
...Langit Merah...
..._9th part_...
"Yang Mulia, kita sudah terlalu jauh dari aula pesta. Bisakah kita berhenti dan bicara di sini saja? Saya rasa, tempat ini cukup aman. Saya sudah tidak merasakan kehadiran siapapun di sini selain kita berdua." Jean berhenti berjalan karena lelah. Tak jauh dari tempatnya berada, Putri Samantha ikut menghentikan langkahnya. Keduanya sedang berada di jembatan tertinggi yang menghubungkan dua buah menara kastil Allegra.
"Oh, jadi kau punya tingkat kepekaan yang bagus juga, Pangeran. Maaf, aku baru mengetahui kemampuanmu itu, tapi tempat kita masih di depan sana. Sebentar lagi kita akan sampai." Putri Samantha melanjutkan perjalanannya lagi tanpa menoleh ke belakang, sedangkan Jean, dengan stamina tubuhnya yang rendah, hanya bisa pasrah mengikuti kemauan wanita bergaun biru tersebut. Gaun yang sangat cantik, tetapi tidak secantik kepribadiannya.
Putri Samantha memiliki ciri-ciri khas seorang bangsawan di masa lalu. Rambutnya hitam panjang serta iris matanya berwarna biru. Itu saja cukup membuktikan kalau dirinya memang terlahir dengan darah bangsawan yang cukup kental di tubuhnya.
Jean bahkan takjub saat pertemuan pertama mereka bulan lalu. Selama hidupnya, tak ada wanita yang secantik dan seanggun mendiang ibunya, kecuali Samantha. Pria itu nyaris tertipu dan untuk yang kedua kalinya, dia masih merasakan hal yang sama. Seolah melihat masa lalu yang diputar berulang kali, ada dua sosok anak kecil yang terpaut usia lima tahun, berjalan di sisi kanan dan kiri ibunya. Namun sebenarnya itu hanya halusinasi Jean seorang. Yang berjalan di depannya saat itu adalah Putri Samantha yang sangat dikaguminya sejak dahulu.
"Sekarang bisa tolong jelaskan pada saya, tempat apa ini Yang Mulia dan untuk apa anda membawa saya ke tempat sejauh ini?" Jean membuka topeng kemudian menyimpannya dengan baik di balik jas merah yang dikenakannya. Dia kemudian melipat tangannya tak sabar, sementara sang putri akhirnya berhenti berjalan dan memandang ke arahnya.
"Ini adalah ruangan pribadiku," ucap Putri Samantha sambil menjentikkan jari. Beberapa saat kemudian, dari balik kegelapan muncul ujung-ujung sulur tanaman merambat yang bergerak mendekati wanita itu dan saling berjalin. Di antaranya ada sulur yang dapat menumbuhkan bunga beraroma harum. Sulur-sulur tersebut akhirnya membentuk sebuah singgasana yang kini diduduki oleh sang putri.
"Kau adalah orang pertama..." katanya tersenyum dengan salah satu sulur yang melilit dan mengambil topeng peraknya. "Maksudku laki-laki pertama yang memasuki tempat rahasia ini."
Jean kehabisan kata-kata melihat fenomena ajaib yang terjadi di hadapannya. Mahkota bertatahkan rubi yang menghias rambut Putri Samantha berkilau, memantulkan sinar bulan yang masuk melalui kubah kaca di atas mereka. Sangat indah. Di sekeliling tempat mereka berada juga ternyata ditumbuhi tanaman bunga berwarna putih yang cantik dan serasi dengan keelokan malam itu. Beberapa jenis hewan pun bermunculan seiring dengan masuknya berkas sinar rembulan yang memenuhi ruangan berdinding kaca tersebut.
"Bagaimana menurut anda tempat ini, Pangeran Pertama Alcander?" Samantha bertanya sembari menyilangkan kaki, menampakkan gaun suteranya yang terlihat lembut.
Jean hanya diam dan menatap sang putri penuh amarah. "Paling tidak berikan saya tempat untuk duduk terlebih dahulu sebelum anda bertanya."
"Ah, tentu saja. Aku tidak akan lupa soal itu." Samantha menjentikkan jari lagi, memerintahkan sulur-sulur untuk membentuk sebuah kursi yang dapat diduduki oleh pria tampan di hadapannya. "Sekarang pun tanpa kujelaskan kau pasti sudah paham bagaimana cara kami mengadakan pesta di tengah kekacauan tanah Allegra."
"Ya, anda tidur dengan Raja Alcander untuk memenuhi segala macam kebutuhan dalam kastil." Jean menyunggingkan senyum tak suka. "Padahal bersama saya, anda bisa menyelamatkan seluruh lapisan rakyat Allegra dan tidak hanya kaum bangsawan saja. Bukankah bulan lalu saya sudah mengatakan pada anda dan Yang Mulia Raja bahwa saya bisa mengatasi permasalahan ekonomi Allegra, bahkan jika diijinkan saya juga bisa mengatasi permasalahan politik di negeri ini."
"Seharusnya kau mengatakan itu sebelum menikahi Putri Duke Brown!" Samantha berteriak kesal sambil melempar duri-duri raksasa ke sisi kiri wajah Jean menggunakan kekuatannya. "Kau kan bisa menikah denganku saja!"
Jean menghela napas panjang. "Saya sudah berusaha melakukannya, tetapi bahkan dengan posisi Viscount yang saya miliki saat ini, masih sulit bagi saya untuk bisa masuk ke dalam kastil. Jadi bagaimana mungkin saya berani menawarkan diri untuk menjadi menantu Kerajaan Allegra? Saya tidak sebodoh itu, Tuan Putri."
"Iya, aku tahu kau tidak bodoh, Pangeran Jean." Samantha berkilah. "Karena itu aku bersikeras menawarkan diriku. Paling tidak..." wanita itu turun dari singgasananya lalu berjalan ke arah Jean yang tak mengedipkan netranya sedetik pun. "Paling tidak, cukup dengan memberikan penerus bagi Kerajaan Allegra. Bukankah semua keturunan murni Alcander mampu melakukannya?"
"Kenapa tidak minta saja pada Illarion? Bukankah kau sudah pernah tidur dengannya? Kau sudah mendapatkan ilmu pengendalian tumbuhan darinya. Kenapa tidak minta yang lain juga? Sepertinya Pangeran Cantik itu, maksudku Raja Cantik itu begitu menyayangimu sampai rela mewariskan ilmunya itu padamu." Jean akhirnya menggunakan bahasa informal karena sudah tak tahan lagi dengan kelakuan Samantha. "Ah, satu lagi. Apa kau tahu kalau dia juga bisa mengendalikan air dan es. Kau bisa minta yang itu juga. Kemudian kalau hanya memberikan seorang penerus..." Pria itu berpikir sejenak kemudian bertepuk tangan karena menyadari sesuatu. "Jangan-jangan dia tak bisa melakukan yang satu itu?" tebaknya. "Susah juga kalau begitu jadinya. Alcander dan Allegra, keduanya tak akan memiliki pewaris tahta. Lalu bagaimana? Aku kan sudah memiliki seorang istri. Tidak mungkin aku menikah lagi. Aku kan bukan seorang raja. Aku bisa melanggar hukum kalau memenuhi permintaan konyolmu itu." Jean mengakhiri ucapannya dengan tersenyum.
"Sudah selesai bicaranya?" Samantha bertanya. Selama beberapa detik dia berusaha mendengarkan ocehan Jean yang masuk akal, namun seperti berusaha menolak permintaannya secara halus. "Aku sama sekali tak menyangka kalau kau ternyata secerewet ini, Pangeran."
"Aku ini terlahir sebagai pebisnis handal dan bukannya seorang pangeran. Sudah menjadi keahlianku melakukan tawar-menawar dengan pebisnis lainnya." Jean menjelaskan. "Kau sendiri tahu kan, kalau memberi gelar viscount pada orang berpengaruh padaku itu hanyalah omong kosong belaka? Sebenarnya Raja Allegra tidak begitu menyukaiku karena status buronan yang aku sandang, tapi bagaimana pun kalian berdua tak bisa memungkiri bahwa banyak rakyat dan bangsawan Allegra yang mulai tertarik dengan bisnis perkebunanku. Apalagi kalau aku juga bisa meresmikan tambang ilegal, sudah bisa dipastikan kalau kekeringan dan kekurangan bahan makanan akan teratasi melalui transaksi antar negara. Yang aku maksud ini adalah transaksi ekonomi yang sebenarnya, bukan transaksi di atas tempat tidur seperti yang dilakukan Raja Cantik itu."
BRAKK!!!
"Soal itu... aku tak bisa mengatakan tidak kalau sampai Yang Mulia menangis seperti ini." Jean sama sekali tak menolak ketika sang putri memeluknya dalam posisi telentang. Perasaannya saat itu bercampur aduk. Walaupun denyut jantungnya berdebar sangat kencang, Jean masih saja tidak lupa bahwa dia yang sekarang, bukan lagi seorang pangeran terbuang seperti dulu. Seorang wanita telah mengangkat derajatnya melalui prosesi pernikahan dan Jean sangat menghargai pengorbanan wanita tersebut.
"Ini menyedihkan. Sekarang aku hanyalah manusia yang tidak memiliki apapun, Samantha." Jean berusaha membendung air mata sang putri dengan penjelasan yang begitu lembut. Dia pun membalas pelukan yang diterimanya dengan mesra. "Aku tidak pantas berada di sisimu dan kau berhak hidup bersama pria lain yang lebih baik, tetapi bukan Illarion. Aku sangat tidak rela, wanita yang begitu kukagumi sejak lama menikah dengan pria yang sejak lahir sudah ditakdirkan menjadi musuhku."
"Aku juga tidak mau, tapi kerajaan ini sangat membutuhkan seorang pewaris tahta." Samantha kemudian menegakkan tubuhnya dan duduk di pangkuan pria yang dia kasihi. "Ibunda sudah lama meninggal dan ayahanda mulai sakit-sakitan. Aku pun tak bisa duduk di singgasana menggantikan mereka tanpa seorang pendamping. Kalau saja ada orang lain, meskipun itu hanya seorang anak dan bukanlah suami... Aku rasa bisa melalui itu semua dengan baik. Lagipula Raja Alcander sebenarnya tidak mencintaiku. Dia hanya melampiaskannya padaku karena tunangan yang sebelumnya, menghilang tanpa jejak."
"Putri Illiana Damara sebenarnya bukan tunangannya," ucap Jean tegas. "Dia adalah tunangan dari Pangeran Kedua Alcander, yaitu adikku Luce."
"Jadi dia merebutnya dari adikmu?" Samantha bertanya kaget. Air matanya langsung berhenti menetes karena membicarakan Illarion.
Jean mengangguk sembari mengusap sisa air mata yang berlinang di pipi lembut Samantha. "Illarion itu... Sudah seperti duri dalam daging. Sejak kecil kami sudah sering memperebutkan hal-hal sepele seperti perhatian dan kasih sayang seorang ayah." Pria itu tiba-tiba tertawa kecil. "Aku tidak menyangka kalau itu semua tidak akan pernah berakhir sampai salah satu di antara kami mati."
"Apa kalian juga akan memperebutkan aku sampai mati?" Samantha kembali memeluk Jean dengan perasaan penuh rindu. "Aku sangat khawatir waktu kau tiba-tiba saja berhenti mengirimiku surat dan beredar kabar bahwa kau menjadi orang nomor satu paling dicari di Alcander. Aku pikir tidak akan bisa bertemu denganmu lagi, Pangeran Jean. Kemudian kau muncul kembali sebagai suami dari wanita lain. Kau pikir aku bisa dengan mudah menerimanya? Kau tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku saat itu. Aku benar-benar merindukanmu, Tuan Besar St. Claire atau siapapun namamu saat ini."
Jean kembali membalas pelukan sang putri sambil menitikkan air mata. Dia sadar untuk kesekian kali dalam rangkaian hidupnya selalu saja berakhir dengan kemenangan seorang Illarion. "Apa kau pikir aku juga bisa menerima semua ini dengan mudah? Samantha, akan kukatakan satu hal penting padamu." Jean meletakkan kedua tangannya di pipi Samantha dan memandangnya. "Seperti ucapanmu di awal pembicaraan kita tadi, aku bisa memberikanmu seorang pewaris tahta tanpa melakukannya di atas tempat tidur."
"Jadi kau masih tidak mau tidur denganku setelah apa yang kita lakukan sejak tadi?" Entah kenapa Samantha tiba-tiba merasa kesal.
"Aku yang sekarang ini adalah seorang pria yang sudah beristri. Bagaimana mungkin aku tega berkhianat. Kau kan tahu aku bukan orang sepicik itu," kilah Jean.
"Aku tidak mau tahu!" Samantha membentak. "Karena kau sudah mengakuinya tadi, kau harus menghabiskan setidaknya satu malam denganku. Kalau tidak, aku takkan membiarkanmu keluar dari kastil ini dalam keadaan hidup. Kalau aku tak bisa memilikimu, lebih baik kau tidak menjadi milik siapapun meskipun wanita itu adalah istrimu!"
Jean tertawa terbahak-bahak mendengar rengekan Samantha, bahkan sampai sudut matanya mengeluarkan air lagi.
"Kenapa kau tertawa? Apa mempermainkan perasaanku adalah lelucon bagimu?" Wajah Samantha memerah.
"Kau sebegitunya ingin tidur denganku ya, Tuan Putri?" Jean mendorong tubuh Samantha hingga jatuh dalam posisi telentang. Kedua tangannya mencengkeram lengan wanita tersebut dengan sangat erat. "Baiklah kalau itu maumu. Ini adalah tawaran terbaikku malam ini. Aku akan membuang sisi manusia dalam diriku sehingga kau akan menjadi wanita pertama yang akan tidur dengan tubuh baruku." Pria itu tersenyum lebar penuh kepuasaan. Sudah sejak lama dia menantikan malam itu sejak kontrak barunya dengan sosok iblis yang sekarang bersemayam dalam tubuhnya.
Tanpa menunggu lebih lama, iris mata Jean berubah merah seperti kontrak pertamanya dengan phoenix dulu. Secara perlahan muncul sepasang tanduk di antara helaian rambut hitamnya. Kemudian tiba-tiba, tiga pasang sayap gagak merangsek keluar dari dalam punggung pria tersebut, merobek dengan kasar setelan pakaian mewah yang dikenakannya.
Samantha yang terkejut melihat secara langsung transformasi tubuh Jean di hadapannya bertanya penuh rasa takut, "Apa yang terjadi padamu, Pangeran Jean?"
"Ini adalah kontrak keduaku dengan iblis yang menjaga wilayah Allegra," jawab Jean dengan suara berat. Aura di sekitarnya berubah menjadi sedingin es. "Tidak banyak orang yang bisa berhubungan langsung dengannya, tapi Reuven... Dia yang menemuiku terlebih dahulu dan meminta tolong. Kau tahu apa yang dia katakan padaku, Tuan Putri?" Jean balik bertanya dan tentu saja Samantha tak bisa menjawab dengan sepatah kata pun dalam keadaan tersudut seperti itu. Pria itu kemudian melanjutkan. "Reuven meminta tolong padaku untuk menyelamatkan Kerajaan Allegra dari Kegelapan yang mulai mendekat. Kau juga pasti tidak tahu bahwa ternyata hubunganmu dengan Illarion saat ini telah membuka celah bagi Kegelapan untuk masuk ke wilayah Allegra. Karena itulah tidak seperti biasanya kerajaan ini dilanda musim kemarau yang ekstrim. Itu hanya awal mula saja. Kalau pada akhirnya nanti kau bersikeras menikah dengan pria itu, Reuven mengatakan dia tidak akan bisa menjamin keselamatan semua orang di kerajaan ini, bahkan kau dan juga Yang Mulia Raja."
"Reuven itu..." Belum sempat Samantha mengajukan pertanyaan, Jean sudah membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya yang semerah darah.
***