The Second Throne

The Second Throne
Crimson Sky (3)



...---Langit Merah---...


...3rd Part...


Jean merebahkan diri di permukaan kasur yang empuk setelah kembali ke pondok sewanya. Tangan kanannya dilipat menutupi kedua matanya yang silau oleh cahaya lampu kekuningan. "Aku sudah bersikap terlalu keras padanya," ucapnya sambil terus menyesali betapa jahat dirinya di hadapan Abigail padahal mereka baru pertama kali bertemu. "Aku memperlakukannya seperti seorang penindas, padahal dia calon istriku."


Ellgar tertawa saat menutup pintu kemudian merapikan mantel kulit Jean pada pengait pakaian. "Setelah sebelas tahun lamanya, saya pikir anda sudah berubah banyak, tapi ternyata anda tetaplah Tuan Besar St. Claire yang saya kenal dulu. Bersikap angkuh di hadapan semua orang, padahal anda sebenarnya sangat memerlukan pertolongan dari mereka. Padaku dan juga dua pelayan setia anda di Grissham." Bahkan pada kedua orang tuanya juga....


"Maksudmu Terence dan Eleanor?" tanya Jean kemudian melepas topengnya. "Mereka cuma dua anak yatim piatu yang tadinya kupungut di jalan. Ah, tidak. Mereka harusnya menjadi anak yatim piatu, tapi karenaku mereka masih memiliki seluruh anggota keluarganya."


"Saya tidak terlalu mengenal Eleanor," jawab Ellgar duduk tak jauh dari Jean. "Tapi kalau Terence, saya yakin masih ingat betul wajah dan perbuatannya sebelas tahun lalu. Manusia memang cenderung berubah, tapi saya masih saja heran kenapa hanya anda saja yang tidak berubah?" Ellgar tersenyum menyindir lagi.


"Kau mau aku berubah jadi apa?" Jean mendesah galau. "Lagipula aku yang sekarang ini bukanlah seorang 'tuan besar' lagi sedangkan kau di Alsterville... Ayolah, ini adalah kampung halamanmu." Jean mendadak duduk dan memelototi Ellgar. "Jangan bersikap terlalu formal padaku lagi. Kita sudah berteman cukup lama sampai mempertaruhkan nyawa kita satu sama lain. Apa tidak bisa kalau kita berteman saja seperti bangsawan yang lain. Nama aslimu kan Hector Clarke. Akan terasa aneh kalau kau memanggilku Tuan Besar sepanjang waktu, padahal aku ini menyamar jadi sepupumu."


"Tidak bisa!" Ellgar berbicara tegas sambil melipat tangan. "Saya tahu anda hanya ingin balas dendam pada saya. Bagaimanapun juga sejak kecil saya sudah terbiasa dengan semua perilaku anda, jadi saya tidak akan mudah tertipu."


"Aku tidak bermaksud menipumu. Aku hanya lelah menjadi seorang Jean St. Claire yang sibuk mencari perhatian ayahnya." Jean kemudian bangkit menuju meja kerjanya disusul oleh Ellgar. Pria itu duduk dan mencoba membuka beberapa dokumen penting yang harus dia kerjakan hari itu. "Ada berapa banyak tempat yang subur di Allegra? Aku ingin segera membuka lahan di sana."


"Sekarang hanya tinggal tiga tempat saja, Tuan Besar." Ellgar menunjuk sebuah peta perkamen berukuran besar yang tertempel di dinding. "Di kaki bukit Zenovia, tepi sungai Liodra, dan sedikit di dekat kastil Allegra. Tapi, apa anda yakin akan beralih dari usaha pertambangan ke usaha pertanian? Menurut saya ini cukup ekstrim, Tuan."


Jean membuka sebuah amplop berisi lembaran surat laporan dari Grissham, sebelum menanggapi pendapat Ellgar. "Aku tidak akan meninggalkan usaha mendiang pamanku di Grissham tanpa melakukan apapun. Meskipun kerajaan telah mengobrak-ngabrik kantor kita, seluruh kepemilikan tambang sudah aku alihkan ke Tuan Besar Collin dan sebelum kejadian waktu itu, dia dan keluarga besarnya telah pergi ke arah selatan, menyeberangi lautan..."


"Kepulauan Lacresia?" tebak Ellgar. "Anda yang menyuruh mereka ke sana? Bukankah itu berbahaya sekali, Tuan?"


"Ada sebuah pulau tak berpenghuni di lautan tersebut yang tidak termasuk dalam wilayah Lacresia dan pulau itu sudah dibeli atas nama aslimu, Hector Clarke," Jean menjelaskan. "Tidak ada yang tahu nama aslimu kecuali keluarga Brown, serta kedua mendiang pamanku, Eginhard Idylla dan Fletcher St. Claire."


Ellgar tercengang. "Anda membeli sebuah pulau untuk saya? Darimana anda mendapatkan uang sebanyak itu? Anda hanyalah..."


Jean membanting laporannya ke atas meja. "Pangeran buangan? Ya, aku tahu, tapi siapa yang menyangka kalau hartaku jauh lebih banyak daripada seorang raja." Pria tersebut menggeleng dan kembali duduk manis di kursi kerjanya. "Aku bercanda. Bukan aku yang melakukannya, tapi Paman Eginhard."


"Eginhard? Maksudmu Yang Mulia Raja-Tertinggi Eginhard Idylla yang beberapa waktu lalu dikabarkan telah wafat? Kakak dari mendiang Putri Ireene el Idylla, ibu yang melahirkanmu?" saking terkejutnya Ellgar balas memukul meja, bahkan lupa berbicara formal pada majikannya.


"Ha ha ha!" Jean mendadak tertawa terbahak-bahak sementara pria bersurai emas di hadapannya terdiam bingung dan tak percaya. "Sejak awal kau memang bukanlah seorang pelayan. Aku sering mengatakan hal itu, kan? Tapi kau sendiri yang memutuskan untuk tidak mempercayainya. Bahkan kau lebih memilih jadi pelayan kami. Padahal baru saja kau bilang kalau kau sangat mengenaliku, tapi apa ini? Sudah lama sekali aku mengerjaimu sejak pertama kali kita bertemu, tapi kau tidak sadar juga."


"Cukup! Ini bukan bahan candaan," tukas Ellgar. "Untuk apa orang penting seperti dia mempersiapkan hal semahal itu untukku? Meskipun aku jadi terlihat kaya hanya karena sebuah pulau yang dihadiahkan atas namaku, tapi untuk apa itu semua? Sebelumnya Axton telah membunuh ayahku bahkan merampas semua harta peninggalannya!?" Pria tersebut mendadak diam tak berdaya karena menyadari sesuatu.


"Paman Eginhard itu pria yang baik. Dia tidak akan membunuh orang lain tanpa alasan dan ayahmu hanya berusaha mempertahankan wilayah Allegra dari kekuasaan Axton. Tak ada yang salah dengan pertikaian mereka. Hanya saja, untuk membalas kebaikanmu karena telah melayani kami, Paman Eginhard mengembalikan semua harta rampasannya dalam bentuk pulau dan sekarang pulau itu telah menyelamatkan bisnis keluarga St. Claire. Kau mengerti kan sekarang, kenapa sejak dulu aku selalu menindasmu."


Ellgar masih termenung dan berusaha memahami semuanya hingga Jean memperjelas lagi kata-katanya. "Paman Fletcher berjanji akan mencarikanku teman dari kalangan yang sama agar aku tidak merasa kesepian lalu Paman Eginhard membantunya dan menemukan dirimu di Alsterville, tapi kalau hanya berteman... Seperti anak-anak bangsawan yang lain, kau bisa saja mengkhianatiku. Jadi, aku memberitahu kedua pamanku untuk merahasiakan semuanya agar kau mau menjadi pelayanku dan seperti ucapanku di awal tadi... bahwa gelar bangsawanku telah dicopot oleh Alcander, bahkan ayahku telah mencoret nama St. Claire dari daftar keluarga kerajaan, maka sekarang kau bebas menjadi dirimu sendiri."


"Kau bisa mengirim surat pada kepala keluarga Collin dan mengambil pajak dari mereka atas kepemilikan pulau atau tetap di sini bersamaku merintis kembali bisnis pertanian bersama keluarga Brown," ucap Jean.


Ellgar meremas kedua tangannya tak mengerti. "Kenapa semudah itu Tuan Besar melepas saya? Bagaimana jika bukan kedua hal itu yang saya inginkan? Bagaimana jika saya menginginkan hal lain yang akan membuat anda terpuruk dan kehilangan masa depan? Anda tahu persis maksud saya..."


"Kau ingin Abigail menjadi milikmu?" Jean menatap sendu ke arah botol tinta yang nyaris kosong. "Kalau begitu..." Ujung jari Jean yang lentik sengaja menggulingkan botol tinta tersebut ke lantai dan membuat noda hitam berceceran di sekitarnya. "Tunggu sampai aku mendapatkan Putri Mahkota dan mencampakkannya nanti."


Mendengar ucapan Jean yang semena-mena, tanpa menunggu waktu lagi Ellgar langsung menerjangnya. Ditariknya kerah pakaian Jean tinggi-tinggi sampai pria tersebut kesulitan bernapas. "Kau ingin aku berubah, kan? Kalau begitu perhatikanlah... seberapa keras aku mencoba berubah demi kau dan yang lainnya," ucap Jean sebelum Ellgar melemparnya ke kursi dan beringsut pergi dari ruangan tersebut. Pria berambut keemasan itu membanting pintu dengan keras karena marah.


"Sekarang aku harus memilih dari tiga tempat, mana yang akan kujadikan lahan pertanianku." Jean memandang fokus pada puncak perbukitan yang terlihat di antara atap gedung ibukota. "Sepertinya lebih aman di sana. Terisolasi dan cukup tidak menarik perhatian. Bahkan aku bisa menggali dasar bukit untuk dijadikan tambang ilegal sekaligus markas rahasia. Setelah itu, aku tinggal mempererat hubunganku dengan kelompok oposisi dan membuat Putri Mahkota terdesak sehingga Raja Allegra akan mendengar suaraku."


"Tidak cukup seperti itu," pikir Jean dengan darah kehitaman yang tiba-tiba menetes keluar dari lubang hidungnya. "Aku harus membuatnya mematuhi semua perintahku."


***


NOTE


Hai-hai, sudah lama tidak bersua...


Readers sekalian yang sudah menjamur, author memutuskan untuk merilis kembali kelanjutan serial novel TST ini...


Setelah bungkam beberapa waktu lamanya...


hampir setahun tepatnya, lahirlah seorang peri kecil yang sekarang menginjak usia 9 bulan sampai akhirnya author bisa melanjutkan kembali cerita ini...


Dalam cerita berjudul Crimson Sky (Langit Merah) ini, fokus akan ditujukan pada second male lead kita, yaitu Jean St. Claire yang akan menjalani kehidupan cinta dramatis bersama wanita yang dia cintai.


Karena sejak awal cerita ini berkisah tentang tragedi, tolong sebelum membaca persiapkan tisu terlebih dahulu 🤣


Dan untuk keseruan membaca, readers sekalian bisa mendownload lagu-lagu bertema fantasi untuk menemani. Ada beberapa penyanyi dan komposer yang menjadi andalan author dalam perkembangan progress novel ini, beberapa di antaranya yaitu:



Yuki Kajiura


Kalafina


Erutan


Secret Garden


Fiction Junction


dan masih banyak lagi.



Nah, akhir kata...


Terima kasih banyak sudah mau mampir dan meninggalkan jejak di novel ini...


😆😆😆