The Second Throne

The Second Throne
Glaring Glasses (8)



KACA YANG MENYILAUKAN_8th Part


"Hhh, setinggi apapun hirarkinya, dia tetaplah seorang pria." Aelfar yang bertelanjang dada berbaring di ranjang kamarnya dengan pelayanan ekstra dari kerajaan. Mulai dari makanan yang mewah, pijat rileks, hingga mandi bunga. Sementara Fletcher yang tidak menerima perlakuan apapun disibukkan dengan tugasnya sebagai seorang sekretaris kerajaan. Banyak surat-surat administrasi yang harus diselesaikannya demi menggantikan status Aelfar yang sedang non aktif. Calon mempelai dilarang melakukan pekerjaan apapun selain membaca buku dan Aelfar sangat tidak menyukainya.


"Memangnya kenapa kalau dia tertarik pada adiknya sendiri?" Fletcher bertanya. Pena bulunya menari-nari di atas lembaran kertas yang dikirim dari Alcander ke Axton dan sebaliknya. "Ireene adalah wanita tercantik di jagad ini. Kau sendiri mulai tertarik dengannya, kan? Bahkan tidak peduli lagi soal kemurniannya. Asalkan bisa menguasai phoenix, kau rela melakukan apapun. Tapi apa kau tidak berpikir suatu saat akan terkena akibatnya?"


"Sekarang aku tidak peduli soal itu, Kakak Sepupu." Aelfar duduk di tepi ranjang dan memamerkan otot perutnya pada Fletcher. "Yang aku pedulikan adalah ayahanda sedang sakit-sakitan dan aku harus segera naik tahta sebelum ada yang memanfaatkan keadaan ini. Menikahi Ireene akan membawa pengaruh kuat bagi Alcander, meskipun sebelumnya aku tidak mau memikirkannya."


"Apa ada perkembangan lebih lanjut soal Kekaisaran Gretasha?" Aelfar tiba-tiba mengalihkan topik sambil berjalan ke tepian balkon. Dia bisa melihat para prajurit Axton berlatih di bawah komando Erich Harbyn si serba bisa. "Gerakannya sangat lentur dan cepat. Berbeda sekali dengan yang diajarkan oleh Alcander. Wilayah yang hanya berjarak satu minggu perjalanan ini, sudah memiliki adat-istiadat yang berbeda dari tempatku dilahirkan. Untuk bersatu dengan kerajaan ini secara resmi, sepertinya aku harus mempelajari lebih banyak hal di luar perkiraan. Benar-benar merepotkan. Aku bahkan..." Aelfar membelai rambut cokelatnya "...sudah terlanjur memotong rambutku padahal sepertinya di sini tidak ada pria yang berambut pendek," lirihnya.


"Kabut sudah mulai memasuki wilayah utara Desa Rhustle dan semua penduduk telah diungsikan ke ibukota," kata Fletcher tenang. "Kalau dibiarkan saja, penyerangan makhluk malam akan sampai di Hutan Terlarang dan akan ada banyak pengorbanan dari makhluk-makhluk suci di sana. Sebisa mungkin kita menghentikan itu semua di Rhustle. Aku sudah mengirim surat ke Alcander dan meminta Regulus mengerahkan kekuatan militer ke sana. Itu cukup untuk mengulur waktu sampai kau mendapatkan phoenix. Itupun tanpa memperhitungkan banyaknya korban yang akan jatuh."


"Bagus!" Sekali lagi Aelfar mengenakan tudung kelabu dan syal merah untuk menutupi wajahnya. "Aku juga tidak akan menunggu sampai pernikahan ini dilangsungkan. Kita harus segera menyelesaikannya. Segera siapkan kereta kuda untuk kembali ke Alcander. Akan kulakukan yang bisa kulakukan."


Fletcher mengambil koper dan mulai membereskan kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerjanya. "Berhati-hatilah dan jangan sampai melukai Ireene sedikitpun."


Aelfar mengangguk kemudian melompat turun dari balkon dengan ringan, sementara Fletcher sibuk dengan persiapannya untuk menunggu sepupunya tersebut di suatu tempat yang masih dirahasiakan. "Tidak ada siapa pun di sini kecuali mereka," kata Aelfar sembari mengendap-endap. Dua prajurit berjaga di depan paviliun dengan ornamen phoenix yang terlihat jelas. Sebuah menara menjulang tepat di bagian belakang bangunan tersebut. Bagian atasnya terdapat atap merah dan jendela-jendela yang terbuat dari kanvas berlukis.


"Hai!" Aelfar membuka tudungnya dan menyapa kedua prajurit. "Kalian pasti mengenalku, kan? Putra Mahkota Giselbert Aelfar de Alcander yang akan menjadi suami sang putri satu bulan lagi. Aku hanya ingin mengunjunginya karena tak kuasa menahan rindu. Apakah benar di atas sana adalah ruangan pribadinya?"


Kedua prajurit mengernyitkan dahi karena heran. Untuk statusnya sebagai putra mahkota, berkelakuan seperti itu sangatlah tidak sopan. "Saya percaya putra mahkota adalah pria yang dapat menahan diri," ucap salah satu prajurit sambil menghunus pedang diikuti rekannya. "Meskipun anda adalah tamu istimewa di kastil ini, berkeliaran pada malam hari dan pergi mengunjungi wanita yang belum resmi menjadi istrinya adalah hal terlarang dan tidak sesuai dengan ajaran tata krama."


"Kalian tidak perlu menceramahiku soal tata krama. Aku lebih mengerti dari seluruh prajurit yang ada di sini. Aktifkan sihir tingkat lanjut!" Sebuah lingkaran sihir berwarna biru muncul di bawah kaki Aelfar dan membawa angin dingin ke sekelilingnya. Mantelnya melambai dan semakin kencang hingga kedua prajurit yang hendak menyerang terpental ke dinding paviliun dengan paku es yang menancap di sekeliling tubuh mereka entah darimana.


"Aku tidak bisa bergerak!" salah satu prajurit meronta sementara yang lainnya sudah tak sadarkan diri.


"Sudah kubilang aku hanya ingin bertemu dengan calon istriku." Aelfar menyumpal mulut sang prajurit dengan kelopak mawar berduri yang dia petik di sekitarnya. Dia mengambil kunci dari dalam saku prajurit tersebut dan membuka pintu paviliun dengan kasar. "Kenapa masih tidak bisa dibuka?"


Sang prajurit melirik ke arah Aelfar dengan kesal dan menyemburkan kelopak mawar di mulutnya. "Pintunya bukan didorong atau ditarik, tapi digeser, Pangeran Bodoh!"


"Ah, kau benar." Aelfar akhirnya berhasil membuka pintu. "Semua pintu di kastil ini dibuka dengan cara digeser. Kenapa aku melupakan hal sesederhana itu? Bukankah aku sudah berjanji akan mempelajari budaya di tempat ini? Membuka pintu pun tak bisa, dasar Prajurit Bodoh! Kenapa tidak bilang dari tadi?" Aelfar mengarahkan tangan kanan ke tubuh sang prajurit untuk membekukannya. "Terima kasih. Mulai sekarang tak ada yang akan menggangguku lagi," katanya sembari menutup pintu.


***


Ireene tertidur pulas di ranjangnya ketika Aelfar masuk tanpa permisi. Gaun tidurnya yang terbuat dari sutera sangat lembut. Selimutnya tebal dan hangat. Riasan wajahnya pun tampak sangat natural. Kecantikan yang tiada bandingnya. "Warna rambutnya sama seperti Fletcher. Bahkan warna mata mereka pun demikian." Aelfar duduk di sisi Ireene sambil memainkan rambut panjang gadis itu. "Benar kata Fletcher, aku tidak perlu menikahinya. Aku hanya perlu menyembunyikannya hingga benih dalam rahimnya lahir. Bahkan dengan sihir, hal itu bisa dipercepat tanpa menunggu pernikahan. Sesuatu yang tabu memang, tapi apa boleh buat. Aku harus mengorbankan nama baikku demi kedamaian semua orang."


"Apa yang kau maksud dengan benih dalam rahimnya?" Eginhard tiba-tiba sudah berada di belakang tubuh Aelfar sambil menghunus pedang. "Kau belum melakukan apapun pada adikku, kan? Kau bahkan baru bertemu dengannya saat kompetisi berburu kemarin."


Aelfar bangkit dan berjalan menjauhi Eginhard ke ambang jendela yang terbuka. Dia mengangkat kedua tangan sebelum angin dingin berhembus kembali. Sebuah rapier es terbentuk di udara menghantam pedang Eginhard. Pria itu berbalik dan melakukan hal yang sama dengan sang raja, menghunus senjata. "Di Alcander, benih tanaman dapat tumbuh di atas batuan. Begitu juga aku yang bisa melakukannya pada wanita manapun yang kuinginkan tanpa menyentuh mereka. Ajaib sekali, bukan?"


"Sebagai seorang calon raja aku tahu mana yang akan kulakukan dan yang tidak akan kulakukan," tukas Aelfar. Dia menghujamkan pedangnya ke lantai di bawah kakinya dan merapal mantera hingga udara dingin semakin menyelimuti ruangan tersebut dan berada jauh dari jangkauan penglihatan Eginhard. Di antara kaki-kaki mereka yang membeku, kristal-kristal es bergerak naik ke semua bagian kamar hingga ke dinding, lemari, bahkan ranjang sang putri. Ireene tak terbangun sama sekali seperti tupai berhibernasi di musim dingin. Seluruh tubuhnya membeku dan hanya menyisakan sedikit kolom udara untuknya bernapas. Aelfar kemudian tertawa dan melompat kabur dari ambang jendela yang terbuka.


"Sialan!" erang Eginhard dan ketika menoleh ke belakang, Ireene sudah tidak ada.


***


NOTE FROM AUTHOR


Hei-hei pemirsah reader TsT...


Sudah lama tidak bertemu thor yaa...


Kali ini thor akan kasih kabar gembira untuk kalian...


Dalam rangka merayakan 20K viewer untuk novel ini, mulai minggu depan (mudah-mudahan bisa lebih cepat) TsT akan kembali ke cerita utama di mana Luce tak sadarkan diri di Benteng Carliste, Jean berhasil melarikan diri dari penjara bawah tanah Alcander, dan Eginhard yang sedang melaksanakan misi rahasianya....


Terima kasih untuk kalian yang sudah setia menemani thor selama ini dan target ke depannya, jika seandainya bilamana kalau...


novel ini bisa tembus 100K (menghayal), thor janji akan buatkan ilustrasi khusus orisinal author untuk TsT....


Entah kapan itu terjadi... 😭😭😭


Oya, untuk heroine, sebenarnya dia sudah muncul sejak lama, tapi belum kelihatan karena tokoh utama kita belum ada ketertarikan pada lawan jenis yaaa... secara Luce masih 16 tahun. Tapi thor berjanji, di beberapa episode ke depan, akan membuat adegan romance yang dramatis untuk kalian semua. Yang tentunya tidak disangka-sangka, wkwk.


Nah, sampai di sini dulu cerita author yang banyak janji ini 🤣 semoga ke depannya novel ini akan semakin diminati dan dinikmati banyak orang. Jangan lupa like, favorite, 5rate, dan tinggalkan jejak di kolom komentar. Terima kasih banyak....


PROMO NOVEL ORISINAL AUTHOR



Kisah lain sang malaikat jatuh (fallen angel) yang berusaha mengumpulkan helaian sayap malaikat untuk dapat kembali ke surga. Dengan melakukan segala perbuatan baik di dunia manusia, dia yang dikenal sebagai Lucifer sang raja neraka perlahan membuktikan diri bahwa dialah Luciel, malaikat paling bercahaya di alam semesta. Didampingi oleh pengikut setianya Azrael sang malaikat maut, akankah kehidupannya sebagai murid SMA di dunia manusia mengubah nasibnya sebagai seorang malaikat tertinggi sekaligus pemimpin para iblis?



Antologi 9 kisah memukau World of Fasia, proyek world building bersama para Penulis Fantasi Indonesia (PFI) dan Anti-Meta Stories sebagai editor. Tergabung di dalamnya novelis, mangaka, komikus, ilustrator, dan animator. Eden of Earthania mengisahkan tentang pemuda bernama Eden Darsith Tanasthur Ranvier yang menegakkan keadilan bersama rekan-rekan senasibnya di tengah-tengah perdamaian palsu Pact of Pure. Akankah mereka mampu mewujudkan cita-cita mulia tersebut?