
PANAH PERAK_9th Part
Terence meregangkan seluruh ototnya yang kaku karena lelah berkuda. Sejak setengah hari yang lalu, dia, Luce, dan Eleanor telah menempuh jalanan setapak di antara padang rumput dan ladang gandum sejauh puluhan kilometer. Sementara Luce, dengan tatapan mata kosongnya seperti terus melamun sepanjang perjalanan. Eleanor yang ada di belakang punggungnya sampai bingung harus memulai percakapan dengan kalimat apa. Gadis itu mulai terlihat mengantuk tak lama kemudian.
"Ngomong-ngomong, sejak kapan kau mengambil kantong uang milikku?" Terence ingat sekali saat melihat Luce melempar sebuah kantong kosong ke wajah pria kekar. "Dan bagaimana caranya kau mengambil kembali kantong uang milik pria payah itu darinya? Kau benar-benar seorang pencuri handal. Bagaimana aku lupa mempertanyakan kisah hidupmu selama sepuluh tahun ini? Kau tinggal di mana dan bersama siapa? Kemampuan bertarungmu juga lebih bagus dari prajurit kerajaan," Terence berceloteh.
"Kelahiran pertamaku adalah di keluarga St. Claire," jawab Luce. "Bersama ibunda dan Paman Fletcher yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri, kami hidup di sebuah mansion di tanah pengasingan, sedangkan kakak hidup mandiri di kastil Alcander bersama bangsawan lainnya. Berbeda dengan kakak yang selalu mendapat latihan militer seperti pangeran pada umumnya, aku hanya sibuk dengan buku dan piano sepanjang hidupku. Semua itu berbanding terbalik, saat Raja Eginhard menghidupkan aku kembali. Yang Mulia menitipkanku pada gerombolan kriminal di sudut Kota Estefania dan berharap aku bisa dididik menjadi penjahat paling kejam yang pernah ada. Yeah, aku memang tak hidup semewah bangsawan lainnya. Tapi di tempat itu, aku tahu bagaimana caranya menghargai hidup. Selama sepuluh tahun, aku hanya sibuk bersenang-senang bersama mereka. Aku pun bebas melakukan banyak hal, bahkan tidak peduli apakah itu benar ataupun salah, yang terpenting aku bisa menikmati hidup keduaku."
Luce tersenyum cukup ceria ketika menjelaskan kisah singkat hidupnya. Iris matanya yang merah berkilat seindah batu rubi yang ditatahkan pada pangkal pedang miliknya. Eleanor dan Terence langsung merasa tenang karena berhasil membuat Luce terlepas dari lamunannya. Namun tiba-tiba sesuatu mengusik Luce dan membuat pemuda itu menahan langkah kudanya.
"Ada yang sedang mengikuti kita," katanya setelah Terence ikut menghentikan kuda. Luce kemudian berteriak, "Siapapun yang sedang mengikuti kami bertiga, keluarlah! Kami tidak akan menyakiti kalian kalau kalian mau mengatakan maksud dan tujuan kalian secara baik-baik."
Seorang pria berpakaian serba hitam melompat turun dari salah satu dahan pohon di sisi jalan. Wajahnya tertutup kain tipis yang juga berwarna hitam. Mata dan rambut pendeknya berwarna kelabu. Dia tak membawa pedang ataupun belati, juga tidak terlihat seperti orang yang berbahaya. Tetapi ada sebuah busur dan kantong anak panah berwarna perak di punggungnya. Pria itu langsung ambruk di hadapan Luce yang turun dari kudanya.
"Kau baik-baik saja?" Terence yang juga menghampiri pria itu berkata panik. Rupanya pria itu terluka cukup parah di bagian punggungnya, seperti bekas goresan pedang yang cukup dalam. Darah merah mengucur deras membasahi pakaiannya dan juga tangan Luce yang baru saja menyentuhnya. Luce langsung berdiri karena ingat bahwa dia belum makan apapun sejak kemarin selain darah Jean. "Kita harus menyelamatkannya," pinta Terence.
"Menyelamatkannya di tempat seperti ini?" Eleanor menolak secara halus. "Kita bisa tertangkap sebelum berhasil menyembuhkannya."
"Tapi sepertinya dia adalah orang yang kita cari," tukas Terence. Dia melihat simbol pentagram pada salah satu ukiran di busur pria berbaju hitam. "Bagaimana ini?" Terence memandang harap pada Luce yang entah kenapa mundur secara perlahan. Mata merahnya bercahaya dan guratan berwarna hitam muncul perlahan pada bagian leher Luce. Terence kemudian berpaling pada Eleanor yang tampak kebingungan.
"Benteng Carliste..." Pria berbaju hitam berkata terbata-bata. "Tolong antarkan aku ke sana."
***
symbol
_Phoenix_
*Burung berselimut api yang melambangkan keabadian.
Memiliki kemampuan untuk lahir kembali dari abu yang membakar tubuhnya sendiri.
Air matanya dipercaya mempu menyembuhkan luka apapun.
Sementara cengkeraman cakarnya mampu mengangkat beban hingga sepuluh kali berat tubuhnya.
Phoenix adalah hewan yang setia.
Dia hanya memenuhi panggilan dari manusia berhati suci yang benar-benar membutuhkan pertolongannya.
Axton menggunakan simbol burung api ini sebagai bendera kerajaan mereka.
Secara turun-temurun, leluhur mereka mewariskan kekuatan Phoenix kepada putra-putri mereka yang terpilih.
mereka melayani Phoenix dengan setia
demi keabadian Kerajaan Axton.
Raja-Tertinggi Eginhard Idylla merupakan pemilik sah dari kekuatan ini sebelum dia mewariskan pada adik perempuannya, Putri Ireene el Idylla, demi menundukkan Alcander dalam kuasa Kerajaan Axton*.
NOTE from AUTHOR
Mereka bilang aku adalah calon Raja-Tertinggi di masa depan. Memimpin sebuah kerajaan besar dengan banyak wilayah-bagian yang bahkan tak pernah kujelajahi satu persatu. Axton, kerajaan yang melahirkan generasi bermata biru yang mampu mengusai sihir apapun bahkan melawan kegelapan yang terus mendesak dunia manusia...
Semua seperti telah direncanakan. Lebih tepatnya, ada seseorang yang telah merencanakan semua perjalanan hidupku dan dia bukanlah Tuhan. Bagaimana mungkin seorang anak berkekuatan iblis sepertiku dapat memimpin kerajaan terbesar dalam sejarah umat manusia...
Mungkin saja akan ada sekumpulan orang dalam jumlah besar yang tidak menyukai semua itu. Bagaimana mungkin seseorang yang sudah dicap sebagai pengkhianat sepertiku bisa duduk dengan penuh kharisma di atas tahta yang tak seharusnya menjadi milikku...
Hanya bermodalkan kekuatan Phoenix yang diwariskan oleh mendiang ibundaku. Tapi bagaimana jika kekuatan itu ternyata bukan milik Kerajaan Axton?
Gelombang besar kegelapan datang mendekat dan berusaha mengambil kembali kekuatan itu dari dalam diriku. Ternyata, aku memang hanyalah iblis yang hanya bisa merusak segalanya. Hidupku sudah tak ada artinya lagi. Hidupku... Haruskah aku mengakhirinya saat ini juga...
Siapa saja yang bisa mendengarkan isi hatiku...
Tolong....
Spoiler untuk kisah berikutnya, The Second Throne, akan tampil dengan judul chapter yang baru, dengan memperkenalkan wilayah lain dari Axton bagian utara. Sebuah benteng yang dibangun untuk melindungi umat manusia dari kegelapan dunia bawah. Selain itu, akan ada beberapa tokoh baru yang akan muncul dari masa lalu Luce dan akan menjadi rekan di masa depannya. Akan diceritakan pula pertempuran pertama Luce melawan sosok-sosok yang menginginkan kembalinya kekuatan Phoenix ke asalnya.
Semua itu akan author rangkum dengan rangkaian kata indah yang akan membuat kalian semakin hanyut dalam petualangan Luce dan teman-temannya untuk menemukan kebenaran dan memperluas wilayah kekuasaan Axton sebagai calon Raja-Tertinggi.
Terima kasih...
Sampai ketemu di chapter berikutnya...
Stay tune
Klik like
Klik favorite
Klik 5 rate dan
tinggalkan jejak di kolom komentar...