The Second Throne

The Second Throne
Servant and The Master (10)



PELAYAN DAN TUANNYA__10th Part


"Kau sembunyikan di mana Tuanku?" tanya Ellgar dengan napas terengah-engah. Terence langsung memapah Jean yang nyaris tersungkur karena hantaman Ellgar barusan.


"Aku tidak menyembunyikan dia," jawab Jean. Tangan kanannya kembali mencengkeram dadanya yang semakin terasa sesak. Jantungnya juga berdegub kencang seperti habis berkelahi. Padahal jelas sekali kalau dia tak melakukan perlawanan apapun saat Ellgar meninjunya. Bahkan untuk berdiri sekarang pun sudah tidak sekuat biasanya. Tubuhnya bertumpu pada pagar kayu yang membatasi teras lantai dua.


"Diam kau, dasar laki-laki brengsek!" umpat Ellgar. "Jangan berharap aku mempercayai ucapanmu barusan. Aku tidak akan tertipu lagi. Kau pasti menyembunyikan Tuanku di salah satu ruangan di tempat ini," Ellgar melirik pintu yang ada di sebelahnya.


"Jangan sentuh pintu itu!" Terence nyaris melukai tangan kanan Ellgar yang hendak membuka pintu dengan sebuah belati. "Langkahi dulu mayatku," ucapnya dengan kedua tangan yang mengarahkan bilah pedang pada Ellgar. Pria di hadapannya tidak tinggal diam. Dia pun mempersiapkan senjata yang sama dan mulai menyerang.


"Aku tidak tahu siapa dirimu, tapi aku tahu kau sedang meremehkanku," Ellgar sudah tidak sabar lagi. Tubuhnya bergerak cepat mangadu pedangnya dengan milik Terence yang jauh lebih ramping. Tapi Terence sangat lincah. Dia melompat mundur kemudian menerjang balik, membuat Ellgar kewalahan.


Bunyi desing pedang sepertinya membuat perhatian Jean terpecah. Dia bisa melihat Illarion yang berdiri di lantai satu bersama dengan Evan yang tengah berhadapan dengan Eleanor. Sementara pertarungan antara Ellgar dan Terence seperti jadi tontonan gratis untuk publik dari balik jendela kaca. Mereka tak tahu harus menyoraki siapa karena tak satupun dari kedua orang itu mereka kenal dengan baik. Warga desa hanya berteriak riuh ketika salah satu dari mereka jatuh atau berhasil memukul mundur lawannya.


"Illarion sepertinya berhasil mempengaruhi Ellgar," lirih Jean mendapati lencana perak yang menggantung di sabuk pedang milik Ellgar. Pria itu semakin marah ketika tahu Illarion justru tersenyum menyaksikan Ellgar dan Terence beradu pedang di hadapannya dan seolah yakin Ellgar yang akan menang. Beberapa saat kemudian, pintu kamar Jean terbuka dan Luce berdiri di sana sambil menatap Ellgar yang langsung menghentikan serangannya.


"Tuan!" seru Ellgar nyaris tersenyum senang sebelum angin kencang menghempaskan pedang miliknya jatuh berkelontang di lantai satu. Pria itu menggenggam pergelangan tangan kanannya yang mati rasa dan sadar kalau seluruh tubuhnya tiba-tiba tak bisa digerakkan. "Tuan Luce, ini aku, Ellgar Wagner, pelayan setiamu."


Jean sempat mendengus saat mendengarkan Ellgar membela dirinya sendiri. "Pelayan setia apanya?" lirihnya. "Menerima suap dari seseorang yang akan membunuh tuannya sendiri, cih. Aku lebih baik mati dipenggal daripada mempermalukan diriku sendiri."


"Diam, kau!" Ellgar berteriak. "Setidaknya aku masih lebih baik daripada seorang kakak yang berpura-pura mati dan menerlantarkan adiknya selama sepuluh tahun di sarang kriminal."


"Semua yang menghalangi jalanku harus dibinasakan," kata Luce. Netranya yang merah dan simbol Phoenix yang terlihat jelas di dahi Luce, semakin membuat Ellgar yakin kalau yang ada di hadapannya saat itu, bukanlah tuan yang dia layani selama ini. "Kalau kau tak bisa memberikan darahmu padaku, wahai anak manusia," Luce mengangkat tubuh Ellgar hingga kedua kaki pria tersebut melayang, "maka, menyingkirlah dari hadapanku!"


Ellgar kemudian dilemparkan menembus jendela kaca hingga jatuh di luar halaman. "Tuan Wagner!" Evan menjerit dan langsung berlari keluar untuk menyelamatkannya, sementara Illarion masih jadi penonton setia di tempatnya semula berada.


"Dan kau," Luce mengalihkan perhatiannya pada Jean kemudian mendekati pria itu. "Apa kau bisa memberikan darahmu itu lagi padaku? Darahmu itu benar-benar lezat tahu. Kalau hanya beberapa tetes saja, tidak akan bisa membangkitkan kekuatanku sepenuhnya. Bukankah kau yang paling menginginkan hal itu, Jean St. Claire."


"Kau... Kau adalah iblis api itu?" tanya Jean, kemudian tanpa perlu jawaban, dia melepas kembali perban yang membalut telapak tangannya kemudian menyodorkannya pada Luce.


"Aku tidak mau itu lagi," Luce menggeleng dan langsung memeluk Jean dengan lembut setelah berada di dekatnya. "Aku ingin darah yang lebih segar," pemuda itu berbisik, membuat tubuh Jean gemetar tak karuan. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Menolak permintaannya, sama saja dengan minta dibunuh, tapi menurutinya juga merupakan hal yang sama. "Tenang saja, aku tidak akan menghabiskan semua darahmu kok. Hanya satu gigitan saja."


"Tuan Besar!" Terence berteriak sebelum tubuhnya terlempar jauh karena berusaha menyelamatkan Jean. "Sialan, apa yang dilakukan Tuan Muda pada Tuan Besar," lirihnya sembari menyengkeram perutnya yang sakit. Entah kenapa seperti tak seorangpun mampu mendekati Luce setelah dia keluar dari kamar. "Sepertinya Tuan Besar telah melakukan perjanjian darah dengan iblis itu. Aku sampai tak menyadarinya sejak tadi. Pantas saja Tuan Besar kelihatan tidak enak badan. Rupanya dia telah memindahkan seluruh kekuatan Phoenix ke dalam tubuh Tuan Muda dan sekarang Tuan Muda jadi tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri. Iblis itu pasti sudah mengambil alih kesadaran Tuan Muda."


"Sekarang aku semakin leluasa bergerak dengan tubuh ini. Kau benar-benar tahu seleraku, Anak muda. Terima kasih," Luce mengelap darah di ujung bibirnya dengan lengan kemeja putih yang dia kenakan. Dia kemudian melompat turun ke lantai satu untuk berhadapan dengan Illarion yang mendadak tersenyum. "Ada apa dengan senyuman manismu itu, Putra Mahkota? Apa kau tidak takut aku membakar seluruh isi kota ini seperti sepuluh tahun lalu? Ah ya, aku lupa. Waktu itu kau hanya seorang bocah yang berlindung di balik gaun ibunya." Luce menahan tawanya.


"Aku tahu apa yang akan kau lakukan padaku sekarang, tapi aku tak akan membiarkanmu melakukannya di tempat ini," Illarion melirik Jean yang sedang berjalan menuruni anak tangga dibantu oleh Terence. Dia kemudian berkata, "Jadi ini rencanamu menculik Pangeran Lucas? Menjadikannya sebagai tameng untuk melawanku. Kakak macam apa kau ini? Aku berusaha mengembalikan posisinya sebagai Pangeran Kedua Alcander tapi kau mengubahnya jadi seorang iblis?"


Jean akhirnya tiba di hadapan Illarion dan membalas senyuman pria berambut perak itu. "Aku tidak hanya akan mengembalikan nama baiknya sebagai Pangeran Kedua. Sebagai seorang kakak yang baik, aku akan membuatnya jadi pemimpin negeri ini. Bukankah hal yang bagus jika keturunan Alcander dan Axton yang menjadi seorang Raja? Sekarang bahkan Eginhard Idylla bukanlah saingan dari Luce. Apa kau bersikeras melawannya seorang diri? Dengan prajurit-prajurit rendahanmu itu?"


*bersambung ke part berikutnya