
***KACA YANG MENYILAUKAN_4th Part*
17 years ago**______________________
Sebuah anak panah melesat di udara, nyaris mengenai seekor kelinci yang baru saja berlari masuk ke dalam lubang. “Sial!” umpat seorang pria sembari melompat dari dahan pohon. Rambut cokelat panjangnya terkucir rapi seirama dengan setelan kerajaan yang dikenakannya.
“Fletcher!” dia memanggil pria lain di belakangnya yang sedang membaca buku sambil berdiri bersandarkan batang pohon. “Apa tidak bisa membantuku sebentar dengan anak panah ini? Kompetisi ini akan berakhir sejam lagi.”
“Tugas saya hanya menemani anda, Pangeran Aelfar,” pria itu berkata santai. Mata birunya tak beralih dari tulisan yang ada di buku. “Sebaiknya anda tak melupakan alasan Yang Mulia Raja mengikutsertakan kita dalam kompetisi ini.”
Aelfar Giselbert, pria berambut cokelat mengedipkan mata ungunya penasaran. Dia mengacungkan busur ke arah kutu buku di hadapannya, Fletcher St. Claire sang sepupu yang merupakan putra Alcander kedua setelah dirinya.
“Ada seorang gadis yang harus anda nikahi,” Fletcher melanjutkan sebelum Aelfar memotong dengan berteriak panik,
“Jadi semua ini hanya tentang seorang gadis?!”
Fletcher menutup bukunya sembari menggeleng. “Yang kita incar ada di dalam kastil Axton dan karena gadis itu adalah putri di kerajaan tersebut, kita perlu memiliki koneksi dengannya agar bisa leluasa masuk ke dalam kastil. Alcander sangat membutuhkannya dibanding Axton.”
Aelfar membalikkan tubuh, memunggungi Fletcher dengan penuh kekesalan. Dia melipat tangan dan berkata, “Aku tidak peduli soal misi yang diberikan ayahanda. Yang kubutuhkan adalah memenangkan kompetisi ini. Lagipula, legenda mengatakan kalau ‘itu’ tak perlu kita cari. Dialah yang akan menemui sang terpilih. Itupun kalau kita masih memiliki hubungan darah dengan Axton.”
"Karena itulah ANDA harus menikahinya." Fletcher menepuk bahu Aelfar dan membuatnya merinding seketika. Pria bermata biru itu mendekati lubang kelinci dan membuat hewan putih di dalamnya keluar tanpa perlawanan.
"Bagaimana kau melakukannya semudah itu?" Aelfar nyaris berteriak sebelum Fletcher menjejalkan si kelinci dalam pelukan sepupunya tersebut. "Kalau tahu semudah itu, kan... Seharusnya kau membantuku dari tadi. Dasar sialan! Kau selalu saja melampauiku."
"Mudah saja. Anda tidak minta tolong dari tadi. Jadi saya hanya diam dan memperhatikan seperti perintah anda sebelumnya."
Mendengar jawaban Fletcher yang begitu angkuh membuat Aelfar sangat kesal. Dia hampir membunuh si kelinci kalau saja tidak ingat harus membawa hewan tersebut dalam keadaan hidup.
"Kita harus segera kembali ke pelataran kastil lebih dulu dari peserta lainnya," ucap Fletcher sambil berjalan mendahului Aelfar. Keduanya menyusuri jalan setapak dengan batuan pipih tersusun rapi menuju sebuah lapangan rumput yang salah satu sisinya dibangun dinding setinggi tiga puluh meter. Sebuah bangunan raksasa yang dipahat dari pualam putih memancarkan cahaya di hadapan mereka — kastil Axton yang begitu megah dengan puluhan menara menjulang indah.
"Kau yakin bisa menakhlukkan kerajaan ini dengan caramu sendiri?" Fletcher bertanya pada sepupunya dalam bahasa nonformal. "Padahal kau cukup menikahi sang putri saja karena sang Raja sudah mewariskan kekuatan itu padanya. Kalau sampai rencanamu gagal, bukan hanya Alcander yang akan hancur, tapi juga kau."
"Yah, aku tahu itu tidak mudah," jawab Aelfar dengan nada berat. "Tapi aku tak bisa terus mengikuti skenario ayahanda karena hidupku adalah milikku sendiri. Lagipula aku tidak ingin mengkhianatimu dengan menikahinya."
"Kau masih saja memikirkan itu." Fletcher memukul dahinya sendiri. "Aku menyukai sang putri bukan berarti aku mencintainya, kan? Lagipula, kalau semua itu demi Alcander, tidak masalah aku membujang seumur hidup."
"Kau tidak serius, kan? Hanya pria tangguh yang sanggup melakukan hal itu." Aelfar terkekeh. "Aku sendiri saja tidak tahan melihat para gadis yang selalu membicarakanku. Apa menurutmu aku terlalu menahan diri untuk tidak menikahi sang putri? Kau bilang dia gadis yang sangat cantik, bahkan lebih cantik dari seluruh gadis di Alcander."
Fletcher berdeham. Wajahnya merona saat membicarakan wanita yang selalu menjadi pujaan hatinya. Aelfar pun tak bisa berhenti untuk menggoda sepupunya tersebut. "Dia... benar-benar cantik ya... sampai kau kehabisan kata-kata seperti ini."
"Seorang putri dari kerajaan-tertinggi sudah tentu begitu, kan? Tak perlu kau tanyakan lagi," ucap Fletcher sambil memalingkan wajah.
"Kau ternyata benar-benar menyukainya." Aelfar mengangguk begitu tahu ekspresi Fletcher yang tidak seperti biasanya. "Baiklah. Sudah kuputuskan. Aku akan menjadikan sang putri dan harta karun itu menjadi milik Alcander."
"Hahh terserah kau saja, Yang Mulia Pangeran Giselbert - Aelfar de Alcander," ucap Fletcher sambil menahan rasa kesal yang sudah seperti penyedap hubungan persaudaraan di antara keduanya.
***
"Pemenang akan dinilai berdasarkan kecepatan tangkap dan kualitas hasil buruan sehingga jenis senjata dan jumlah hewan yang dikumpulkan tidak menjadi tolak ukur dalam penjurian." Erich berteriak lantang dengan gulungan perkamen terbuka di antara kedua tangannya.
Sementara itu, Aelfar yang berdiri di barisan paling belakang terlihat sangat frustasi karena tak dapat menonton acara yang dinantikannya sejak tadi dengan jelas. Dia menggosok-gosok telapak tangannya tidak tenang. Pria itu terus berjinjit untuk mendapatkan penglihatan yang lebih akurat. "Aku tidak menyangka mereka tiba lebih dulu di sini dari kita," ucapnya kesal.
"Sudahlah, percaya saja kalau kita yang akan menang." Fletcher berusaha menenangkan sepupunya.
"Dasar, tidak bisa mengerti perasaan orang!" Aelfar menggerutu dalam hati. "Dia lebih tinggi dariku tentu saja bisa bersikap setenang itu. Sekarang aku bahkan tak bisa melihat hasil buruan mereka, bagaimana aku tahu siapa yang akan menang."
"Minggir!" Beberapa pria bertubuh besar yang baru saja datang, mengambil alih barisan. Mereka terlihat kekar dan berotot, berbeda dengan Aelfar yang tubuhnya ramping seperti kayu pinus. Pakaiannya terbuat dari surai keemasan singa yang dijahit menjadi rompi berkerah. Pria-pria itu seperti manusia yang sudah lama tinggal di dalam hutan dan sama sekali tidak tahu tata krama. Aelfar hampir tersungkur ke tanah karena itu.
"Hei, Kutu Buku!" Aelfar memanggil Fletcher yang kemudian mengernyitkan dahi. "Karena kau lebih tinggi dariku, jadi kuserahkan yang ada di sini padamu ya," katanya memohon.
"Hhhh, kau memohon padaku seperti itu agar kau bisa kelayapan lagi, kan?" Fletcher menepuk dahinya kesal. "Tapi melihat situasinya sekarang, aku tak bisa membiarkanmu berdiri di belakang pria-pria hutan ini. Jadi kalau kau mau pergi, lakukan saja."
Aelfar terlihat sumringah sekali. "Kau memang yang terbaik, Kakak Sepupu! Aku akan kembali satu jam lagi setelah acaranya selesai."
Fletcher tersenyum simpul dan berusaha menahan diri atas ketidakadilan yang selama ini dia peroleh. "Sebagai seorang kakak, aku sangat menyayangi Aelfar sampai-sampai apapun akan kulakukan untuk membuatnya bahagia. Kesetiaanku pada Alcander pun, nyaris menyebabkan aku lupa akan keinginanku sendiri. Demi mempertahankan kerajaan itu, pernikahan Aelfar dengan putri tunggal Axton harus dilakukan. Walaupun itu artinya aku akan mengorbankan masa depanku bersama gadis yang kucintai."
"Ireene..." Fletcher menunduk dan berlinang air mata. "Aku harap kau masih mengenangku untuk beberapa alasan."
***bersambung
Note from Author
Sebelum lanjut ke cerita berikutnya, author ingin menjelaskan tentang cover baru TsT...
berikut yang baru saja author edit dengan menggabungkan beberapa elemen dari "mbah pinterest" dan bantuan dari "moyang medibang". Kalau salah satu dari kalian ada yang freelance sebagai illustrator pasti tahulah wkwk...
Jadi thor persembahkan mahakarya dan anugerah terindah... TARA...
Jadi temanya adalah royal blink2... Karena author menambahkan ornamen keemasan dan banyak cahaya yang menyilaukan 🤩🤩 sesuai dengan judulnya Glaring Glasses. Cover tersebut menceritakan tentang kisah asmara cieee... dari seorang wanita dan tiga orang pria pada masa sepuluh tahun lalu, sebelum novel ini dimulai...
Sosok wanita berambut panjang dengan gaun putih yang indah, membawa sebuah kunci dalam sangkar yang terbuka (hassekk😂😂 yah, walaupun kuncinya ketutupan ornamen ternyata) adalah Putri dari Kerajaan-Tertinggi Axton, Ireene el Idylla... kalian tahu siapa dia?
Pria berambut hitam dengan bunga anggrek adalah Aelfar Giselbert, cinta pertama sang putri, orang yang menjadi dalang dari semua cerita ini (Sumpah, kalo nggak ada dia kayaknya novel ini nggak bakalan ada. SSUEKKK bener ni orang...)
Pria berambut panjang dengan bunga sakura adalah Fletcher St. Claire, kepala keluarga bangsawan St. Claire yang penuh pesona dan kharisma dengan segala kebaikan hatinya (Hhhh 😣😣) tunangan dari sang putri tercinta kita sayangnya sekarang tidak ada yang tahu di mana rimbanya.
Pria berambut pirang dengan bunga mawar adalah Raja -Tertinggi Eginhard Idylla, seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya (sang putri) dan rela mewariskan kekuatan Phoenix (yang sangat berharga) pada adiknya tersebut. Saking sayangnya Yang Mulia Raja yang paling ditakuti sejagad ini menjadi terlalu obsesif dan posesif terhadap adiknya. Dia bisa berbuat kejam. Sangat kejam dan tanpa ampun kalau itu berhubungan dengan adik tercintanya.
Demikian ulasan author tentang cover baru kita. Semoga semua suka ilustrasinya dan yang lebih penting jangan lupa like, favorite, 5rate cerita ini supaya bisa menjadi official. Boleh juga share ke berbagai medsos dan grup. Terimakasih. Sampai jumpa di kisah 17 years ago, pertemuan antara ayah dan ibu Luce di Kerajaan-Tertinggi Axton.
BYE-BYE😍😍😍