The Second Throne

The Second Throne
Crimson Sky (5)



...Langit Merah...


...5th Part...


Setahun kemudian...


Alsterville dilanda musim panas yang sangat panjang. Semenjak Jean, sang Pangeran Pertama Alcander memutuskan tinggal di sana, itu pertama kali baginya merasakan suhu udara yang melampaui tubuh manusia. Penduduk yang nekad beraktivitas di luar ruangan dipastikan mengalami dehidrasi akut. Tumbuhan dan hewan pun merasakan dampak yang sama. Lahan pertanian yang menjadi andalan untuk produksi pangan sudah hampir tak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Banyak balita yang menderita kurang gizi dan orang dewasa yang mati kelaparan. Tak hanya itu, beberapa keluarga bangsawan bahkan mulai mengungsi ke Kerajaan-Tertinggi Axton di mana hidup mereka lebih terjamin.


Berbeda dengan Jean, yang memilih tetap bertahan dalam kondisi ekstrim tersebut. Satu-satunya alasan yang membuatnya tetap tinggal di ibukota Allegra tersebut adalah upacara pernikahannya yang baru saja selesai dilaksanakan. Meskipun tanpa resepsi dan hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat terdekat, pria itu sudah cukup puas karena berhasil meminang pujaan hatinya.


Abigail, putri sulung Ferdinand Brown yang merupakan orang kepercayaan Raja Herion Cavendish dari Kerajaan Alsterville dan satu-satunya orang dengan kekuasaan yang hampir setara raja di wilayah tersebut, telah sah menjadi istri Oliver Clarke yang merupakan nama samaran Jean selama berada di negeri itu.


"Kenapa susah sekali!" Jean mendengus kesal. Dia sedang berusaha melepas kaitan bros yang menghiasi kerah pakaiannya. "Kencang sekali sampai mencekik leherku," batinnya sambil memandang seorang wanita yang sedang duduk memperhatikan dari balik cermin di hadapannya. Sangat anggun dalam balutan busana pengantin berwarna biru, membuat jantung Jean tak tahan untuk berdegup kencang. "Aku sampai lupa kalau dia ada di sini."


Jean menghela napas panjang. "Istriku..." panggilnya, membuat sang wanita, yang tak lain adalah Abigail Brown nyaris tersedak karena kaget. "Bisakah kau bantu aku dengan pakaian ini?" tambahnya lagi sembari membalikkan badan. Jean dengan pakaian resmi seorang menantu duke --- yang akan menjadi penerus tahta bangsawan Brown --- tersenyum paksa. "Aku tidak pernah mengenakan pakaian resmi tanpa bantuan pelayan, tapi bukan berarti aku menganggapmu seorang pelayan. Aku hanya kesulitan..."


"Kenapa tidak bilang dari tadi?" Aby memotong ucapan Jean yang terbata-bata. Dia menjatuhkan buket bunga dari genggamannya kemudian mendekat dan membantu Jean melepaskan bros, bahkan jas dan juga kemejanya. "Lain kali kalau kau kesulitan, tinggal bilang saja padaku. Aku... dengan senang hati akan membantumu, suamiku." Aby meletakkan telapak tangannya di dada Jean yang membusung dan dipenuhi bekas luka. "Sudah resmi menjadi suami-istri ya?" Wanita itu larut dalam pikirannya sendiri. "Hari ini aku benar-benar telah menikah dengan pria paling dicari di dataran Axton."


"Luka ini?" Aby bertanya saat Jean berusaha membantunya melepas kain tile dan hiasan bunga dari rambut pirangnya yang dikepang cantik. Dia menyadari sebuah bekas luka yang sangat besar dan dalam, tepat di bagian kulit yang melindungi jantung Jean.


"Aku berterima kasih atas luka ini," jawab Jean dengan tatapan sendu. "Kalau bukan karena luka ini, aku tidak mungkin tiba di Allegra dan bertemu denganmu. Apalagi menikah dengan wanita paling cantik di negeri ini." Pria itu membelai wajah istrinya yang tersenyum. Sekali lagi dia membantu Aby dengan gaun pengantinnya yang merepotkan sambil tetap larut dalam pikiran bodohnya. "Sudah hampir tengah malam, kenapa tidak ada yang datang dan mengganggu? Padahal aku sangat menginginkannya, tapi di sisi lain aku terlalu takut untuk menyentuhnya. Apa aku terlalu memikirkan perasaan Ellgar? Aku bahkan ingin sekali dia datang dan mengganggu kami malam ini, tapi kenapa sejak pagi dia bertingkah seolah tak terjadi apapun?"


"Kau sepertinya terlalu banyak minum, Suamiku." Aby mencengkeram lengan Jean yang dengan kuat memeluknya dari belakang.


"Ini bukan karena minumannya, tetapi karena kau. Biarkan aku seperti ini dulu. Akhir-akhir ini aku sedang banyak pikiran." Jean menarik Aby ke tepi ranjang tanpa melepas pelukannya. Dia bisa mendengar suara debaran dari balik kulit harum yang diciumnya saat itu. Untuk kedua kalinya, memeluk wanita yang tanpa sadar sangat dicintainya, pria itu merasa bahagia. "Aku tidak menyangka akan berakhir denganmu seperti ini. Tadinya kupikir kau akan lebih memilih Ellgar daripada aku. Aku yang sekarang ini... bukan siapa-siapa lagi, bahkan bukan apa-apa pula. Kalau bisa, aku ingin sekali membuang semua masa lalu dan tekadku kemudian hidup sebagai orang biasa bersamamu."


"Huhft..." Aby membuang napasnya yang tertahan setelah Jean melonggarkan pelukannya. "Jangan menyebut-nyebut nama Ellgar lagi. Kau pikir aku akan percaya begitu saja pada ucapanmu barusan?" Wanita itu mencubit kedua pipi Jean yang merona merah. "Bahkan setelah menikah pun, aku masih saja berpikir kalau suatu hari kau akan meninggalkanku dan pergi ke pelukan Putri Mahkota. Bukankah tujuanmu menikahiku adalah untuk itu?"


"Itu sama saja, kan?" Aby tiba-tiba berdiri karena kesal. Raut wajahnya berubah seketika berbanding terbalik dengan lembutnya gaun sutera yang dikenakannya saat itu. "Kau ingin membatalkan rencana pernikahan orang lain di saat kau sudah memiliki istri? Itu konyol Pangeran Pertama! Bisa-bisa Putri Mahkota akan tersentuh dengan tindakanmu dan jatuh cinta padamu. Lalu dengan kekuasaan yang dia punya saat ini, akan menyingkirkanku agar bisa memilikimu seutuhnya."


"Ha ha ha!" Jean tak dapat menahan tawanya menyaksikan wajah Aby yang dipenuhi kekhawatiran. Butiran keringat bahkan terlihat jelas menetes dari kening ke seluruh tubuh istrinya tersebut dan semakin menampakkan lekuk tubuh anggunnya. "Tadinya aku pikir juga begitu, tapi ternyata sampai detik ini tidak ada yang berusaha menyingkirkanmu dari hadapanku." Pria itu menarik Aby jatuh ke atas tubuh Jean yang langsung berbaring di ranjang empuknya. Dia kemudian berguling untuk merubah posisinya menjadi di atas tubuh Aby yang terlihat gemetaran karena marah. "Bahkan sepertinya tidak ada orang yang berani mengganggu malam pernikahan kita."


"Ah, itu... Suamiku, wajahmu terlalu dekat." Aby menggigit bibirnya ketakutan, tapi Jean tidak peduli. Dia berencana untuk menghabiskan sisa waktunya di malam itu untuk menikmati hidup yang sesungguhnya sebagai seorang pria.


***


NOTE


Halo, pembaca setia TsT....


Malam ini author akhirnya up lagi setelah menata pikiran yang semakin sempit...


Sebentar lagi cerita khusus untuk Pangeran Jean de Alcander akan selesai dan akan kembali lagi ke cerita utama.


Jadi, bagi penggemar tokoh sampingan yang jauh lebih terkenal dari tokoh utamanya, tetap stay tune ya....


Bye-bye...


BONUS GAMBAR (nyolong dari pinterest 😍 karena ga sempat gambar sendiri)



Pangeran Jean (Oliver Clarke) istrinya Abygail Brown 😆😆😆