria tersebut. "Dengar! Aku percaya Luce melebihi dirinya sendiri! Jangan coba-coba mempengaruhinya dengan rencana busukmu di Eranth nanti. Aku tahu kau sedang memanfaatkan kekuatan Luce untuk mengambil alih Gretasha. Tapi siapa kau sebenarnya? Dengan mata kelabumu itu, kau bahkan tidak memiliki hak untuk melakukan semua itu. Jangan coba-coba menipuku seperti kau menipu yang lain!"
"Lepaskan!" Christoph tersenyum sinis setelah berhasil menarik tangan kanan Terence menjauhinya. "Semua bangsawan dan keturunan raja bermata-biru? Itukah yang kau maksud? Lalu bagaimana dengan Eleanor yang memiliki warna mata sepertiku dan hidup di bawah kendali bangsawan St. Claire? Bukankah dia juga tidak berhak berada di sisi mereka, tapi apa yang dia lakukan kemarin? Memberikan darah kotornya pada Pangeran Lucas?"
Terence semakin geram dan ingin sekali menyumpal mulut pedas Christoph dengan kepalan tangannya. Dalam hatinya berkata, Benar! Eleanor bukanlah anggota sah keluarga St. Claire dan matanya berwarna kelabu selerti kebanyakan magus di Gretasha, tapi Christoph... dia berkata akan mengambil alih Gretasha dari tangan kegelapan padahal dia bukan siapa-siapa di sana. Untuk apa dia melakukan semua itu?"
"TERENCE!" Luce memanggil beberapa meter tak jauh dari keduanya berada. "Selama kau ribut-ribut seperti itu, aku dan Eleanor sudah selesai mengerjakan tugas kami. Bagaimana dengan hewan buruan yang kau janjikan?"
Terence tak berdaya menanggapi pertanyaan tersebut. Dia berbicara semaunya pada Christoph di depan Luce bahkan tak menyadari keberadaan tuannya tersebut. Christoph hanya menggeleng dan menunjuk Terence yang sibuk memikirkan alasan.
"Kau tahu kan aku tidak punya senjata sejak kabur dari Grissham dan lagi kenapa sekarang kau berlagak sok jadi pemimpin di sini?" Terence menunjuk Luce kesal sementara Christoph lagi-lagi menggeleng sambil mengangkat bahu seolah tak peduli. "Kau lupa kalau kau itu sebenarnya seorang tawanan?" tambah Terence. "Tuan Besar memintaku membawamu pulang setelah dia melihatmu terkapar di halaman kastil."
"Apa itu disebut penculikan sehingga kau mengatakan bahwa aku adalah seorang tawanan?" Luce menghela napas panjang untuk mempertahankan rasa sabarnya. "Aku adalah kandidat Raja-Tertinggi Axton sekarang. Apa kau masih akan diam saja dan terus mengomel sementara aku dan Eleanor kelaparan? Di mana rasa terima kasihmu pada kakakku yang sudah menyelamatkanmu?"
"Apa? Rasa terima kasih?" Terence melotot sementara Luce dan Christoph berlalu meninggalkannya. Pria itu memukul dahinya kesal. Dia telah mengacaukan perjalanan manisnya dengan tuan muda yang dia cintai. Kalau sampai Luce mengadu pada Tuan Besar, bisa-bisa aku jadi pengangguran!
***