The Second Throne

The Second Throne
The Hoodie One (3)



PEMUDA BERTUDUNG__3rd Part


Sang pemuda bertudung merapatkan pintu utama setelah Erich masuk ke sebuah bangunan malam, tempat segala aktivitas dunia kelam berpusat di Estefania. Tidak hanya karena aktivitasnya, bangunan yang terletak di lorong sempit tersebut memang didominasi oleh warna kelam. Lampu berwarna kuning menghiasi setiap sudut langit-langit. Totem bersimbol phoenix keemasan terpatri pada semua pintu-kayu kamar yang menjadi tempat bermalam para tamu. Banyak wanita berpakaian sutera mondar-mandir membawa nampan berisi arak beras dan daging panggang. "Aroma yang lezat," Erich mengusap air liurnya yang menetes saking tergodanya.


Tak hanya itu, suara keras orang-orang beradu koin emas juga terdengar. Sepertinya bukan hanya menjadi rumah bordil, bangunan itu juga adalah kasino termewah yang pernah Erich lihat. Pengunjungnya bukan hanya dari kalangan rakyat biasa, tetapi juga para bangsawan dan pejabat kerajaan. "Mungkin itu alasannya, tidak boleh sembarang orang masuk ke lorong ini. Kalau Raja-Tertinggi menanggapi semua ini dengan serius, pasti banyak sekali pejabat yang diberhentikan. Untung saja, aku tadi menyamar. Kalau sampai ketahuan mereka yang mengenaliku, habislah aku. Misi rahasia ini kan tidak boleh sampai ketahuan siapapun," Erich membatin.


"Jangan gugup begitu, Kepala Prajurit," kata pemuda bertudung. "Selama kau berjalan di sisiku, mereka takkan berani mengusikmu. Seperti yang kau dengar tadi, aku pemimpin di sini."


"Bagaimana bisa anda berkeliaran di tempat seperti ini. Dulunya saya berpikir kalau anda benar-benar dijatuhi hukuman mati. Saya tidak lupa saat itu melihat kepala anda..." Erich berhenti mengoceh karena sadar dia sepertinya telah salah ucap. Langkahnya pun terhenti. "Maaf atas kelancangan saya. Saya tidak bermaksud..."


"Phoenix, aku rasa kau pernah mendengar legenda itu. Legenda yang telah diceritakan secara turun-temurun di Axton sejak ratusan tahun lalu," tukas sang pemuda. Dia tak berhenti berjalan hingga Erich mengikutinya lagi. Tanpa berpaling ke belakang, pemuda itu melanjutkan penjelasannya. "Phoenix tak bisa mati. Dia akan membakar tubuhnya sendiri agar bisa terlahir kembali. Seperti itulah diriku. Ketika mereka semua mengadakan kremasi, mereka pikir itu akan melenyapkanku. Sebilah golok memang telah memenggal kepalaku. Tapi saat mereka menyalakan api di atas tubuhku, mereka tidak sadar saat itu mereka telah membangkitkanku lagi."


"Apakah itu sebuah anugerah atau kutukan, kekuatan itu pastinya sangat mengerikan," Erich berpikir. Kedua matanya tak bisa luput dari pemandangan di hadapannya. Seorang pemuda yang pernah merasakan bangkit dari kematian di tengah nyala api yang seharusnya menyakitinya.


"Orang yang mengelola tempat ini sebenarnya adalah pelayan setiaku dan dia adalah orang yang berhak mengambil keputusan untuk melindungiku dan juga tempat ini. Sayangnya, seminggu yang lalu seorang archerias menyerang kelompok kami dan melukainya dengan panah beracun. Terompah Iblis, tanaman yang memiliki bunga sangat indah, namun mematikan. Untungnya di kerajaan lama kami, pengawal keluarga kerajaan wajib mendapatkan terapi kekebalan. Kalau tidak, nyawanya sudah tak tertolong lagi."


"Jadi itu alasannya mencuri ekstrak Sclefferium," lirih Erich. Dalam hatinya, dia sedikit merasa iba atas nasib yang menimpa sang pemuda. Bagaimanapun, di dunia yang sangat luas ini, orang sepenting dia harus hidup di tengah-tengah kebusukan masyarakat dan tak seorangpun dari keluarganya yang peduli. Kalau saja bukan Penasehat Agung, tidak mungkin ada yang mau mengangkat derajatnya lagi. Padahal kalau dipikir-pikir, tidak ada hubungan darah antara keduanya atau mungkin semua itu hanya berdasarkan asas manfaat saja.


Erich menggeleng dan menolak semua pemikiran buruknya. Setelah tiba di ujung koridor gedung, sang pemuda menggeser sebuah lemari besar yang berdiri tegar pada sebuah lubang yang menuju ruang bawah tanah. Sederet anak tangga yang terbuat dari kayu berjajar rapi menurun ke bawah. Suaranya berderit pelan ketika Erich dan sang pemuda berjalan di atasnya. Sesampainya di dasar, lemari yang berada di atas mereka bergeser kembali menutup lubang di dinding.


Sang pemuda berjalan menuju ke tengah ruangan. Tangan kanannya melambai di atas sebuah tatakan lilin yang menempel pada dinding kayu. Sepercik api--menyalakan lilin tersebut--entah darimana dan membuat semua yang ada di ruangan sempit itu terlihat jelas. Erich terkejut dan nyaris berteriak, tapi dia urungkan. Bagaimanapun ini pertama kali baginya melihat langsung sesuatu yang disebut sebagai sihir. Karena itu adalah sesuatu yang terlarang di Axton, tidak ada yang mau mempelajarinya, apalagi menggunakannya di hadapan orang lain.


"Itu bukan sihir," sang pemuda tiba-tiba berkata sambil menahan tawa. "Itu adalah api murni yang berasal dari keberadaanku. Tak perlu kujelaskan lagi, kan?"


"Ah, Phoenix!" tebak Erich. Phoenix adalah seekor burung api. Tubuhnya diselimuti api abadi karena itu sang pemuda dapat menciptakan percikan api. Namun hanya itu saja. Tidak lebih.


"Namanya Ellgar Wagner," pemuda itu menanggalkan mantel bertudung yang dia kenakan kemudian meletakkannya di gantungan sementara Erich mendekati pria lainnya yang terbaring lemah pada ranjang yang terletak di sudut ruangan. Pria itu memiliki rambut panjang berwarna keemasan dan tubuh kekarnya dililit oleh perban yang tidak mampu menahan cairan kemerahan merembes di antaranya. Darah kehitaman yang tak bisa mengering sejak lama. Luka di tubuh pria tersebut cukup serius dari yang terlihat.


"Seminggu yang lalu ini adalah ruangan pribadiku. Benar-benar pribadi sampai rasanya ingin mati terkurung di sini saja. Selama sepuluh tahun aku tidak punya izin untuk bersosialisasi dengan dunia luar sampai kejadian tak terduga ini terjadi. Kalau hanya mengandalkan kemampuan para bandit di sini, yang ada mereka hanya akan membuka kedokku saja. Mereka tidak terbiasa menyelinap di antara para prajurit jadi aku terpaksa turun langsung dan mencuri obat tadi," sang pemuda menjelaskan. "Maafkan aku. Andai kau bisa membawa serta Ellgar ke kastil dan menjamin keselamatan orang-orangku di sini, apapun yang Penasehat Agung perintahkan, akan kulakukan dengan senang hati."


"Itu..." Erich menggaruk kepalanya karena bingung, "Sepertinya kalau saya yang menjadi Penasehat Agung, tidak akan perlu berpikir lama untuk menyanggupi permintaan anda."


"Jadi ini semua hanya lelucon saja?" Erich menggertakkan giginya kesal. "Aku pikir kalian benar-benar membutuhkanku tadi."


"Prajurit sialan, beraninya kau berteriak pada Tuanku!" hardik Ellgar semakin mengekang Erich dengan pedangnya sementara sang pemuda hanya tersenyum melihat guratan tipis pada leher Erich yang mulai memerah.


"Apa lagi yang kalian inginkan?" tanya Erich pelan. Dia tidak mau memperkeruh suasana. Sudah sejauh ini, kalau sampai pemuda bertudung itu tidak mau ikut bersamanya ke kastil, Erich harus mengulanginya dari awal lagi. Benar-benar menyusahkan, tapi dia sudah terbiasa bernegosiasi seperti ini daripada bermain kekerasan. Hanya beberapa syarat dan semuanya akan beres tanpa ada korban.


"Lepaskan dia, Ellgar. Dia sudah sangat ketakutan. Tidak mungkin dia orang yang menyerang kita kemarin," sang pemuda meminta.


"Hampir saja," Erich mendesah ketika Ellgar menurunkan senjatanya dan kembali duduk di ranjang. Terlihat sekali bahwa pria itu sangat tangguh tanpa perlu bertarung dengannya dan itu membuat Erich mengelus leher kesayangannya kemudian. "Yang menyerang kalian tidak mungkin orang dari kerajaan Axton," sanggahnya. "Kalau berniat ingin membunuh anda, tidak mungkin mereka mengirim orang lemah seperti saya dalam jarak dekat seperti ini."


"Aku tidak bisa sepenuhnya mempercayai ucapan orang asing sepertimu," tukas Ellgar. "Kalau aku tidak menghalangi anak panah itu, Tuanku mungkin yang akan terkena. Walaupun tidak bisa mati, Tuan juga adalah manusia biasa yang bisa merasakan sakit. Mereka tahu sekali cara menyakiti orang secara perlahan." Pria itu mengusap lilitan perbannya. Sepertinya bukan karena tidak merasakan sakit, Ellgar hanya bersikap seolah tak terjadi apapun di hadapan Tuannya. "Benar-benar loyalitas tanpa batas," batin Erich.


"Kalau kalian berdua mau ikut bersamaku ke kastil, saya akan membujuk Penasehat Agung untuk mencari tahu siapa archerias itu. Penasehat Agung adalah pria murah hati. Dia pasti akan membantu kalian tanpa kalian minta," Erich menuturkan. Kedua tangannya bergerak ke sana kemari berusaha meyakinkan pemuda bertudung dan pelayannya yang masih terlihat ragu. Sebenarnya, misi yang dilakukan Erich untuk membawa kembali pemuda bertudung ke kastil adalah misi dengan rencana kesekian kalinya. Bisa jadi, orang yang ditugaskan sebelum Erich adalah archerias yang sedang mereka bicarakan. Tapi kalau Erich menjelaskannya secara gamblang, sang pemuda tidak akan mau ikut dalam rencananya.


"Bagaimana?" tanya Erich untuk terakhir kalinya. Kedua mata cokelatnya bersinar-sinar dalam permohonan


"Sepertinya tidak ada cara lain," jawab Ellgar dengan terpaksa. "Setidaknya kau tidak berniat untuk melukai Tuanku walaupun hanya segores."


"Segores? Mana mungkin aku berani menyentuhnya setelah duel maut di lorong tadi," Erich membatin. Hatinya terpukul oleh sindiran pria kekar di hadapannya. Tidak sampai sejam yang lalu, dia masih ingat kalau memiliki niat untuk menangkap sang pemuda dengan terpaksa. Untung saja sang pemuda hanya tersenyum saat memandangnya dan sama sekali tak mengungkit kejadian itu.


"Aku akan menemani Tuanku memenuhi panggilan Penasehat Agung saat ini juga. Bersiaplah," ucap Ellgar membuat hati Erich berbunga-bunga. Tidak bisa dipercaya, dari sekian rencana yang dituangkan oleh Penasehat Agung, rencana yang melibatkan Erich kali ini adalah yang terakhir.


"Terima kasih, Tuan Wagner," Erich membungkuk dalam-dalam menahan degub jantungnya yang meletup-letup bagai sebuah balon yang terisi gas harapan. Sembari menatap wajah pemuda bertudung yang penuh cahaya kebajikan, pria itu membatin, "Dengan begini aku bisa kembali menerima lencana kepala prajuritku yang sudah dinonaktifkan selama hampir sepuluh tahun."


"Terima kasih, Pangeran Lucas Androcles."


*bersambung ke part berikutnya