The Second Throne

The Second Throne
Servant and The Master (11)



PELAYAN DAN TUANNYA__11th Part


Illarion mendesis marah sementara Jean masih saja berceloteh sambil melipat kedua tangannya. "Hei, kalian," Jean menunjuk semua prajurit yang berdiri di belakang Illarion. "Kalau kalian tidak mau menyia-nyiakan nyawa kalian, lebih baik kalian menyingkir dan jadilah penonton yang baik seperti mereka," pria itu kemudian menunjuk para warga yang ikut menyaksikan.


"Jangan terpengaruh oleh ucapan orang ini," pekik Illarion, menenangkan prajuritnya.


"Baiklah, kalau kalian tidak mau menurut. Apa boleh buat. Kalian harus menyaksikan aku mengalahkan calon raja kebanggaan kalian," Jean menggulung lengan kemejanya dan tanpa basa basi melemparkan bola api pada Illarion hingga tubuh pria itu melayang ke luar bangunan dan jatuh menimpa beberapa warga.


"Apa yang harus kita lakukan?" salah satu warga mulai berkomentar ketika tahu Illarion dapat dikalahkan semudah itu. "Kita harus melindungi Putra Mahkota dari iblis itu," yang lain menimpali. "Tapi bagaimanapun juga, kedua kakak beradik itu juga ternyata putra dari Raja Abraham yang sudah lama menghilang. Jadi ini pertarungan antar saudara. Kita tidak bisa memihak manapun. Kita hanya rakyat jelata."


"Tapi apa kau mau dipimpin oleh iblis-iblis itu? Dia baru saja mengeluarkan api dengan tangan kosong. Kalau dibiarkan terus, tragedi Grissham sepuluh tahun lalu akan terulang kembali," tukas seorang pedagang yang juga ikut membantu Illarion berdiri kembali. "Anda tidak apa-apa, Yang Mulia?"


"Aku tidak apa-apa," ucap Illarion sambil menunggu Jean keluar dari bangunan di hadapannya yang ternyata telah rusak parah. Hampir semua jendela kaca pecah karena Luce melemparkan prajurit Illarion seperti bola sepak yang ringan. "Kalian semua sebaiknya pergi dari sini dan bersembunyi. Ini tidak bisa diremehkan. Kalau terus begini, kalian warga yang tak bersalah pun bisa jadi korban. Cepat pergilah."


"Aku tidak akan membiarkan kalian semua pergi!" Luce tiba-tiba melompat keluar. Dia menggerakkan tangan kanannya untuk mengendalikan semua orang yang ada di halaman rumah Jean, tepat di jalanan utama Kota Grissham. "Semuanya berlutut kecuali pria berambut perak itu!" katanya keras. Beberapa saat kemudian, Jean berjalan keluar dengan gagah karena mencium aroma kemenangan untuknya.


Namun tiba-tiba Illarion yang tidak mau mengalah, mengumpulkan semua air yang ada di dalam tanah dan dengan sihirnya memecah semua salurannya ke permukaan jalan berpaving tempatnya berada. Dia kemudian melemparkan bola-bola air yang langsung berubah menjadi pasak es ketika nyaris mengenai Luce. Jean menahannya dengan perisai api ciptaannya sementara Illarion tak berhenti menciptakan pasak-pasak es di sekeliling Jean dan Luce untuk mengepung keduanya.


"Kau pikir es mu ini dapat mengalahkan aku, dasar anak penyihir!" Jean kembali menghalaunya. "Aku tahu ibumu yang cantik jelita itu hanyalah seorang penyihir dari Gretasha yang menggunakan jampi-jampinya untuk memikat Raja Abraham. Tapi tak kusangka dia juga menurunkan ilmu hitam itu padamu, dasar Pangeran Palsu!" Pria itu menyerang Illarion dengan kobaran api yang dahsyat, nyaris mengikis habis seluruh bangunan di sekitarnya. Jalanan kota Grissham kemudian mendadak dipenuhi lautan api. Sementara warga yang masih berlutut berusaha menyelamatkan kepala mereka masing-masing dengan bersujud, menempelkan kepalanya ke permukaan tanah.


"Kau beraninya mengolok-olok sang Ratu. Kau pikir siapa dirimu sekarang? Kalau bukan karena ibuku yang mencegah ayahanda untuk menghabisimu kedua kalinya, mungkin kau sekarang sudah mati jadi abu," Illarion membela diri. Di hadapannya, sebuah tabir pelindung muncul menahan lautan api Jean.


"Tuan Besar!" Terence berteriak ketika tiga buah anak panah menembus tubuh Jean secara tiba-tiba. Tak ada yang tahu darimana panah tersebut berasal, sampai Luce sadar bahwa dirinya telah melakukan sesuatu di luar kehendaknya. "Kakak!" Luce menurunkan tangan kanannya, membuat semua orang kembali bergerak leluasa. Pemuda itu berlari menghampiri Jean seketika, bersama Terence dan Eleanor, berusaha menahan Jean agar tidak ambruk ke jalanan yang kini lembab oleh es yang mencair.


"Anak panah ini," gumam Luce. Hal yang sama juga diperhatikan oleh Ellgar dari kejauhan. "Adalah senjata yang pernah melukai Ellgar. Kita harus cepat menemukan penawarnya kalau tidak kakak," Luce semakin panik ketika menyadari darah yang mengalir keluar dari luka di tubuh Jean, menghitam.


"Terence, Eleanor, cepat bawa Luce pergi dari sini dan temukan orang Gretasha yang pernah aku sebutkan pada kalian," ucap Jean tersedak-sedak. Dari mulutnya mengalir darah kehitaman yang membuat Luce tak bisa melakukan apa yang kakaknya tersebut minta.


Jean tersenyum. Mata birunya memandang Luce dengan penuh kasih. "Kau memang bukan anak kecil lagi dan kau telah tumbuh dewasa dengan cepat, tapi kau tetaplah adikku satu-satunya. Saat ini hanya kau anggota keluargaku yang tersisa. Kalau kau tertangkap, tidak akan ada yang menyelamatkan kakak nanti. Berjanjilah satu hal, kau harus menuruti semua kata Terence dan Eleanor saat aku tidak ada. Jangan percaya pada orang lain. Bahkan Ellgar juga telah mereka pengaruhi. Kau harus percaya pada dirimu sendiri. Sekarang, cepatlah pergi sebelum terlambat."


Luce mengangguk pasrah. Dia mengusap air matanya kemudian berdiri tegar di hadapan Jean yang tergeletak lemah.


"Cepat tangkap mereka!" Evan menggerakkan seluruh prajuritnya untuk bangkit kembali sementara Terence dan Eleanor segera menarik pergi Luce dari tempat itu serta meninggalkan Jean bersama dengan musuh-musuhnya. Luce terus menangis saat melihat ke arah kakaknya yang sedang terluka parah dan digelandang oleh banyak prajurit asal-asalan, sementara Ellgar tak melakukan apapun untuk menyelamatkannya.


"Jangan menoleh ke belakang," Terence terus menarik tangan Luce sementara Eleanor sibuk menjatuhkan barang untuk menghalangi prajurit yang mengejar mereka. Gadis itu tampak sama khawatirnya seperti Terence, tapi dia harus lebih fokus untuk melindungi Luce mulai saat ini. Dia memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut dan bersiul untuk memanggil dua ekor kuda milik keluarga besarnya. Kuda-kuda tersebut berhasil menerobos pintu gerbang ibukota ketika Terence bersama Luce, dan Eleanor berusaha menungganginya dengan kecepatan penuh.


"Eleanor, tetaplah maju dan jangan kurangi kecepatanmu," Terence menasehati sementara Luce bersembunyi di belakang punggungnya sambil terus menangis. "Mereka akan segera menyusul kita," lanjutnya. "Ayo masuk ke dalam hutan dan membuat tabir pelindung."


Eleanor mengangguk. Di belakang mereka, Illarion menyusul dengan puluhan prajurit berkuda. Mereka telah siap untuk menangkap Terence dan Eleanor serta membawa kembali Luce ke kerajaan sesuai titah sang raja. Namun tiba-tiba sebuah dinding api terbentuk di antara mereka. Sangat tinggi dan besar sampai Illarion tak bisa memadamkannya dengan sihir biasa. Setelah beberapa menit, api itu padam dengan sendirinya dan di hadapan Illarion, sudah tidak ada siapapun lagi.


"Apa kita tetap akan mengejarnya, Yang Mulia?" salah satu prajurit bertanya.


"Tidak perlu. Hutan ini adalah wilayah kekuasaan para iblis. Kita tidak bisa masuk tanpa membawa salah satu dari mereka dan mereka juga sudah memiliki pemimpin sekarang," jawab Illarion. "Sekarang kita kembali saja ke kastil dan melapor."


***bersambung ke part berikutnya


Tragedi Grissham


*Sepuluh tahun lalu, terjadi pembantaian sebuah keluarga di wilayah Alcander bagian utara. Sebuah mansion terbakar di area tersebut disusul dengan kebakaran lain yang terjadi di jantung kota Grissham. Hampir seluruh prajurit dikerahkan untuk memadamkan kebakaran di ibukota Alcander tersebut, namun tak satupun yang dikirim untuk menyelidiki kebakaran yang sama, terjadi di mansion.


Keluarga St. Claire, menjadi satu-satunya yang kehilangan sebagian besar anggotanya. Seorang wanita dan dua orang putranya juga ditemukan tewas di mansion tersebut, sementara sang kepala keluarga, Fletcher St. Claire tidak diketahui keberadaannya. Jumlah korban lain yang meninggal dan terluka di ibukota juga hampir melebihi setengah dari populasi penduduk yang ada, bahkan di antaranya terdapat kaum elit, bangsawan, serta prajurit yang turut gugur.


Kabar mengenai tragedi tersebut kemudian terdengar sampai di Kerajaan-Tertinggi Axton dan membuat gempar hampir di seluruh wilayah kekuasaan kerajaan tersebut. Raja-Tertinggi Axton, Eginhard Idylla yang selalu bersembunyi dalam pengasingan, turun tangan untuk mengatasi masalah itu. Hingga setahun kemudian, barulah kegiatan pemerintahan dan perekonomian di Alcander berhasil dipulihkan*.