The Second Throne

The Second Throne
Crimson Sky (11)



...Langit Merah...


..._11th Part_...


"Nyonya Viscountess, anda sebaiknya istirahat. Ini sudah hampir jam makan siang. Anda harus segera kembali ke kastil." Silvia mengingatkan Aby yang terlihat kelelahan karena terus berdiri mengawasi para pekerja sejak tadi.


"Sebentar lagi, Silvia!" Aby menyahut. Gaun indahnya terlihat kusam dibasahi peluh. Wajahnya berkerut tak tenang sementara kakinya hampir setiap lima menit sekali berjalan mondar-mandir. "Harus ada pengadaan pupuk dalam dua hari ini, sedangkan Tuan Viscount belum juga bangun. Haruskah aku minta Ellgar untuk memalsukan dokumen lagi agar pengiriman barangnya lancar?" Wanita itu menggeleng dalam gumaman. Dia menggigit jari. "Kalau saja tidak ada serangan dari monster, tidak mungkin akses keluar-masuk ibukota sampai ditutup begini."


...Apa kau tidak terlalu memaksakan diri, Nyonya Viscountess?...


Aby terkejut ketika mendengar suara teriakan seorang pria. Seperti bisikan, wanita itu berusaha mempercayai apa yang dia inginkan kemudian menoleh. Jauh di atas bukit kecil yang melindungi lahan perkebunan milik keluarganya, berdiri sosok yang dia kenal. Pria tinggi dengan rambut hitam dan iris mata berwarna biru. Pakaiannya rapi dengan tongkat gelar digunakan sebagai alat bantu berjalan. Tidak salah lagi, pria tersebut adalah suaminya, Viscount Clarke alias Jean St. Claire sang Pangeran Pertama Alcander.


Tanpa menunggu lebih lama, Aby berlari menaiki bukit kecil tersebut dengan menjinjing rok besarnya. Silvia bahkan tidak bisa mengikuti langkah kaki majikannya itu karena terlalu cepat dan terlalu bahagia. Air mata Aby tertinggal di antara hembusan angin musim panas yang melewati tubuh rampingnya. "Jean!" Panggilnya sambil memeluk tubuh Jean yang berdiri tegap di hadapannya. "Jean, suamiku!" Aby memanggil lagi dengan tetap menyembunyikan wajahnya di antara kancing baju dan ornamen yang menghias pakaian mewah Jean.


"Kenapa kau diam saja?" Aby melepaskan pelukannya karena Jean sama sekali tak membalas. Dia memandang suaminya lekat-lekat. "Apa kau terkena amnesia? Kau tidak ingat siapa aku? Bukankah kau tadi memanggilku dengan... Jangan-jangan kau juga tidak tahu siapa namaku sebenarnya?" Aby mengusap wajah Jean dengan tangan bergetar. "Kau juga... Kenapa tidak mengenakan topeng lagi? Bagaimana kalau ada yang mengenali wajahmu dan melaporkannya pada Baginda Raja?"


Jean kemudian memegang tangan kanan Aby yang masih menempel di pipinya. "Aku... Hanya terkejut," katanya singkat.


"Terkejut?" Wajah Aby memerah karena Jean kembali memandangnya dengan wajahnya yang sempurna itu.


"Aby... Aku merindukanmu..." Ucap Jean dengan penuh ketulusan. "Entah kenapa begitu membuka mata yang kuingat adalah dirimu. Apa aku sebegitu sukanya padamu, istriku? Aku benar-benar ingin segera menemui dan melihat wajah cantikmu, tapi apa yang kulihat ini?" Pria itu menyerahkan tongkat gelarnya pada Ellgar pria bersurai pirang di sisinya agar dapat membelai pipi Aby. "Kenapa kau tak merawat dirimu selama aku tertidur? Aku merasa bersalah kalau kau sampai melalaikan kesehatanmu karena sibuk menggantikan tugasku. Aku menikahimu bukan untuk itu, Aby."


Jean menggeleng. "Kau yang terbaik yang pernah kumiliki," ujarnya sambil mencium kening Aby dengan lembut. "Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Jean suamiku..." Ungkap Aby. Keduanya pun berakhir dengan adegan ciuman yang membuat semua orang di lahan perkebunan tersebut mengalihkan pandangannya ke sisi lain karena malu.


"Tuan Besar dan Nyonya sangat serasi ya?" komentar Silvia yang berdiri di sisi Ellgar. "Aku tidak menyangka kalau proposal pernikahan mereka akan berakhir sebahagia ini."


"Raja Abraham Aelfar juga dulu begitu pada mendiang Putri Ireene el Idylla, ibunda dari Tuan Besar. Bahkan mereka berdua menjadi panutan romansa yang sangat terkenal di Alcander waktu itu. Namun setelah menikahi Ratu Dmitria, dia bahkan tega membunuh istri pertamanya tersebut dan anak-anaknya sendiri hanya demi mempertahankan kekuasaan," sanggah Ellgar. "Setelah bertemu dengan Putri Samantha minggu lalu, aku pikir Tuan Besar juga akan seperti ayahandanya, tapi aku lega ternyata beliau tidak seperti itu. Tidak sia-sia aku bersamanya selama ini. Beliau adalah sosok majikan yang pantas dibanggakan."


"Kau benar-benar mengagumi Tuan Besar, ya?" Silvia menunjuk wajah Ellgar yang tersenyum penuh kemenangan.


***


NOTE:


Ini adalah episode terakhir arc tentang perjalanan bisnis dan cinta Pangeran Jean St. Claire di tanah Allegra.


Nantikan kelanjutan perjalanan tokoh utama kita, Pangeran Lucas Androcles di episode berikutnya.


Terima kasih telah jadi pembaca setia TsT...