
...Permulaan dari Akhir_1st Part...
Kesunyian berlarut selama beberapa detik di sebuah tempat berdinding batu yang sangat gelap. Lantainya licin dan penuh aliran air yang merembes dari sela-sela tumbuhnya stalakmit --- endapan kapur yang terbentuk selama ribuan tahun. Ujung runcingnya menyatu dengan bagian atap yang dipenuhi lumut. Beberapa tanaman paku juga tumbuh di sana seperti api kemarahan yang tak bisa dipadamkan.
Di tempat tersebut, dua orang raja saling menghunus pedang tanpa rasa rakut. Salah satunya berambut cokelat dengan bewok dan jambang rapi yang menambah kesan sangar. Matanya ungu dan pakaiannya persis seperti prajurit yang akan bertempur --- zirah keemasan dengan jubah merah bergambar mawar khas Alcander. Dialah Raja Abraham Hamlet yang menguasai kerajaan tersebut selama hampir dua puluh tahun atau yang biasa dikenal dengan nama...
"Aelfar Giselbert," suara lirih nyaris berbisik menyapa sang raja. Pria lain yang merupakan sang Maha Raja-Tertinggi Axton yang menguasai Alcander dan seluruh daratan serta lautan dunia manusia, Eginhard Idylla dengan mata biru safir dan surai keemasan yang indah laksana singa. "Sudah lama sekali sejak kau menyandang gelar dan nama barumu."
"Eginhard Idylla the High-King," Aelfar membalas dengan senyum terpaksa. "Bisa sampai di tempat rahasia seperti ini, apalagi tempat itu milik kerajaan lain. Bukankah kau sudah melampaui batas?"
"Ah, aku tidak ingat kalau kau sudah melupakan semuanya," ucap Eginhard. "Aku pikir kau akan menyapaku sebagai seorang kakak ipar, tapi karena kau tidak pernah menikahi adikku jadi kau tidak perlu bersikap santun di hadapanku, ya? Padahal begini-begini, Alcander adalah salah satu wilayah bagian Axton yang sangat penting. Apa salah jika sebagai raja dari seluruh raja yang ada di dunia manusia, aku menyelidiki Alcander sampai ke tempat yang kau bilang rahasia ini? Lancang sekali kau menyembunyikan semua ini dari pendahulumu."
"Sepertinya kau yang sudah mulai kehabisan usia sampai lupa kalau aku memang sudah seperti itu dari dulu? Kau pikir bisa menipu kami semua dengan ilmu awet mudamu yang sangat kau agungkan itu. Sebagai seorang pria, apa kau tidak malu menyembunyikan usiamu dari semua orang. Kau bahkan masih berpikir menjadi Raja-Tertinggi setelah kehilangan phoenix. Iblis itu sekarang ada di tanganku. Kau bahkan tidak bisa lagi merebutnya dariku."
Kedua pedang mereka berkilat silau ketika cahaya keemasan berpendar indah menerangi sekitar. Ribuan kunang-kunang yang hampir punah terbang mengelilingi kedua raja tersebut seolah memberi salam. "Aku sudah bosan mengatakannya dari dulu, bahkan sejak Fletcher mengutuk dengan rambut hitam dan mata biru anak-anakmu, kau masih saja mengatakan kalau mereka adalah milikmu," timpal Eginhard.
"Itu dari Ireene!" teriak Aelfar memecah keheningan. Suara kepak sayap kelelawar berkelebat melewatinya dan Eginhard yang berpakaian serba hitam. "Rambut hitam dan mata biru itu dari Ireene, bukan dari kutu buku sialan itu. Lagipula aku sudah lama membunuh mereka berdua, jadi sudah tidak ada lagi yang akan menghalangiku."
"Kau masih saja bersikeras seperti itu setelah menemukanku di tempat ini. Tempat yang cocok untuk menumbuhkan benih baru dari sebuah harapan. Kau bilang sudah membunuh Ireene dan Fletcher? Jangan harap aku percaya omong kosongmu itu!" Eginhard menebas udara di hadapannya secepat kilat dan langsung ditahan oleh pedang Aelfar yang berukuran raksasa.
"Sebaiknya jangan terlalu percaya dengan apa yang kau dengar dan lihat di tempat ini." Aelfar melompat mundur untuk menerjang balik dengan kedua tangan. Batu rubi yang menghiasi pedangnya bersinar terang menyebabkan semua kunang-kunang terbang berhamburan. Eginhard tak mau kalah. Dengan kecepatan yang dia miliki, kaki kanannya berhasil menjangkau tubuh bagian bawah Aelfar.
Selama beberapa detik, kesunyian menghenyakkan mereka berdua dalam lamunan masa lalu. Hal terakhir yang dapat mereka ingat hanyalah kepedihan dan kehilangan. Darah dan keringat adalah simbol perpisahan sekaligus pertemuan. Bagi keduanya, bertarung sampai mati adalah satu-satunya cara untuk berbicara tanpa harus meneteskan air mata.
Ireene, bagi Eginhard adalah harta karun yang berharga --- adik yang sangat ia cintai melebihi keluarganya sendiri dan bagi Aelfar adalah sosok wanita yang telah menjadi mimpi baru di atas impian-impian lamanya yang tiada berarti. Sedangkan Fletcher, bagi keduanya adalah sahabat yang tak tergantikan --- adik bagi Eginhard dan kakak bagi Aelfar. Mereka sangat mempercayainya walaupun takdir berkata lain.
"Pergi dari sini!" Aelfar yang berada di bawah tubuh Eginhard menendang keras perut raja Axton tersebut hingga nyaris terjengkang. "Pergi dari kerajaanku!" Pria itu berdiri dan menghujamkan pedangnya ke tanah. "Kekang dia!" pintanya pada udara dingin yang tiba-tiba menyelimuti sekitarnya.
Suara kecipak air yang mereka berdua ciptakan sejak tadi perlahan tenang. Samar-samar, kabut muncul dari dinding batu menutupi pandangan Eginhard. Napasnya berat seolah berada di suatu musim yang nyaris tak pernah ada di Alcander. Serpihan uap air terlihat jelas keluar dari mulut dan hidung pria itu selama dia mencoba menghembuskan udara. Rasanya dingin sekali. Temperatur turun dengan drastis dan menyebabkan aliran air di sekitar kaki Eginhard membeku dengan cepat.
"Aku tak bisa melihat apapun," pikirnya. "Phoenix, bantu aku menghadapinya." Seperti mengharapkan hal yang tidak akan datang, tak ada apapun yang terjadi. Eginhard benar-benar sudah kehabisan tenaga. Dia harus segera membunuh Aelfar untuk menuntaskan janjinya pada Phoenix. "Kalau sampai mati di tempat ini, maka Luce yang akan menanggung semuanya." Pria itu berlutut dan menjatuhkan pedangnya di atas lantai es. Semua terlihat begitu jelas ketika dia memandang ke bawah. Wajah frustasinya yang kedinginan.
"Kau sepertinya benar-benar kehilangan Phoenix setelah Jean membuat Luce menyerap semua kekuatannya." Aelfar mendekati Eginhard yang terkapar tak berdaya setelah sebatang mawar tumbuh di dekat kakinya dengan sangat cepat. Berdaun, berduri, hingga akhirnya mengeluarkan satu kuncup bunga berwarna keemasan.
"Aku tidak tahu kau punya kekuatan sehebat ini." Aelfar terbatuk dan menyemburkan darah dari mulutnya. Dadanya sesak seperti ada yang memaksa jantungnya untuk berhenti berdetak. "Tapi kau malah mewariskannya pada pangeran ketiga dan bukannya keponakan-keponakanku. Aku ingin tahu sejauh apa kau akan menyiksa mereka lagi untuk kepentinganmu."
Aelfar tersenyum simpul membalasnya. Dari jemarinya pusaran es muncul membentuk rapier tajam yang ujungnya langsung menghujam ke jantung Eginhard. "Semua benih mawar yang tumbuh di Alcander adalah simbol kematian sekaligus hidup yang baru. Mereka menyerap energi kehidupan yang sangat berarti untuk membuat kuncupnya mekar. Semakin penting orang tersebut di kehidupannya, maka semakin indah warna mawar yang diciptakan."
Kuncup bunga mawar keemasan akhirnya mekar setelah tubuh Eginhard terbenam dinginnya kristal es di tempat rahasia tersebut. "Ini adalah tempat jiwa-jiwa bersemayam hingga mereka dilahirkan kembali. Kau, Ireene, dan Fletcher, bahkan mungkin aku nantinya."
Cahaya kunang-kunang kembali menerangi, memperjelas bahwa banyak tanaman mawar yang tumbuh di sekitar tempat itu. Mereka menandai satu persatu nyawa yang telah dilenyapkan dan membuat Aelfar meneteskan air mata. "Selamat tinggal, kakak ipar."
***
Frederick Rainar sang penasehat agung menundukkan kepala di hadapan para menteri dan abdi setia kerajaannya. Di tangan kanannya, melayang sebuah kristal indah berwarna keemasan dengan siluet tubuh phoenix yang menjadi simbol Raja-Tertinggi. Sang ratu langsung jatuh pingsan ketika cahaya tersebut padam dan kristalnya jatuh berguling ke telapak tangan Rick.
"Telah dipastikan bahwa Yang Mulia Raja-Tertinggi Eginhard Idylla wafat dengan terhormat di medan perang." Pria itu menahan air matanya untuk tetap tegar di hadapan semua orang. "Segera setelah Raja-Muda Devian Argus kembali, beliau akan segera dinobatkan sebagai Raja-Tertinggi yang baru."
Seorang pria bernetra biru memaksa masuk bersama rombongannya untuk menjemput kabar. "Baru saja aku mendengar berita yang seharusnya tidak pernah kudengar!" Pria itu menancapkan pedang pipihnya ke lantai kastil penuh amarah. Dia membuka tudung kepala dan memamerkan surai keemasannya ke semua orang. "Ada apa dengan kalian? Bukankah Raja-Tertinggi pergi bersama Jenderal Harbyn? Anda tidak boleh sembarangan mengumumkan kematian beliau sebelum jenderal dan pasukannya kembali."
Rick menggeleng kemudian berlutut di hadapan Devian secara perlahan. "Maafkan hamba, Yang Mulia, tapi ini adalah bukti yang ditinggalkan Raja sebelum beliau pergi." Pria itu menunjukkan kristal hitam di tangannya pada sang Raja-Muda.
"Itu hanya kristal!" teriak Devian murka. Dia melempar benda di tangan Rick dengan kasar hingga jatuh membentur lantai. "Aku yakin ayahanda masih hidup sampai sekarang. Tunggu saja dia kembali bersama pasukan milik Jenderal Harbyn. Dia juga akan membawa serta sepupuku, Jean St. Claire. Paman harus percaya itu!"
"Yang Mulia, saya mohon!" Rick semakin membenamkan kepalanya ke lantai diikuti semua orang. "Berikan perintah apapun pada saya untuk menyelamatkan kerajaan ini, tapi jangan lupa kalau anda adalah pewaris tahta satu-satunya. Pangeran Illarion dan pasukannya pasti akan segera kemari untuk mengambil alih posisi tersebut jika anda tidak segera mengambil tindakan."
Devian ingin sekali berteriak marah pada Rick seperti biasanya, tapi di hadapan para menteri dan bawahannya yang lain, dia sama sekali tak berkutik. Pria itu memandang singgasana dan menyadari bahwa ratu sedang tak berdaya dalam lindungan para dayang. Satu-satunya yang bisa dia lakukan saat itu hanya memberi perintah.
"Kirim merpati ke Jenderal Harbyn dan Putri Illiana Damara. Minta pada mereka untuk menjaga perbatasan utara Axton bersama Tuan Baltazhar da Koch Achfolia. Hubungi juga kerajaan yang lain melalui para guardian dan minta bantuan mereka untuk menjaga ibukota. Kalian semua yang ada di sini, berdirilah!" Devian berteriak lantang. "Pindahkan semua dokumen penting kerajaan ke tempat yang aman dan beritahu kelompok Red-Phoenix untuk membantu evakuasi warga kota. Kita butuh banyak persediaan makanan dan obat-obatan. Cepat laksanakan!"
"Baik, Yang Mulia!" semua menjawab serentak sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat tersebut. Hanya tersisa Devian, penasehat agung, dan sang ratu yang akhirnya dibawa masuk ke dalam kamarnya.
"Kekuatan hukum kita terlalu lemah." Devian berkata pada Rick dengan ekspresi kebingungan. "Paman tahu siapapun yang mengalahkan Raja-Tertinggi Axton, dialah yang berhak memperoleh tahta. Aku telah mengalahkan Illarion waktu itu jadi tidak mungkin dia yang membunuh ayahanda. Kupikir mungkin..."
"Aelfar Giselbert pelakunya. Dia yang akan memimpin pasukan kemari." Rick menyimpulkan. "Kita mungkin bisa menang dengan jumlah pasukan yang ada saat ini, tapi kerajaan mereka memiliki jumlah magus yang tidak bisa kita bayangkan. Kalau hanya mengandalkan kecepatan, pasukan kita tidak akan cukup kuat, tapi apa dengan cara ini kau akan merasa puas?"
"Tentu saja aku tidak puas, Paman." Devian kemudian duduk di salah satu kursi untuk menjernihkan pikiran. "Aku baru saja kembali dari medan pertempuran, kalau harus maju lagi dengan pasukanku sebelumnya, aku khawatir mereka akan kelelahan. Paman, aku butuh nasihat darimu."
"Umm..." Rick membuka kipas besarnya dan memejamkan mata sejenak. "Kita harus bertahan di sini sambil menunggu kabar dari Putri Iliana dan Jenderal Harbyn. Kalau mereka sampai kalah, kita akan gunakan Red-Phoenix di garis depan dan pasukanmu di garis belakang. Gerombolan kriminal itu cukup setia untuk melayani kerajaan kalau dia mendengar kabar bahwa phoenix telah kembali kepada tuannya. Kita akan memastikan keadaan Pangeran Lucas untuk semua itu."
"Bukankah dia masih tak sadarkan diri setelah bertahan dari Kabut Kegelapan? Kabar terakhir dari Iliana mengatakan demikian. Itu sudah beberapa hari berlalu sejak aku bertemu Illarion." Devian mulai tampak tenang setelah tahu bukan dia yang akan bertanggung jawab atas kerajaannya. Batinnya berkata lirih, "Aku ingin menjadi raja jika ayahanda mewariskan phoenix padaku, tapi dengan semua keadaan yang ada sekarang, sepertinya aku hanya akan mengorbankan diriku demi orang lain yang akan duduk di singgasana itu. Sungguh keterlaluan!"
***