The Second Throne

The Second Throne
Beginning of The End (6)



...PERMULAAN DARI AKHIR...


...6th Part...


Helaian lembut bulu berwarna putih berhamburan di sekitar Christoph setelah seekor tyto alba raksasa hinggap di lengan berototnya. Burung hantu itu menggenggam gulungan kecil perkamen berisi surat perintah dari Pangeran Jean, salah satu orang paling berpengaruh di dataran Axton. "Dia sedang mengumpulkan kekuatan di Allegra bersama Ellgar Wagner."


"Begitukah katanya?" pria paruh baya yang bekerja sebagai merchant si pandai besi berkomentar. Dia adalah Yudas La Oberon, orang yang bersedia menyediakan tempat persinggahan bagi Christoph dan rekan-rekannya. "Pangeran Jean selalu memilih tempat yang tepat. Kerajaan Allegra menghargai nyawa seseorang berdasarkan nilainya. Di sana siapapun bisa masuk ke dalam kastil asalkan bisa menunjukkan bakat dan kemampuan masing-masing. Tidak seperti Alcander."


"Kau tidak akan pernah bisa melewati gerbang kastil kalau tidak memiliki emblem atau lencana tanda pengenal," sahut Terence. "Berbeda lagi dengan Axton. Tanda pengenalmu adalah sesuatu seperti ini." Pemuda itu menggulung pakaian untuk menunjukkan simbol di lengannya pada Yudas.


"Simbol itu ternyata bukan hanya bualan belaka," ucap Yudas setengah terkejut. Dia berpaling pada Christoph yang juga menunjuk bagian belakang lehernya. "Kalian sudah memilikinya. Itu berarti hubungan kalian dengan Pangeran Lucas saat ini sangatlah erat."


"Kami tidak bisa menolak perintah apapun darinya kalau tidak ingin nyawa kami melayang." Christoph menjelaskan sambil membelai lembut punggung si burung hantu sebelum menerbangkannya kembali ke angkasa. "Beruntungnya kekuatan iblis itu jatuh pada orang yang tepat. Orang yang sama sekali tak punya ambisi untuk berkuasa dan orang yang rela mengorbankan dirinya demi kebahagiaan semua orang." Bahkan sekarang ini pun dia bersedia menjadi alat untuk meraih tujuanku. Benar-benar orang itu....


"Lalu bagaimana rencana kalian selanjutnya?" tanya Yudas. "Dengan beberapa orang bawahanku, kita hanya punya waktu beberapa menit untuk menahan gerombolan itu."


"Kami akan segera pergi setelah Yang Mulia selesai dengan urusannya," jawab Christoph. "Eranth berada di balik pegunungan Iores dan akan menempuh waktu dua malam jika melewati jalur biasa. Aku..." Christoph tampak berpikir keras untuk merencanakan semuanya secara matang. "Aku akan mengajak kalian melewati celah Osiris untuk mempersingkat waktu." Pria itu kemudian menatap tajam Terence untuk meminta persetujuan.


Terence menelan air liurnya. Bukan menandakan dia sedang menginginkan sesuatu, tetapi justru kebalikannya. Celah Osiris terkenal akan medannya yang berbahaya. Tidak hanya badai salju. Ada banyak monster tanpa tuan berkeliaran di sana. Mereka kelaparan dan biasanya dimanfaatkan oleh bangsa iblis untuk menyerang manusia.


"Kenapa mereka lama sekali sih?" Terence tiba-tiba tak tenang. Jemarinya bergetar hebat karena ketakutan. Perjalanan yang dia lalui bersama Luce ternyata jauh lebih berbahaya dari yang pernah dia bayangkan. Sebelumnya, Bersama Jean dia akan selalu mendapat perlindungan, tapi bersama Luce justru sebaliknya. Dia harus menjaga pemuda labil itu dengan pertaruhan nyawa.


"Kau tidak boleh mengganggunya!" Christoph mengingatkan. "Bahkan jika kau ingin, kau tidak akan bisa melakukannya. Simbol ini telah mengekang kehendak apapun yang tidak sesuai dengan keinginan Yang Mulia."


"Tapi sekarang ini Eleanor sedang mempertaruhkan nyawanya," batin Terence. "Kalau sampai Luce tak bisa mengontrol dirinya sendiri, Eleanor pasti ..." Pria itu menggeleng kesal karena pikiran buruknya, tapi semua itu tak bisa menahannya untuk melangkah masuk ke dalam rumah. Sebuah pondok yang cukup luas untuk ditempati Yudas dan beberapa orang pekerja yang selama ini membantu pria tersebut berdagang.


Berbagai macam senjata disusun rapi pada beberapa rak sesuai fungsinya masing-masing. Adapula jenis senjata spesial yang tak boleh sembarang orang menyentuhnya --- diletakkan dalam kotak kaca berlapis sihir. Senjata legendaris yang tak pernah dimiliki oleh Terence. Jauh di sudut ruang tengah, terdapat ruangan lain dengan suhu ekstrim tempat para pandai besi mengolah berbagai logam sebagai bahan mentah pembuatan senjata. Sisik siren, kulit troll, hingga jantung naga salah satu dari sekian banyak bahan pendukungnya. Tempat itu benar-benar menjual peralatan tempur yang sangat berkualitas, tapi tak banyak orang yang mengetahuinya.


"Panah perak?" Terence teringat senjata milik Christoph yang nyaris melukai tuannya beberapa waktu lalu. "Sudah lama sekali. Bahkan racunnya juga ada. Aneh sekali, kan? Yudas dan Christoph berkomplot untuk membunuh tuan besar sementara tuan besar yang sudah lama mengetahui itu semua, hanya menyuruhku diam dan mencari bukti. Padahal dia sangat mengenal Yudas sampai-sampai tytos alba yang dia kirimkan tiba di tempat ini tanpa kendala. Kalau dipikir sekali lagi, hubungan mereka bertiga cukup rumit. Kenapa tuan besar sampai tidak mau memberitahu rahasia sepenting itu padaku? Apa sampai sekarang, tuan besar masih belum mempercayaiku?" Pria itu asyik melihat-lihat barang dagangan sambil melamun hingga sesuatu berhasil mengusiknya.


"Eleanor, kenapa kau duduk sendirian di sini?" Terence bertanya ketika mendapati rekannya tersebut duduk di antara para penjaga di depan sebuah kamar yang tertutup. "Bukankah kau seharusnya berada di dalam bersama Luce?"


Eleanor menggeleng. Sebagai gantinya terdengar suara beberapa orang mendesah dari balik tempatnya berada. Gadis itu gemetaran dan nyaris menangis karena tidak kuat. Selain menggigit bibirnya tak tenang, Eleanor hanya bisa menarik pakaian Terence kuat-kuat agar pria tersebut tidak masuk ke dalam kamar. "Luce yang memintaku keluar. Dia tidak mau menyakiti kita berdua. Sebaiknya, kau juga tetap di sini bersamaku."


"Dia pikir bisa hidup tanpa menyakiti orang lain?" geram Terence. "Sejak awal dia sudah ditakdirkan untuk hidup sebagai parasit di dunia manusia." Tanpa basa-basi pria itu memaksa masuk kamar untuk menemui Luce, tapi yang dia dapatkan hanya pemandangan menjijikan tak terduga. Para pekerja yang terkulai tak berdaya di ranjang, pinggiran dinding, bahkan permukaan lantai. Sambil mencengkeram bagian leher yang penuh tetesan darah, mereka terengah-engah seolah kehabisan tenaga. Ada sekitar enam orang pekerja pria maupun wanita dan beberapa di antaranya tak sadarkan diri.


"Masih hidup rupanya." Terence memeriksa denyut nadi salah satu wanita yang terbaring di ranjang kemudian memandang sekeliling. "Di mana bocah sialan itu? Dia tidak mau meminum lagi darah Eleanor, tapi sebagai gantinya dia menyiksa semua pekerja di tempat ini. Kenapa Yudas membiarkannya begitu saja. Benar-benar menyebalkan!"


Sebuah tangan tiba-tiba meluncur dari belakang tubuh Terence yang dengan cekatan disambut oleh pria tersebut. Dia berhasil menangkapnya tepat sebelum ujung jemari tangan itu menyentuh leher jenjangnya. Aura dingin begitu terasa hingga sang pemilik tangan terpelanting tak berdaya di hadapan Terence. Pria itu langsung memelintir tangan yang hendak menyergapnya serta menguncinya.


"Luce?" Terence nyaris tak mengenali pemuda bermata merah di hadapannya. Hanya simbol phoenix di dahi yang mengingatkannya pada satu orang yang dicarinya sejak tadi. Dalam waktu beberapa jam saja, pemuda tersebut telah tumbuh menjadi pria dewasa dengan tubuh atletis yang ramping dan sangat menggairahkan. Lucas Androcles, Luce tampak sama persis seperti kakak kandungnya, Jean St. Claire.


Telekinesis --- kemampuan mengendalikan benda tanpa menyentuhnya adalah salah satu hal yang dapat dilakukan pewaris phoenix. Terence tertawa sengit menyadarinya. "Akhirnya kau punya kemampuan yang sama seperti Tuan Besar sekarang," katanya menyeringai.


Luce kemudian berdiri sambil memijat lengannya yang keseleo hingga secercah cahaya kuning muncul di sekitar jemarinya. Kedua mata merahnya berubah keemasan sebelum kembali ke warna semula. Beberapa detik kemudian, Luce mengibaskan lengannya tersebut tanpa rasa sakit. Rupanya dia telah mengobati dirinya sendiri.


"Pakaianku," titah Luce tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Terence.


Eleanor kemudian mendekati pemuda itu dengan membawa baki berisi setelan kerajaan dan jubah merah berlis keemasan. Namun Terence menahannya. Pria itu tak dapat menahan rasa kesalnya pada Luce yang mendadak berubah sekejam itu pada semua orang. Dia kemudian meraih pakaian di baki Eleanor dan langsung melemparkannya ke wajah Luce. "Ambil sendiri pakaianmu! Kenapa harus menyuruh-nyuruh orang seolah kau adalah raja negeri ini!"


"Terence, cukup!" Eleanor menarik Terence menjauhi Luce, tapi pria tersebut menolaknya.


"Kalau kau ingin menjadi raja sampai seperti ini, lebih baik kita pergi ke Axton saja untuk membunuh ayahmu. Kau juga tidak perlu repot membantu orang yang pernah ingin membunuhmu!" tambah Terence. Jari kanannya tak dapat berhenti menunjuk Luce saking marahnya. "Aku percaya kau tidak akan terpengaruh oleh iblis dalam tubuhmu, tapi sekarang kau sudah seperti orang lain saja. Apa kau puas hidup dengan menggantungkan diri pada phoenix?"


Luce tersenyum. Dia tak menghiraukan Terence sama sekali meskipun teriakan pria itu nyaris terdengar oleh orang-orang yang berjaga di luar rumah. Dia sibuk mengenakan pakaiannya hingga Terence akhirnya menyadari kalau Luce memang bukan pemuda yang dia kenal dulu. "Apa sekarang aku sudah pantas melawan ayahku?" Pemuda itu memungut salah satu senjata yang tergeletak di dekat kakinya. Sebuah pedang bertatahkan zamrud hijau dengan ukiran sisik kura-kura di sekeliling pegangannya.


"Aku harus menakhlukkan kerajaan kecil terlebih dahulu sebelum menakhlukkan kerajaan-tertinggi. Itulah kenapa aku harus membantu Christoph." Luce kemudian berjalan ke sisi Terence dan memberikan pedang tersebut padanya. "Untuk mengalahkan seorang raja, aku harus menjadi raja. Itu baru namanya adil. Begitu juga kau, jangan melawan seseorang yang bersenjata tanpa senjata. Kau hanyalah manusia biasa. Kau bukanlah iblis ataupun penyihir, jadi jangan coba-coba menghentikan rencanaku hanya karena kau mengenal kakakku dengan baik. Aku adalah Luce, bukan Jean St. Claire. Jangan samakan aku dengannya."


"Dia benar." Eleanor menegaskan ketika Luce telah berlalu ke luar ruangan. "Kau tidak perlu menguras energimu untuk merasa kesal. Luce masih sama seperti yang kita kenal dulu, tapi dia yang sekarang harus menyadari tempatnya berada saat ini. Bukankah sebagai rekan yang baik kita harus mendukung keinginannya itu?"


"Tapi tidak harus dengan menjual jiwanya pada iblis seperti ini, kan?" Terence masih saja geram menyaksikan para pekerja di hadapannya yang tergeletak bersimbah darah. "Dia sudah tidak peduli lagi dengan darah siapa, dia akan bertahan hidup. Bagaimana aku bisa diam saja mengetahui semua ini. Tuan Besar memintaku untuk melindunginya bukan membiarkannya terus terjerumus dalam kegelapan..." Pria itu berlutut lemah dalam pelukan Eleanor sementara kedua matanya menangis.


***


Note From Author....


Halo readers yang terhormat, author cm sekadar ingin curhat karena beberapa waktu lalu ditinggal pergi oleh ayahanda tercinta, jadi sekarang author hidup dengan dua adik perempuan yang masih belum menikah. Sedih sekali... 😭😭😭setelah ditinggal pergi ibunda, tidak sampai dua bulan kemudian ditinggal pergi ayahanda....


Tapi author tidak patah semangat, karena Luce juga hidup sebatang kara. Walaupun hidup tanpa ayah (yang tidak pernah mengurusnya dengan baik) dan ibu (yang sudah meninggal), dia hidup dengan baik bersama teman-temannya dan terus berusaha menjadi yang terbaik bagi mereka.


Terima kasih para readers yang sudah memperhatikan novel ini. Karena novel ini adalah perjalanan hidup author versi fantasi.... author benar-benar menaruh perasaan author ke dalamnya sampai-sampai rasanya tak bisa hidup tanpa menulis.


@lebay


Sampai ketemu di chapter berikutnya, yang mengisahkan perjalanan cinta Pangeran Jean St. Claire bersama Putri Abigail Brown....


Penasaran, kan??? Bagaimana author mengasah kemampuan menulis kisah romansa selama ini??? Kalau begitu stay tune on this novel...


Fighting!!!