
PEMUDA BERTUDUNG__6th Part
Rick tersenyum tipis. Wajah tampannya merona saat itu. Padahal bukan dia yang diberikan ucapan terima kasih, tapi bisa-bisanya dia ikut merasa malu. "Mungkin aku yang sudah terlalu tua sampai tak tahu kalau pada masa yang sulit seperti ini, masih saja ada anak muda yang setulus dia."
Pria berambut panjang tersebut kemudian berdeham untuk mengalihkan topik pembicaraan. "Kemudian soal rahasia yang ingin kuberitahu padamu. Aku pikir itu bukan hanya rahasia kecil saja bagimu," Rick melanjutkan, membuat Luce menegakkan kepala. "Sepuluh tahun yang lalu, selain dirimu, ada satu korban lagi yang masih hidup. Tugasmu adalah menemukannya kemudian membunuhnya."
"Membunuhnya?" Luce terkejut bukan main. Pemuda itu langsung berdiri dan memukul meja. Kedua matanya melotot karena marah. "Untuk apa aku membunuh orang yang tidak bersalah? Walaupun aku bilang akan melakukan apapun, bukan berarti Paman bisa seenaknya menyuruhku untuk membunuh orang yang tak bersalah seperti dia. Itu sama saja seperti menghukum diriku sendiri, Paman."
"Anggap saja itu memang hukuman untukmu karena telah mencuri kekuatan Phoenix dari garis utama keturunan Raja-Tertinggi," Rick menyilangkan tangan di punggung kemudian membuka pintu perpustakaan dan berjalan ke luar. "Aku tahu ini memang tidak adil. Tapi karena mendiang ibumu yang melakukan itu, maka kau yang harus menebusnya."
"Pria ini tidak waras," lirih Luce geram. "Ibunda sudah tiada dan mereka masih mau memintaku membunuh orang..." Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikiran Luce yang membuatnya bertanya pada Rick, "Jangan bilang kalau korban yang masih hidup itu adalah kakakku Jean?"
Rick membalikkan badan ke arah Luce, tapi tak memberikan jawaban apa-apa. Sebaliknya, dia justru berjalan kembali masuk ke dalam perpustakaan untuk mengambil sebuah kotak panjang yang diletakkan pada sebuah nakas. "Phoenix adalah makhluk abadi. Satu-satunya cara untuk membunuhnya adalah dengan senjata ini," ucap Rick sambil membuka kotak tersebut. Di dalamnya sebilah pedang berukir phoenix tertata rapi hingga pria itu mengambilnya. Dia kemudian mencabut pedang tersebut dari sarungnya dan tiba-tiba mengarahkan bilahnya pada Luce.
"Benar. Dia adalah Jean, kakak kandungmu," tegas Rick. Pada saat yang bersamaan, kedua mata Luce berubah menjadi merah. Berbeda dari sebelumnya, seluruh pembuluh darah yang ada di tubuh pemuda itu seolah naik ke permukaan kulitnya, menimbulkan guratan-guratan jelas berwarna merah kehitaman. Termasuk wajah Luce yang terlihat jadi menyeramkan dengan semua guratan itu, muncul sebuah simbol bercahaya keemasan di dahi Luce--tepat di balik rambut hitamnya. Simbol berbentuk seekor burung dengan sayap api yang terkembang. Warna keemasan juga muncul dari punggung Luce kemudian membentuk jilatan api yang nyaris menyerupai sepasang sayap. Luce berlutut dan menahan berat tubuhnya sendiri. Sayap itu semakin lama semakin membesar, hampir menghanguskan setiap benda yang disentuhnya. Kemudian karena tak tahan lagi, Luce berteriak pada Rich, "Hentikan sebelum aku membakar seluruh isi paviliunmu!"
Rick tidak langsung melakukan apa yang Luce perintahkan. Senyumnya justru merekah menyaksikan pemandangan yang menakjubkan di hadapannya. Semakin lama, udara di sekitar perpustakaan itu semakin panas dan bergerak bagai angin di musim kemarau--mencari kebebasan. Semua kusen kayu dan daun pintu yang hanya terbuat dari kertas sutera hangus menjadi serpihan abu. Luce memejamkan kedua mata karena tak bisa mengontrol kekuatannya sendiri sedangkan Rich yang telah puas dengan perbuatannya itu, menghidu panjang udara panas di sekitarmya. Dia kemudian menyarungkan kembali pedang di tangannya dan melemparkannya pada Luce--yang seketika berubah kembali normal.
"Kalian berdua telah memecah kekuatan Phoenix menjadi dua bagian. Jadi untuk menyatukannya kembali seperti sedia kala, kau hanya punya dua pilihan, membunuh dia atau bunuh dirimu sendiri dengan pedang ini," Rick meninggikan nada bicaranya bersamaan dengan bunyi kelontang pedang yang jatuh di hadapan Luce.
"Jadi kakak masih hidup?" Luce masih tak bisa mempercayai ucapan Rick barusan. Tapi karena seluruh api di tubuhnya telah padam, dia kembali berdiri setelah mengambil pedang yang dilemparkan Rick padanya. Pedang itu tak berbeda jauh dengan pedang milik Erich Harbyn yang pernah diarahkan padanya. Ukiran lembut burung api dan warna keemasan yang menambah nilai senjata tersebut. Mungkin perbedaannya hanya ketika pedang itu dikeluarkan dari sarungnya, maka seketika itu juga Phoenix dalam tubuh Luce memberontak ingin keluar.
"Jadi Kepala Prajurit benar-benar menyaksikan leherku terpenggal?" lirih Luce. "Waktu itu seluruh keluargaku habis dibantai oleh para prajurit atas perintah ayah kandungku sendiri. Kemudian mereka juga membakar rumah kami yang sudah berada di tanah pengasingan sejak aku lahir. Aku pikir, mereka menendang kami keluar dari kastil karena ibu melahirkan monster sepertiku. Tapi aku sama sekali tak pernah menyangka, kakak juga sama sepertiku. Syukurlah kalau dia masih hidup," lirih Luce. Sudut bibirnya tersenyum puas ketika membelai pedang pemberian Rick di tangannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tak berniat membunuh dirimu sendiri, kan?" Rick menyeletuk. "Pedang itu dibuat untuk menyegel kekuatan Phoenix yang seharusnya digunakan untuk memperluas wilayah Axton. Sejak ibumu mencuri kekuatannya, Axton tidak bisa melakukan ekspansi lagi. Sekarang kita hanya berharap Devian dapat menjaga perbatasan dengan baik sebelum Kegelapan kembali bergerak."
"Jadi, apa yang harus aku lakukan dengan pedang ini?" Luce bertanya. Walaupun tubuhnya sempat memancarkan api, namun tak satupun helai pakaian yang dia kenakan terbakar. Yang tersisa hanya simbol bercahaya di dahinya yang meredup secara perlahan dan wajah Luce yang selalu menyembunyikan ekspresi hatinya. "Aku tidak mungkin pergi ke Alcander dan mengatakan pada semuanya kalau aku adalah Pangeran Kedua mereka. Statusku di kerajaan telah dihapus, bahkan mungkin namaku juga. Tak akan ada satupun yang percaya bahwa aku masih hidup."
"Aku sudah menyiapkan rencana untuk itu semua," Rick menjawab. "Kau akan pergi ke sana bersama Ellgar dalam penyamaran dan kalian akan menyusup langsung ke kastil Alcander pada pesta ulang tahun Putra Mahkota. Kemudian selagi Ellgar sibuk mengalihkan perhatian semua orang, kau harus bergerak sendiri. Temukan kakakmu dan ikuti dia. Ada kemungkinan dia menjadi tamu undangan juga di sana."
"Lalu membunuhnya di tempat?" Luce memandang Rick dengan tatapan kosong. Meskipun sudah sering berurusan dengan nyawa seseorang, tapi kali ini sudah kelewatan. "Mengapa Paman begitu yakin kalau aku mau melakukan semua itu? Alcander itu tempat yang berbahaya bagiku. Sejak Raja-Tertinggi menyelamatkanku sepuluh tahun lalu, sama sekali tak terbesit di pikiranku untuk kembali ke sana. Apalagi membunuh kakak kandungku sendiri."
Rick tiba-tiba memegang kedua bahu Luce dan membuat pemuda itu berubah pikiran. "Manusia biasa pasti akan kesulitan untuk melakukan semua itu, tapi kau berbeda. Begini saja, aku tidak akan memaksamu lagi. Aku akan memberimu kesempatan berpikir sampai Ellgar pulih seperti sediakala. Pikirkan, kalau ini bukan hanya untuk dirimu saja, tetapi untuk menyelamatkan wilayah kita dari Kegelapan. Selama sepuluh tahun ini, kita sudah kehilangan puluhan desa dan satu kerajaan kecil. Kalau kau tidak berhasil, maka Raja-Tertinggi sendiri yang akan menghabisimu."
Luce terdiam. Tangan kanannya menggenggam erat pedang yang dititipkan padanya. Dia sama sekali tak menyangka pembicaraan dengan Rick, sang Penasehat Agung akan berakhir dengan sebuah diskusi yang mencekam. Perut Luce tiba-tiba mual dan ingin sekali memuntahkan apa yang baru saja dia makan tadi pagi. Berkali-kali terlintas di pikirannya, peristiwa berdarah sepuluh tahun silam, tapi baru hari itu dia merasa sampai tidak enak badan. "Aku akan mempertimbangkan nasehat, Paman," ujarnya.
"Kalau sudah jelas, aku akan meminta prajurit untuk mengawalmu ke Paviliun Harimau Putih. Mulai sekarang, kau harus tinggal di sana. Beristirahatlah dan minta apapun keperluanmu pada para pelayan," Rick menjelaskan disambut oleh Luce yang membungkuk--dalam.
"Terima kasih, Paman."
*bersambung ke part berikutnya