The Second Throne

The Second Throne
Silver Arrow (4)



PANAH PERAK_4th Part


Pagi yang cerah menyambut Luce dan kedua orang yang tengah mengawalnya, lebih tepatnya menyandera karena Luce tidak berada dalam posisi yang bebas bergerak. Mereka bertiga menunggangi dua ekor kuda di sepanjang tepi Sungai Perseus. Eleanor dengan kuda betinanya yang berwarna cokelat muda sedangkan Luce dan Terence berbagi punggung seekor kuda jantan yang berwarna hitam. Di kanan dan kiri mereka berbaris rapi pohon ek raksasa berusia ribuan tahun dengan serasah lembab melingkupi bagian akarnya. Suhu di Hutan Terlarang tersebut sangat rendah sampai-sampai cahaya matahari yang masuk terhalang oleh kabut tebal dan embun yang begitu dingin. Kemeja Luce nyaris basah kalau saja tidak berlindung di balik jubah kulit milik Terence.


"Hutan ini benar-benar menakutkan," Eleanor berkata ketika mendengar suara lolongan binatang dari kejauhan. "Andai kita kemarin punya waktu untuk berpikir dua kali."


"Sudahlah Eleanor, kalau kau takut biarkan Luce menunggangi kudamu," gurau Terence, masih tetap memegang tali kemudi agar kudanya tetap tenang. "Siapa yang menyangka kalau kabut datang secepat ini di pagi hari. Tadi malam bulan begitu terang sampai kau tidak sadar menggunakan jubahku sebagai selimut."


Wajah Eleanor berubah merah seketika karena gurauan Terence tersebut. Biasanya dia tak pernah semalu ini menerima ejekan dari temannya itu. Tapi di hadapan Luce semua jadi terasa berbeda. "Apa hanya perasaanku saja atau bocah iblis ini memang semakin mirip dengan Tuan Besar? Aku mungkin hanya sedang berhalusinasi saja," gumamnya.


"Tapi sepertinya ucapan Terence ada benarnya," Luce tiba-tiba melompat turun dari kuda, menghentikan sejenak perjalanan mereka. "Biarkan aku bertukar tempat denganmu, Eleanor. Kau seorang wanita. Bersama dengan Terence akan lebih aman daripada berkuda sendirian."


"Lalu membiarkan kau menunggangi kuda ini dan kabur?" Eleanor menolak dengan tegas. "Aku tidak sebodoh dan selemah yang kau pikirkan."


"Bagaimana mengatakannya?" Luce menggaruk kepalanya dan tampak cemas. "Perasaanku benar-benar tidak enak," pemuda itu langsung menaiki punggung kuda yang ditunggangi oleh Eleanor tanpa basa-basi.


"Apa yang kau lakukan, bocah!" Eleanor berteriak ketika Luce menarik kencang tali kemudi, membuat kudanya berjingkat dan meringkik dengan keras, memecah kesunyian hutan.


"Ayo Terence!" Luce memberikan isyarat agar Terence mengikuti laju kudanya yang semakin cepat. Pemuda itu tampaknya paham bahwa bahaya sedang mengintai mereka. Terlebih lagi ketika cahaya matahari seperti tenggelam ditelan rimbunnya kanopi pepohonan ek. Hutan semakin gelap dan kabut semakin tebal. Luce nyaris tak bisa melihat apapun sampai dia menjentikkan jemarinya untuk membuat kobaran api yang membakar semak kering di tepian sungai. Dia tidak tahu lagi sudah berapa jauh mereka menyisir tempat itu. Hutan yang hanya beberapa kilometer persegi seolah berkali-kali lipat luasnya dibanding yang tercantum dalam peta dan informasi di perpustakaan kerajaan.


"Hutan ini seperti tidak ada ujungnya," kata Terence tiba-tiba menghentikan kudanya. Hanya berpikir sebentar saja, dia sudah kehilangan Luce dan Eleanor yang tadi masih berada dalam jangkauan pandangannya Pria itu panik. Dia terus berputar-putar karena tak tahu arah. Kabut tebal pun semakin bergerak melingkupinya. "Eleanor!" panggil Terence. "Tuan Muda!"


"Sial, aku tidak punya sihir apapun kalau harus berhadapan dengan sosok iblis yang berada di balik kabut ini," umpatnya sebelum terjatuh bersama dengan tunggangannya yang terkilir karena jerat sulur tanaman. "Yang benar saja, bahkan tanaman juga bisa menyerang," Terence berusaha bangkit sebelum tubuhnya terlilit benda yang sama --- yang entah darimana datangnya. Pandangan pria itu benar-benar terhalau oleh pekatnya kabut sampai-sampai sekarang dia sudah tak bisa melihat kudanya lagi. "Seseorang tolong selamatkan aku." Terence berusaha memotong sulur-sulur itu dengan belatinya tetapi sulur itu justru tumbuh semakin banyak dan mulai menjerat seluruh tubuhnya. "Tuan Muda, di mana kau?"


__________


"Seseorang tolong aku," ucap Terence sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Tubuhnya penuh luka bakar dan pakaiannya pun hangus di beberapa bagian. Menahan rasa sakit itu, bocah ingusan sepertinya hanya bisa menghabiskan banyak air mata. Sama sekali tak ada niatan untuk bangkit dan mencari jalan keluar. Kakinya sudah terlanjur lemas dan energi di tubuhnya seolah terkuras habis bersamaan dengan keringnya keringat.


"Aku akan menolongmu dan menghidupkan kembali seluruh anggota keluargamu kalau kau mau membantuku," seorang pemuda empat tahun lebih tua dari Terence tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Siapa kau?" Terence berdiri sambil memandang siluet mata pemuda itu yang berwarna merah. Wajah, rambut, dan seluruh penampilan yang ada di depannya adalah sosok yang sudah lama dia kenal. "Jean St. Claire si anak haram," Terence merapatkan dirinya ke dinding. "Bagaimana kau akan menghidupkan kembali seluruh anggota keluargaku setelah adikmu yang monster itu membakar semuanya? Atau jangan-jangan kau juga..."


Jean tanpa sengaja menitikkan air mata. Pemuda itu menjelaskan dengan terbata-bata, "Mereka sudah membunuh ibuku, pamanku, dan semua anggota keluargaku. Kemudian karena Luce berusaha menyelamatkan nyawaku, mereka juga tega memenggalnya. Padahal dia masih berusia enam tahun dan beberapa hari yang lalu kami baru saja merayakan ulang tahunnya. Tapi aku tak bisa melakukan apapun selain membakar semuanya dan kabur."


"Bukan Luce yang melakukannya. Adikku tidak bersalah dan dia bukanlah monster. Aku... Aku adalah monster itu... Karena marah, aku tidak sengaja membakar semuanya bahkan orang-orang ini aku sama sekali tak bermaksud membunuh mereka," Jean berlutut dan terus menangis. Bahkan Terence sampai lupa kalau sebelumnya dia yang merengek untuk diselamatkan.


"Kau jelas-jelas lebih kuat dariku. Beberapa hari yang lalu kau telah mengalahkanku di kastil. Bagaimana aku bisa membantumu?" tanya Terence kemudian. "Kalau kau benar-benar bisa menghidupkan kembali semua orang, kenapa tidak kau lakukan sejak tadi? Kau bahkan bisa menghidupkan seluruh anggota keluargamu..."


"Aku tak bisa menghidupkan kembali orang-orang yang punya hubungan darah denganku. Aku juga tidak tahu kenapa kau sampai kebal terhadap apiku, tapi mungkin Tuhan sedang menunjuk seorang malaikat untuk membantuku. Kau pastilah bukan orang sembarangan," potong Jean. "Aku akan menyelamatkan semua orang asalkan kau mau membantuku untuk bersembunyi. Saat ini mereka masih mengejarku, aku tidak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Aku sudah tidak punya siapapun."


Beberapa saat kemudian, air mata Jean berpendar kebiruan dan memancarkan cahaya lembut yang meredam nyala api di sekitarnya. Bahkan luka bakar yang ada pada tubuh Terence perlahan memudar. "Dia benar-benar bisa melakukannya," ucap Terence. Saat itu, dia mengagumi pemandangan yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Sebuah keajaiban yang terjadi tepat di depan matanya. Mayat-mayat yang hangus terbakar kini kembali utuh seperti sediakala. Mereka bernapas seolah tak pernah merasakan kematian.


Kemudian dengan cepat Terence mendekati setiap orang yang terbaring di hadapannya, termasuk seorang wanita yang akhirnya membuka mata saat berada di pangkuan anak laki-laki itu. "Terence, kau baik-baik saja, Nak?" tanya wanita tersebut setelah kembali sadar. Senyumnya yang cantik membuat Terence luluh seketika.


Betapa bahagianya, bisa diberi kesempatan kedua untuk mengucapkan maaf dan terima kasih kepada orang-orang yang disayangi. Anak laki-laki itu kemudian teringat sesuatu. Dia berpaling pada Jean yang tiba-tiba ambruk dan tak sadarkan diri. "Aku juga harus memberikan kesempatan kedua padanya," katanya*.


__________