The Second Throne

The Second Throne
Servant and The Master (9)



PELAYAN DAN TUANNYA__9th Part


"Kakak, apa yang terjadi padamu?" Luce bertanya dalam pembaringannya. Kedua matanya semerah pembuluh darah yang muncul hampir di seluruh permukaan kulitnya. Di dahinya yang nyaris tertutup poni, muncul simbol Phoenix berwarna merah kehitaman. Tubuhnya sangat lemah dan terasa kaku seperti habis dihajar massa. Luce menunggu Jean yang duduk membelakangi ranjangnya untuk menjawab, tapi kakaknya itu seperti sibuk dengan sesuatu yang tak boleh Luce ketahui


"Apa ada lagi yang harus kujelaskan padamu?" Jean balik bertanya. Dia sedang membalut telapak tangannya yang berdarah dengan perban erat-erat. Di hadapannya sebuah meja kaca terbentang dengan banyak benda di permukaannya. Sebuah kotak kayu panjang berisi pedang milik Luce yang memancarkan aura gelap serta beberapa peralatan alkimia yang biasa Luce temukan di kedai obat-obatan; mortar keramik, tabung reaksi, kuali yang terbuat dari tanah liat dan spatula kaca. Selain itu ada tumbuhan herbal asing dan biji-bijian langka yang tak pernah Luce lihat sebelumnya. Jean kemudian mengangkat semangkuk kecil ramuan hasil racikan tangan terampilnya yang berwarna merah kehitaman. "Sudah jelas, kan? Sejak dulu semua orang lebih mengkhawatirkan dirimu daripada aku," lanjut pria bernetra biru tersebut.


"Tapi aku tidak peduli pada yang lain, selama ada kakak. Sudah sepuluh tahun, aku pikir kakak..." Luce menerima mangkuk pemberian Jean kemudian meminum ramuannya perlahan. Dalam hati pemuda itu merasa kalau ini bukan saat yang tepat untuk membahas masa lalu lagi sehingga dia mengalihkan topik pembicaraan, "Ini pertama kalinya aku tahu kalau kakak terampil dalam alkimia. Apakah Paman Fletcher yang mengajarinya?" tanya Luce setelahnya.


"Paman Fletcher sudah lama tiada," jawab Jean meletakkan kembali mangkuk kecilnya di meja kemudian mengacak-acak rambut hitam Luce. "Paman sebenarnya tidak pernah mengajarkan apapun pada kakak, tapi karena kakakmu ini pintar. Kakak selalu memperhatikan dan menghapal semua yang Paman lakukan. Tidak hanya Paman, bahkan kalau kau mengajarkan kakak satu jenis keterampilan saat ini, kakak pasti bisa langsung menguasainya."


Luce tersenyum simpul. "Aku bangga punya kakak sepertimu."


Jean tak membalas senyuman adiknya. Dia tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan perasaannya setelah sekian lama tak bertemu. Bahkan sejak Luce terbangun pun, Jean belum bisa tersenyum sama sekali padahal hati kecilnya ingin melompat girang saking bahagianya. Pria itu lalu mengalihkan perhatiannya pada pedang milik Luce. "Apa mereka memberitahumu bahwa untuk mengambil kekuatan Phoenix dari orang lain tidak perlu sampai membunuh orang itu?"


Luce menggeleng. Raut wajahnya benar-benar menandakan ketidaktahuan. "Tapi aku sama sekali tak berniat membunuh kakak karena aku tahu ada orang lain yang menginginkan kematian kakak daripada sekedar merebut kekuatan iblis itu. Aku hanya membawanya sebagai kedok agar semua orang percaya bahwa aku melakukan semua yang mereka skenariokan. Kakak, percaya padaku, bukan?"


"Sebenarnya aku telah menyadarinya sejak pertemuan pertama kita di kastil. Pedangmu ini tadinya diberikan kepada Paman Fletcher untuk menyegel kekuatan Phoenix dalam tubuhmu sejak kau lahir. Tapi tak satupun dari mereka yang tahu bahwa serpihan kekuatan yang lain ada padaku dan aku bisa menguncinya rapat-rapat dalam tubuhku agar tak seorangpun mengetahui keberadaannya. Sekarang setelah mengetahui itu semua, aku tidak yakin kalau mereka tidak punya tujuan yang lain menyerahkan pedang ini padamu selain untuk membunuhku?"


"Kalau pedang ini sampai jatuh ke tangan orang yang salah, seseorang bisa saja mempermainkan kekuatan milikmu sesuka hati mereka. Mereka benar-benar gegabah sekali," tutur Jean sambil menutup kotak pedang di hadapannya. "Untuk sementara ini, biar kakak yang menyimpannya. Kakak tahu tempat yang jauh lebih aman daripada lorong rahasia Alcander yang penuh dengan jebakan." Pria itu akhirnya tersenyum karena ingat masa kecilnya yang dihabiskan untuk menjelajahi semua daratan Alcander, termasuk tempat yang paling dilarang oleh hukum, Hutan Terlarang.


Jean lalu meletakkan tangan kanannya di atas kotak tersebut sambil memejamkan mata. Bibirnya merapal beberapa kalimat mantera yang membuat kotak itu lenyap dari pandangan. Luce sampai terkesima dibuatnya. "Bukankah yang barusan itu semacam sihir teleportasi?"


Wajah Luce semakin merah ketika sadar yang dijelaskan oleh kakaknya barusan seperti hujan berlian yang tiba-tiba jatuh dari langit. Dia tahu kalau selama ini bisa mengendalikan api Phoenix dalam tubuhnya, tapi tak menyangka kalau dia juga bisa melakukan hal ajaib lainnya jika mau belajar. Pada masa itu, sihir bukan lagi menjadi hal yang tabu, bahkan tak sedikit orang yang menghabiskan umurnya untuk mempelajari sihir, terutama sihir yang dapat mengalahkan Kegelapan.


"Aku akan mengajarimu, tapi bukan sekarang," kata Jean menyambut antusiasme Luce. "Kau sekarang harus beristirahat. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, kekuatanmu akan bangkit sebelum purnama dimulai. Tak perlu menunggu sampai saat itu, kau akan bisa mengendalikan apapun yang kau inginkan." Jean kemudian mencengkeram dadanya yang terasa sesak sambil berpikir, "Lagipula aku telah menyerahkan semua kekuatan iblisku padamu, Luce. Aku yakin, di masa yang akan datang kau bisa mewujudkan keinginan ibunda lebih baik dari yang kulakukan karena semua orang menyayangimu."


"Tuan Besar," suara Terence terdengar lantang disertai ketukan pintu kamar Jean. "Apakah anda masih sibuk?"


"Ada apa? Kenapa kau ribut-ribut begini?" tanya Jean. Dia membuka pintu setelah memastikan Luce terlelap di balik selimutnya.


"Maaf kalau saya mengganggu, Tuan," Terence terlihat gelisah. "Putra Mahkota... Maksud saya Pangeran Illarion... Beliau menunggu anda di ruang tamu. Anda sebaiknya segera turun sekarang. Beliau membawa surat perintah penggeledahan dan prajurit elit dari kemiliteran kerajaan."


"Baiklah, aku akan turun," Jean menghela napas panjang sembari menoleh kembali ke arah ranjangnya dan berusaha agar Luce tidak terbangun setelah dia menutup pintu kamar. "Kenapa orang-orang itu tak membiarkanku istirahat sebentar saja?" pria itu mengeluh dan mengusap keningnya yang berkeringat dingin. Kemeja putih yang dia kenakan sampai basah kuyup karena hal yang sama.


"Anda baik-baik saja, Tuan?" Terence tiba-tiba khawatir. "Eleanor sebenarnya sudah mencoba menahan mereka, tapi ternyata tidak hanya prajurit yang sibuk menggeledah lantai satu. Warga desa juga berkerumun di halaman depan untuk melihat apa yang terjadi. Kita tidak bisa melakukan apapun sekarang. Kalau dilihat dari situasinya, Tuan, mungkin kita harus menyembunyikan Tuan Muda untuk saat ini. Mereka akan menangkap anda kalau sampai mengetahui Tuan Muda berada di sini."


"Kau tidak perlu khawatir," Jean berjalan tertatih meninggalkan pintu kamarnya sebelum Ellgar tiba-tiba muncul di puncak anak tangga. Terence langsung menghunus pedang ke arah pria berambut pirang itu. "Tunggu, Terence!" hardik Jean membuat suasana mencekam timbul. Tak ada yang mengatakan sepatah kata pun sampai Terence menyarungkan kembali pedangnya. Namun, tiba-tiba Ellgar berlari mendekat dan meninju wajah Jean dengan penuh amarah.


*bersambung ke part berikutnya