
PANAH PERAK_7th Part
Kepulan asap terlihat dari puncak kanopi tertinggi Hutan Terlarang. Saat itu Devian berada di pos perbatasan timur Axton bersama dengan Tuan Baltazhar Achfolia, salah satu Guardian paling disegani pada masanya. Tidak hanya mereka berdua, puluhan prajurit dari Legiun Seryuu telah siap dengan kuda terbaik dan persenjataan mereka masing-masing. "Tidak apa-apa, Kneth," Devian menepuk pelan leher kudanya yang berwarna putih. Surainya sangat panjang dan lembut, membuat pria tersebut menyayanginya.
"Yang Mulia, kita tidak tahu apakah pergerakan itu berasal dari Pangeran Lucas atau Putra Mahkota Alcander sebelum melihatnya dengan mata kepala sendiri," ucap Baltazhar tegas. "Pangeran Lucas bisa saja menggunakan kekuatan apinya untuk melawan, tapi sejauh yang saya tahu, Putra Mahkota Alcander tidak akan menyakiti beliau dengan cara apapun."
"Kau benar, satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah dengan menyelidikinya. Kalau begitu, kita berangkat sekarang," Devian berbalik menghadap prajuritnya. "Kalian menyebarlah dan cari Pangeran Lucas di setiap penjuru hutan. Jika ada informasi apapun segera laporkan padaku atau Tuan Baltazhar."
"Baik, Yang Mulia!" semua prajurit berkata serempak. Devian lalu kembali ke posisi untuk memimpin semuanya. Pria itu melecut tali kekang untuk menggerakkan kudanya masuk ke dalam Hutan Terlarang diikuti Baltazhar dan prajurit lainnya.
Sementara itu, Illarion rupanya telah masuk ke dalam hutan di mana Luce dan rekannya tak sengaja meninggalkan jejak. Sebuah kristal es raksasa terbentuk di tengah aliran Sungai Perseus dengan sosok wanita setengah tumbuhan berada di dalamnya. Di belakang Illarion, kumpulan orang berseragam hitam dengan kain dan topi jerami yang menutupi wajah mereka--memandu perjalanan Illarion. Selain itu juga ada beberapa prajurit elit dengan zirah perak mengikuti pria bergelar Putra Mahkota tersebut. Salah satu di antara mereka adalah Evan dan Regulus. Mereka adalah dua di antara banyak orang dalam hutan itu yang berani berbicara dengan nada santai pada Illarion tanpa memandang status di kerajaannya.
"Pasti mereka yang melakukan semua ini," Evan menebak. Fokusnya teralih pada semak dan dahan pohon di tepian sungai yang terbakar hangus dengan serpihan abu yang masih tertinggal. "Salah satu di antara mereka adalah seorang magus. Tapi melihat bekas pertempuran yang tertinggal sepertinya Pangeran Kedua juga ikut membantu."
Illarion tampak tak mempedulikan ucapan Evan. Netranya justru dibuat terpukau oleh hal lain. Dia tak berkedip sedikitpun memandang kecantikan Amore yang sedang menahan napasnya dalam kurungan es. Akar-akar pohon yang menyerupai gaun yang dikenakan wanita iblis itu tampak mulai bergerak bersamaan dengan mengalirnya kembali air sungai. "Kita harus bergegas sebelum esnya mencair," katanya tiba-tiba. "Sayang sekali. Padahal aku ingin sekali berbincang dengan wanita cantik ini."
Evan menahan tawanya sambil berkata, "Yang Mulia, Putri Illiana akan terkejut mendengar ucapan anda barusan."
"Mereka sepertinya menuju ke arah barat," Regulus memotong ucapan Evan bahkan sebelum Illarion menanggapinya. Pria kekar itu menemukan jejak kaki kuda yang menjauhi tepi sungai, masuk ke dalam hutan. Hanya beberapa cercah cahaya matahari yang dapat masuk ke sana. Sisanya adalah kegelapan yang mencekam. "Meskipun Yang Mulia Raja sendiri yang memerintahkan, tapi aku benci sekali berurusan dengan orang-orang Axton. Apalagi Raja-Muda mereka, Devian Argus. Pria paling tak kenal ampun yang pernah kutemui. Jangan sampai dia mencium aroma darah dan pertempuran di sini."
"Kalau begitu sebaiknya kita tetap berjalan ke arah utara, menyusuri tepi sungai ini," Illarion memandang seluruh prajuritnya yang telah siap berperang. "Aku tidak peduli dengan pasukan dari Axton. Begitu Amore terbangun, tak ada satupun dari mereka yang akan hidup. Sebaliknya, menemukan Pangeran Lucas adalah tujuan utama kita sekarang dan meskipun jejak mereka menuju ke arah barat, tapi aku yakin mereka tidak sebodoh itu untuk kabur ke kerajaan yang lebih kejam dari Alcander. Satu-satunya tempat yang aman untuk mereka saat ini adalah di wilayah utara, kerajaan yang hilang dari peradaban--Gretasha."
***
"Aku sempat bertanya-tanya sejak tadi," kata Terence dengan mulut penuh makanan. Dia sangat lapar hingga sumpit yang dipegangnya terlihat gemetar. "Darimana anda mendapatkan pedang itu, Tuan Muda? Bukankah Tuan Besar telah menyembunyikannya dari anda."
"Aku mendengar kakak mengucapkan mantera saat menyimpannya," jawab Luce. "Walaupun hanya sekali, aku masih dapat mengingatnya."
"Pedang itu benar-benar berguna pada saat genting seperti tadi, tapi kenapa Tuan Besar tidak mengizinkan anda menggunakannya? Apa mungkin beliau pikir, anda tidak dapat mengontrol kekuatannya seperti hari kemarin? Ternyata anda lebih baik dari yang beliau bayangkan," Terence akhirnya merasa perutnya cukup kenyang, kendati masih saja berebut makanan dengan Eleanor seperti anak kecil. Hal itu membuat Luce merasa tenteram karena tidak harus khawatir lagi diserang sesuatu secara tiba-tiba.
"Aku juga bersyukur kakak menemukan seseorang yang kebal terhadap api Phoenix," Luce memandang Terence dengan seksama membuat pria berambut ungu tersebut merasa canggung. "Sebelumnya aku tidak pernah tahu akan ada manusia yang memiliki kemampuan sepertimu."
"Tentu saja Tuan Besar merahasiakannya. Kalau sampai ada yang mengetahui soal itu, mereka pasti akan memanfaatkanku," kata Terence. "Tapi tenang saja, aku sudah bersumpah untuk menggunakan kekuatan itu hanya untuk melindungi Tuan Besar dan anda, Tuan Muda."
Luce tersenyum simpul meski hatinya tak bisa berbohong. Ketakutannya pada Terence tiba-tiba melebihi ketakutannya pada Raja-Tertinggi Axton, Eginhard Idylla. Terence seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja andaikata Jean tidak merekrut pria itu menjadi salah satu orang kepercayaannya. Untuk itu, Luce menjelaskan, "Seperti kakakku yang menganggap kalian berdua seperti keluarganya sendiri, mulai saat ini kalian bisa memanggilku dengan nama Luce. Tidak perlu memanggilku dengan sebutan Tuan Muda lagi karena aku hanya punya satu pelayan setia sejak aku kecil dan dia sudah seperti kakakku sendiri."
"Ellgar Wagner," Eleanor menebak dengan benar. "Sayang sekali sekarang dia sudah berpihak pada Pangeran Cantik itu. Kelihatan sekali kalau kemarin dia hampir melukai Tuan Besar. Kalau saja tidak ada Terence saat itu..."
"Ellgar sangat membenci kakakku," tukas Luce. "Sejak tragedi Grisham terjadi, semua orang berubah. Tidak hanya Ellgar. Semuanya, bahkan akupun sebenarnya sangat membenci kakakku karena selalu menuntutku melakukan apa yang diinginkannya dengan dalih mewujudkan keinginan dan harapan ibunda. Tapi meskipun begitu, aku tidak benar-benar bisa membencinya. Semua orang tahu penderitaan yang dialami olehnya sejak kecil. Begitu pula Ellgar. Aku sudah mengenalnya sejak kecil. Jadi aku percaya, dia punya alasannya sendiri. Meskipun aku tidak tahu itu apa."
Mendengar Luce membela Ellgar yang nyatanya hampir melukai Jean, Eleanor seperti tidak terima. Mata kelabunya melotot kesal tapi kemudian Terence berusaha mengalihkan topik, "Bagaimana ini? Sebenarnya aku tidak membawa cukup kepingan untuk membayar semua biaya hidup kita selama perjalanan."
"Kau benar," Eleanor langsung mengecek kantong kainnya yang hanya berisi satu keping perunggu. "Sudah kuhabiskan untuk membeli pakaiannya." Gadis itu melirik Luce yang tak terlihat malu sama sekali karena telah menerima perhatian lebih darinya. Kemeja kelabu dengan rompi kulit berwarna cokelat pas sekali di tubuh Luce daripada kemeja putihnya yang penuh noda darah. Bahkan Eleanor juga membelikan sebuah jubah tebal dan sabuk pedang untuk pemuda yang sangat mirip sekali dengan Jean, pria pujaannya.
"Untung saja wajahnya sangat mirip," gumam Eleanor sebelum seorang pria kasar tiba-tiba menggebrak meja kasir untuk meminta puluhan keping emas sebagai biaya ganti rugi atas sesuatu.
"Dia sudah melarikan diri bahkan sebelum aku menyentuhnya!" pria kasar itu berteriak sambil menarik kerah pakaian sang pemilik kedai. "Kalau kau tak membayar setengah dari hutangmu saat ini, akan kuhancurkan tempat ini beserta penghuninya."
***