The Second Throne

The Second Throne
Curse of Time (1)



KUTUKAN WAKTU_1st Part



Secercah cahaya muncul di antara rimbunnya Hutan Terlarang. Semak dan belukar yang basah pun menjadi semakin kering ketika udara dan kabut lembab perlahan menghilang. Tak hanya itu, aliran sungai semakin tenang, mendekati ujung hilir yang menyempit. Begitu keluar dari tempat gelap tersebut, padang rumput yang luas terbentang indah. Begitu lapang dan hanya satu yang merusak pemandangan. Di hadapan Illarion dan orang kepercayaannya saat ini, berdiri sosok Devian Argus yang Agung dengan seratus prajurit bersenjatanya.


"Aku pikir kau menghadangku dari arah barat," ucap Illarion tanpa turun dari kudanya. Tak seperti Devian, dia hanya membawa beberapa puluh orang misterius yang tak terlihat wajahnya. Hanya Evan dan Regulus yang dapat dikenali oleh semuanya.


"Mana mungkin aku sebodoh itu, Putra Mahkota," sahut Devian memamerkan seringai menantangnya. "Tujuanmu adalah menangkap kembali Pangeran Lucas, jadi tidak mungkin aku mendatangimu dari arah yang salah."


"Jadi tujuanmu adalah mencegahku untuk menangkapnya?" tanya Illarion.


Devian tak menjawab. Surainya yang keemasan tertiup angin panas yang datang dari teriknya matahari. Semakin siang dan semua orang sudah mulai berkeringat karena terlalu lama melakukan pemanasan. Pria haus darah itu, sudah tak sabar untuk menebas leher musuhnya. Tanpa basa-basi dia menghunus katana-nya yang setipis lempeng baja. "Walaupun dia bersama puluhan magus tak bersenjata dan aku hanya memiliki beberapa orang saja yang berkemampuan sama, setidaknya aku bisa mengulur waktu sampai Pangeran Lucas tiba di Benteng Carliste," lirih Devian.


"Semuanya!" Devian mengangkat katana-nya tinggi-tinggi. "Serang mereka tanpa ampun!" Pria itu menarik tali kekang kudanya kemudian bergerak maju ke depan, mendekati kelompok Illarion yang sudah siap dengan jampi-jampi mereka.


"Tidak mau berbasa-basi rupanya," Illarion mengarahkan tangan kanannya ke depan, menciptakan pusaran dari es yang membentuk rapier, pedang dengan pelindung punggung tangan sedingin salju dan bilah seruncing jarum.


Devian langsung menebas beberapa pria bertopi jerami yang menghalangi pandangannya. Siluet mata birunya hanya fokus pada satu titik, yaitu Illarion. Desing pedang langsung terdengar ketika keduanya mengadu senjata. Begitu keras hingga gendang telinga Devian bergetar. Tangan kanannya juga terayun sangat kencang membelah angin di sekitarnya. Pria itu mulai bersemangat ketika Illarion membalas serangannya hingga keduanya terjatuh dari kuda masing-masing.


"Bagus, dia mulai serius melawanku," Devian tersenyum senang.


Illarion bahkan sampai heran karena pria itu terlihat begitu menikmati pertarungan, tidak seperti dirinya, Evan, bahkan Regulus. Kedua abdinya itu tengah sibuk meladeni Baltazhar sang Guardian yang bertarung hanya dengan sebelah matanya. Jubah merahnya yang berkibar sobek oleh serangan Evan yang membabi buta, sementara Regulus dengan liciknya menggores kaki kuda yang ditunggangi oleh Baltazhar. Pria dengan kain penutup mata kiri itu pun tersungkur. Nyaris kalah dikeroyok dua orang tanpa belas kasihan, dia bertanya, "Apakah kemampuan kalian hanya begini saja?"


Evan melirik Regulus tak tenang. Sebenarnya dari segi kecepatan, Baltazhar jelas kalah telak, tapi Evan mengira kalau pertarungan mereka bertiga saat itu terlalu mudah. Lalu benar saja, Guardian itu mengangkat kembali pedang besarnya untuk menyambar Evan dan Regulus dalam sekali tebas. Dia kemudian berdiri dengan tegap di bawah terik matahari.


"Wahai pencipta langit, tutupilah cahaya matahari yang menyertaiku!" Baltazhar menancapkan pedangnya yang berat ke rumput di sekitar kakinya. "Serta panggillah Voltasiana dan kekuatannya untuk membantuku—mengalahkan mereka semua." Pria itu mencabut pedangnya dan mengarahkan senjata itu ke langit yang tiba-tiba gelap.


"Apa yang terjadi?" Illarion berhenti sejenak memandang perubahan cuaca yang begitu mendadak. Tidak dengan Devian yang terus menghantamnya dengan kecepatan penuh. Rapier milik Illarion nyaris patah karenanya. Putra Mahkota itu mundur beberapa langkah kemudian berlutut dan merapal mantera pelindung sebelum kilat berjatuhan di sekitarnya. Semua pria dengan topi jerami melakukan hal yang sama kecuali Regulus, dia terpental jauh terkena sambaran kuning yang mengejutkan.


"Jenderal!" Evan yang memiliki darah Alcander di tubuhnya memanfaatkan hal yang sama untuk membalas Baltazhar. Dia menyerangnya tepat pada titik vital ketika Devian datang dengan cepat untuk menghadang.


"Kau pikir begitu?" Illarion sama sekali tak gentar meskipun tahu Regulus hampir tak bisa bangkit sempurna seperti sebelumnya. "Hanya satu orang yang jatuh di hadapanmu, tidak bisa menggantikan jumlah prajuritmu yang terluka oleh orang-orangku."


"Tch!" Devian mendesis kesal setelah sadar bahwa setengah dari pasukannya berhasil dilumpuhkan oleh sekelompok magus yang bahkan tak memakai simbol Alcander apapun. "Di mana dia menemukan orang-orang bertopi jerami ini?" bisiknya pada Baltazhar.


"Ratu Alcander yang sekarang adalah pemimpin dari kelompok magus terkenal di Kerajaan Gretasha. Jauh sebelum kegelapan menelan kerajaan tersebut, wanita itu sudah menikahi sang Raja untuk melindungi kelompoknya. Seperti pemimpin magus pada umumnya, beliau juga memiliki kemampuan melihat masa depan secara akurat karena itulah sekarang kelompok magus itu bisa berada di sini melawan kita," Baltazhar menjelaskan. "Sepertinya mereka sudah menyadari soal kelemahan kita."


"Apa kau bilang? Melihat masa depan secara akurat?" Devian nyaris berteriak karena kaget. Meskipun dia seorang raja, tapi pengetahuannya tentang wilayah kekuasaan Axton lebih sedikit dibandingkan para Guardian yang menjaganya. "Apa wanita itu pikir dia dapat melampaui Tuhan hingga bisa mempersiapkan segala sesuatunya sebelum kejadian ini terjadi?"


"Aku tidak boleh kalah begitu saja," Devian membatin. "Pangeran Cantik itu memang tumbuh semakin hebat sekarang, tapi aku lahir lebih dulu darinya dan sudah ikut berperang sejak usiaku empat belas tahun. Menjatuhkanku di sini sama saja menodai nama Kerajaan-Tertinggi Axton."


Langit gelap perlahan memudar tergantikan oleh cahaya matahari yang merangsek masuk di antara gumulan awan. Terlihat sekali padang rumput yang hijau tersebut telah berubah warna menjadi lautan darah, kecuali sungai yang mengalir di sisi barat tempat Illarion dan yang lain berdiri. Airnya begitu jernih dan tenang sebelum seseorang menciptakan riak di sana. Illarion kali ini yang mengeluarkan segenap kekuatannya. Dia melelehkan pedang esnya dalam sekali tiupan kemudian menggerakkan air sungai setinggi pepohonan, membentuk dinding transparan.


"Aku harus melindungi semuanya," Devian membuat tabir pelindung dari udara di sekitarnya sebelum panah-panah es meluncur keluar dari balik dinding air, mengenai semua prajuritnya satu persatu. Hanya tersisa dua puluh orang anggota pasukan yang dipimpin oleh pria itu. Devian mulai kesal dan melampiaskannya pada Illarion dengan terjangan katana-nya yang secepat kilat.


"Yang Mulia!" Evan berlutut di sekitar Illarion yang tak sempat merapal sihir untuk mengeluarkan kembali rapier esnya. Pria berambut perak itu jatuh di atas rumput dengan banyak luka gores yang berdarah. Sementara Devian terus berlari dan menebaskan katananya ke semua pria bertopi jerami dengan kecepatan penuh dan tanpa ampun. Tak ada yang mampu melihat pergerakan kaki dan tangan Sang Raja-Muda itu. Begitu takutnya, satu persatu dari mereka tak ada yang sempat melindungi diri dengan apapun. Hanya Evan, yang sengaja tak disentuh oleh Devian.


"Aku bahkan tak melihat kapan dia bergerak melewatiku," Evan menelan ludahnya sendiri dan berlutut di sisi Illarion. Pedangnya jatuh berkelontang seiring melemahnya pasukan magus yang dia pimpin.


"Maaf aku tak bisa melukaimu," ucap Devian pada Evan setelah kembali ke sisi Baltazhar dengan anggunnya. "Kau adalah adik bungsu Raja Abraham. Tidak seperti mereka yang memiliki darah magus dari Gretasha. Kau seharusnya tahu alasan kami tak menyelamatkan wilayah itu dari Kegelapan."


Evan tak mampu berkata lagi. Dia terus memandang Devian penuh penyesalan. Puluhan tahun berlalu sejak usianya hampir sebaya dengan pria bersurai emas di hadapannya. Kalau saja dia mempercayai dengan sungguh-sungguh berita yang mengabarkan tentang betapa mengerikannya sosok Devian di medan perang. Kalau saja dia mampu mengikuti jejak kakak keduanya, Fletcher St. Claire yang gugur membela kebenaran. Kalau saja dia berani mengucapkan sesuatu untuk mencegah Raja Abraham berbuat kesalahan.


"Baiklah, semuanya!" Devian menyarungkan kembali katana-nya. "Sudah cukup kita meladeni mereka. Sekarang biarkan mereka kembali ke Alcander untuk mengetahui apa yang terjadi di kerajaan mereka selama sibuk bertarung dan menghabiskan waktu di sini."


"Apa yang terjadi di Alcander?" Evan langsung bertanya dengan tubuh Illarion yang terbaring di pangkuannya.


Devian menyibakkan rambut emasnya yang basah oleh peluh sembari mengulas senyum penuh kemenangan. "Aku mempersiapkan hadiah istimewa untuk Putra Mahkota sebagai ganti ketidakhadiranku pada pesta ulang tahunnya kemarin. Terima kasih karena telah menemaniku bersenang-senang dengan katana-ku hari ini." Devian berpaling pada Illarion yang tak berdaya, "Semoga kau menyukai hadiah dariku, Pangeran Cantik."


***