
KUTUKAN WAKTU_3rd Part
Luce kemudian berjalan melewati lorong berdinding batu dengan penerangan lampu jingga yang remang-remang. Beberapa prajurit dengan zirah yang berkelontang, berjalan di hadapannya ketika tiba di persimpangan. Dia lalu mengikuti prajurit itu sampai di depan sebuah pintu kayu yang berderak keras ketika ditutup. Seorang Acolyte berpakaian kelabu tiba-tiba menjatuhkan nampan logamnya ketika melihat Luce berhenti di hadapannya. "Mata iblis," Acolyte itu berkata.
"Kenapa kau menjatuhkannya?" Luce mengambil nampan yang hampir mengenai kakinya sebelum sadar bahwa sang Acolyte sudah pergi. "Hanya melihat warna mataku saja sudah ketakutan begitu. Bagaimana kalau dia sampai melihat sayap apiku?"
"Ah, bau ini..." Luce mengendus sekitarnya saat mencium aroma kesukaannya dari balik pintu kayu. "Kemarin ketika aku mencoba makanan manusia di desa, tubuhku sudah menolaknya seolah-olah menegaskan bahwa aku memang seorang iblis. Pada saat seperti ini, alangkah baiknya kalau kakak juga ada di sini. Aku bisa meminta darahnya sesuka hatiku." Luce mengelus leher dan perutnya. "Aku sudah terlalu lama menahan rasa haus dan lapar sejak kemarin."
Luce nyaris memutar gagang pintu sebelum menyadari sesuatu dalam benaknya. "Kalau aku masuk sekarang, Terence tidak akan bisa mengorek informasi dari archerias itu besok. Aku harus menahan diri. Meskipun aku yakin dia sedang terbaring lemah di balik pintu ini dengan butiran darah yang masih menetes, aku harus menahan rasa laparku ini. Benar. Jangankan membantu untuk memulihkan lukanya, aku mungkin justru akan membuat dia mati kehabisan darah."
Pemuda itu mengurungkan niatnya dan segera meninggalkan lorong tersebut. Dia kemudian mengikuti prajurit yang berjalan di depannya melewati tangga yang berliku sampai ke puncak benteng.
"Tempat ini benar-benar di luar bayanganku," kata Luce. Dia takjub menyaksikan betapa luasnya pelataran terbuka yang ada di puncak bangunan batu itu. Ribuan prajurit sedang berlatih di sana bersama dengan orang-orang berzirah tebal selevel Ira dan Nicodemus. Bahkan ada yang jauh lebih menyilaukan dari seragam tempur mereka, yakni sosok perempuan berambut cokelat dengan zirah perak kebiruan sedang duduk di ambang pagar batu dengan anggun. Pedang besarnya berkilat tajam ditimpa cahaya rembulan.
"Kenapa anda membawa-bawa nampan kemari?" Nicodemus tiba-tiba berdiri di hadapan Luce dan melenyapkan semua hal indah yang sedang disaksikan olehnya.
"Ah ini, tadi ada seorang Acolyte yang menjatuhkannya di hadapanku," jawab Luce dengan terbata-bata. Kedua matanya masih sibuk mencari tahu dari balik zirah Nicodemus yang menutupinya. "Ke mana dia pergi?"
"Anda mencari siapa?" tanya Nicodemus.
"Tadi ada seorang Holy Knight di sana," Luce menunjuk ambang pagar dengan serius. "Dia seperti orang yang sudah lama kukenal." Pemuda itu sampai membatin, "Sial, perasaan familiar apa itu tadi."
Luce meremas tangannya sampai tak sadar telah meremukkan nampan saking penasarannya. Dia menjatuhkan nampan itu dan membuat bunyi kelontang yang cukup keras untuk menghentikan prajurit di dekatnya berlatih. Terlalu banyak orang yang fokus melihat Luce sebagai orang asing di tempat itu. Iris matanya yang berwarna merah membuat semuanya mundur perlahan. Tubuh Luce seperti mengunci semua memori dalam otaknya ketika dia berusaha mengingat sesuatu yang terjadi pada masa lalu.
"Anda tidak apa-apa?" Nicodemus memandang cemas pada Luce yang tiba-tiba sakit kepala. "Di sini hanya ada dua orang Holy Knight, yaitu Tuan Daryan dan Nona Cassandra. Anda pasti salah lihat tadi."
"Aku salah lihat? Apa tadi itu bukan Ira Cassandra?" pikir Luce. "Sepertinya memang bukan dia."
"Anda sebaiknya kembali ke dalam benteng dan beristirahat," pinta Nicodemus sambil membungkuk--memberi hormat. Luce mengangguk tenang dan menurut. Pemuda itu berbalik kemudian berjalan masuk ke sebuah lubang berbentuk persegi di puncak benteng. Dari sana ratusan anak tangga menuju ke bagian dasar benteng hingga ke ruang bawah tanah bermula.
"Nicodemus bilang kau mencariku?" Siluet seseorang muncul di depan Luce yang langsung berdiri dan membalikkan tubuhnya. Seorang gadis dengan tatanan rambut cokelat yang indah--dikepang kemudian disanggul dengan untaian pita berwarna biru yang senada bagian ornamen dari zirah peraknya. Pedang di punggungnya sangat besar dan kelihatan berat. Semakin mendekati Luce, wajah cantiknya pun semakin terlihat. Luce bergerak mundur untuk memberi jalan agar gadis itu bisa menuruni anak tangga dan berdiri sejajar dengannya. Gadis itu tak lebih tinggi dari Luce tapi wajahnya terlihat sedikit lebih dewasa darinya.
"Namaku Iliana Damara, Putri Kerajaan-Tertinggi Axton," gadis itu menjelaskan, tapi Luce tak merespon karena menahan sakit di kepalanya. "Aku adalah putri dari Raja-Tertinggi Eginhard Idylla," lanjutnya dengan tampang mulai kesal. "Aku adalah adik dari Raja-Muda Devian Argus..." Karena sudah tak sabar lagi dengan tatapan kosong Luce, gadis itu mendesah marah dan pergi begitu saja meninggalkan Luce menuju tangga berikutnya.
"Iliana Damara? Sepertinya nama itu tidak asing," Luce masih berkutat pada pikirannya sebelum sadar gadis yang telah membuatnya terpesona menghilang lagi dari hadapannya.
***
...Luce...
Luce mendengar bisikan di telinganya sebelum suara auman keras menggemparkan Benteng Carliste. Para prajurit berlarian menuju ke puncak benteng sedangkan lainnya mengikuti Ira menuju ke bagian dasar bangunan untuk menghadang sesuatu yang sepertinya akan datang beberapa saat kemudian. Kabut tebal bergumul dari arah utara menutupi cahaya rembulan yang tadinya lembut. Semua berubah mencekam ketika sebagian prajurit di puncak menara siap dengan meriam batu dan panah mereka.
"Sesuatu terjadi di luar. Kita harus segera menemukan bocah itu dan mengambil kesempatan ini untuk pergi dari sini," Eleanor berkata pada Terence tak jauh dari tempat Luce tergeletak saat ini.
"Tapi kita belum bertanya apapun pada archerias itu soal panah peraknya," Terence membantah. "Tujuan kita ke Eranth bukannya untuk itu."
"Terence... Eleanor..," Luce berkata lirih. Sekujur tubuhnya lemah dan tak bisa digerakkan. Beberapa saat yang lalu dia sedang mencari gadis dengan zirah perak bernama Illiana hampir ke semua lorong yang ada dalam benteng. Namun karena terlalu lelah, pemuda itu tersandung kakinya sendiri dan berakhir tersungkur ke lantai batu. Tak ada siapapun yang bisa menolongnya saat itu. Suara Terence dan Eleanor yang dia dengar barusan hanya karena kedua telinganya tiba-tiba peka terhadap semua bunyi di sekitarnya, bahkan hingga ratusan meter jauhnya. Terence dan Eleanor bahkan tidak tahu di mana Luce berada sekarang.
...Luce...
"Suara itu terdengar lagi," pikir Luce. "Kalau aku sampai kehilangan kesadaran sekarang mungkin aku akan terbangun dalam wujud iblisku dan melukai semua orang."
Pemuda itu berusaha bangkit menggunakan siku dan lututnya sebagai tumpuan. "Aku harus bangun sekarang," katanya ketika suara auman yang memekakkan telinga kembali terdengar. Suara dentuman meriam batu mulai berjatuhan dan menggetarkan dinding batu di sekitar Luce. Butiran pasir berjatuhan dari langit-langit selama perjalanan Luce mencari Illiana. Dia benar-benar tak bisa berhenti sebelum rasa penasarannya terpuaskan. "Siapa gadis itu sebenarnya?"
...LUCE!...
***