
...Langit Merah...
..._6th part_...
'TOK TOK TOK,' suara pintu diketuk dengan siluet pelayan wanita terlihat pada bagian bawahnya. Jean yang saat itu masih bergumul dengan selimutnya berusaha menerka-nerka maksud kedatangan sang pelayan. "Tinggalkan saja trolinya di depan pintu. Akan kubawa masuk sendiri nanti," ucapnya dengan lantang sementara Aby masih memeluk tubuhnya dari belakang. "Masih pagi sudah mengganggu saja."
"Tuan..." sang pelayan belum juga menyerah.
"APA KAU TIDAK DENGAR AKU BILANG APA TADI?!" Jean bangkit dari pembaringan karena murka. Dia kemudian mendekati pintu sambil mengomel, "KUBILANG TINGGALKAN SAJA TROLINYA DI DEPAN PINTU!" teriaknya membuat Aby terbangun dan ketika membuka pintu, ada sosok lain yang berdiri di sisi pelayan wanita. Pria yang membuat wajah Jean langsung terlihat datar, padahal jelas sekali kalau si pelayan wanita sedang menatapnya dengan wajah merah.
"Anu, Tuan... Ini bukan soal sarapan," kata pelayan itu ketakutan. Dia kemudian menundukkan wajahnya karena Jean tampak tak tahu malu. Pria yang bertelanjang dada itu sedang berkacak pinggang di ambang pintu yang terbuka --- disaksikan oleh beberapa pelayan yang lewat di lorong mansion. Sementara Ellgar yang berdiri mematung di sisi pelayan sedang mengamati tepian ranjang yang terlihat dari balik tubuh kekar Jean.
"Kau sedang lihat apa?" Jean melotot pada Ellgar kemudian melayangkan pandangan menusuk pada pelayan wanita. "Dan kau sedang apa di sini kalau bukan untuk mengantarkan sarapan?"
"Pergilah! Biar aku yang mengurus di sini," pinta Ellgar pada sang pelayan yang kemudian menurutinya tanpa sepatah kata pun. Pria berkaca mata itu kemudian menatap Jean penuh kekesalan. "Selamat atas pernikahan Anda, Tuan Jean, tapi sepertinya anda terlalu bahagia sampai-sampai melupakan etika berbicara pada pelayan. Bagaimana pun juga anda tetaplah Tuan Besar St. Claire walau mereka tak mengetahuinya. Setidaknya, tolong jaga emosi anda di depan saya, Tuan dan juga berpakaianlah yang sopan di rumah orang lain."
"Aku... Aku tidak tahu kalau kau juga ada di sini tadi," kilah Jean. "Lagipula aku ini bukan Luce jadi jangan coba-coba menceramahiku. Percuma saja, cuma buang-buang energi. Aku tidak akan mendengarkan celotehanmu itu. Aku biasa melakukan hal seperti tadi pada para pelayan. Kau tahu sendiri, kan?"
Ellgar tersenyum karena ternyata sifat Jean tidak berubah meski telah menjadi menantu keluarga Brown sekarang.
"Oh iya, maaf," imbuh Jean. "Aku minta maaf karena tidak bisa memenuhi janjiku." Dia teringat akan keputusannya untuk tidak menyentuh Abigail Brown setelah menikah beberapa bulan yang lalu.
"Aku tidak ingat janji apa itu, Tuan. Anda bisa membahasnya lagi nanti." Ellgar membenahi letak kacamatanya. "Yang lebih penting sekarang ini, Tuan... Tuan Besar Brown sedang menunggu anda di ruang kerjanya."
"Apa katamu?" Jean melotot tiba-tiba. "Masih sepagi ini dia menyuruhku untuk menemuinya?" Pria itu kemudian melipat kedua tangannya kesal. "Pergi dan katakan padanya aku tidak sudi menemuinya. Dia pikir siapa dia berani-beraninya memerintah seorang pangeran dan juga tolong..." Jean menunjuk Ellgar dengan tatapan mata tajam sebelum menutup pintu kamarnya lagi. "Tolong antarkan sarapannya sekarang juga!"
'BRAAKKK,' Jean kemudian membanting pintu disaksikan oleh Aby yang ternyata sudah dalam posisi duduk menunggunya. "Masih pagi sudah mengajak berkelahi saja," gerutu pria itu sambil berbaring dan masuk lagi ke dalam gulungan selimutnya. Cuaca saat itu benar-benar panas dan Jean memang sudah melampaui batas karena cara berpakaiannya. Dia sebenarnya sama sekali tidak pernah bertelanjang dada di hadapan para pelayan. Akan tetapi saat itu, yang ada di pikirannya hanyalah kebanggaan karena memiliki istri yang mau menerima tubuh penuh lukanya dan itu semua benar-benar telah merusak otaknya.
"Siapa yang mengajakmu berkelahi?" Aby bertanya setelah Jean menariknya kembali dalam pelukan mesra. "Aku seperti mendengar suara Ellgar barusan."
"Iya, dia datang bersama pelayan, tapi tidak membawa sarapan. Jadi aku memarahinya," jawab Jean dengan mata terpejam dan hidung yang terus mendengus menikmati aroma tubuh istrinya.
"Kasihan sekali..." Aby menatap wajah lesu suaminya.
"Kenapa kau merasa kasihan padanya. Dia sudah terbiasa dengan kelakuanku ini sejak kecil dan aku tidak akan merubahnya hanya karena status bangsawan dia lebih tinggi dariku sekarang. Walaupun aku ini seorang pangeran, sekarang aku hanyalah pangeran buangan dan dia adalah bangsawan yang sebenarnya." Jean menghela napas kesal lalu merapatkan tubuhnya pada sang istri.
"Kalau kau sudah lapar, kenapa tidak turun saja ke bawah," Aby memberi saran. "Kalau aku... aku masih belum lapar. Lagipula aku tidak akan mati karena kelaparan. Justru kalau kau begini terus, aku bisa mati karena kehabisan napas."
"Hah? Apa kau belum puas semalaman menyiksaku?" Aby terheran-heran. Rambut pirangnya berkilau saat cahaya matahari berusaha menembus tirai jendela yang berwarna putih. Terasa sekali kehangatan pagi mulai merangsek masuk ke dalam ruang pengantin tersebut membuat Jean sadar kalau dia harus mengakhiri tidur panjangnya bersama sang istri.
"Ayahmu pasti ingin membicarakan soal undangan jamuan di kastil hari ini sampai-sampai meminta Ellgar menjemputku." Jean memandang Aby yang mulai mengantuk lagi karena lelah begadang semalam. "Bangunlah, istriku. Kita harus segera bersiap-siap. Sebisa mungkin kita tidak membuat menunggu. Aku ingin membuat kesan pertama yang baik di hadapannya."
***
...ALLEGRA (kerajaan bagian barat Axton)...
Ibukota : Alsterville
Kepala negara : Raja Herion Cavendish la Allegra
Kepala pemerintahan : Putri Samantha el Allegra
Sistem pemerintahan : kerajaan bagian
Sistem sosial : kasta (duke, count, viscount, baron, earl dst) berdasarkan prestasi, bukan hanya keturunan
Sistem perekonomian : agraris (sektor perkebunan) dan tambang (emas dan permata)
Mata uang : Gold
Lambang kerajaan : Reuven (burung gagak). Gagak adalah hewan yang pandai dan belajar dari pengalaman sesuai dengan kasta sosial di Allegra. Burung tersebut juga merupakan simbol pertahanan dan kesetiaan, yang merupakan cita-cita leluhur Allegra untuk menjadi kerajaan yang menghormati orang-orang berprestasi namun tidak dihargai di tempat lain, dengan harapan menjadi warga Allegra yang bekerja penuh loyalitas untuk kerajaan.
Iklim : tropis (musim kemarau dan penghujan)
...NOTE:...
Keluarga Brown adalah bangsawan dengan hierarki tertinggi di Allegra setelah raja. Mereka dipimpin oleh Ferdinand Brown sang duke yang merupakan sepupu kandung mendiang ratu dan memiliki tiga anggota keluarga utama, yaitu Nyonya duchess, Abygail Brown sang putri sulung, dan Giovanni Brown si bungsu.
Kepala pelayan mereka juga berasal dari keluarga terpandang dengan kasta yang tidak begitu jauh dari keluarga duke. Silvia von Grath adalah anak kedua keluarga Grath yang merupakan bangsawan earl di Allegra. Sejak remaja, dia mengabdi kepada keluarga duke untuk menggapai cita-citanya menjadi pelayan kerajaan nomor satu di Allegra (walaupun belum terwujud).
Keluarga Brown tinggal dalam mansion mewah di jantung ibukota Alsterville dan mengawasi berbagai sektor perekonomian kerajaan. Duke Brown yang merupakan jenderal ternama juga sering berkecimpung di dunia politik, bahkan ikut berperang dan memimpin pasukan. Selain itu, untuk membalas kebaikan Fletcher St. Claire, sang duke juga membantu Jean dan Ellgar mendapatkan identitas baru sebagai warga kerajaan Allegra.
...Informasi selesai 😆😆😆...