The Second Throne

The Second Throne
Beginning of The End (2)



..._Permulaan dari Akhir_...


...2nd Part...


Luce membuka kelopak matanya perlahan-lahan. Dengan susah payah dia memandang dinding batu di hadapannya dan berusaha menafsirkan apa yang dia lihat. Pupilnya memipih ketika menoleh ke arah lubang jendela tak jauh dari sisi kanan ranjang. Cahaya matahari yang masuk menghangatkan ruang kelabu tersebut dan membuat pemuda itu sadar bahwa keadaannya tak sama lagi seperti beberapa hari yang lalu. Luce membuka selimutnya dan berusaha bangkit dengan berpegangan pada sisi ranjang. Dia berjalan menuju ke lubang jendela karena penasaran.


"Kenapa banyak sekali prajurit berbaris di bawah sana?" tanya Luce semakin menyipitkan matanya yang berkilat keemasan. Tepat di sisi selatan benteng, Nicodemus Valeries menceramahi anak buahnya yang telah bersiaga dengan zirah bersenjata. Seolah mempersiapkan diri atas kedatangan musuh, guardian itu meneriaki semuanya dengan kata-kata yang membunuh rasa takut. Apabila kalah dari pertempuran, para prajurit dipaksa lebih baik mati daripada menjalani kehidupan penuh rasa malu.


"Semangat tempur prajurit tidak akan berkembang dengan menakut-nakuti mereka seperti itu. Aku akan membiarkan mereka maju semampu mereka di belakangku. Sebagai pemimpin, aku yang akan melindungi mereka dan kalau sampai aku mati karena hal itu, mereka tidak akan sanggup membiarkan diri mereka kembali dalam keadaan hidup." Luce tersenyum dan melipat tangan. Simbol phoenix di dahinya semakin bersinar diterpa cahaya matahari dari sisi kiri jendela. "Ya, aku akan membuat mereka menentukan tujuan hidup mereka sendiri."


-PLOK-PLOK-PLOK-


Suara tepukan tangan dari belakang tubuh Luce membuatnya berbalik. Christopher Daryan rupanya berdiri di ambang pintu setelah menyadari Luce siuman dari tidur panjangnya. "Tidur beberapa hari membuatmu lebih bijaksana dari sebelumnya." Pria berambut perak tersebut berjalan mendekati Luce kemudian berlutut penuh rasa hormat. "Yang Mulia Raja-Tertinggi, senang melihat anda kembali."


"Untuk menjadi seorang raja, aku harus memiliki setidaknya tiga hal, wilayah kekuasaan, rakyat yang mencintaiku, dan hukum yang mengatur kerajaanku. Aku belum memiliki semua itu saat ini. Tak pantas menyebutku raja-tertinggi, walaupun raja sebelumnya telah mewariskan tahtanya padaku. Kalian masih memiliki Raja-Muda Devian Argus. Jangan pernah melupakannya. Dia juga berhak atas tahta itu." Luce tersenyum hangat seperti biasa dan membuat suasana canggung di antara dirinya dan sang archerias. "Berdirilah. Ceritakan apa saja yang terjadi selama aku tak sadarkan diri."


Christoph sempat tercengang untuk beberapa saat. Dia seperti sedang berbicara pada orang lain dan bukannya Luce. Terence dan Eleanor pasti akan lebih terpukul jika mengetahui rekannya menjadi seperti ini, batinnya. "Sebelum itu, jika saya boleh tahu, apakah ada seseorang yang memberitahu anda jika Raja-Tertinggi telah wafat?" Christoph menggeleng. "Maksud saya selama ini anda tak sadarkan diri, jadi tidak mungkin anda mengetahui itu semua."


Luce menjawab tegas, "Ada seseorang yang memberitahuku, tapi kau tidak perlu mempertanyakan siapa dia. Selain itu, aku tidak diberi tahu apapun lagi."


"Begitu." Christoph tampak lega dan bersemangat setelah mengetahui jawaban dari Luce. Dia kemudian kembali ke sikap formalnya semula. "Maaf atas kelancangan hamba. Saat ini akan terjadi pertempuran antara dua kerajaan besar di negeri ini. Kerajaan Alcander yang akan menyerbu wilayah utama Axton dan ibukotanya, bermaksud memanfatkan kekosongan tahta kerajaan. Putri Iliana Damara dan Holy Knight Ira Cassandra terbang ke batas selatan Alcander dengan menunggangi Helios. Mereka berdua akan bergabung dengan pasukan elit yang dipimpin oleh Jenderal Erich Harbyn di sana. Sementara kita di sini akan mempersiapkan diri untuk melindungi anda sebagai pewaris phoenix. Demikian..."


"Melindungiku, hah?" Luce tertawa tak senang mendengar laporan yang disampaikan oleh sang archerias. "Yang harus kita prioritaskan sekarang adalah Estefania. Kalau sampai wilayah itu berhasil diduduki, tidak akan ada lagi istilah Kerajaan-Tertinggi. Dunia manusia akan terpecah belah dan saat itu terjadi, makhluk-makhluk kegelapan akan mengambil kesempatan."


"Anda bermaksud untuk memimpin seluruh prajurit dan maju ke medan perang seperti yang anda katakan di awal tadi?" Christoph bertanya.


Tentu saja tidak, Luce berkata dalam hati. Tentu saja aku tak mungkin pergi ke sana dan membunuh ayahku sendiri. Walaupun bisa saja aku membantu Axton untuk menang dengan kekuatanku yang sekarang, tapi semua ini bagian dari rencana seseorang. Aku tidak boleh ikut campur. "Baiklah, aku tarik kembali perkataanku barusan. Akan kukirim peringatan ke Axton agar Raja-Muda dan keluarganya mengevakuasi diri sejauh mungkin," jawab Luce sambil membuka telapak tangan kanannya yang tiba-tiba mengeluarkan jilatan api berwarna keemasan, senada dengan simbol di dahinya.


"Aku yang akan bertanggung jawab atas Kerajaan-Tertinggi kemudian kalau sampai dia kalah karena tak mengindahkan peringatan dariku, aku tidak akan pernah membantunya lagi dalam segala hal. Dengan ini, ikatan persaudaraan yang kami bangun selama ini juga akan terputus. Sebaliknya kalau dia menghargai peringatan dariku, akan kutandai dia sebagai pengikut setia Axton," Luce menambahkan ketika api sihirnya berubah menjadi abu kemudian menyatu dengan udara di sekelilingnya dan terbawa angin yang berhembus ke luar lubang jendela. Christoph pun dibuat terpana lagi untuk kesekian kalinya.


"Kau tidak perlu sampai segitu terkejutnya." Luce mengagetkan Christoph yang nyaris terbawa lamunan. "Bukankah kau juga bisa mengendalikan es sesuka hatimu? Aku juga demikian dengan semua api yang ada dalam diriku. Kau bisa mengabadikan seseorang dalam es, tapi aku bisa lebih dari itu. Jika kekuatanku bangkit sepenuhnya, aku bisa membangkitkan manusia dari kematian."


"Saya selalu bertanya-tanya kenapa semua kerajaan menginginkan kekuatan phoenix. Jadi inikah alasannya." Christoph tak berhenti mengerjapkan mata kelabunya.


"Nah, bukankah kau juga memiliki alasan yang sama saat berusaha membunuhku dan kakakku waktu itu?" Luce mengingatkan. "Aku sudah berjanji padamu untuk membebaskan Gretasha dari belenggu kegelapan. Karena itu, tak mungkin aku pergi menyelamatkan Axton dan mengingkari janjiku. Aku sudah memutuskan bahwa mulai hari ini aku adalah milikmu. Bawalah aku ke Eranth dan gunakan diriku untuk memenuhi keinginanmu itu."


"Menggunakan anda?" Christoph memandang Luce penuh rasa tak percaya dan semakin yakin bahwa pemuda yang berdiri di hadapannya sekarang bukanlah Lucas Androcles yang dia kenal sebelumnya.


"LUCE!" Terence tiba-tiba berteriak dari ambang pintu dan berlari untuk merangkul Luce dalam-dalam. "Aku tahu kau akan segera sadar," katanya sesenggukan. Sebagai seorang pria, dia sama sekali tak malu mengungkapkan emosinya di hadapan yang lain. Christoph sampai dibuat keheranan melihat hubungan Luce dan Terence yang begitu dekat sebagai seorang tuan dan pelayan.


"Para Acolyte di benteng ini sangat handal soal luka perang. Aku baik-baik saja," jawab Terence seraya melepaskan pelukannya. "Tuan Daryan juga membantuku cukup banyak dengan ilmu sihirnya." Pria itu menepuk bahu kanan Crishtoph dengan sok akrab. "Pantas saja dia bisa sembuh dengan cepat dari luka yang dia buat sendiri."


Dahi Christoph berkerut saking kesalnya. Dia pun berkata lirih untuk menyampaikan isi hatinya, "Dia berani menyindirku rupanya. Lihat saja nanti kalau Pangeran Kedua sedang tidak ada."


"Dan aku minta maaf karena telah membuatmu nyaris mati," ucap Terence masih saja berlinang air mata. "Kau menghabiskan sisa kekuatanmu untuk melenyapkan makhluk-makhluk kegelapan itu."


"Kau tidak perlu minta maaf. Justru aku yang harus berterimakasih karena kau telah menyelamatkanku waktu itu," timpal Luce dengan tenang. "Bahkan kalau aku mati pun, kau tidak perlu merasa khawatir. Aku pasti akan kembali lagi dalam wujud yang sama seperti ini selama phoenix masih setia padaku."


"Benar sekali!" Terence seperti menyadari suatu hal yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. "Kalau tuan besar bisa melakukannya, kau juga pasti bisa." Dia kemudian menarik Luce keluar ruangan tanpa menghiraukan Christoph. "Ikut denganku dan temui Eleanor."


"Ada apa dengan Eleanor. Bukankah dia baik-baik saja?" Luce bertanya beberapa menit kemudian. Mereka tiba di depan sebuah pintu kayu setelah berlari cepat menyusuri lorong batu. Terence langsung mendorongnya masuk tanpa sepatah kata pun hingga Luce akhirnya sadar, apa yang sudah terjadi pada Eleanor.


Gadis berambut cokelat tersebut tidur pulas di ranjangnya tanpa beban. Wajah pucatnya membuat Terence semakin terlihat khawatir, tapi bagi Luce, Eleanor terlihat sangat bercahaya. Simbol phoenix berwarna hitam terukir jelas di lengan kiri gadis tersebut dan membuat Luce sadar apa yang sudah terjadi selama dia tak sadarkan diri.


"Aku yang sudah membuatnya begini?" gumam pemuda itu disambut oleh Christoph yang ternyata telah berdiri tepat di belakangnya dan Terence. "Dia memberikan seluruh tetes darahnya untuk membuat anda lolos dari maut karena hanya dia satu-satunya di benteng ini yang masih memiliki hubungan darah dengan anda, Yang Mulia."


"Apa aku tidak salah dengar? Dia memanggil Luce yang mulia?" Terence tertohok. Ingin tertawa, tapi tak bisa. Dalam waktu beberapa hari, Luce memang terlihat bertambah tinggi dan semakin dewasa, tapi hal itu saja tidak membuat Terence hilang akal. Dia pernah melihat hal yang lebih menakjubkan dari kekuatan api Luce dan membuatnya seperti baru saja bertemu dengan malaikat. "Tuan Besar lebih hebat darinya, bahkan kalau saja Pangeran Fletcher St. Claire masih hidup, dia mungkin akan jadi yang paling dihormati di dunia manusia ini. Dibandingkan raja Alcander yang sekarang, tentu saja dia lebih pantas menggantikannya."


"Iliana adalah sepupuku dari garis keturunan Axton dan mendiang raja-tertinggi telah menjodohkan kami sejak kecil." Luce tiba-tiba membuyarkan pikiran Terence. "Hubungan darah kami jauh lebih dekat daripada dengan keluarga St. Claire, tapi kenapa Eleanor yang melakukannya?" Pemuda itu kemudian duduk di sisi Eleanor dan menggenggam tangan gadis tersebut erat-erat. "Wahai pengikut setiaku, dengarkanlah perintah tuanmu!"


Seberkas cahaya bersinar dari simbol yang muncul di lengan kiri Eleanor menyebabkan perasaan terbakar di salah satu bagian tubuh Terence dan Christoph. Simbol yang sama muncul di punggung tangan kanan Terence sedangkan pada Christoph, simbol tersebut muncul di belakang lehernya. Kedua iris mata Luce juga berpendar keemasan seiring dengan terbentuknya garis-garis hitam menyerupai akar di sepanjang pembuluh darah tubuhnya. Wajah Luce nyaris tertutup oleh garis tersebut hingga Terence menyadari apa yang sedang terjadi.


"Berhenti!" Terence menarik lepas tangan Luce dari Eleanor. "Sudah cukup kau menggunakan kekuatanmu. Eleanor terlihat lebih segar dibandingkan sebelumnya. Sebentar lagi pasti dia akan bangun."


"Aku tidak bisa membiarkan lagi orang lain berkorban untuk diriku. Aku sekarang hanya seorang manusia yang tak punya apapun dan aku tidak ingin menjadi seorang manusia yang tak punya siapapun karena kehilangan salah satu dari kalian," ucap Luce lemah.


"Sepertinya hanya aku saja yang tidak paham dengan situasi saat ini." Christoph mendekat dan mengambil kesempatan untuk menanyakan Luce tentang sesuatu yang mengusik pikirannya. "Anda baru saja menandai semua orang yang pernah mencoba menyelamatkan anda dengan simbol phoenix. Kalau benar begitu, mungkin saja saat ini para bangsawan Axton yang sama sekali tidak punya hubungan dengan anda akan menyadari kalau simbol di tubuh mereka menghilang. Prajurit, para menteri, bahkan keluarga kerajaan akan kehilangan status mereka sebagai pengikut setia phoenix. Bagaimana anda akan menjelaskan tentang itu pada mereka nanti? Kerajaan-Tertinggi Axton akan benar-benar runtuh hanya karena kekuatan iblis tersebut beralih ke tubuh anda."


"Aku tidak peduli dengan semua itu," ucap Luce. "Aku bahkan tidak menginginkan kekuatan ini, tapi mendiang Raja-Tertinggi lebih memilih mewariskannya padaku padahal sebagai seorang Raja-Muda, aku yakin Devian lebih membutuhkannya. Apa kalian tahu apa alasannya?"


Christoph dan Terence mendengarkan penjelasan Luce dengan saksama, tapi tak satu orangpun di antara mereka mampu menjawab pertanyaan pemuda itu.


"Karena dia tahu, ada banyak orang di sekelilingnya yang tunduk pada phoenix hanya demi sebuah tahta. Sebelumnya mereka mengira jika dapat menguasai phoenix, secara otomatis akan menjadi Raja-Tertinggi dunia manusia. Namun sekarang, harapan tersebut pupus karena aku dihidupkan kembali."


***