The Second Throne

The Second Throne
Glaring Glasses (2)



KACA YANG MENYILAUKAN_2nd Part


"Tuan Besar, ada surat dari Kerajaan-Tertinggi Axton," seorang pria berjas hitam menyerahkan segulung perkamen pada Fletcher yang baru saja selesai mandi. "Nggg... Begini Tuan Besar, anda sepertinya harus turun sekarang. Raja-Tertinggi Axton juga mengirimkan seorang pemuda seusia Tuan Muda Jean bersama dengan surat itu."


Alis mata Fletcher tampak bergerak heran mendengar laporan dari salah satu pelayannya tersebut. "Kalau begitu minta dia untuk menungguku di ruang tamu," katanya sambil melepas simpul tali yang mengikat gulungan perkamen, yang baru saja dia terima.


"Baik, Tuan Besar." pria berjas itu kemudian undur diri dari hadapan Fletcher.


"Aku sampai harus membebaskan seorang budak supaya Jean dan Luce tidak berusaha mencari teman bermain lagi." Jean membaca isi perkamen yang penuh dengan tulisan tangan berwarna hitam tersebut. "Dia mirip sekali dengan Devian, putraku, sehingga sulit sekali bagiku untuk memberinya nama. Jadi minta anak-anak untuk membuatkan nama yang bagus untuknya."


"Ah satu lagi. Kalau Aelfar macam-macam lagi dengan dua keponakanku itu, jangan segan untuk memberitahuku. Aku akan menghajarnya sampai dia tak bisa mengucapkan kata ampun lagi." Fletcher menggulung kembali perkamen itu sambil duduk di meja kerjanya yang menghadap langsung ke jendela kaca. "Pria itu benar-benar menepati janjinya. Meskipun aku tak jadi menikahi Ireene, dia masih tetap menganggapku sebagai adik ipar. Apa aku juga harus memberitahunya soal malam eksekusi yang kulihat dalam mimpiku?"


"Menyebalkan sekali bisa melihat masa depan tapi tak bisa mengubahnya," Fletcher berkata kesal. "Setelah itu pun aku melihat masa depan yang cerah menantikan anak-anak jika mereka bisa melalui semua masalah yang ada... Tapi kalau mereka tak bisa bertahan dari semua itu..." Fletcher menghela napas panjang.


"Untuk saat ini aku hanya bisa menggantikan posisi kakak sebagai seorang ayah bagi mereka dan aku harus mengajarkan banyak hal dalam waktu yang singkat ini, terutama pada Jean. Aku harus mengajarkan padanya cara yang benar untuk melalui semua masalah yang menghadang di masa depannya nanti. Begitu melelahkan. Aku bertanya-tanya kapan semua ini akan berakhir?"


Beberapa menit kemudian, Fletcher sudah berada di ruang tamu bersama seorang pemuda berambut keemasan. "Siapa namamu?" tanya Fletcher sambil berlutut menyejajarkan mata birunya yang sama persis dengan milik pemuda yang terus diam membisu itu. "Apa kau belum pernah mendengarnya? Bahwa semua orang bermata biru seperti kita adalah keturunan para raja terdahulu? Kalaupun mereka bukan anggota keluarga Raja, mereka pastilah seorang bangsawan. Jadi aku sama sekali tidak percaya kalau kau tidak punya nama seperti budak-budak lainnya. Cepat katakan, siapa namamu atau aku akan meminta anak-anak itu menamaimu sesuka hatinya." Fletcher menunjuk Jean dan Luce yang baru saja datang.


"Namaku Ellgar Wagner," ucapnya dengan cepat. Aura dingin Jean dan wajah nakal Luce rupanya telah membuat pemuda itu ketakutan. "Keluargaku adalah salah satu bangsawan termasyur di Kerajaan Allegra dan karena ayahku yang seorang prajurit gugur di medan perang, mereka mengambil anak-anak sepertiku dan menjadikan kami budak di Estefania."


"Bagaimana dengan ibumu dan saudara-saudaramu?" tanya Fletcher penasaran.


"Ibuku sudah lama meninggal dan aku adalah anak tunggal di keluargaku. Setelah perang berakhir, mereka juga mengambil semua harta peninggalan orang tuaku. Jadi aku sudah tidak memiliki apapun lagi," jawab Ellgar dengan wajah menunduk.


"Kejam sekali..." Fletcher mengernyitkan dahinya tak percaya. "Allegra memang bukan negeri yang bersahabat seperti Alcander. Wajar saja kalau Eginhard menyerangnya dan memperlakukan mereka seperti itu, tapi apa Raja Sadis itu tahu dampak dari ekspansi yang telah dilakukannya sudah melewati batas kemanusiaan?"


Jean dan Luce mendekati Fletcher dan pemuda bernama Ellgar itu untuk memperkenalkan diri.


"Tapi sekarang kau sudah memiliki kami di sini," ucap Luce dengan senyum mengembang -- merasakan kebahagiaan karena akhirnya mendapatkan teman selain kakaknya. Ditambah lagi Ellgar terlihat sangat penurut sampai-sampai Luce berpikir bisa menjahilinya setiap saat. "Namaku Lucas Androcles. Kau bisa memanggilku Luce dan ini adalah kakakku, Jean."


"Kau tidak boleh memanggilnya hanya dengan nama Luce," kata Jean tiba-tiba. Pemuda itu melipat kedua tangannya dan mulai berlagak angkuh di hadapan Ellgar. "Kau harus memanggilnya Tuan Muda. Kalau perlu panggil dia dengan gelar kerajaannya, yaitu Pangeran Kedua Alcander. Itu akan membuatku berpikir ulang untuk menjadikanmu pelayan di mansion ini. Meski sebelumnya kau adalah seorang bangsawan tapi tetap saja, statusmu berada di bawahku. Jadi jangan harap kita bisa lebih dekat dari ini."


Jean berlalu begitu saja setelah menampakkan wajah dinginnya pada semua orang. Pemuda itu menutup pintu dengan keras seolah sedang marah. Ellgar sampai ketakutan dibuatnya.


"Kau pasti bingung kan dengan silsilah keluarga kami?" Luce bertanya seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ellgar. Dia lalu menggandeng pemuda berambut keemasan tersebut dengan hangat. "Ayo ikut denganku ke taman. Akan kujelaskan semuanya padamu."


Luce dan Ellgar kemudian bergegas meninggalkan ruang tamu tersebut sementara Fletcher menyusul Jean yang sedang berdiri di ambang jendela kamarnya sambil bersenandung lirih.


"Kau baik-baik saja?" tanya Fletcher, membuat Jean menoleh terkejut. "Aku pikir kau marah karena tak memberitahumu soal pelayan baru tadi."


"Aku sama sekali tidak marah," jawab Jean. "Hanya saja... Terkadang aku berpikir kenapa Paman mau melakukan apapun sejauh ini hanya untukku. Padahal aku sudah tidak ingin berteman dengan siapapun lagi sejak hari itu, tapi Paman justru bersusah payah mencarikan pelayan untukku. Atau jangan-jangan... Paman Fletcher memang adalah ayah kandungku?" Raut wajah Jean berubah kesal ketika mempertanyakan apa yang ada di benaknya selama ini. "Kalau memang begitu, wajar saja ayahanda tak pernah menganggapku sebagai putranya, kan? Aku ingin sekali mempercayai hal itu, tapi..."


"Tapi kau tak percaya, kan?" Fletcher duduk di ranjang perlahan sambil mengangkat dagu Jean yang terlihat muram. "Ibumu tak mungkin melakukan hal serendah itu. Kau sudah seyakin itu, tapi kenapa masih tak mempercayai dirimu sendiri. Ibumu hanya menganggap Paman sebagai sahabatnya. Tidak lebih. Walaupun banyak kemiripan di antara kita berdua mungkin Tuhanlah yang merencanakan itu semua. Jadi jangan lagi merendahkan dirimu. Kau bukan seperti yang mereka katakan. Kau harus membuktikan pada semuanya. Paman akan selalu mendukungmu dari belakang karena Paman sudah menganggapmu seperti anak Paman sendiri."


"Kalau begitu kenapa Paman tidak menikah?" Jean semakin kesal dengan penjelasan Fletcher yang sok dramatis. "Apa perlu aku mencarikan Paman calon istri, seperti Paman mencarikanku teman?"


Fletcher tersentak tiba-tiba. Dia tak pernah menyangka Jean akan menanyakan hal sepribadi itu. Padahal sudah jelas kalau dia hanya mencintai Ireene seorang. Sudah tidak ada alasan lagi baginya mencari pendamping hidup lainnya. Meskipun tidak dengan ikatan pernikahan, tinggal bersama wanita yang dicintainya serta menemaninya dalam setiap momen suka dan duka, sudah membuat Fletcher sangat bahagia.


"Bocah ini kenapa jadi kurang ajar seperti ini?" lirih Fletcher. "Jelas sekali kalau dia mewarisi sifat buruk ayahnya. Orang yang seenak jidatnya merebut tunangan orang lain lalu menerlantarkannya seperti barang bekas."


"Paman!" Jean membangunkan Fletcher dari lamunannya. "Paman kenapa?"


Fletcher menggeleng. "Paman tidak apa-apa. Begini saja... Lain kali Paman akan mengajakmu ke Axton untuk menemui Pamanmu yang lain supaya kau tidak memikirkan yang aneh-aneh lagi."


"Axton?" Jean terperangah. Mata birunya berbinar indah karena penasaran. "Bolehkah kita ke sana?"


"Ah, kalau soal itu... Kita bisa minta tolong pada Pamanmu yang ada di sana untuk menjemput. Kau tidak usah khawatir." Fletcher mengacak-acak rambut Jean hingga berantakan. "Di sana kau pasti akan diperlakukan sama istimewanya seperti bangsawan lain karena kau adalah putra Ireene. Bahkan mungkin lebih baik dari perlakuan seorang Putra Mahkota di sini, karena di sana tidak memberlakukan gelar mahkota. Axton adalah kerajaan terbesar di dataran ini. Mereka mengangkat seorang anak laki-laki seusiamu sebagai seorang Raja-Muda. Kau harus berkenalan dengannya. Aku juga akan mengenalkanmu dengan anak-anak bangsawan lain kalau kau mau."


"Benarkah yang Paman katakan itu?" Jean semakin terlihat bersemangat. "Berteman dengan seorang Raja... Apakah aku bisa melakukan hal yang seperti itu..."


Fletcher tersenyum. "Tentu saja bisa karena kau adalah Pangeran Pertama Alcander."


Jean kembali memandang keluar jendela. Di sana dia bisa melihat Luce yang sedang mengerjai Ellgar. Dengan kedua mata tertutup, Luce meminta Ellgar untuk menangkapnya. Melihat pemandangan itu, Jean sama sekali tak bisa melupakan rasa terharunya. Untuk pertama kalinya dia akhirnya menemukan jalan menuju ke dunia luar, selain Alcander. "Terima kasih pada Tuhan yang masih memberikan tempat terbaiknya untukku dan Luce," katanya penuh rasa syukur.


_________11th years ago-end____________