
...PERMULAAN DARI AKHIR...
...5th Part...
"Cerita yang biasa saja menurutku," komentar Luce. "Dibandingkan kisah hidupku yang berliku-liku, Seraphim terlihat lebih punya kebebasan untuk menentukan tujuan hidupnya. Kau tahu, kan? Sekarang ini pun aku pergi ke Eranth karena keinginan Christoph padahal di Axton, semua orang sedang membutuhkan bantuanku. Seraphim tidak begitu. Dia bebas dan terlihat sangat bahagia di akhir cerita."
"Menurutmu dia bahagia?" sambung Eleanor. "Dia hanya melindungi apa yang telah diwariskan oleh kedua orang tuanya. Dia bahkan tak punya kesempatan untuk bertemu langsung dengan mereka."
"Setidaknya dia tidak menyaksikan seorang pria yang tega membunuh istri dan anak kandungnya sendiri," ucap Luce dengan tatapan nanar. Api unggun di hadapannya menyala terang --- membentuk bayangan ingatan yang menari seolah terpanggil. Pemuda itu ingin sekali menangis. Namun dia sadar kalau itu percuma. Air matanya takkan mampu menghidupkan kembali wanita paling berharga yang ada dalam hidupnya. Luce begitu merindukan sosok tersebut hingga perasaan itu seperti mencabik-cabik lubuk hatinya. Hanya Eleanor...
"Eleanor tak akan mampu melakukannya!" seorang gadis bertelinga runcing muncul dalam bayangan Luce yang tiba-tiba masuk ke dimensi lain. Gadis itu mengenakan gaun biru yang indah dengan rambut perak bergelombang. Pada dahinya terukir simbol phoenix berwarna merah yang menandakan dia adalah seorang yang selama ini bersarang dalam jiwa Luce. Matanya biru dan kulitnya bersih bercahaya tak seperti manusia pada umumnya.
Gadis itu berkata lagi, "Eleanor hanya mampu menyembuhkan sebagian kecil luka dalam hatimu. Aku yakin masih ada sebuah lubang besar menganga yang tidak ada seorangpun akan sanggup menutupnya kecuali dirimu sendiri."
"Seraphim?" tanya Luce tanpa mengedipkan mata. Silau sekali!
"Nama asliku Seraphim." sang gadis menjawab dengan anggukan. "Aku adalah manifestasi dari wujud phoenix yang selama ini selalu melindungimu. Biasanya aku meniru sosok manusia yang menjadi wadahku, tapi karena kau begitu cepat menyadari soal legenda itu... aku seperti merasa terpanggil. Kau benar soal aku bahagia. Dibandingkan dirimu, penderitaanku bukanlah apa-apa, tapi aku tetap harus bersyukur karena bisa terus mendampingimu sampai saat ini."
Luce tiba-tiba tertawa pelan dan tak bisa berhenti sampai dia terpingkal-pingkal. "Aku tak pernah menyangka kalau wujud asli phoenix adalah seorang gadis bergaun biru."
Seraphim mengerutkan dahi kesal. Dia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan emosi walau akhirnya gelak tawa Luce semakin membuatnya menjadi. "Aku serius. Kau seharusnya juga bersyukur karena aku selalu ada di sini untukmu!" Gadis itu menunjuk-nunjuk dada Luce hingga membuat pemuda itu tak bisa menahan beban tubuhnya. Di luar dugaan, sentuhan jemari mungil Seraphim sangat kuat.
"Aku bersyukur," ucap Luce memandang mata biru sang gadis dengan pilu. "Tapi apa kau tidak tahu bahwa bagi diriku, kematian lebih baik daripada kesempatan hidup kedua? Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa menahan sisa usiaku yang sebenarnya sebelum kekuatanmu benar-benar mempengaruhiku." Pemuda itu mengalihkan pandangannya. "Bahkan sekarangpun aku sudah tidak bisa lagi hidup sebagai manusia. Suatu saat nanti, mungkin saja rasa kemanusiaanku pun akan menghilang. Lalu, untuk apa aku diberi kesempatan lagi kalau tidak bisa mengingat siapa diriku, bagaimana masa laluku, dan siapa masa depanku?"
"Hei!" Seraphim menepuk bahu Luce dengan mantap kemudian memaksa Luce untuk melihat ke dalam matanya. "Selama aku hidup, kau tidak akan pernah kehilangan jati dirimu."
"Lalu apa? Apa dengan begitu aku bisa memperbaiki masa lalu?" tanya Luce frustrasi. Sudut kelopak matanya menahan tetesan pertama air mata. Seraphim kemudian memeluk pemuda itu dan membiarkannya meluapkan rasa penyesalan dalam batinnya.
"Aku tahu kita tidak dapat memperbaiki masa lalu, tapi sekarang ini kita juga harus memikirkan orang-orang di sekitar kita," jawab Seraphim lembut. "Mereka mengharapkan kita lebih dari diri kita sendiri dan berkaca dari buruknya masa lalu, tentu kita tidak boleh sampai mengecewakan mereka, bukan. Jangan sampai kita melewatkan kesempatan-kesempatan lain untuk memperbaiki diri kita. Masa depan kita tidak bersama orang-orang yang telah mendahului kita, tapi bersama mereka yang masih ada dan gigih berjuang di samping kita."
***
"Tidak!" gadis itu membentak Christoph dengan wajah cemas. "Luce tidak tidur! Dia pingsan!"
"Astaga! Bagaimana ini?" Terence langsung menjatuhkan benda yang dibawanya dan berlari ke arah Luce untuk mengecek. "Dia benar-benar pingsan. Wajahnya pucat sekali seperti waktu itu."
"Ada segerombol orang mencurigakan yang mendekat." Christoph memberitahu Eleanor sembari memindahkan tubuh Luce ke dalam kereta kuda dengan bantuan Terence. "Mereka bukan prajurit Alcander. Tidak ada simbol apapun di tubuh mereka. Pokoknya untuk berjaga-jaga saat ini, kita harus tetap bergerak. Tentunya tanpa memikirkan bagaimana kondisi Alvaz dan Dior."
Dua ekor kuda gagah yang menarik kereta kuda mengingatkan Eleanor pada Jean sang Tuan Besar. "Mereka harus istirahat. Kita tidak bisa memvorsir tenaga mereka terus-menerus," tolak gadis tersebut dengan kedua mata berkaca-kaca. "Mereka... satu-satunya peninggalan Fletcher St. Claire yang berharga setelah Tuan Jean."
Christoph tertegun, tapi bahkan Terence seperti tak peduli soal itu. Dia terus merapikan semua benda ke dalam kereta secepat kilat. Pria itu tahu bahwa waktu yang mereka punyai hanya sedikit. Sebentar lagi, orang-orang mencurigakan itu akan segera sampai di sini, batinnya.
"Aku ada ide," ucap Christoph tiba-tiba. "Tapi untuk sekarang, masuklah dulu ke dalam kereta. Kita akan menggunakan sedikit tenaga Alvaz dan Dior sampai ke tempat yang aman. Aku berjanji."
Eleanor mengangguk kemudian menuruti perintah Christoph sang kusir. Tanpa menengok kembali ke belakang, mereka berempat lalu melanjutkan perjalanan keluar dari gelapnya hutan menuju ke tempat terbuka. Tak ada jalan setapak. Hanya padang rumput yang luas diselingi pohon-pohon rindang yang begitu tinggi dan tak mampu menangkis cahaya mentari kala terbit.
"Sudah lama sekali..." Christoph menghela napas panjang menikmati hangatnya suhu di pagi hari. Eleanor kemudian membuka jendela dan merasakan sejuknya angin yang masuk ke dalam ruangan kecil tempat mereka duduk santai di belakang Christoph. "Beberapa hari tinggal di Benteng Carliste membuat kekuatanku melemah. Cuaca cerah seperti ini akan sangat membantuku memulihkan diri," ucapnya sambil terus memperhatikan langkah Alvaz dan Dior. "Helios... Dia juga sangat membutuhkannya."
"Dia terus saja bergumam soal Helios," pikir Terence. Dahinya berkerut kesal memperhatikan Christoph yang tiba-tiba merasa senang hanya karena menatap sang surya. "Sepertinya 'si rambut perak' merindukan peliharaannya." Terence mengadu pada Eleanor yang asyik membelai rambut hitam Luce di pangkuannya.
"Aku rasa bukan Helios yang dirindukannya, melainkan sang putri." Eleanor berasumsi. "Sebelumnya Christoph adalah pengawal kelas senior di Axton. Dia dan ksatria-suci Ira Cassandra menjaga Putri Illiana Damara sejak upacara kedewasaannya. Kau tahu... Bagi seorang abdi setia seperti mereka akan terasa sulit berada jauh dari tuannya. Bukankah kita berdua juga begitu. Setelah Putra Mahkota berhasil menjebak Tuan Besar dan menahannya, kita tidak punya siapapun yang menjadi tempat tujuan kita."
Eleanor terus memandang wajah pucat Luce yang berbaring tak berdaya hingga tak sadar bibirnya berkata, "Aku sangat merindukan Tuan Besar sampai-sampai menganggap Luce sebagai dirinya."
Terence menyilangkan kaki dan melipat tangannya. "Kalau itu sih... Aku kurang setuju karena sampai detik ini aku masih menganggap Luce sebagai tawanan kita. Secara fisik memang saat ini dia nyaris tak bisa dibedakan lagi dengan Tuan Besar, bahkan mungkin untuk urusan tinggi badan... Kalau saat ini saja sudah menyamaiku, beberapa minggu lagi mungkin dia akan jadi lebih tinggi dari Tuan Besar. Yeah, itu wajar sih... Sekarang ini phoenix sedang memaksa Luce untuk tumbuh menjadi kandidat Raja-Tertinggi, tapi kalau untuk menganggapnya sebagai pengganti tuanku, jujur saja aku masih tidak sudi melakukannya. Meskipun aku sudah berhutang nyawa padanya..."
Terence tiba-tiba diam karena Christoph menghentikan kereta kuda. "Ada apa?" tanyanya dengan suara lantang. "Apa kita sudah sampai ke tempat yang katamu 'cukup aman' tadi?"
Christoph tak menjawab. Dia langsung turun dari kursi kusirnya dan membuka pintu kereta. "Kita sudah sampai."
***