
PANAH PERAK_3rd Part
Seorang pria bermahkota dengan jubah suteranya yang berwarna perak duduk di balik tirai putih dalam sebuah ruangan. Hanya ada Penasehat Agung Frederick Rainar dan Raja-Muda Devian Argus di hadapannya. Mereka berlutut, bahkan nyaris bersujud untuk menyembah pria bermahkota tersebut. Rambut pirangnya yang panjang terurai sampai ke bagian punggung, sedangkan kedua siluet biru matanya adalah warna yang diwariskan secara turun-temurun dalam silsilah keluarga Kerajaan-Tertinggi Axton. Pada dahinya, terdapat lukisan burung api berwarna keemasan, hampir sama seperti milik Luce. Kedua tangannya yang dihiasi oleh perhiasan zamrud dibiarkan terbuka di atas kedua kakinya yang sedang duduk bersila. Pria itu adalah ayahanda Devian, Raja-Tertinggi Axton, Eginhard Idylla yang sedang mencemaskan keponakannya, Luce.
Eginhard menyibakkan tirai yang menutupi dirinya kemudian berjalan keluar untuk menemui Rick dan Devian yang masih menundukkan kepala. "Yang Mulia, anda tidak perlu sampai turun dari singgasana seperti ini," ucap Rick.
"Kalau aku berhenti bertapa sejak dulu, mungkin Pangeran Lucas tidak akan sampai menghilang seperti ini," jawab sang Raja sambil menyilangkan kedua tangan di punggung. "Susah payah kita menjaganya dalam waktu sepuluh tahun, kalau ternyata berakhir seperti ini, aku tidak bisa tinggal diam. Berdirilah! Putra Mahkota Alcander sepertinya memang berniat menyelesaikannya dengan cara perang."
"Saya rasa Yang Mulia terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan," ucap Rick kemudian berdiri disusul oleh Devian. "Pangeran Illarion hanya berusaha mengembalikan status dan semua hak milik Pangeran Lucas. Kalaupun Pangeran Lucas sampai menghilang seperti ini, itu bukan karena kemauan Pangeran Illarion. Saya yakin ada seseorang yang juga menginginkan kekuatan milik Pangeran Lucas."
"Aku sudah tidak peduli lagi sekarang," Eginhard melepas mahkotanya yang dipenuhi berlian dan meletakkannya pada sebuah nakas di dekat jendela yang terbuka. Pemandangan Ibukota Estefania terlihat begitu kecil dari sana. Pria itu kemudian melepas jubah sutera yang dikenakannya dan mengikat rambutnya erat-erat. "Mereka telah membunuh adikku, Putri Ireene el Idylla," lanjutnya sambil menghela napas panjang. "Aku pikir dengan mengorbankan Pangeran Jean, aku bisa mengambil alih kekuatan itu lagi dan menyelamatkan Luce. Tapi sepertinya Pangeran Jean sudah mengetahui tentang perjanjian darah dari seseorang. Kalau begini caranya, kekuatan yang terkumpul dalam diri Luce sekarang hanya akan tunduk pada Pangeran Jean dan jika Pangeran Jean benar-benar dibunuh, maka aku juga akan kehilangan Luce."
"Ayahanda," Devian tiba-tiba angkat bicara. "Kenapa ayahanda kelihatannya lebih menyayangi adik ipar daripada Pangeran Jean? Bukankah mereka berdua sama-sama sepupuku?"
"Kenapa ya?" Eginhard tersenyum. "Mungkin karena Luce sama sekali tak punya keinginan untuk menjadi seorang Raja. Dia begitu rendah hati seperti bibimu sampai-sampai tak menyadari bahwa sebenarnya dia jauh lebih kuat dari yang dia bayangkan. Bahkan kalau kekuatan itu telah bangkit seutuhnya, Luce bisa menjadi penguasa di manapun dia berada, tapi dia tidak mau menggunakannya. Sementara Pangeran Jean, dia lebih mirip ayahnya." Raut wajah Eginhard tiba-tiba berubah penuh kebencian. "Pria yang melakukan segala cara untuk mendapatkan apapun yang diinginkannya."
"Tapi karena kondisinya sudah terlanjur seperti ini, mau tidak mau kita harus menyelamatkan keduanya," Eginhard menambahkan. "Lebih baik kalau kita membagi dua rencananya. Aku akan langsung mendatangi kastil Alcander dan menjemput Pangeran Jean sementara kau, Devian, harus menelisir seluruh isi Hutan Terlarang dan menemukan Luce dalam waktu dua puluh empat jam ini. Jangan sampai Pangeran Illarion mendahuluimu karena aku akan membuat perhitungan dengannya."
Devian sempat terdiam memikirkan maksud ucapan ayahnya tapi beberapa saat kemudian dia akhirnya membulatkan tekad, "Baiklah, ayahanda. Aku akan membawa beberapa anggota Legiun Seiryuu untuk mendampingiku. Lalu, karena Paman Rick tidak bisa pergi kemanapun, sebaiknya ayahanda membawa seorang pengawal juga atau aku bisa memerintahkan Erich Harbyn untuk menemani ayahanda."
"Kalau begitu, kami berdua akan berputar melewati jalur selatan sementara kau langsung saja menuju ke perbatasan timur dan menyebar pasukan. Pangeran Illarion mungkin akan menyewa beberapa magus dari Gretasha untuk bisa masuk ke wilayah iblis itu. Sedangkan kau..." Eginhard mengalihkan pandangan pada Rick, "Utuslah Guardian kita yang bertugas di sana untuk menyampaikan surat ultimatum pada mereka. Bermain-main denganku, berarti harus siap menanggung segala resikonya."
Beberapa menit kemudian Eginhard telah berjalan di belakang Erich Harbyn bersama prajurit lainnya yang berpakaian serba hitam. Tak ada satupun yang tahu bahwa seorang raja yang paling ditakuti berada di antara mereka. Bahkan Erich sang Kepala Prajurit pun tak menyadarinya. Di balik penyamarannya, Eginhard terlihat tak ada bedanya dengan seluruh prajurit yang saat itu telah tiba di alun-alun kastil. Hanya ikat kepala yang menutupi simbol di dahi pria tersebut yang menandakan bahwa dia bukanlah prajurit biasa.
Semua prajurit kemudian berbaris rapi mendengarkan arahan dari Raja-Muda Devian Argus yang akan memimpin misi ke wilayah Alcander pagi itu. Eginhard yang berada di sisi kiri alun-alun tampak tenang meski prajurit yang berada di sekelilingnya, membuat pria itu tidak fokus pada isi ceramah Devian. Sementara di sisi kanan, berbaris rapi prajurit dengan zirah perak dan jubah berwarna hijau yang melambai seiring tiupan angin. Mereka membawa sebuah perisai dan pedang besar sebagai alat perlindungan, sedangkan prajurit berpakaian serba hitam yang dipimpin oleh Erich, hanya menggunakan sebilah pedang melengkung yang disebut sebagai katana.
"Prajurit dari Legiun Seiryuu memang berbeda," komentar seorang prajurit yang berbaris di depan Eginhard. "Aku justru mendengar bahwa mereka tidak lebih hebat daripada Pengawal Kelas Senior yang selalu melindungi anggota keluarga kerajaan," temannya menjelaskan. "Tapi kekuatan mereka juga tidak bisa diremehkan. Beberapa di antara mereka tidak hanya menguasai ilmu pedang dan pertahanan perisai, tapi juga ada yang berprofesi sebagai magus, archerias, alkemis, bahkan asassin alias pembunuh bayaran."
"Devian mempekerjakan pembunuh bayaran?" Eginhard mengernyitkan dahinya sebelum bertanya pada prajurit yang berdiri di sebelah kirinya, "Lalu bagaimana dengan posisi kekuatan pasukan kita? Apa kita lebih lemah daripada anggota Legiun Seiryuu?"
"Kita berada langsung di bawah komando Kepala Prajurit, yang menandakan bahwa kita ini prajurit elit. Tugas kita adalah menyusup ke wilayah pertahanan lawan dan menghabisi pemimpin pasukan mereka secara diam-diam. Kita bekerja secepat angin dan selembut bayangan. Kita ini kartu As untuk Kerajaan Axton. Jadi posisi kita jauh lebih tinggi daripada mereka," jawab prajurit itu dengan penuh percaya diri.
"Secepat angin apanya?" Eginhard membatin. "Menjadi selembut bayangan berarti profesi mereka di luar kastil adalah pencuri." Pria itu kemudian menepuk jidatnya sendiri. "Jadi ini yang dilakukan Devian selama ini? Mengumpulkan orang-orang berbakat di seluruh penjuru negeri dan melatih mereka menjadi kumpulan pasukan berani mati. Dibandingkan posisi Putra Mahkota, menjadi raja sungguhan sepertinya bisa membuat bocah itu menyadari beban dan tanggung jawabnya. Entah kenapa semua orang berpikir dengan menjadi seorang raja maka segalanya akan menjadi mudah."
Eginhard tiba-tiba mengejutkan semua prajurit dengan berteriak, "Aku punya ide."
***