The Second Throne

The Second Throne
Glaring Glasses (1)



KACA YANG MENYILAUKAN_1st Part



11th years ago______________________


🎶🎶🎶


Dentingan senar piano saat beberapa tutsnya ditekan, menciptakan harmoni yang sangat indah didengar. Senandung lagu yang dinyanyikan oleh seseorang terdengar begitu merdu mendampinginya. Wanita bergaun biru dengan rambut hitamnya yang diurai panjang memadukan semua itu dengan begitu anggun. Ireene el Idylla, seorang putri yang sangat termasyur di kerajaan asalnya, namun menjadi tahanan di kerajaan barunya.


"Ibunda..." Luce berusia lima tahun menghampiri wanita itu sambil menangis sesenggukan. Ada bekas luka gores yang baru saja sembuh di pipi manisnya, meninggalkan tetesan darah yang masih segar.


"Ada apa dengan wajahmu, Nak?" Ireene langsung memeluk putra kesayangannya itu dengan penuh kasih.


"Kakak... Kakak mengamuk lagi." Luce terbata-bata. "Sepulangnya dari kastil bersama Paman Fletcher tadi, kakak langsung masuk ke kamar dan marah-marah. Waktu aku mendekat, kakak malah menyerangku. Kedua matanya berubah merah seperti mons..."


Ireene langsung membungkam mulut Luce -- mencegahnya untuk berkata hal yang tidak pantas. "Kakakmu tidak seperti yang kau kira. Mungkin matanya merah karena kemasukan biji raspberry. Ayo kita ke sana untuk memastikannya."


Luce tak segera beranjak dari pelukan Ireene karena melihat piano besar di depan matanya. Dia masih ingat nada-nada merdu yang dimainkan oleh Ireene tadi. Begitu menyentuh hati. Bahkan bisa dibilang, lagu itu seolah mengungkapkan apa yang sedang dirasakan oleh Ireene selama ini. "Lagu yang ibunda mainkan tadi, maukah ibunda mengajarkannya padaku?" tanya Luce seketika berhenti menangis.


Ireene tersenyum sambil mengusap lembut rambut hitam Luce. "Tentu saja," jawabnya. Tangan kanannya menggandeng tangan kiri Luce dan menuntun anak laki-laki itu ke sisi lain dari mansion -- sebutan untuk rumah besarnya.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua tiba di depan kamar dengan pintu terbuka. Ada beberapa pria mengenakan setelan jas serba hitam di sana. Salah satunya menghampiri Ireene dan Luce yang baru saja datang. Wanita itu langsung melepaskan tangan putranya dan menyambut ucapan pria yang telah berdiri di hadapannya tersebut. Rambutnya hitam dan matanya biru seperti Luce dan Jean, kakak Luce yang merupakan sumber permasalahan hari itu.


Fletcher St. Claire namanya. Pria yang berada di hadapan Ireene tersebut adalah adik Raja Abraham Hamlet yang telah dicurigai sebagai ayah kandung dari Jean dan Luce. Karena begitu serupa, keluarga berambut hitam dan bermata biru itu menjadi tahanan di sebuah mansion mewah yang berada jauh dari pusat kota Alcander. Dalam sebuah hutan yang dilindungi oleh hukum dan alam. Satu-satunya tempat di mana tak sembarang manusia bisa masuk ke sana, hutan tropis di sisi timur kastil Alcander dengan perbukitan yang mengelilinginya.


"Jean menerima perlakuan tidak adil dari ayahnya setelah ketahuan bertengkar dengan teman-teman sebayanya di kastil. Seharusnya aku tak meninggalkannya sendirian tadi," kata Fletcher sambil menundukkan pandangan. "Ini salahku karena membuatmu melahirkan anak-anak yang mirip denganku. Padahal aku tidak pernah menyentuhmu, tapi melihat wajah Jean, 'dia'..."


"Baiklah, aku tidak pernah mengharapkan hal ini terjadi," potong Ireene. "Mungkin itu hukuman karena aku telah menerima kekuatan yang tak seharusnya kumiliki. Aku bahkan sempat berpikir kalau seandainya aku tidak bertemu dengan'nya' saat itu dan kita benar-benar menikah, apakah anak-anak juga akan memiliki warna mata seperti ini?"


Ireene duduk serendah Luce untuk memandang mata birunya yang berkilau. Dia kemudian berdiri lagi dan memandang anak laki-laki yang sedang merajuk di tepi ranjang tak jauh dari ambang pintu kamar.


"Itu karena sumpah yang telah kubuat tanpa pikir panjang waktu itu," lanjut Fletcher dengan mata berkaca-kaca. "Aku telah mengutuknya karena merebutmu dariku, Ireene. Maafkan aku. Aku sama sekali tak bermaksud untuk membuat dirimu dan juga anak-anakmu hidup dalam kesengsaraan seperti ini."


"Sudahlah," Ireene membelai wajah Fletcher dengan penuh kasih. Terlihat sangat tegar, Ireene benar-benar telah membuat pria itu jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Sosok wanita cantik dengan kelembutan hati dan ketegaran bak seorang putri raja. Ireene memang seorang putri, sebelum dia menikahi Raja Abraham. Setelah melahirkan putra kedua, dia kehilangan statusnya sebagai keluarga kerajaan dan menerima perlakuan bagai seorang tahanan.


"Jangan menyalahkan dirimu lagi," Ireene melanjutkan. "Ini bukan pertama kalinya ayahnya memperlakukan Jean seperti ini. Aku justru jadi bersyukur karena dia lebih mirip pamannya daripada ayahnya yang sangat temperamental dan mudah dipengaruhi itu. Jean pasti akan tumbuh menjadi pria tegar sepertimu dan Luce..." Ireene mengulas senyum menawannya pada Fletcher.


"Luce akan tumbuh dengan kelembutan hati ibunya," potong Fletcher sambil tertawa. "Dia itu bukan anak perempuan, Ireene. Meskipun begitu, aku harap suatu saat nanti dia akan tumbuh setegar dirimu yang tak pernah takut menghadapi apapun. Sekarang kau harus menenangkan Jean. Aku tidak mau dia ketergantungan dengan sihir penyegel Phoenix dariku."


"Terima kasih Fletcher karena kau... anak-anak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah yang tak pernah mereka miliki sejak lahir." Ireene kemudian mengajak Luce untuk mendekati kakaknya, Jean.


"JANGAN MENDEKAT!" Jean berteriak marah, membuat Luce menggenggam tangan ibunya dengan sangat erat. Pemuda berusia lima belas tahun itu menatap Luce dengan kesal. "Kalau saja kau tidak mengikutiku tadi, mereka tidak akan memperlakukan aku seperti sampah. Sejak dulu mereka selalu memanggilku dengan sebutan 'anak haram'. Aku bisa menahannya, tapi sekarang mereka juga memanggilmu dengan sebutan 'anak monster'. Apa yang bisa kulakukan selain menghajar mereka semua dan sekarang mereka jadi tahu kalau ada dua monster di keluarga kita." Jean meremas sprei dengan kuat. "Padahal aku sudah berusaha... Hanya tinggal sedikit lagi... Akhirnya aku akan memiliki teman, tapi kau menghancurkan harapanku itu."


Ireene duduk di ranjang bersama dengan Luce yang bertahan dalam rasa takutnya. Wanita itu mengusap punggung Jean yang terasa sangat panas oleh luapan api kemarahan. "Kalau mereka tidak bisa menerima Luce sebagai teman mereka juga, lalu apa gunanya memiliki mereka sebagai teman?" Ireene berusaha menjelaskan. "Ibunda tahu kau memerlukan mereka untuk mendapatkan hak sebagai pewaris tahta. Tapi apa gunanya semua itu kalau kau tidak bahagia?"


"Ibunda tidak mengerti. Aku hanya ingin menunjukkan pada ayahanda kalau aku juga bisa seperti Illarion," tukas Jean. Wajahnya yang merah karena guratan pembuluh darah iblisnya perlahan kembali seperti semula. "Aku sudah belajar banyak dari Paman Fletcher jadi seharusnya aku bisa mendapatkan hak itu, Ibunda. Aku adalah Pangeran Pertama. Aku tak bisa membiarkan orang-orang yang kucintai tinggal di pengasingan seperti ini. Aku harus mengalahkan 'Pangeran Cantik' itu apapun caranya kemudian membawa ibunda kembali ke kastil."


Ireene tak bisa membendung rasa harunya karena mendengar isi hati Jean yang begitu dewasa. Dia memeluk Jean dengan erat sambil menahan air matanya. "Ibunda bisa tinggal di manapun asalkan selalu bersamamu dan juga Luce," katanya sambil menarik Luce ke dalam pelukannya juga. "Berjanjilah pada ibunda satu hal."


Jean memandang ibunya dengan netranya yang kembali membiru jernih. Setelah beberapa saat, Ireene rupanya berhasil menyegel kembali kekuatan Phoenix di tubuh Jean yang sempat bangkit dan menyerang Luce tadi. Sentuhan lembut seorang ibu dan dekapan hangatnya, membuat hati Jean perlahan tenang.


🎶Lay down your head and I'll sing you a lullaby


Back to the years of loo-li lai-lay


And I'll sing you to sleep and I'll sing you tomorrow


Bless you with love for the road that you go🎶


Ireene bersenandung sambil mengusap lembut rambut anak-anaknya -- mendoakan yang terbaik untuk kedua buah hatinya tersebut.


🎶May you sail far to the far fields of fortune


With diamonds and pearls at your head and your feet


And may you need never to banish misfortune


May you find kindness in all that you meet🎶


Tak lama kemudian, Jean terlelap karena sudah terlalu lelah untuk mengamuk lagi. Ireene lalu menggendong Luce dan bangkit dari ranjang, sementara Fletcher membenahi posisi tidur Jean serta menyelimutinya penuh kehangatan layaknya seorang ayah.


🎶May there always be angels to watch over you


To guide you each step of the way


To guard you and keep you safe from all harm


Loo-li, loo-li, lai-lay🎶


Luce pun akhirnya tertidur lelap mendengar nyanyian ibunya yang begitu merdu dan menyentuh hati. Sangat lelap sampai tak sadar kalau tubuhnya telah dibawa pergi meninggalkan kamar kakaknya menuju ke kamarnya yang terletak tak jauh dari sana. Dari belaian ibunya, anak laki-laki itu kemudian dibaringkan pada sebuah ranjang empuk berselimut tebal.


🎶May you bring love and may you bring happiness


Be loved in return to the end of your days


Now fall off to sleep, I'm not meaning to keep you


I'll just sit for a while and sing loo-li, lai-lay🎶


Ireene mengecup kening Luce penuh kasih, membelai wajah inosen anak laki-laki itu kemudian meninggalkannya dalam kesunyian malam.


***


Note from Author:


Yang pertama bisa mengartikan senandung tidur ibunya Luce, akan author beri hadiah poin dalam jumlah yang masih dirahasiakan...


Stay tune, click like, favorite, 5rate, and don't forget to comment...


Sankyuu