The Second Throne

The Second Throne
Servant and The Master (8)



PELAYAN DAN TUANNYA___8th Part


"Apa semua ini berkaitan dengan serpihan kekuatan yang dimiliki oleh mereka berdua?" Ellgar tiba-tiba mendapatkan ingatannya kembali tentang tragedi Grissham sepuluh tahun lalu di mana seluruh anggota keluarga Luce dibantai oleh ayahnya sendiri.


Illarion mengangguk. "Aku hanya berusaha agar peristiwa sepuluh tahun lalu tidak terulang lagi. Lebih baik, kita mengorbankan salah satunya agar Pangeran Kedua mendapatkan seluruh kekuatan tersebut. Setelah itu, baru kita pikirkan cara mengembalikanmu dan Pangeran Kedua ke Axton. Raja-Tertinggi hanya memberi waktu kalian selama satu minggu sebelum purnama bulan ini tiba karena pada saat itu akan sulit mengendalikan serpihan kekuatan milik Pangeran Lucas."


Ellgar kembali mengingat masa lalu, "Benar. Saat itu Pangeran Jean juga berusia enam belas tahun kemudian setiap malam purnama Tuan Besar Fletcher selalu menyegel kekuatannya. Tapi kali ini beliau sudah tidak ada."


"Ditambah lagi serpihan kekuatan milik Pangeran Lucas jauh lebih besar," imbuh Illarion. "Kau pastinya akan tahu apa yang akan terjadi jika kita terlambat membunuh Pangeran Jean. Pada saat itu, Pangeran Lucas mungkin akan membakar seluruh wilayah Alcander tanpa dia sadari. Kemudian dia hanya akan menjadi iblis liar yang tidak tahu harus menggunakan kekuatannya untuk apa. Lalu jika Raja-Tertinggi tahu, dia akan datang sendiri ke tempat ini untuk merebut kembali kekuatannya dengan membunuh Pangeran Lucas."


Ellgar tiba-tiba tertawa dan membuat Illarion semakin terlihat khawatir. "Ada apa? Kenapa kau menertawakan hal itu? Apa kau tidak ingin menyelamatkan Tuanmu?"


"Saya hanya berpikir terlalu jauh, Yang Mulia," jawab Ellgar. "Saya pikir di masa lalu atau masa depan sekalipun. Pangeran Jean dan Tuan Luce, mereka tidak akan pernah punya kesempatan untuk hidup meskipun mereka melawan. Mati di sini atau di Axton, kita hanya berusaha memperlambatnya saja, kan. Meskipun nantinya Tuan Luce bisa kembali ke Axton setelah Pangeran Jean terbunuh, kita juga tak bisa memastikan kalau Raja-Tertinggi tidak akan membunuhnya di sana."


"Kau benar," Illarion setuju. "Tapi daripada memikirkan hal itu, lebih baik kita cepat bergerak sekarang. Memperlambat atau mempercepat, itu adalah takdir Tuhan. Kita hanya bisa berusaha semampunya, bukan?"


Sejak pertemuan pertama mereka sepuluh tahun yang lalu, ini pertama kalinya Ellgar merasa sangat berterima kasih pada Illarion. Semua yang terjadi sekarang, terasa jauh berbeda dengan apa yang terjadi di masa silam. Perlahan, Ellgar mulai memahami pemikiran pria di hadapannya. Pria yang dahulu hanya dia kenal lewat tatapan mata saja. "Saya menyesal baru mengatakan ini pada anda, Yang Mulia tapi mulai hari ini saya akan berusaha melakukan apa yang saya bisa dengan apa yang saya punya."


Illarion tersenyum senang mendengar keputusan Ellgar tersebut sementara Ellgar menyambutnya dengan penuh kehangatan. Entah kenapa, rasanya Ellgar seperti menemukan kembali rumah dan keluarga lamanya. Meskipun semua bangsawan, selalu menghina Luce dan Jean dan selalu membandingkan kedudukan mereka dengan Illarion, tapi Ellgar sadar kalau dia belum pernah mendengar hinaan sekecil apapun dari bibir Illarion sendiri. Sepuluh tahun yang lalu, Ellgar dan Jean selalu mengawasi Illarion dari kejauhan, begitupun sebaliknya. Mereka dilarang saling bertemu walaupun mereka sebenarnya adalah saudara seayah, apalagi berteman. Karena itu, mengobrol panjang-lebar dengan Illarion seperti saat ini, bagi Ellgar seperti harapan yang nyaris usang kemudian menjadi kenyataan.


"Ada apa dengan adegan bunga mawar yang bermekaran ini?" seorang wanita bergaun sutera keemasan mendekati Illarion dan Ellgar yang masih sibuk menertawakan diri mereka sendiri. Ratu Dmitria, istri sah Raja Abraham Hamlet, sekaligus satu-satunya permaisuri di Alcander. "Aku mendengar sedikit obrolan kalian tadi," katanya. Beberapa pelayan berdiri di belakang wanita itu sambil menundukkan kepala. Dia kemudian melanjutkan. "Alangkah baiknya jika Pangeran Kedua juga berada di sini seperti yang kau harapkan, Putra Mahkotaku," Ratu Dmitria mengelus rambut perak Illarion.


"Ah, ibunda, aku bukan anak kecil lagi," Illarion refleks menurunkan tangan ibunya yang berhiaskan gelang-gelang emas dan permata. "Aku bahkan sudah jauh lebih tinggi dari ibunda sekarang, jadi jangan selalu memanjakan diriku lagi seperti dulu. Aku yang sekarang, sudah mendapatkan hak dan tanggung jawab penuh untuk mengurus sistem pemerintahan di kerajaan. Hanya tinggal menunggu ayahanda pensiun saja, kan." Pria itu tertawa sementara Ellgar tidak ingin mengganggu reuni antara ibu dan anak di hadapannya. Sungguh pemandangan yang mengharukan seandainya Luce dan Jean berada di posisi Illarion saat itu.


"Sepertinya benar ucapan Tuan Luce selama ini," Ellgar berpikir. "Menjadi baik atau buruk kadang bukan ditentukan dari apa yang kita lakukan, tetapi dari apa yang kita dapatkan dengan menjadi diri kita sendiri. Begitu juga Putra Mahkota. Beliau sepertinya tidak seburuk penglihatanku di masa lalu. Anak yang telah mencuri ayah dari orang lain dan anak yang telah merebut kebahagiaan dari saudara-saudaranya. Putra Mahkota yang sekarang, hanya berusaha menjalankan semua kewajibannya. Karena itulah, dia juga terpaksa memusuhi Pangeran Jean, bahkan berniat menghabisinya. Bagi Putra Mahkota mungkin Alcander tidak bisa digantikan dengan nyawa siapapun."


Ratu Dmitria tiba-tiba menyalami Ellgar tanpa rasa canggung sedikitpun, sebaliknya Ellgar yang justru terlihat gugup dan mendadak gemetar kembali. "Aku harap kau dan Putra Mahkota bisa terus berteman seperti ini," ucap wanita itu dengan senyum anggun khas seorang Ratu. Dia kemudian memandang kembali putra semata wayangnya dan berkata, "Evan telah menunggu kalian di Pintu Gerbang Utama. Hari ini semoga berhasil. Ibunda akan menunggu kalian kembali bersama dengan Pangeran Kedua secepatnya."


***bersambung ke part berikutnya


NOTE from AUTHOR


Selamat pagi, teman-teman readers sekalian. Kali ini author brekele akan membagikan sedikit info tentang musim di Kerajaan-Tertinggi Axton. Semua wilayah kerajaan-bagian, memilik empat musim subtropis sepanjang tahun, yaitu musin semi, panas, gugur, dan dingin.


Pada musim semi, tumbuhan yang tumbuh beranekaragam dan kebanyakan tumbuhan akan berbunga sangat indah saat pagi hari. Di pusat Kerajaan Axton sendiri, iklimnya menyerupai wilayah Asia Timur (kalau di dunia nyata). Buah persik tumbuh baik di sekitar kerajaan. Teratai dan bunga sakura (cherryblossom) juga bermekaran saat itu. Bahkan pohon oak dan mawar pun bersemi indah di pelataran Kerajaan Alcander yang iklimnya menyerupai wilayah Eropa Barat (kalau di dunia nyata).


Selain itu, ada pengecualian iklim di wilayah Hutan Terlarang (Forbidden Forest) yang hanya memiliki dua iklim tropis, yaitu kemarau dan penghujan. Meskipun banyak ditumbuhi tanaman pinus namun hutan tersebut memiliki semak belukar dan fauna yang bermacam-macam layaknya wilayah Asia Tenggara (kalau di dunia nyata). Karena itulah, hutan ini sangat dilindungi.


Wilayah lain yang beriklim sama dengan Hutan Terlarang adalah hutan tersembunyi di wilayah utara Alcander yang berbatasan langsung dengan ibukota Grissham. Hutan ini dijaga ketat oleh hukum kerajaan dan tak seorangpun bebas keluar-masuk karena merupakan tempat bersejarah bagi keluarga besar Kerajaan Alcander. Luce lahir dalam sebuah mansion mewah di tengah hutan ini, tempat di mana ibunya diasingkan. Di tempat itu pula seluruh keluarganya dieksekusi atas perintah Raja Alcander, Abraham Hamlet yang tidak lain adalah ayah kandung Luce sendiri.


Berbicara tentang cuaca dan iklim, masih ada banyak wilayah Axton yang belum Luce kunjungi. Karena itu, semua informasi akan diberikan setelah kemunculannya dalam cerita ini. Tetap ikuti terus kisah perjuangan Luce dan teman-temannya dalam meraih impian mereka. Terima kasih...


JANGAN LUPA


KLIK LIKE


KLIK FAVORITE


KLIK 5 RATE


TINGGALKAN JEJAK DI KOLOM KOMENTAR


KARENA SEMUA ITU GRATISSS !!!