The Second Throne

The Second Throne
Curse of Time (6)



KUTUKAN WAKTU_6th Part


Belum selesai Luce berpikir, Christoph menyambung kembali kedua scimitar-nya menjadi sebuah busur kemudian membidik langit. "Kristal es yang membeku dalam keabadian, bawalah seluruh jiwa ini ke dalam pelukanmu. Bekukan!" Sebuah anak panah perak melesat dari busur Christoph ke arah langit kemudian memperbanyak diri menjadi puluhan pisau es yang menghujam jantung para gargoyle. Makhluk bersayap itu berkoak keras sebelum jatuh menghantam puncak benteng dalam bentuk kristal es dan pecah berkeping-keping.


Christoph menghela napas sedalam mungkin untuk menahan luka di punggungnya yang belum benar-benar sembuh. Dia melirik ke arah Terence dan Eleanor yang terkagum-kagum, kemudian memandang Luce. "Sekarang giliranmu," katanya sambil berlutut menahan sakit. "Itu tadi terlalu banyak menguras energi. Aku harus istirahat sebentar."


"Keren," Eleanor sampai tak berkedip sebelum Terence menutup kedua mata gadis itu dan mengalihkannya pada pemandangan lain. Seorang gadis berzirah yang muncul dari lubang pintu di sisi kanan mereka bertiga, menghunus pedang besar di punggungnya. Putri Illiana Damara memandang Luce yang masih ragu untuk menggenggam pedangnya sendiri.


"Nicodemus sudah di pintu gerbang bersama Ira," katanya dengan suara dingin. "Kalian habiskan saja yang ada di sini, biar aku yang membantu mereka berdua. Sebentar lagi fajar menyingsing dan kabut akan menghilang. Berdoalah agar semua ini selesai sebelum saat itu tiba."


Luce mengangguk ketika Illiana berseru memanggil sesuatu, "HELIOS!"


Sesosok makhluk raksasa datang dari langit dengan sepasang sayap lebar yang membentang lima belas meter panjangnya. Siluet tubuhnya menjadi bayangan gelap yang menutupi Luce dan yang lain sebelum cakar-cakar melengkungnya mengangkat Illiana ke angkasa. Tubuhnya menyerupai kadal raksasa dengan sisik dan mata berwarna biru. Duri-duri tajam tumbuh di sepanjang ekornya yang menjuntai. Luce pernah sekali melihat makhluk seperti itu terukir pada salah satu totem di paviliun milik Frederick Rainar sang Penasehat Agung Axton.


"Helios sang naga biru," Christoph menjelaskan sambil menatap tajam pada Luce. "Salah satu iblis terkuat di dataran ini setelah Phoenix."


"Iblis yang lain?" Luce takjub melihat makhluk yang terbang bersama Illiana tersebut. Helios namanya, terdengar sekuat yang terlihat. Makhluk itu menyemburkan api dalam jumlah besar ke arah makhluk Kegelapan yang berkerumun di depan pintu gerbang benteng. Menyala sejauh pandangan Luce, kabut yang datang dari arah utara perlahan-lahan menghilang dan menyisakan gerombolan makhluk-makhluk kecil yang terlihat seperti semut dari tempat Luce berada. Illiana melompat turun ke permukaan tanah setelah Helios terbang menjauh. Gadis itu bertarung bersama Ira dan Nicodemus dengan gagah berani.


"Terima kasih sudah datang membantu kami, Yang Mulia," ucap Ira setelah tinjunya berhasil menumbangkan troll terakhir yang datang.


Illiana meletakkan pedang besarnya di bahu sambil berkacak pinggang. "Tentu saja aku datang. Kakakku yang mengirimku ke sini setelah tahu pengacau dari Alcander itu kabur kemari."


"Putri Illiana memang yang terbaik!" Nicodemus menebas semua makhluk yang tersisa dengan tepian bilah pedangnya. Zirah berat miliknya sampai berkelontang tak beraturan saking bersemangat. Hanya tersisa selusin makhluk lagi sebelum Illiana menghabisi mereka dalam sekali serang.


"Kita benar-benar tertolong berkatnya." Illiana melambai pada Helios yang terbang mengitari Benteng Carliste jauh di atas mereka. Sementara pertarungan di dasar benteng telah selesai dalam waktu tidak sampai setengah jam, Luce dan ketiga rekannya masih berkutat dalam pertahanan di puncak tempat tersebut.


"Aku tidak boleh bergantung pada kekuatan Phoenix," lirih Luce masih saja bimbang terhadap keputusannya. Salah satu lengannya sibuk dengan makhluk-makhluk hijau di sekelilingnya hingga tak sadar kalau sebuah pedang besar nyaris melukainya dari belakang.


"Terence..." Luce berdiri mematung tak percaya. "Menyebalkan sekali. Kenapa setiap saat selalu ada saja orang yang mau mengorbankan nyawanya demi aku? Padahal aku ini kan jelas-jelas tidak bisa mati semudah mereka." Pemuda itu terlihat sangat frustasi ketika sang goblin raksasa mengangkat tubuh Terence yang tak berdaya di hadapannya. Eleanor sudah tak kuasa lagi menangis dalam pelukan Christoph yang menahannya agar tetap di tempat sementara Luce tidak bisa merasakan ujung kaki dan tangannya sendiri karena terlalu takut kehilangan lagi seseorang yang dicintainya.


"Kalau kau ingin manusia ini tetap hidup, ikutlah kami kembali ke Tanah Kegelapan," goblin raksasa itu berkata dengan suara parau. Tak seperti yang lain, makhluk itu menggunakan pakaian berlapis baja dengan tampang penuh luka yang mengerikan. Kedua mata merahnya yang bulat, melotot seolah menaruh dendam pada Luce.


"Aku tidak mengerti maksudmu, tapi aku bukanlah iblis seperti kalian," ucap Luce yang akhirnya menghunus pedangnya sendiri secara perlahan. Tak ada apapun yang terjadi seperti sebelumnya. Luce seperti sudah terbiasa mengendalikan kekuatan Phoenix miliknya karena tidak ada nyala api ataupun sayap keemasan yang muncul di tubuhnya. "Aku sudah berusaha menahan diri sejak tadi untuk tidak menghabisi kalian sekaligus, tapi kalian tetap tidak mengerti juga. Tempatku adalah di sini bersama manusia-manusia ini dan bukan bersama kalian sang pengacau alam."


"Kalau kau tidak mau, biarkan aku melihat ekspresimu saat menyaksikan manusia ini mati," goblin itu berkata sambil mengayunkan pedang besarnya ke arah tubuh Terence sebelum Luce bergerak secepat kilat. Sedetik kemudian pedang milik Luce sudah menembus jantung sang goblin.


"Sudah kubilang aku bukan iblis seperti kalian." Luce menyentakkan pedangnya ke langit, memotong tubuh bagian atas goblin menjadi dua bagian. Darah segar memancar deras dari beberapa pembuluh nadi yang terpotong dan memercikkan noda merah ke wajah jahat Luce.


"Tolong hentikan dia," Terence berkata pada Eleanor yang mendekat setelah sang goblin menjatuhkan tubuh lemahnya. "Dia bisa melukai semua orang di sini."


"Terence, sudahlah. Kau sudah kehabisan banyak darah. Lebih baik kau sekarang jangan banyak bicara atau bergerak," kata Eleanor sambil merapal mantera pemulihan pada Terence. "Sihirku sudah terlalu lemah. Aku hanya bisa menghentikan pendarahannya saja. Bertahanlah sampai para Acolyte datang nanti."


Terence tersenyum tapi wajahnya menyiratkan kekhawatiran pada Luce yang tengah bertarung sendirian di hadapannya. Dia sudah pernah melihat pemandangan yang sama sepuluh tahun lalu ketika Jean mengamuk dan membakar semua yang dia lihat. Meskipun Luce sama sekali tak mengeluarkan api dari tubuhnya, tapi tebasan pedang Luce yang membabi buta cukup untuk menghabisi semua makhluk Kegelapan yang tersisa dalam beberapa menit.


"Apa kalian belum menyerah juga?" Luce mengincak kepala salah satu orc yang berhasil dia penggal dengan sekuat tenaga. Kedua matanya merah menyala -- menyiratkan kebencian yang teramat dalam. Luce terus bergerak mengayunkan pedangnya tanpa peduli kalau tubuhnya sudah kelelahan.


Kemudian pada akhir malam yang penuh dengan aroma darah itu, Luce tersungkur dalam lautan merah dan potongan daging segar berserakan di sekelilingnya. Hanya tersisa dua orc dan satu goblin sampai Christoph menghabisi mereka dalam sekali panah.


Matahari menampakkan diri di ufuk langit yang tampak kemerahan. Luce masih bisa melihat jelas pemandangan indah itu meskipun kini tubuhnya sudah tak kuasa untuk bangkit kembali. Bahkan suara kepakan sayap Helios yang terbang melintasinya pun terdengar begitu damai seolah Luce telah menghabiskan separuh umurnya untuk bertempur dan akhirnya mendapatkan waktu yang tepat untuk mencium aroma kemenangan. Namun Luce sudah tak sanggup untuk merayakannya lagi. Kedua kelopak matanya pun akhirnya tertutup.


***