
PELAYAN DAN TUANNYA__4th Part
"Anda tidak apa-apa, Tuan Besar?" Terence bertanya pada Jean yang tiba-tiba gemetar. Illarion dan Ellgar datang menyusul kemudian. Teriakan Luce sepertinya membuat semua orang di Ruang Jamuan panik dan berusaha keluar untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Aku tidak apa-apa," jawab Jean berusaha menghela napas panjang. Pria itu berusaha mengendalikan rasa terkejutnya ketika melihat Luce untuk pertama kali sejak sepuluh tahun lamanya. "Kalau saja tidak ada anak panah itu," lirihnya ketika melihat Ellgar bersujud, meneliti patahan anak panah tersebut. Mata panahnya yang terbuat dari perak menghitam oleh cairan kental beraroma menyengat, membuat Ellgar sadar kalau itu adalah racun yang pernah menembus tubuhnya beberapa waktu yang lalu.
"Sebaiknya anda tetap tinggal di sini malam ini," kata Ellgar tanpa basa-basi menyebabkan raut wajah Jean berubah kesal seketika.
"Padahal aku sudah punya rencana sendiri malam ini. Tapi kalau aku tak menuruti nasehatnya, mungkin akan ada pembunuh bayaran lain yang memburu nyawaku malam ini. Tidak disangka, pada hari di mana mereka akan mengembalikan Luce pada posisinya semula dalam silsilah keluarga kerajaan, seseorang menginginkanku mati bahkan sebelum aku menuntut hal yang sama," Jean membatin.
"Anak panah ini telah dilumuri racun 'Terompah Iblis', tanaman yang sangat mematikan. Kalau anda bersikeras kembali sekarang, kami tak bisa menjamin keselamatan anda jika peristiwa yang sama terjadi nantinya," Ellgar berusaha menjelaskan dengan nada terpaksa, "Tuan, berhentilah membuat orang-orang di sekitar anda khawatir karena keegoisan anda."
"Kau bicara seolah-olah telah lama mengenalku, Yang Mulia Argus," Jean tersenyum sinis mendengar Ellgar menyebutnya dengan kata 'Tuan', panggilan yang sudah lama tak disebut oleh pria berambut pirang di hadapannya. Sepuluh tahun yang lalu, Ellgar telah membulatkan tekad untuk melayani keluarga St. Claire. Sejak kecil dia memang terlihat lebih dekat dengan Luce daripada Jean. Meskipun begitu, Jean sudah menganggap Ellgar sebagai teman sebayanya. Tak ada hirarki dalam pertemanan mereka. Bahkan jarang sekali mendengar Ellgar memanggil Jean dengan sebutan itu tapi bukannya membuat Jean senang, malam itu justru Ellgar telah memancing kemarahan Jean sampai pada batasnya.
"Lalu keegoisan apa yang kau maksud? Aku bukanlah pangeran yang bisa tenang menghabiskan waktu dalam sebuah pesta sementara orang-orangku kelaparan," Jean membalas, bahkan tanpa perlu bertata krama lagi pada mantan pelayannya tersebut. "Aku harus bekerja siang malam untuk memberi makan mereka dan itu jauh lebih penting daripada keegoisan yang kau maksud tadi. Benar-benar..."
"Maaf atas kelancangan kami, Tuan," Illarion memotong. "Kalau memang anda sudah memiliki rencana lain, kami tidak akan menahan anda lagi. Anda bisa pergi sekarang. Saya akan memerintahkan beberapa prajurit untuk mengawal anda sampai di Grissham dengan aman. Terima kasih sudah menyempatkan waktu kemari dan maaf kalau semua ini mengganggu kegiatan anda."
Jean hanya diam ketika Illarion memberikan salam dengan menempatkan tangan kanannya di dada. Ellgar pun demikian. Tak ada rasa takut sedikitpun ketika menatap kedua mata Jean yang seolah berkilat merah karena kemarahannya yang memuncak. Dia tahu, Jean tak berani melakukan apapun padanya di hadapan umum seperti ini, apalagi dengan identitas palsu yang sedang Ellgar gunakan sekarang. Seolah tak peduli, Jean akhirnya meninggalkan Ilarion dan Ellgar kemudian pergi bersama rombongannya meninggalkan kastil Alcander.
"Paman Evan," Illarion memanggil pengawal pribadi yang selalu mendampinginya kemanapun pergi. Bahkan Ellgar yang terpaku pada Jean sedari tadi nyaris lupa bahwa dia juga memiliki seseorang yang harus dia jaga, sama seperti Evan yang kemudian mendekat dan bertanya, "Anda memanggil saya, Putra Mahkota?"
"Aku ingin kau secara khusus memata-matai keluarga St. Claire mulai saat ini," ucap Illarion dengan tegas. "Awasi dengan ketat Pangeran Jean. Aku benar-benar ingin tahu apa ada rencana terselubung di balik bisnis tambangnya. Hanya seorang pengusaha, dia sampai terlalu sibuk untuk menghadiri pesta penting adik tirinya sendiri, bahkan sampai tak perlu repot mencari Luce yang jelas-jelas baru saja menyelamatkan nyawanya. Aku sama sekali tak percaya dengan ucapannya barusan yang mengatasnamakan pekerjaan."
"Biar saya saja," sahut Ellgar dengan pasti. "Saya pernah menghadapi archerias tersebut. Saya tahu persis bagaimana kekuatannya. Walaupun sebelumnya, dia berhasil kabur dari kejaran Tuan Luce tapi kali ini, saya akan berusaha menangkap archerias itu hidup-hidup."
"Tidak perlu Ellgar," Illarion berpaling pada pria berambut pirang di sisinya. "Biarkan saja archerias itu pergi dan menunjukkan siapa tuannya pada kita. Tapi kalau kau bersikeras seperti itu, kau boleh mengejar Luce sekarang sementara aku akan mengirimkan salah satu prajurit elit untuk mengikuti archerias itu. Apa penjelasanku barusan bisa dimengerti?"
"Saya mengerti," Ellgar menunduk pada Illarion sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Di sisi lain, Luce yang berlari hingga ke sebuah padang rumput di tepi hutan kerajaan, berhenti ketika sang archerias melemparkan beberapa cahaya mematikan padanya. Anak panah yang terbuat dari serpihan cahaya yang kerasnya hampir menyerupai logam yang diasah sempurna.
Luce kemudian menghindarinya sebelum mengumpat, "Dia ini sebenarnya seorang magus atau archerias?" Pemuda itu kemudian melemparkan beberapa bola api yang muncul dari genggaman tangannya ke arah sang archerias. "Kau pikir cuma dirimu yang bisa melakukan hal seperti itu!" Luce berteriak marah ketika orang di hadapannya membuat benteng cahaya untuk memadamkan api miliknya. Benar-benar menyilaukan sampai Luce tak bisa melihat lagi ke mana orang itu telah pergi. Tubuhnya terpental ke tengah padang rumput, terseret hingga beberapa meter di permukaannya. "Sialan, dia berhasil kabur lagi."
Luce menatap langit gelap di hadapannya yang dipenuhi rasi bintang. Tak ada satupun niatan untuk bangkit dari posisi tubuhnya yang sekarang. Meskipun tidak lemah, rasa malas sudah melebihi ambang batas kesabarannya. Setiap hari bagi Luce hanya sebuah hukuman atas ketidakberhasilan di kehidupan sebelumnya. Untuk menebus rasa bersalahnya atas semua itu, bagi Luce tak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi sekarang, satu-satunya cara agar dia dan kakaknya tetap hidup adalah bersatu dan bersama-sama tunduk pada titah Raja-Tertinggi Axton. Itulah rencananya.
"Dengan kekuatanku yang sekarang ini, apakah aku benar-benar bisa meyakinkan pria keras kepala itu?" Luce melayangkan pikirnya pada Jean sebelum tragedi Grissham terjadi. Pemuda itu kemudian menutup kedua matanya.
*bersambung ke part berikutnya
NOTE from AUTHOR
"Oya, sekedar info (bukan niat mau pamer tapi memang iya), seluruh ilustrasi yang akan ditampilkan dalam novel ini nantinya adalah karya orisinal author (termasuk cover). Jadi mohon dengan sangat, untuk tidak mengcopy-paste dengan tujuan claim atau sejenisnya. Terima kasih!"
Walaupun ada beberapa yang juga mencomot karya orang lain tanpa izin. Secara resmi author minta maaf dan mohon izin untuk menggunakannya sebagai dukungan untuk mempercantik novel ini. Terima kasih yang "sebesar-besarnya" yang tak mampu author sampaikan pada sang creator/illustrator (karena author ga tau siapa yang membuatnya hiks cuma asal comot hiks)
"Cerita berikutnya akan mengisahkan perjalanan hidup Luce bersama keluarganya, sepuluh tahun yang lalu... 😊😍 let's enjoyed reading that!"