
PELAYAN DAN TUANNYA__6st Part
"Tuan Besar, sebaiknya anda beristirahat. Sejak semalam anda belum tidur. Biarkan saya yang menggantikan anda menjaga Tuan Muda," Terence berkata dengan tenang selama berdiri di hadapan Jean yang terus memainkan tuts piano di sisi Luce sejak semalam. Sudah hampir setengah hari, pria berambut hitam itu tak melonggarkan penjagaannya dari Luce yang sedang tertidur lelap. Semalam, salah satu bawahannya membawa pulang Luce yang dalam keadaan tak sadar. Suhu tubuhnya sangat tinggi dan dari hasil pemeriksaan medis, adiknya tersebut terkena demam. Tapi walaupun dunia semakin modern, Jean tahu bahwa demam yang diderita adiknya bukanlah demam biasa karena dia pernah mengalami hal yang sama sepuluh tahun lalu. Karena itu, Jean tak bisa meninggalkannya sendirian.
"Kalau dia terbangun nanti, apa kau bisa mengatasinya?" Jean menghentikan permainan pianonya tiba-tiba. Jemarinya hampir melepuh tanpa dia sadari dan kantong hitam di bawah matanya terlihat semakin jelas. "Dulu saat aku mengalami hal seperti ini, Paman Fletcher selalu menemaniku. Dia tahu harus berbuat apa untuk menekan kekuatan Phoenix agar tidak bangkit pada usiaku yang keenam belas tahun. Sampai sekarang, kekuatan itu benar-benar tidak bangkit dari alam bawah sadarku. Tapi Luce berbeda. Sejak kecil dia sudah terbiasa dengan kekuatannya. Bahkan di Alcander, semua orang tahu dia adalah monster dan mereka jadi ketakutan karena hal itu. Karena itu Luce diasingkan ke sebuah mansion di tengah hutan bersama dengan ibunda. Lalu tanpa ibunda, perlakuan mereka terhadapku di kastil pun berubah."
"Maafkan saya, Tuan Besar. Bukan maksud saya untuk mengingatkan anda akan hal itu. Saya hanya ingin mengatakan pada anda untuk menjaga kesehatan sampai saatnya nanti tiba. Untuk sekarang ini, kalau Tuan butuh sesuatu, Tuan bisa mengandalkan saya. Saya akan menunggu di luar pintu ruangan ini," ucap Terence sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya seorang gadis yang menunggu Terence di ambang pintu. Gadis itu mengenakan gaun terusan berwarna krim dengan pita manis menghias rambut cokelatnya. Namanya Eleanor St. Claire. Kedua matanya berwarna kelabu persis seperti warna mata kebanyakan penduduk Gretasha. "Apa dia masih belum sadar?"
Terence menggeleng dan menempelkan telunjuknya di depan bibir. Gadis itu sangat tahu persis apa maksudnya sampai mereka berdua berjalan agak jauh dari depan pintu yang baru saja ditutup oleh Terence. Sementara itu, Jean yang masih saja merasa bersalah karena peristiwa semalam, melanjutkan permainan pianonya meski seluruh jemarinya mati rasa. Lantunan merdunya yang memenuhi isi ruangan bergaung sampai ke dalam pikiran Luce yang sedang melayang. Dia mendengar suara Jean memanggil dari kejauhan hingga kesadarannya kembali ke tempat semula. Luce membuka kedua matanya yang berwarna merah. Perubahan dalam semalam yang membuat Jean khawatir sampai tak bisa tidur.
"Tempat ini..." Luce memandang langit siang dari jendela kaca yang sedikit terbuka di sisi ranjangnya. Angin sejuk kemudian memaksa masuk meniup kelopak kering bunga mawar yang ada di atas nakas. Tertata rapi dalam beberapa vas dengan tumpukan buku dan sepasang kacamata berantai yang dibiarkan berdebu. Luce kemudian menelisir seluruh isi ruangan dan menemukan Jean yang masih larut dalam permainan pianonya. "Melodi milik ibunda," lirih Luce sambil memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Tangan kanannya berusaha menggapai punggung Jean dari belakang, sedangkan kakinya berjalan tertatih mengimbangi tubuhnya yang lemah. Luce memeluk Jean beberapa detik kemudian, membuat air mata pria tersebut jatuh tiba-tiba.
"Aku merindukanmu, Kak," ucap Luce lemah. Jean membelai lembut rambut adiknya tersebut sambil menyeka air matanya. "Aku juga merindukanmu, adik kecil," katanya.
*bersambung ke part berikutnya
***NOTE from AUTHOR
Lagi-lagi kurang dari seribu kata. Yah, apa boleh buat. Author harus menyiapkan ekstra chapter untuk memperjelas karakter yang sudah keluar dari chapter sebelumnya.
Ada banyak sekali tokoh laki-laki di novel ini dan semuanya dianugerahi ketampanan yang haqiqie. Walaupun demikian, sampai di part yang sekarang ini, belum satupun heroine yang muncul. So why? Isn't it romance?
Yeah, itu semua akan indah pada waktunya pemirsah reader yang terhormat. Jadi bersabarlah dan nikmati adegan-adegan yang mengedepankan ketampanan mereka di atas segalanya.
Di bawah ini ada 3 karakter utama yang sudah sering muncul di part sebelumnya dengan gelar mereka masing-masing. Harusnya ada ilustrasinya sih, tapi author masih sedang mengusahakan semua itu.
Yang terakhir, semoga kalian semua bahagia dan terhibur dengan kisah perjalanan Luce dalam meraih cita-citanya untuk menjadi Raja-Tertinggi dan mengambil kembali semua hal yang telah direnggut darinya dan keluarganya.
Tapi sebelum itu...
jangan lupa...
KLIK LIKE
KLIK 5 RATE
TINGGALKAN JEJAK DI KOLOM KOMENTAR
Kenapa?
Karena semua itu gratisss... tis...tis... (walaupun harus menyedot sedikit kuota mu 😆😆😆)
Salam hangat,
AUTHOR BREKELE yang bercita-cita ingin menjadi penulis terkenal dengan sedikit modal...
MARTINA KRISTA
__________________________________________
CAST
Main Character****
LUCAS ANDROCLES The Second Prince of Alcander (LUCE)
Luce adalah adik kandung Jean St. Claire yang tumbuh besar di luar kemewahan kastil. Dia bersama pengawal setianya, Ellgar Wagner, bekerja sebagai pemimpin kelompok bandit terkenal di ibukota. Luce kembali ke kehidupan masa kecilnya setelah bertemu dengan seorang kepala prajurit dari kerajaan Axton, yang tengah memburunya.
Lucas Androcles adalah nama yang diberikan Raja Abraham Hamlet kepada Luce. Sebagai hadiah ulang tahunnya yang keenam, dia juga menerima gelar Pangeran Kedua dari Kerajaan Alcander dan mewarisi kekuatan Phoenix dari mendiang ibundanya yang tersegel dalam sebuah pedang. Sepuluh tahun kemudian, kekuatan tersebut bangkit dan mengancam keberadaan Illarion sang pewaris tahta.
JEAN St. (SAINT) CLAIRE The First Prince of Alcander and Head-Duke of St. Claire
Jean St. Claire adalah putra sulung mendiang Ratu Irenee el Idylla dengan Raja Abraham Hamlet. Setelah era bangsawan St. Claire berakhir dalam Peristiwa Grissham, dia beserta seluruh keluarga besarnya, termasuk sang ibunda diasingkan ke belantara hutan yang terletak di perbatasan utara kerajaan Alcander. Dan semenjak Pengeran Illarion dianugerahi gelar Putra Mahkota, Jean berniat mengambil alih tahta tersebut dengan memanfaatkan adik kandungnya sendiri.
ILLARION DE ALCANDER The Crown Prince of Alcander
Illarion de Alcander adalah putra tunggal Raja Abraham Hamlet dengan Ratu Dimitria — yang semula adalah selir kerajaan tanpa kasta. Sejak berakhirnya Peristiwa Grissham, secara resmi dia menerima gelar Putra Mahkota dari sang raja pada usianya yang keenambelas tahun. Kemudian selama sepuluh tahun, Illarion bersama pamannya, Evandra Hamlet, berusaha mencari Lucas Androcles dan menjadikannya sekutu untuk melenyapkan kepala keluarga St. Claire yang baru.