The Second Throne

The Second Throne
Crimson Sky (1)



Kisah asmara Jean St. Claire dan seorang putri bangsawan di tanah Allegra diawali dari sebuah mimpi...


..._Langit Merah_...


...1st Part...


"Bagus, Jean!" Fletcher St. Claire memuji. Suara dua buah pedang kayu yang saling beradu memenuhi telinga Jean pada suatu hari yang sangat cerah. Saat itu, Jean yang berumur lima belas tahun sedang mengasah kemampuan bersenjatanya bersama sang paman di halaman belakang mansion yang cukup luas. Para pelayan bersorak menyemangati pemuda tampan itu, termasuk Ellgar yang usianya tak terpaut jauh dari Jean.


"Ayahanda datang!" Luce kecil yang keluar dari dalam mansion tiba-tiba berteriak memanggil kakaknya.


Jean langsung menjatuhkan pedang kayunya karena panik. Tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan kanannya yang gemetar. Tatapannya tiba-tiba kosong tanpa harapan. Fletcher yang melihat itu semua tahu apa yang harus dia lakukan. Pria itu sangat cepat tanggap sebagai seorang paman. Dia menepuk bahu Jean pelan.


"Kau gugup karena ayahmu akan melihat bagaimana proses perkembanganmu dalam bertarung atau kau takut dia akan membanding-bandingkanmu dengan anak tirinya yang seperti kilauan permata di kastil?"


"Tidak." Jean mengedipkan mata dan memandang pamannya tersebut dengan penuh ketegasan. "Aku tidak akan kalah dari Illarion karena aku adalah anak kandung ayahanda dan aku adalah pangeran pertama." Pemuda itu mengambil kembali pedangnya kemudian memasang kuda-kuda --- membuat Ellgar dan yang lain kembali bersorak.


Tanpa menunggu waktu lebih lama, Fletcher menerjang keponakannya itu lagi sementara Jean harus bisa mempertahankan diri lebih serius dari sebelumnya. Tak lama kemudian, pedang kayunya pun akhirnya terdesak. Tubuh Jean telah berada jauh dari titik awal dia memulai pertarungan. Dia bahkan tak sadar bahwa kedua orang tuanya telah berdiri di belakang Luce untuk menontonnya selama beberapa menit.


"Apa aku sudah bersikap terlalu keras padanya?" Aelfar bertanya pada sang istri yang berdiri di sisinya, sementara kedua tangannya merangkul Luce penuh kelembutan hingga wajah anak ingusan tersebut memerah seperti buah apel.


"Untuk apa anda bertanya seperti itu? Anda bahkan tega meracuni Luce yang masih berusia sepuluh tahun." Ireene melempar pandang penuh amarah pada Aelfar.


"Resistansi terhadap racun itu sangat diperlukan oleh para pangeran, Sayangku." Aelfar melepas tangannya dari Luce kemudian menarik tangan sang istri menuju ke sebuah meja yang telah disiapkan oleh para pelayan. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan," katanya sembari menuangkan teh untuk Ireene. "Setelah memutuskan untuk menikahi nenek sihir itu dan membawa anaknya masuk ke dalam kastil, pastinya akan terjadi pergolakan di kalangan bangsawan. Kita harus mempersiapkan masa depan yang baik untuk Jean dan Luce kita, walaupun prosesnya akan menyakiti mereka."


"Anda benar-benar mencintai mereka," ucap Ireene setelah mencicipi teh beraroma mawar di hadapannya. "Saya takut anak-anak akan salah paham, terutama Jean. Saya takut dia akan mengira bahwa anda lebih menyayangi Illarion daripada dirinya."


Aelfar tertawa. "Apa aku terlihat seperti itu?" Pria itu kemudian memotong pie buah untuk diberikan kepada Luce yang sudah sangat tak sabar untuk bercengkerama dengan ayahnya. Dia bahkan mengusap rambut anak terakhirnya itu penuh rasa cinta. "Mereka adalah kebanggaanku. Aku mengajarkan pada mereka banyak hal, sementara membiarkan Illarion terus menyombongkan hal yang bukan miliknya. Bukankah itu adil, Sayangku?"


"Anda tidak boleh bersikap terlalu lemah pada Illarion." Ireene meraih Luce dalam pangkuannya dan menyuapi anak itu perlahan. "Anda juga harus memberikan Illarion pendidikan moral dan etika yang lebih banyak dari anak-anak kita. Mana tahu dia akan tumbuh jadi penjahat yang akan menindas saudaranya sendiri. Anda sendiri tadi yang bilang, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan."


Ireene mengangguk. "Anda menikahi Ratu Giselda untuk memperkuat kerajaan, tapi anda tidak memikirkan dampak buruknya. Dia itu penyihir dan semua penyihir bekerja dengan bantuan iblis. Kita tidak tahu iblis seperti apa yang melindungi istri baru anda itu saat ini. Mungkin saja Alcander akan tumbuh pesat sesuai perkiraan anda, tapi kita tidak tahu pengorbanan seperti apa yang akan mereka minta pada kita. Setiap hari saya merasa cemas karena memikirkan hal itu."


"Tidak akan ada yang bisa mengambil kalian dariku." Aelfar bangkit dari kursinya diikuti oleh Ireene dan Luce yang tampak menggemaskan dengan wajahnya yang dipenuhi remahan pie. Pria itu kemudian mendekati Fletcher untuk mengambil alih posisi. Dia ingin sekali menguji seberapa kuat Jean saat itu dengan kedua tangannya sendiri.


Lalu ketika dia mengambil pedang kayu untuk melawanku saat itu, aku sudah merasa bahwa apa yang dikatakannya akan benar-benar terjadi. Tidak ada yang bisa mengambil kami darinya, kecuali ayahanda sendiri. Beberapa hari kemudian dengan tatapan penuh amarah, ayah kembali lagi ke mansion dengan selusin prajurit. Dia membunuh ibunda yang mencoba melindungi Luce dengan tangannya sendiri. Tak hanya itu, dia kemudian memenggal Luce di hadapanku tanpa rasa ampun. Bahkan sekarang pun setelah sepuluh tahun berlalu, ayahanda masih selalu mencoba membunuhku di setiap kesempatan.


***


"Hhhh, mimpi seperti itu lagi..." Tetesan darah kehitaman mengalir dari hidung seorang pria yang sedang duduk di tepian ranjang. Pria tersebut mengenakan topeng yang hanya menutupi sebagian wajahnya sehingga membuat dirinya sulit dikenali. Kedua matanya biru dan rambutnya yang hitam dikucir sedikit ke belakang. Tangan pucatnya mencengkeram kayu berulir yang menghiasi ranjang dengan sangat kuat. Napasnya terengah-engah ketika berusaha menyeka lubang hidungnya yang mimisan, tapi pria itu tetap bertahan.


"Aku tidak boleh mati di tempat seperti ini hanya karena luka kutukan," desis Jean St. Claire, nama pria tersebut. "Siapa yang menyangka ayahanda akan bertindak secepat ini. Rupanya dia telah menyiapkan puluhan prajurit elit yang menyamar di setiap kerajaan sejak lama. Bahkan di Allegra juga... Hampir saja aku mati karena kebodohanku. Saat ini pun Estefania pasti sudah..."


"Tuan Besar..." pria lain bersurai keemasan membuka pintu kamar tanpa peringatan. Ellgar Wagner, sang pelayan setia dengan bola mata biru yang bersinar cerah. Kedua kakinya yang berbalut sepatu berbahan kulit ---- melangkah, mendekati Jean setelah menutup pintu. Tangan kanannya menyodorkan sepucuk surat dengan stempel kerajaan berwarna hijau.


"Darimana kau mendapatkan ini?" tanya Jean sambil berpura-pura tak terjadi apapun pada dirinya tadi. Kemudian dibukanya amplop surat yang dia terima tersebut tanpa basa-basi dan membaca isi suratnya dalam tempo cepat. "Proposal pernikahan?" Jean tiba-tiba berdiri.


"Mau bagaimana lagi, Tuan Besar?" sanggah Ellgar. "Saya tak bisa membiarkan anda mengambil posisi pejabat kerajaan melalui ujian dan kompetisi dengan keadaan tubuh anda yang seperti ini. Hanya itu satu-satunya cara agar Tuan Besar bisa menyusup ke lingkaran para bangsawan. Andai mereka tak menjual saya waktu itu, mungkin saya akan mewarisi semua peninggalan ayah saya, termasuk nama baik beliau. Axton memang kejam dan saat ini semua orang merasa bersyukur karena Raja-Tertinggi telah mangkat."


"Tapi mereka tidak tahu bahwa ayahanda jauh lebih kejam dari Paman Eginhard Idylla," potong Jean sebelum menghela napas untuk menenangkan hatinya. "Sejujurnya aku belum siap untuk menerima proposal seperti ini. Apalagi pernikahan..." Pria itu menepuk dahi kemudian menggaruk kepalanya panik. "Padahal usiaku sudah hampir kepala tiga."


"Putri bangsawan Brown tidak seperti yang anda pikirkan, Tuan Besar. Saya pernah bersahabat dengannya selama beberapa tahun sebelum mendiang Tuan Fletcher membeli saya. Dia wanita yang baik dan tidak biasa. Tuan Besar pasti akan sangat menyukainya." Ellgar menjelaskan dengan senyum menawan. Seperti biasa, membujuk tuannya adalah salah satu keahlian yang harus dikuasai oleh pelayan. Bukan pelayan rendahan, Ellgar adalah pelayan yang dididik dengan sempurna oleh Raja-Tertinggi. Dia bisa menjadi pengganti seorang teman, adik, kakak, bahkan ayah kalau diperlukan. Jean bahkan tidak segan menuruti semua permintaannya.


"Baiklah," ucap Jean terpaksa. "Aku ingin kau yang mengatur semuanya mulai saat ini, tapi jika ada satu hal saja yang tidak kuinginkan terjadi, bersiaplah menerima hukuman."


"Dengan senang hati, Tuan Besar." Ellgar membungkukkan badannya dengan anggun. "Saya akan segera mengatur jadwal pertemuan dengan keluarga Brown sesuai keinginan anda."


***