The Second Throne

The Second Throne
Curse of Time (4)



KUTUKAN WAKTU_4th Part


Luce berhenti berjalan karena mendengar suara yang tak asing berbicara lagi dari balik punggungnya. Dia berbalik tapi tak melihat siapapun di sana. Sebagai gantinya, lorong batu di sekitar Luce seolah berputar ke dalam sebuah ruangan dan membawa tubuh Luce ke dimensi lain yang penuh dengan api dan batuan vulkanik. Di hadapan Luce berdiri sosok lain darinya dalam wujud berbeda. Pakaiannya serba hitam dan kedua matanya biru bak safir termulia yang pernah ada.


"Dia adalah diriku?" Luce bertanya dalam hati, berusaha mempercayai apa yang baru saja terjadi padanya.


Pemuda di hadapan Luce menjawab, "Kau harus kembali dan menyelamatkan teman-temanmu."


"Tapi Iliana? Aku masih belum bisa mengingat siapa dirinya," Luce berkata sungguh-sungguh. Matanya tak bisa lepas dari pemandangan menakjubkan di sekelilingnya. Dia seolah berdiri di atas lempengan batu yang berjalan pada permukaan lava pijar. Api yang panas menyala hebat sejauh mata memandang. Di atas Luce, langit runtuh menjatuhkan bintang-bintang yang membara, masuk ke dalam kolam lava dan memercikkan buih mendidih--nyaris mengenai tubuh Luce.


"Untuk apa kau mengingat manusia yang berulangkali nyaris mencelakai dirimu?" bentak pemuda bernetra biru. "Aku sudah mengunci semua ingatanmu tentangnya."


"Mencelakaiku?" Luce terkesiap dan berpikir, "Jadi aku memang mengenalnya? Pantas saja gadis itu sepertinya kesal sekali tadi. Dia sudah berusaha menyebutkan segala sesuatu tentangnya tapi tak satupun hal tentangnya kuingat."


"Baiklah, aku memang tak bisa mengingat siapapun tentang orang-orang yang berusaha membunuhku sepuluh tahun lalu. Aku hanya mengingat tentang ibuku, Paman Fletcher, kakakku Jean, dan Ellgar, orang yang selalu bersamaku sejak saat itu. Apa semua itu karena ulahmu?"


Pemuda di hadapan Luce mendengus lagi. Alis matanya mengernyit kesal. Dia memandang Luce dengan tatapan yang menyebalkan. Terlalu tenang untuk seorang iblis yang selama ini telah mengoyak tubuh dan pikiran Luce. "Waktu itu kau bersedia mengorbankan nyawamu padaku asalkan kakakmu selamat," katanya sambil tersenyum. "Padahal kakakmu memiliki setengah dari jiwaku, tapi kau tidak peduli. Hanya karena melihat orang-orang di sekitarmu mati, kau jadi lupa diri. Aku jadi bertanya-tanya, apa memang semua manusia seperti itu? Rela mengorbankan dirinya sendiri atas nama cinta."


Luce tidak bisa tenang lagi. Tangan kanannya menarik kerah pakaian pemuda bernetra biru itu.


"Lalu aku mengunci semua ingatanmu tentang manusia-manusia busuk itu. Manusia yang pernah menyebut kata 'cinta' tapi tak bisa menghargai nyawa manusia," lanjut pemuda bernetra biru tanpa mempedulikan Luce yang sudah sangat ingin melayangkan tinju. "Jadi aku membuat kakakmu membakar semuanya setelah melihatmu mati dipenggal oleh ayahmu sendiri."


Luce benar-benar tak tahan lagi. Dia mengarahkan tinju pada pemuda bernetra biru, namun gagal. Pemuda bernetra biru itu seolah-olah tahu semua yang akan dilakukan oleh Luce bahkan sebelum Luce sendiri memikirkannya. "Kau benar-benar iblis!" pekik Luce dengan penuh amarah. Dia mendorong pemuda di hadapannya sekuat tenaga. "Kau telah membuat kakakku menjadi orang jahat di mata semua orang dan sekarang dia pun jadi bertingkah seperti penjahat."


"Itu harga yang harus dibayar olehmu karena memintaku untuk menyelamatkannya," Pemuda itu merapikan kembali pakaiannya yang serba hitam. "Sayangnya Eginhard tak mau menurut padaku seperti dulu lagi. Jadi aku meminta harga yang lebih tinggi dari nyawa kakakmu untuk menghidupkanmu kembali."


"Aku memintanya membunuh seseorang yang telah memutus rantai kekuatanku dari Kerajaan-Tertinggi Axton," jawab pemuda bernetra biru. "Aelfar Giselbert, dialah orang yang membuatku kehilangan tugas muliaku sebagai pelayan Axton. Padahal aku sudah berjanji untuk mempertahankan keberadaan dunia manusia, tapi kalau terus begini, Kegelapan akan segera datang dan menggerogoti wilayah kekuasaan Axton. Pada akhirnya manusia akan punah dan bangsa iblis akan menguasai dunia ini."


"Kau harus menjadi seorang raja," pemuda itu menggenggam kedua bahu Luce yang masih berusaha mencerna ucapannya. "Dengan begitu aku bisa mengendalikan cahaya yang ada di dunia ini untuk melawan Kegelapan dan merebut kembali semua wilayah yang telah dikuasai oleh mereka."


"Merebut kembali wilayah Kegelapan? Membunuh seseorang? Itukah rencanamu selama ini?" Pikiran Luce dipenuhi teka-teki membingungkan yang akhirnya terpecahkan. Dia akhirnya mengerti kenapa kakaknya begitu ingin menjadikannya seorang raja dan surat perintah ekspansi bersegel Kerajaan-Tertinggi Axton yang dibawa oleh Terence bukanlah sebuah kebohongan. "Kakakku melakukan semua ini demi menyelamatkan dunia manusia? Omong kosong apa itu? Kenapa kau tidak meminta Raja-Tertinggi Eginhard untuk membunuhku saja? Dengan begitu aku tidak perlu menanggung semua ini. Aku tidak ingin menjadi raja."


"Kau adalah keponakannya. Dia bahkan lebih menyayangimu daripada keluarganya sendiri. Itu karena kau selalu mengingatkannya pada Putri Ireene el Idylla, mendiang ibumu," Pemuda bernetra biru menghela napas panjang, berusaha meyakinkan Luce. "Pria itu, dia juga lebih mencintai ibumu daripada istrinya sendiri. Karena itu aku meminta dia membunuh orang lain."


"Apa katamu?" Luce melepaskan tangan pemuda bernetra biru dari bahunya. "Ibuku tidak mungkin..."


"Jangankan kau, semua orang pun tidak ada yang mempercayainya. Pria itu menikahi istrinya hanya untuk menutupi semua hal itu," potong pemuda bernetra biru. "Bahkan setelah kematian mendiang ibumu, dia menghukum dirinya dalam pertapaan tanpa henti. Kemudian setelah sepuluh tahun, akhirnya dia menginjak kembali dunia ini untuk memenuhi janjinya."


"Luce..." Pemuda bernetra biru menatap mata merah Luce yang menyala. "Bukan aku yang memilihmu, bukan pula Eginhard atau siapapun, tapi takdir dan waktu di dunia ini yang terus bergulir akhirnya menjatuhkan pilihan padamu. Terimalah tugas mulia ini dan kembalilah. Teman-temanmu sedang menantikan pertolongan darimu. Aku akan selalu ada dalam dirimu dan menjadi kekuatanmu. Hancurkanlah Kegelapan. Kalahkan mereka dan rebut kembali kejayaan umat manusia."


Luce kehabisan kata-kata dan hanya bisa berdiam diri dalam kebisuan. Pemuda bernetra biru di hadapannya perlahan lenyap dan sekelilingnya kembali berputar menampakkan dimensi asal Luce -- lorong batu yang dipenuhi gemuruh suara pertarungan antara prajurit manusia dengan monster dan iblis yang berlindung di balik Kegelapan. "Dia bukan aku. Dia adalah Phoenix, iblis yang berusaha melenyapkan dunianya sendiri dengan memanfaatkan tubuhku," Luce berkata pada dirinya sendiri. "Aku tahu ini aneh, tapi jika itu semua demi mempertahankan dunia manusia, aku tidak boleh tawar-menawar lagi. Aku harus melupakan semua tentang diriku sendiri dan beralih memikirkan bagaimana cara untuk mempertahankan benteng ini. Maafkan aku Iliana, ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan sekarang."


Luce mengangguk, memantapkan diri kemudian berlari kembali ke tempatnya semula berasal. Sedangkan Iliana, gadis yang sejak tadi menjadi objek pencarian oleh Luce, berdiri di balik bayangannya sendiri. Cahaya lampu dinding yang ikut bergetar juga membuat zirah peraknya terlihat kontras dengan lorong batu temaram di sekelilingnya.


"Dia sudah berubah," gadis itu berkata. "Dia bukan lagi Luce yang kukenal. Sekarang dia dan iblis itu telah menyatu, bukan hanya dari pemikiran. Luce seutuhnya telah berubah menjadi iblis itu. Dia akan menjadi penerus tahta Axton yang sebenarnya. Bukan hanya Alcander, dia akan mengambil alih semua wilayah di dataran ini dalam genggamannya. Sedangkan kakak yang sudah berjuang mati-matian sejak lama tanpa kekuatan iblis itu, dia hanya akan menjadi Raja-Muda selamanya."


"Ayahanda, apa maksud dari semua ini? Kekuatan iblis itu harusnya menjadi milik kakak, tapi dari semua orang, kenapa kau memilih dia?" Air mata menetes di antara kelopak mata gadis itu dan membasahi wajah cantiknya. Dia menahan sesak yang tak tertahan. Sebagai seorang Putri Kerajaan-Tertinggi Axton, Iliana tidak boleh larut dalam emosi pribadinya. Dia harus mendahulukan kepentingan rakyatnya dan untuk saat ini, dia hanya bisa melakukan hal yang sama seperti yang sedang Luce rencanakan -- mempertahankan benteng Carliste.


***