The Second Throne

The Second Throne
Crimson Sky (4)



...Langit Merah...


...4th Part...


"Dasar pria brengsek!" Aby berteriak pada Giovanni, adik laki-lakinya di sebuah ruangan yang tak lain kamar tidurnya. "Bisa-bisanya dia memperlakukan seorang putri bangsawan sekasar itu! Aku lebih baik mati daripada menikahi pria sepertinya!" Wanita itu terus menuding adiknya yang fokus membaca buku di ranjang.


"Nona, tolong berhenti berteriak," Silvia, seorang pelayan wanita terus berada di balik punggung Aby selama hampir setengah jam. "Kalau Tuan Besar mendengar suara anda, bisa-bisa beliau menghukum anda selama tiga hari tiga malam."


"Orang tua itu juga! Bagaimana bisa dia menikahkan putri satu-satunya dengan seorang buronan?" Aby semakin meninggikan nada bicaranya. "Aku juga harus membuat perhitungan dengannya. Saat ini... Masa depanku sedang dipertaruhkan. Aku tidak akan tinggal diam. Apalagi ketika ada orang yang membanding-bandingkan aku dengan wanita lain."


"Kakak ingin bersaing dengan Putri Mahkota?" Giovanni menutup buku dengan cepat seolah ada yang mengusiknya. "Kakak yang seharusnya bercermin, wahai Putri Bangsawan. Jean St. Claire itu pangeran pertama dari raja yang sekarang menguasai seluruh dunia manusia dengan kata lain, dia adalah sang pewaris tahta dan kau hanya seorang putri bangsawan. Wajar saja kalau dia menginginkan hal yang lebih darimu. Kakak itu cuma termotivasi saja!"


"Kau juga, sama saja seperti ayah!" bentak Aby. "Bagaimana bisa kau berteriak pada kakak perempuanmu seperti itu. Kau seperti tidak pernah belajar etika saja!"


"Kakak yang tidak punya etika!" Giovanni berdiri dan melempar bukunya ke lantai dengan kasar. Silvia benar-benar dibuat ketakutan karenanya. "Kakak sudah tahu akan menikah dengan siapa, tapi kenapa kakak tidak menolaknya sejak kemarin. Kenapa tidak katakan saja pada ayah bahwa kakak lebih mencintai pelayannya daripada pria brengsek itu." pemuda berambut pirang tersebut melipat tangan.


"Ayah yang lebih tahu dari kakak. Beliau melakukan itu agar bisa mengontrol Jean St. Claire melakukan kudeta. Pria brengsek itu adalah orang yang berbahaya bagi Allegra karena itu ayah berusaha membuatnya terikat dengan kakak agar dia bisa melupakan rencana kotornya di negeri ini. Apa kakak tahu, ayah mengatakan pada Jean supaya tidak membuat kakak jatuh cinta padanya. Bisa-bisanya kakak menyalahkan ayah yang sudah mengkhawatirkan hidup kakak!" Giovanni kemudian melenggang pergi.


"Mau ke mana kau?" Aby bertanya kesal. Dia sudah meremas kedua tangannya untuk melayangkan tinju, tapi dia tahu bahwa Giovanni memang terlahir lebih pintar darinya. "Jangan coba-coba kabur dariku, ya!"


"Aku mau mencari Ellgar," jawab Giovanni ketus. Dia membanting pintu padahal kakaknya masih ingin berbicara banyak padanya.


"Anak itu selalu saja bicara sembarangan!" Aby menepuk dahinya. "Kalau bukan Gio yang menjelaskan seperti itu tadi, mana mungkin ayah mau memberitahuku soal alasan di balik perjodohan itu. Rasanya tidak adil kalau aku tidak mengetahuinya. Lagipula... Mencintai Ellgar? Apa aku punya perasaan seperti itu padanya?" Gadis tersebut kemudian duduk tenang di ranjang. "Dia itu kan hanya teman masa kecilku saja dan juga tidak mungkin Ellgar menganggap janji yang waktu itu sungguhan, kan? Dia memang benar-benar kembali ke Alsterville, tapi tetap saja itu hanya masa lalu."


"Kalau sudah begini, sebaiknya aku..." Aby tiba-tiba memukul telapak tangannya. "Silvia, temani aku ke pasar!" pintanya pada sang pelayan yang akhirnya bisa bernapas lega karena sang putri kembali ke kebiasaannya semula.


***


Alsterville adalah ibukota Kerajaan Allegra ---- tempat terpadat sekaligus tersibuk di wilayah tersebut. Para penduduknya bekerja di bidang agraris dan ekonomi. Hampir setiap hari pasar di ibukota selalu dipenuhi lautan manusia yang saling bertukar kebutuhan dengan tiga macam koin; koin emas, perak, dan perunggu. Mereka menawar benda-benda berkualitas dengan harga terendah, seperti batu emerald berwarna kehijauan.


"Saya lebih suka yang merah, Nona," ujar Silvia. "Memberi kesan berani dan berbeda."


"Padahal Tuan Oliver Clarke akan segera membuka pertambangan di Alsterville dan Nona juga akan segera menjadi istrinya. Siapa lagi yang akan membantu usaha sang suami kalau bukan istri tercinta." Silvia semakin memperparah suasana dengan kedua matanya yang berbinar ketika membicarakan Jean serta segala kelebihannya.


"Ah, maksudmu pria buron itu..." Aby menepuk dahinya kesal. "Aku benar-benar ingin segera menemuinya lagi dan mengatakan kalau aku tidak mau menikah dengannya, tapi sampai sekarang aku masih belum tahu di mana mereka tinggal. Padahal Gio tadi sudah berpamitan akan ke sana, tapi aku lupa menanyakannya. Seandainya aku sedikit lebih cepat dan... setahuku pria itu akan membuka lahan perkebunan, bukannya pertambangan."


"Haha, Nona benar. Saya hanya merasa kalau Tuan Oliver lebih suka bekerja di bidang itu karena pengalamannya sewaktu masih di Alcander," tukas Silvia. "Lagipula, Tuan Oliver sepertinya akan menjadi pria paling rupawan di kerajaan kita kalau dia mau melepas topengnya. Bukankah Nona sendiri yang berkata bahwa beliau punya warna mata yang indah."


"Warna mata biru memang sangat langka di kerajaan kita, tapi bukan berarti tidak ada yang memilikinya, kan?" Abigail melanjutkan langkah kakinya menyusuri jalanan pasar.


"Nona sekali lagi benar." Silvia menyetujui sambil berjalan di sisi majikannya dengan hati-hati. "Buktinya Tuan Hector yang juga bermata biru memiliki daya tarik yang berbeda dengan Tuan Oliver. Warna mata tak bisa menjaminnya."


"Kau menyukai Ellgar?" Aby bertanya setelah menyadari bahwa Silvia juga ikut mengamati teman masa kecilnya. "Haruskah kubilang kalau kita punya selera yang sama? Tapi tentu saja aku tidak bisa bersama dengannya karena dia hanya seorang pelayan. Ayah tidak akan menyetujuinya meskipun dia telah menggunakan nama mendiang Tuan Besar Clarke agar bisa tinggal di Alsterville."


Silvia nyaris lupa akan apa yang dia harus lakukan hari itu karena sibuk membahas dua pria tampan yang tiba-tiba muncul di kediaman Brown. "Haruskah kita berbelanja sayuran juga, Nona? Saya pikir tak ada habisnya membicarakan mereka berdua di sini sementara kita sejak tadi tidak menemukan di mana mereka tinggal."


"Haruskah begitu? Mereka benar-benar seperti seorang buronan karena sulit ditemukan." Aby menggigit jari sebelum dua orang prajurit berjubah merah tiba-tiba merangsek ke arahnya tak sabar.


"Nona tidak apa-apa?" Silvia menangkap tubuh majikannya yang nyaris terjatuh. Dia kemudian melihat ke sekeliling dan tampak bukan hanya kedua prajurit tersebut yang memasuki ibukota, melainkan ada puluhan. Bahkan satu di antaranya terlihat memiliki pangkat paling tinggi dengan simbol phoenix besar yang tersulam di jubah merahnya.


"Kenapa prajurit Axton ada di Alsterville?" Aby bertanya-tanya ketika sadar rok mewahnya sobek karena ulah kedua prajurit yang kini tak tahu rimbanya.


"Nona, lihat!" Silvia menunjuk sebuah dinding yang dipenuhi oleh lukisan wajah dua orang pria. "Bukannya itu Tuan Ol..."


Aby segera membungkam mulut Silvia dan menarik pelayannya itu keluar dari kerumunan. Rupanya dia langsung dapat membaca situasi yang sedang terjadi saat itu. "Kalau kau meneriakkan nama mereka keras-keras, sama saja kau menyerahkan nama keluarga Brown ke mereka."


"Tapi, Nona... Bukankah mereka harus tahu kalau sedang dalam bahaya?" kata Silvia panik. Sambil menelan air liur, netranya memandang sang pemimpin prajurit yang berdiri di atas undakan tepian air mancur, tepat di jantung ibukota.


Pria tersebut kemudian mengeluarkan segulung perkamen dan membaca tulisan yang tertuang di dalamnya. "Atas izin dari Raja Herion Cavendish yang maha agung, pemimpin tertinggi negeri Allegra, dan atas perintah dari raja-tertinggi Axton yang baru, yakni Raja Abraham Aelfar Giselbert Hamlet ---- akan menghadiahkan seratus keping emas bagi siapapun yang mampu menangkap seorang pengkhianat dengan ciri-ciri yang tertera pada gambar ini dalam keadaan hidup ataupun mati."


***