The Second Throne

The Second Throne
Servant and The Master (3)



PELAYAN DAN TUANNYA__3rd Part


"Tuan, pestanya akan segera dimulai. Anda sebaiknya mempersiapkan diri sekarang juga," Ellgar menegur Luce yang tertidur di atas dahan pohon setelah Illarion memintanya beristirahat di salah satu ruangan mewah dalam kastil. Tetapi Luce sama sekali enggan pergi ke sana. "Dia sudah terlalu biasa dengan kehidupan sederhana sampai memilih tidur di tempat seperti ini," lirih Ellgar yang duduk bersila, bersandar pada batang pohon yang sama. Tak satupun prajurit dan pelayan lewat di taman mawar tersebut hingga matahari terbenam. Padahal Ellgar sangat lapar, tapi Luce terlalu sulit dibangunkan.


"Pergilah duluan, aku akan menyusul setelah mereka sendiri yang memanggilku nanti," Luce menjawab asal. Tubuhnya menggeliat lemah seperti anak kecil yang manja. Bahkan sampai Ellgar berdiri karena kesal, pemuda itu masih saja bergelayut di dahan pohon.


"Mungkin tidak apa-apa meninggalkan Tuan sebentar saja di taman mawar ini. Tempat ini milik mendiang Yang Mulia Ratu, Tuan Luce pastilah aman berada di sini," ucap Ellgar kemudian. "Beberapa bagian seperti masih tak terawat bahkan hingga Tuan Luce kembali kemari. Seandainya Tuan Jean benar-benar di sini, aku yakin dia akan begitu sedih melihatnya. Tapi Tuan Luce bahkan tidak ingat sama sekali mengenai tempat ini, percuma saja Putra Mahkota mempersiapkan sebuah pertemuan untuk mereka berdua sambil bernostalgia. Tuan Luce mungkin saja tak mengenali wajah kakaknya sendiri." Ellgar menghela napas panjang kemudian meninggalkan Luce seorang diri. "Kalau begitu aku saja yang mencari Tuan Jean dan membawanya kemari."


Beberapa saat kemudian Luce membuka mata dan duduk bersandar di tempatnya berada sekarang. Pohon Ash berusia hampir tiga puluh tahun dengan kelopak bunga kuning berguguran diterpa angin. Bulan sabit juga menerangi langit malam yang cerah. Luce tak perlu mempersiapkan apapun untuk bertemu dengan kakaknya seperti Ellgar yang menyamar sebagai Raja-Muda Devian Argus. Dia bahkan menyembunyikan dari Ellgar, rencana pembunuhan yang diperintahkan Penasehat Agung padanya.


Pemuda itu melompat turun dari tempatnya semula berada. Rumput hijau yang terinjak serasa begitu lembab membasahi sepatu miliknya. Pemuda itu mencengkeram pangkal pedang yang terselip di pinggangnya kemudian berlari menuju sisi lain Ruang Jamuan. Dia bersembunyi di balik pilar besar ketika rombongan terakhir baru saja memasuki Ruang Jamuan. Tampak berbeda dengan yang lain, rombongan tersebut mengenakan setelan jas dan mantel kulit berwarna hitam. Tak ada kesan mewah seperti tamu kerajaan lain, namun demikian mereka masih mengenakan pernak-pernik berbahan dasar emas dan perak. Salah satunya mengenakan pin berbentuk bulan sabit dan terlihat sangat berbeda dibanding yang lain. Orang itu adalah pria berumur dua puluh lima tahun dengan tubuh tegap dan wajah bersinar. Rambutnya hitam dan sorot mata birunya, membuat Luce seakan melihat bayangannya sendiri.


"Maaf!" Ellgar menundukkan kepala ketika nyaris bertabrakan dengannya. Dia begitu terburu-buru sampai tak sadar bahwa orang yang dicarinya telah berdiri di hadapannya. Pria itu menatap dalam pada kedua mata biru di depannya, persis seperti milik Luce.


"Anda sudah datang, Pangeran Jean?" Illarion tiba-tiba muncul dari dalam Ruang Jamuan dan memecah keheningan. Pria bermata biru membungkuk perlahan kemudian membalas sambutan Putra Mahkota dengan senyuman simpul sampai melupakan Ellgar yang mematung di sisinya.


"Tuan Besar St. Claire," Jean meralat ucapan Illarion dengan nada kesal. "Saya sudah menjadi anggota keluarga St Claire sejak sepuluh tahun yang lalu dan sekarang, berdiri di sini sebagai kepala keluarga bangsawan merupakan sebuah kehormatan bagi saya, Putra Mahkota."


"Bagaimana kalau anda juga menyapa Yang Mulia Argus, Tuan Besar St. Claire?" Illarion mengedipkan mata pada Ellgar yang masih bersusah menguasai suasana canggung di antara mereka bertiga. Namun Jean tidak tinggal diam. Dia menghela napas panjang untuk mengungkapkan sesuatu yang terlalu dini pada kedua pria di hadapannya. Illarion dan Ellgar, keduanya tampak kebingungan saat Jean memegang kepalanya yang mendadak sakit.


Jean membungkuk pada Illarion dan Ellgar kemudian berkata, "Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat bersenang-senang, Putra Mahkota dan Raja Muda..." Pria itu tiba-tiba menatap sinis pada Ellgar sebelum kepergiannya bersama rombongan yang dia bawa. Dalam hatinya berbisik, "Dia pikir dengan memotong rambutnya dan berpakaian seperti itu, bisa membuatku lupa pada orang yang sejak kecil melayani keluarga St. Claire, Ellgar Wagner. Kali ini, kau benar-benar payah. Aku juga sama sekali tak menyangka, kalau Putra Mahkota berniat mempertemukanku dengannya pada saat seperti ini."


"Tuan Besar," pria berambut ungu menghentikan langkah Jean dan rombongannya. "Saya rasa anda bisa saja langsung mengikuti skenario Putra Mahkota tadi. Bukankah sebelumnya Tuan berkata kalau Tuan sangat ingin bertemu dengan Tuan Muda Luce? Beliau mungkin tidak bersama dengan Ellgar Wagner saat ini, tapi sudah bisa dipastikan bahwa setidaknya di mana ada Ellgar di situ pasti ada Tuan Muda Luce."


"Aku tidak peduli dengan semua itu, Terence," ucap Jean memamerkan senyummya. "Meskipun Putra Mahkota berhasil menemukan Luce lebih dulu, tapi aku yakin Luce tak mudah ditundukkan begitu saja. Setengah bagian darinya adalah diriku. Kalau aku mau, bisa saja aku membuatnya berlari menghampiriku sekarang. Tapi aku punya rencanaku sendiri. Sebagai seorang kakak, aku harus membuat Luce melakukan segalanya secara sukarela."


"Terence..." Jean melanjutkan kembali perjalanannya. "Apa kau sudah menyiapkan apa yang kuminta kemarin?"


"Sudah saya persiapkan semua, Tuan Besar," pria berambut ungu berkata. Dia adalah Terence Collin, salah satu anggota bangsawan St. Claire. Matanya kuning berkilat seperti kucing sedangkan tubuhnya tinggi dan ramping. Bisa dibilang, dia jauh kelihatan lebih tinggi daripada Jean. Terence adalah adik sepupu dari kepala keluarga sebelumnya, yaitu Fletcher St. Claire dan semenjak Jean diangkat menggantikannya, Terence pun diberi tugas untuk melayani Jean seumur hidup. "Tapi Tuan, sebenarnya menyerahkan tugas seperti itu pada salah satu orang Gretasha bukanlah pilihan yang tepat. Demi kepingan emas, dia bisa mengkhianati kita kapan saja."


"Kita tetap harus menggunakannya untuk memancing pelaku sebenarnya keluar," ucap Jean. "Aku tak bisa membiarkan orang lain mempengaruhi Luce semakin dalam. Aku harus melindunginya sekali lagi." Kedua mata biru Jean tiba-tiba disilaukan oleh mata logam yang melesat di hadapannya. Sebuah anak panah perak patah menjadi dua ketika Luce menghalaunya dengan api di ujung jemarinya. Jean terperanjat. Tubuhnya sedikit gemetar ketika tahu siapa yang berdiri di depannya saat itu. Tapi Luce sama sekali tak menghiraukan Jean yang nyaris terluka.


Seseorang di balik rimbunnya kanopi pohon terlihat melompat turun dan berlari, membuat Luce berteriak, "Mau lari ke mana kau, Archerias brengsek!"


Pemuda itu kemudian berlari mengejar orang berbaju hitam yang dia lihat. Baginya, anak panah yang baru saja dia hancurkan terlihat tidak asing. Benda yang sama pernah menusuk tubuh Ellgar di Estefania, ketika melindunginya. Luce tidak bisa tinggal diam. Tidak hanya dirinya, seseorang berencana untuk membunuh kakaknya juga. "Kakak, maafkan aku. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk menyapamu," lirih Luce. "Aku harus mengejar orang sialan itu."


*bersambung ke part berikutnya