
...PERMULAAN DARI AKHIR...
...4th Part...
Udara hangat merambat ke seluruh tubuh Eleanor yang duduk di sisi Luce. Gadis itu sibuk memainkan bara api unggun di hadapannya sambil melamun sementara Luce berbaring dan memandang langit.
"Sejak peristiwa kebakaran di Grissham, Terence jadi tertutup dan tidak mudah mempercayai orang yang baru dikenalnya. Sebelum itu aku juga tidak begitu mengenalnya, tapi tuan besar pernah berkata begitu padaku." Eleanor menjelaskan.
"Terence dan kakakku itu... Bukannya mereka tadinya musuh bebuyutan? Aku dulu juga sering ikut menghajar Terence kalau dia mengajak kakakku berkelahi dan dia selalu kalah dariku. Aku masih ingat betul wajahnya yang sok saat itu," tambah Luce. Kedua mata keemasannya berkedip-kedip menghitung jutaan bintang yang tak terhingga. Salah satunya berwarna biru terang dan terlihat lebih besar dari yang lain.
"Aku jadi teringat sebuah legenda tentang bintang." Eleanor menunjuk langit. Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas tumpukan jubah milik teman-temannya sementara Terence dan Christoph pergi berburu. "Elfias Meadow, sebuah daratan yang dihuni bangsa peri dengan segala keajaibannya. Apa kau pernah mendengarnya?"
"Tidak. Waktu kecil ibuku tidak pernah menceritakan dongeng atau legenda apapun sebelum aku tidur. Dia lebih suka menyanyi seperti bangsa peri. Aku dengar bangsa peri memiliki suara yang memikat bangsa manusia?" Luce memiringkan tubuhnya ke arah Eleanor sehingga bisa menatap gadis itu lebih jelas. Kupikir aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi...
"Seorang putri yang mampu memikat hati raja hebat seperti Yang Mulia Hamlet, tentu saja aku sangat mengakuinya. Tidak hanya suaranya yang merdu, Putri Ireene el Idylla pasti seorang putri yang berparas sangat cantik dan menawan." Eleanor masih saja tidak sadar kalau Luce terus memperhatikannya.
"Tidak perlu seorang raja juga, kan?" kilah Luce sambil tertawa kecil. "Wanita sepertimu saja bisa memikat hati seorang raja-tertinggi, apalagi ibuku, Eleanor."
"Maksudmu?" Eleanor berpaling, menghadap Luce yang sedang serius menatapnya hingga wajah gadis itu bersemu merah. Luce terlihat sangat bersinar setelah mendapatkan kekuatan phoenix seutuhnya. Bukan karena ketampanannya yang luar biasa, tapi aura seorang raja-tertinggi yang memancar darinya semakin terlihat. Begitu berkharisma dan menawan.
Sadarlah, Eleanor! Yang di depanmu ini Luce, bukannya Tuan Besar. Mau kau buang ke mana rasa cintamu hingga kau segitu malunya menatap bocah ingusan ini, batin Eleanor menyadari perubahan postur tubuh Luce yang terlihat lebih dewasa dari usianya dan membuatnya semakin mirip sang kakak, Jean St. Claire.
Luce tersenyum simpul dan kembali memandang langit diikuti Eleanor. Dia tahu gadis di sisinya tersebut mungkin saja akan membalas perasaannya, tapi dia berusaha membenamkan rasa itu demi meraih cita-citanya. Dia tidak mau melibatkan Eleanor lebih jauh, bahkan sebisa mungkin Luce harus melakukan bagian pentingnya sendirian.
"Kau bilang tadi akan menceritakan sebuah legenda tentang bintang." Luce memecahkan kesunyian. Dia menggunakan kedua lengannya sebagai bantal kemudian memejamkan mata. "Ceritakanlah sampai aku tertidur."
Eleanor sempat terdiam sejenak sebelum memutuskan bahwa mungkin saja dia sedang salah paham, tapi dia tak berpaling. Suatu saat nanti, berada di sisi Luce dalam jarak sedekat itu adalah hal yang langka dan mustahil karena Eleanor bukanlah keluarga bangsawan.
"Ah, sebelum itu..." Luce kembali memutus imajinasi Eleanor. "Terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Aku sudah menahannya sejak beberapa hari yang lalu. Hanya dua kali menggunakan kekuatan phoenix ternyata membuatku pingsan berhari-hari. Aku benar-benar tidak memperhitungkan hal itu. Mungkin... kekuatan iblis api ini tetap ada batasnya dan aku masih harus belajar banyak tentang hal itu. Pokoknya terima kasih. Aku berhutang nyawa padamu, Eleanor."
"Tidak usah dipikirkan," sahut Eleanor. "Lagipula aku melakukannya karena perintah Tuan Besar. Meskipun dia tidak ada di sini, aku akan tetap memberikan darahku padamu karena jika sesuatu terjadi padamu, aku pasti tidak akan sanggup untuk bertemu dengan Tuan Besar lagi. Menurutku itu tidak sebanding dengan pengorbanan Seraphim untuk melindungi semua keturunan raja-terdahulu." Gadis itu kembali menunjuk salah satu bintang di langit.
***
"Seraphim adalah seorang anak perempuan dari bangsa peri yang hidup sebatang kara karena ditinggal mati oleh ayahnya. Ibunya masih hidup, tetapi dia tidak tinggal di Elfias Meadow karena dia adalah seorang manusia." Eleanor mengawali ceritanya. "Sebenarnya ini adalah kisah tentangmu, Luce. Kau akan tahu setelah mencapai bagian akhirnya."
"Diam dan jangan bicara lagi! Aku akan melanjutkan legendanya sampai selesai. Setelah itu, berkomentarlah sesukamu." Eleanor langsung membungkam mulut Luce dengan jemarinya dan menggeleng. Wajahnya tak berhenti untuk memerah saking malunya. Malam itu, Luce terlalu terang-terangan merayunya dan menyebabkan gadis itu justru merasa kesal.
"Sesuai permintaanmu, Yang Mulia Eleanor!" Luce tersenyum jahil dan kembali menatap langit, sementara Eleanor menarik napas panjang untuk kembali melanjutkan kisahnya.
"Seraphim berpamitan dengan semua keluarga besarnya di Elfias Meadow untuk pergi ke dunia manusia dan mencari ibunya. Kemudian sesampainya di jurang perbatasan, dia baru ingat bahwa bangsa peri dilarang pergi menyeberang ke dunia manusia. Jadi untuk mengabaikan larangan tersebut, ada pengorbanan besar yang harus diberikan pada Semesta. Anak perempuan itu pun menyerah karena kehabisan akal. Dia masuk ke jurang dan mati bunuh diri."
"Bangsa peri bisa mati semudah itu?" Luce tiba-tiba duduk dan nyaris berteriak. "Lalu bagaimana dengan ayahnya? Kau bilang dia juga sudah lama mati. Bukankah bangsa peri itu dikaruniai umur yang sangat panjang?"
"Mereka bisa mati karena pengorbanan," kata Eleanor. "Sudah kukatakan tadi kalau perlu pengorbanan besar untuk menyeberangi dunia manusia. Tubuh Seraphim memang mati, tapi jiwanya berada dalam genggaman Semesta." Gadis itu kembali menunjuk bintang di langit.
"Maksudmu dia berubah menjadi bintang?" tanya Luce dibalas oleh anggukan dari Eleanor.
"Dia berubah menjadi bintang sehingga dapat mencari di mana keberadaan ibunya di dunia manusia," jawab gadis berambut cokelat itu. "Tapi selama beberapa dekade, dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaannya. Bahkan meskipun sebelumnya dia tidak pernah bertemu dengan ibunya, sebagai bintang dia memiliki kemampuan untuk mengenali wajah setiap manusia. Kemudian Seraphim akhirnya menyadari sesuatu ketika seorang bayi laki-laki bermata biru lahir di dunia manusia...
...Warna mata yang belum pernah ada sebelumnya. Tidak hanya itu, setelah bayi tersebut tumbuh dewasa, rupanya dia memiliki kemampuan untuk mengalahkan bangsa iblis tanpa menggunakan senjata. Dia adalah pengguna sihir pertama di dunia manusia. Pada akhirnya semua orang percaya bahwa anak laki-laki itu adalah jiwa yang diutus oleh Semesta untuk menyelamatkan dunia manusia. Dia pun kemudian diangkat menjadi seorang raja-tertinggi yang terus melahirkan keturunan bermata biru dengan kemampuan sihir yang bermacam-macam."
"Kau bermata kelabu, tapi kau penyihir yang hebat, Eleanor. Kisah itu pasti hanya bualan belaka!" Lagi-lagi Luce berkomentar.
"Mungkin kau benar, Luce," timpal Eleanor. "Tapi tidak sepertimu, aku menguasai sihir karena aku belajar. Setidaknya ilmu pengetahuan sekarang telah berhasil menyibak rahasia di balik sihir yang diwariskan turun-temurun di kalangan para raja dan sebenarnya itu juga yang menyebabkan bangsa peri akhirnya terdesak. Manusia memiliki caranya sendiri untuk memperluas perbatasan. Beberapa di antara mereka, ada yang memilih jalan pintas dan bekerja sama dengan para iblis. Mereka tidak tahu bahwa ilmu sihir yang mereka dapatkan berasal dari pengorbanan salah satu bangsa peri."
"Seraphim?" Luce menebak.
"Bukan Seraphim, tapi ayahnya. Seraphim baru sadar ketika bangsa peri akhirnya punah dan semua manusia yang bermata biru mendadak kehilangan penglihatan mereka. Bahkan raja-tertinggi yang merupakan penyihir terkuat di dunia manusia nyaris tewas karena kehilangan kemampuan sihirnya...
...Seraphim menyimpulkan bahwa sang ayah telah mengorbankan jiwanya pada Semesta, agar istrinya dapat kembali ke dunia manusia dan sebagai satu-satunya manusia yang pernah masuk ke Elfias Meadow, istrinya tersebut telah melakukan kesalahan besar dengan menikahi pria lain di dunia manusia."
"Jadi maksudmu, manusia bebas masuk ke Elfias Meadow sedangkan bangsa peri dilarang keras untuk keluar dari sana?" Luce menggeleng kemudian berpikir keras. "Aku pikir itu juga kesalahan sang ayah karena telah membiarkan wanita itu masuk ke dunianya. Sejak awal, seharusnya dia membunuh wanita itu dan bukannya menikahinya. Benar, kan?"
Eleanor tertawa. "Kalau seperti itu ceritanya, maka mungkin saja bangsa manusia yang akan punah duluan karena invasi para iblis, tapi untunglah seseorang mengorbankan dirinya lagi. Seraphim akhirnya diperbolehkan turun kembali ke dunia, setelah tahu semua kebenarannya. Dia berubah menjadi phoenix untuk menyelamatkan nyawa sang raja-tertinggi dan dengan kemampuan khususnya, dia terus menjaga keturunan dari manusia bermata biru di mana dalam tubuh mereka mengalir darah dan kekuatan sihir yang diwariskan dari pengorbanan orang tua Seraphim. Selesai!"
***