
PELAYAN DAN TUANNYA___7th Part
"Hormat hamba pada ayahanda," Illarion berlutut di depan Raja Abraham yang sedang menduduki tahtanya. Beberapa pegawai kerajaan tampak berbaris rapi membentuk lorong panjang di tepi karpet berwarna merah. Pada saat yang bersamaan, Ellgar digelandang masuk dan dipaksa berlutut di sisi Illarion. Kedua matanya sama sekali tak bisa menatap langsung wajah sang Raja. Keringat dingin pun bercucuran di seluruh tubuhnya. Berbeda dengan Illarion yang tampak tenang. Baginya prosesi menangkap penjahat seperti ini sudah biasa dia lakukan untuk menambah nilai plus dirinya di hadapan sang Raja.
"Apa dia benar-benar akan melaporkan aku karena penyamaranku?" Ellgar membatin. "Bukannya dia yang mengirim surat ke Axton untuk mencari Tuan Muda Luce dan mengembalikannya ke tempat ini. Apa-apaan dengan wajah santainya itu? Tuanku menghilang dan aku yang harus menanggungnya?"
"Ayahanda, mohon ampuni ketidakbecusan putramu ini dalam melaksanakan tugas," Illarion mengambil alih seluruh perhatian yang ada dalam ruangan megah beratapkan kaca tersebut. Semua orang langsung berbisik dan berasumsi sesuai keinginan hati mereka. Tak peduli benar atau salah. Pada dasarnya setiap manusia adalah sama. Lidah mereka lebih panjang daripada otak mereka. Yang mereka pikirkan hanya kepuasan hati mereka masing-masing. "Sebenarnya, hamba berhasil membawa kembali Pangeran Kedua kemari, tapi hamba terlalu sibuk berpesta sampai tidak tahu kalau ada orang asing yang menculiknya," Illarion melanjutkan. "Pria di sebelah hamba adalah saksinya. Archerias yang pernah menyerang Pangeran Kedua di Kerajaan Axton melakukan hal yang sama pada salah satu tamu penting hamba tadi."
Evan kemudian membawa sebuah baki ke hadapan Raja Abraham yang mencoba mencerna berita yang baru saja dilaporkan oleh Illarion. Di permukaan baki tersebut, diletakkan patahan anak panah dan sebuah emblem kerajaan sebagai barang bukti. "Emblem milik Ireene," sang Raja berbisik ketika melihat salah satunya sementara ibunda Illarion, Ratu Dmitria yang duduk di sisi kanan sang Raja mencengkeram erat kedua tangannya sendiri yang gemetar. Wanita itu sama sekali tak menyangka suaminya akan menyebut nama orang yang sudah lama meninggal, yang selalu menjadi kenangan termanis sekaligus terpahit bagi sang Raja.
"Aku tidak tahu apa yang ada dalam benakmu sampai kau terpikir untuk membawanya kemari," Yang Mulia berkata. "Tapi kau sendiri tahu bahwa di kastil ini, tidak boleh ada dua bulan apalagi dua matahari. Kau harusnya sudah tahu konsekuensi yang akan kau dapat jika membawanya kembali ke tempat ini. Apalagi sekarang kau sendiri tidak tahu di mana keberadaannya."
Illarion terdiam dan tak berani mengutarakan apapun sampai seorang pegawai kerajaan membela dirinya di hadapan semua orang. "Yang Mulia, hamba dengar bahwa semalam Pangeran Kedua juga merayakan hari ulang tahunnya yang keenam belas secara pribadi dan pada usianya tersebut, kekuatan legendaris dalam tubuhnya akan segera bangkit. Putra Mahkota hanya berusaha untuk menyimpan baik-baik kekuatan itu di dalam kastil ini agar tidak disalahgunakan lagi, Yang Mulia. Kalaupun penjagaan semalam kurang begitu maksimal, mohon ampuni kami, Yang Mulia."
"Mohon ampuni kami, Yang Mulia!" semua pegawai berseru membuat sang Raja mendengus kesal. Berkali-kali kedua matanya menatap tajam ke arah Ellgar yang tak berkutik sedikitpun. Pria tua itu ingin sekali marah dan melampiaskan semua kekesalannya pada Ellgar karena telah menipunya, tapi begitu tahu kalau semua itu adalah ide dari putra kesayangannya, Illarion, dia hanya bisa menyerah saja dan pasrah. "Aku tidak akan memaafkan kesalahan kalian sebelum bisa memastikan di mana keberadaan Pangeran Kedua. Sampai saat itu tiba, kalian harus mengerahkan seluruh tenaga kalian untuk mencarinya dan kau... Pria berambut pirang yang sempat menipuku dengan penampilan sempurnamu tadi malam, aku memberi kesempatan padamu untuk menebus semua kesalahanmu dengan membantu semua ide gila dari Putra Mahkota mulai saat ini, sampai dia berhasil menemukan majikanmu dalam keadaan hidup-hidup."
"Tentu saja aku yang akan membelamu," Illarion menepuk bahu Ellgar, membuat pria itu terkejut. Ellgar kemudian berbalik dan menerima sesuatu yang tiba-tiba disodorkan oleh Evan. Sebuah emblem berwarna keemasan dengan tali merah sebagai gantungan. "Mulai saat ini, kau adalah pengawal kelas senior di Alcander. Tugasmu seperti biasa; mengawal, menemani, dan melindungi Pangeran Lucas. Kau juga mendapatkan hak untuk memerintah prajurit di bawah kelasmu, terutama untuk menemukan di mana keberadaan Tuanmu itu."
"Pengawal kelas senior?" Ellgar memandangi benda tersebut di tangannya dengan mata berbinar dan nyaris menangis karena terharu. Dalam hatinya berbisik, "Ini... Ini adalah cita-citaku sejak dulu. Bagaimana mungkin aku menerima benda seperti ini dari orang-orang yang telah menyakiti Tuan Luce. Meskipun keadaan sudah berubah, aku yakin Tuan tidak pernah menginginkan hal seperti ini. Tapi kalau aku menolaknya, akan menyia-nyiakan kesempatan yang aku dapatkan hari ini. Tuan, maafkan aku. Aku harus menggunakan segala cara untuk menemukanmu." Ellgar akhirnya menyerah juga. Diikatnya tanda pengenal itu pada sabuk pedangnya, sama seperti yang dilakukan oleh semua orang yang tinggal dan bekerja untuk kastil Alcander.
"Terima kasih, Yang Mulia," katanya pada Illarion.
"Aku hampir lupa memberitahumu," Illarion menimpali ucapan Ellgar dengan seulas senyum. "Pengawal kelas senior bukanlah jabatan tertinggi di kemiliteran Alcander. Masih ada Guardians dan prajurit elit lain yang akan mengawasimu. Jadi sesuai perjanjianku dengan Raja-Tertinggi Axton, kalau kau dan Pangeran Kedua tidak bisa membunuh Pangeran Jean dalam waktu yang sudah ditentukan..."
Ellgar terperangah. Jemarinya berhenti bergetar dengan sendirinya karena terkejut. "Membunuh Pangeran Jean? Apa maksud anda, Yang Mulia?" potong Ellgar. Raut wajahnya seolah tak mengetahui apapun tentang isi perjanjian yang baru saja diucapkan oleh Illarion. Dia bahkan bertanya lagi meski, pertanyaan sebelumnya belum terjawab. "Apakah anda benar-benar bertemu dengan Yang Mulia Raja-Tertinggi yang sebenarnya? Saya dengar tidak ada satupun manusia pernah menemui sosoknya kecuali orang tersebut adalah seorang raja. Kalau Raja Hamlet yang mengatakan hal barusan saya masih bisa mempercayainya, tetapi anda..."
"Aku memang hanya seorang Pangeran, tapi mungkin kau lupa kalau aku sudah dinobatkan menjadi seorang Putra Mahkota yang artinya aku adalah calon raja di masa depan. Karena itu aku mendapatkan izin khusus untuk menemuinya," Illarion berkata dengan sedikit bangga tapi kebanggaannya itu sama sekali tak terpancar dari kedua netranya yang justru terlihat merana. "Aku tidak ingin memperpanjang penjelasan ini lagi karena aku pikir Pangeran Lucas telah memberitahumu tentang hal itu sebelum datang kemari. Kemudian soal isi perjanjiannya. Jika kalian berdua tidak bisa membunuh Pangeran Jean dalam waktu yang sudah ditentukan, maka selamanya kalian akan tinggal di kastil ini dan mengabdi sepenuhnya pada Alcander. Karena jika kalian kembali ke Axton dengan tangan kosong, Raja-Tertinggi sendiri yang akan menghabisi Pangeran Jean dan juga Pangeran Lucas sekaligus."
*bersambung ke part berikutnya