
KACA YANG MENYILAUKAN_3rd Part
"BRAKKKK!" suara jeruji besi didobrak oleh sihir angin secara tiba-tiba. Ellgar berdiri dari bangkunya dan langsung menghunus pedang. Sekelompok orang berpakaian serba hitam dengan kain penutup wajah berwarna senada masuk ke dalam sel tersebut kemudian menyergap pria berambut keemasan itu tanpa basa-basi.
"Hei, apa yang kalian lak..." Belum selesai Ellgar bertanya, salah satu dari mereka menyambar tanda pengenal Ellgar kemudian menghancurkannya menjadi abu. Di saat yang sama Ellgar berteriak kesakitan seolah ada sebilah pedang yang dicabut keluar dari dalam dadanya.
"Jenderal, efek siihirnya sudah lenyap sekarang," pria itu berkata pada yang lain setelah Ellgar terlihat lemah dan tak berdaya dalam genggaman orang-orang misterius itu. Di hadapan mereka, Jean berdiri menggantung dengan beberapa rantai besi yang mulai mengikis kulit pergelangannya. Terlihat beberapa luka luar yang mulai mengering di sekujur tubuhnya.
"Siapa kau?" tanya Jean dengan mata sayu.
"Kau tidak mengingatku?" salah satu pria membuka kain penutup wajahnya. Erich Harbyn sang Kepala Prajurit yang kini mendapatkan kembali gelar militernya sebagai seorang Jenderal di Kerajaan-Tertinggi Axton.
"Kau... Orang yang melihat pria itu memenggal kepala adikku." Jean mengingat dengan jelas wajah Erich yang berdiri di antara lautan darah bersama Eginhard sepuluh tahun lalu. "Untuk apa kau kemari?"
"Untuk apa katamu? Tentu saja untuk membawamu keluar dari sini." Erich mengayunkan pedangnya untuk memotong rantai-rantai di sekitar Jean. "Dengar, aku tahu kau sangat lemah saat ini. Tapi kau harus lari sejauh mungkin meninggalkan Alcander. Aku sudah menyiapkan dua ekor kuda di bekas mansion. Pergilah ke sana lewat lubang kelinci di taman mawar. Aku tidak tahu apa maksud 'lubang kelinci' itu, tapi Yang Mulia memintaku mengatakan itu semua padamu."
"Lubang kelinci? Sudah lebih dari sepuluh tahun, apakah yang seperti itu masih ada?" Jean menahan tawa di antara rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya. Luka terpanah, tercambuk, bahkan bekas pukulan benda tumpul, tapi semua itu tak bisa lagi dia sembuhkan dengan kekuatannya yang tersisa sekarang. Apa boleh buat, Jean sudah bukan 'anak iblis' lagi. "Yang Mulia itu... Apakah Paman Eginhard?"
"Eginhard?" Erich nyaris memukul mulutnya sendiri karena menyebut nama depan seorang Raja-Tertinggi. "Ten... Tentu saja... Kau boleh menyebut nama depannya seperti itu... Dia memang pamanmu."
Senyum Jean makin terlihat saat tahu bahwa masih ada orang yang peduli padanya, bahkan setelah kehilangan sosok-seperti-ayah yang dicintainya. "Paman Fletcher, terima kasih karena kau telah membuat Paman Eginhard selalu mempercayaiku sampai saat ini," lirihnya.
"Lalu bagaimana dengan nasib mereka?" tanya Jean setelah melihat sekelompok orang berpakaian lusuh di belakang pasukan serba hitam. "Mereka juga orang-orangku."
"Tentu saja mereka akan bertarung bersama kami di sini untuk mengulur waktu," jawab Erich. "Kau tidak perlu khawatir. Aku datang bersama pasukan elit terbaik milik Axton. Mereka akan baik-baik saja bersama kami."
"Dan kau..." Erich tiba-tiba menunjuk Ellgar yang mulai kembali menyadari segala hal di sekitarnya. "Kau harus mengawal Pangeran Jean sampai ke Axton apapun yang terjadi."
"Tuan... Jean..." Ellgar menampakkan wajah terkejutnya setelah ingat apa yang telah dilakukannya dengan sihir hipnosis sampai Jean dalam keadaan seperti itu. "Tuan Jean!" teriaknya sambil merangkul Jean yang susah payah berdiri dalam ketegaran. "Ma... Maafkan aku..."
Jean tersenyum memandang Ellgar yang menangis tanpa rasa malu. "Semua sudah berakhir sekarang. Ayo pergi dari sini."
Ellgar mengangguk kemudian memapah Jean keluar dari sel bersama yang lain.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki terdengar beriringan mendekati lorong tempat mereka berada. "Siapa di sana?" Seseorang berteriak marah sambil menyemburkan es dari telapak tangannya. Jean kemudian menahannya dengan api dan membuat dinding lorong lembab itu langsung mengering dalam sekejap. Ruang bawah tanah tersebut mendadak riuh oleh keributan para tahanan yang menempelkan wajah mereka ke jeruji, berusaha mencari tahu apa yang terjadi.
Illarion, Evan, Regulus, dan beberapa prajurit berdiri di tengah lorong menghadang Jean dan kelompoknya. "Jadi ini hadiahnya?" Ilarion terlihat geram sekali padahal dia sempat pingsan sebelumnya setelah kalah melawan Devian.
"Kalian berdua cepatlah pergi dari sini, biar kami yang menghadapi mereka," kata Erich pada Jean yang kemudian mengangguk.
Beberapa saat setelah Jean dan Ellgar pergi melewati lorong lainnya, Erich berbisik pada salah satu bawahannya yang masih mengenakan penutup wajah dengan rapat. "Gunakan sihirmu setelah kuberi aba-aba. Sedangkan yang lain..." Erich mengarahkan bilah pedangnya pada Illarion. "harus mengulur waktu sampai Pangeran Jean berhasil keluar dari tempat ini."
"Maju!" serunya menantang Illarion dan kawan-kawan. Erich berlari melewati es buatan Illarion, menggunakan teknik anti-gravitasi yang dibantu salah satu rekannya. Pria itu berlari di dinding lorong, menginjak semua pintu jeruji hingga terdengar bunyi gemerincing di setiap pijakannya.
"Enyahlah!" Illarion meluncurkan tombak-tombak es di sekitar Erich sebelum dia menggunakan rapier bekunya lagi. Bunyi desing terdengar ketika pedang dingin itu beradu dengan senjata milik Erich. Sebagai seorang kepala prajurit yang tak menguasai teknik sihir apapun, Erich cukup berani melawan 'Pangeran Cantik' itu.
"Mereka sepertinya tak menyadari kalau Yang Mulia Eginhard ada di suatu tempat, di kastil ini dengan rencananya sendiri," Erich membatin saat melompat mundur. Tak memberi kesempatan Illarion untuk merapal mantera, pria itu maju kembali ke hadapan Illarion untuk menyerangnya.
Sementara Evan dan Regulus disibukkan oleh lawan-lawannya yang sangat misterius. Tak tahu apa keahlian prajurit berpakaian serba hitam di sekeliling mereka, keduanya merasa bahwa semua prajurit itu terlihat sama. Kenyataannya, masing-masing dari mereka memiliki keahlian yang berbeda dan kebanyakan dari mereka adalah para asassin yang mengandalkan kecepatan dan kelincahan dalam bertarung. Sama seperti melawan Devian Argus sebelumnya, Evan dan Regulus terlihat kewalahan.
"Aku tidak bisa bertarung dengan bebas di tempat seperti ini," ujar Regulus kesal meskipun dalam hatinya senang mengetahui ada sekelompok orang yang masih peduli pada keselamatan Jean.
"Kalahkan Jenderal brengsek itu!" beberapa tahanan sel berseru sambil memukul-mukul jeruji besi sebelum Regulus menghantamkan pedangnya ke arah jeruji dan membuat mereka langsung terdiam.
"Kita harus memancing mereka keluar, Jenderal," usul Evan yang berada di balik punggung Regulus untuk bertahan. Tangan kanannya sibuk mengayunkan pedang sambil merapal mantera untuk menahan sihir yang menyerang mereka. "Lindungi kami dengan perisaimu, Terrarius Shield!"
"Kalau begini terus, kita bisa kalah telak." Illarion mendekati Evan dan Regulus setelah sadar kalau mereka sudah kelelahan. Napas mereka mulai tersengal-sengal dan jelas sekali tak ada waktu istirahat sejak pertarungan mereka dengan Legiun Seiryuu tadi siang. Hari semakin gelap dan kesempatan bagi Jean untuk kabur semakin besar. Namun tak sampai sedetik kemudian, cahaya menyilaukan datang menyambut teriakan Erich.
"Sekarang!" seru pria itu sambil melompat ke arah kelompoknya yang entah mengapa berkumpul dalam formasi melingkar.
"Kumpulkan cahaya yang ada dalam kegelapan malam. Menyelimuti kami dalam perjalanan. Hilangkan sosok yang ada di hadapan kami dalam sekejap mata. Lighting Move!" seseorang di antara mereka merapal mantera serta membuat Illarion dan kelompoknya menutup mata seketika.
Cahaya tersebut perlahan meredup dan menyisakan ruang kosong di hadapan Illarion dan yang lainnya. "Mereka... menghilang?" Illarion meremas rapier esnya hingga hancur dengan perasaan kecewa. Setelah membuka mata tidak ada yang tahu kemana Erich dan prajurit berpakaian serba hitam itu pergi. Cahaya yang memancar dari mantera sebelumnya, membuat mereka buta sesaat dan melihat segalanya bagai layar putih. "Hari ini aku benar-benar dikalahkan olehnya."
Berlawanan dengan Regulus yang berbisik dalam hatinya setelah melihat kekesalan yang teraut pada wajah pucat Illarion, "Hari ini kita menang, Pangeran Jean."
Sementara itu, Evan langsung sibuk memerintahkan beberapa prajurit untuk membereskan kekacauan yang telah mereka ciptakan. "Cepat bersihkan tempat ini dan pastikan semua sel masih terkunci rapat. Setelah itu, kembalilah ke barak untuk beristirahat dan menerima pengobatan."
"Putra Mahkota, anda juga..." Evan menepuk bahu Illarion setelah sadar bahwa keponakannya tersebut telah larut dalam kemarahan tanpa henti. "Sebaiknya kembali ke kastil dan beristirahat. Biar saya yang melaporkan semuanya pada Raja."
"Tidak perlu." Illarion menarik tangan Evan turun dari bahunya dan melenggang pergi setelah mengatakan, "Biar aku saja yang melapor sekaligus memastikan bahwa ayahanda baik-baik saja."
Regulus menghela napas panjang untuk melepas beban kepenatannya. Dia tahu apa yang dilakukannya selama ini salah, tapi harus ada orang yang memastikan bahwa Kerajaan Alcander tetap berjalan ke arah yang baik, meskipun dia harus mengorbankan perasaan pribadinya sendiri. "Aku ini benar-benar seorang pengkhianat ya," batinnya. "Kalau sampai Putra Mahkota tahu aku berada di pihak Pangeran Jean, dia pasti akan langsung mengeksekusiku."
"Anda baik-baik saja, Jenderal?" Evan mengejutkan Regulus dan membuat pria kekar itu mengangguk-angguk tanpa henti.
***
"Tuan, apakah kita benar-benar akan pergi ke Axton sekarang?" Ellgar bertanya. Kedua tangannya memegang erat tali kekang kuda berwarna hitam yang sedang dia tunggangi. Sementara Jean yang mendapatkan kuda berwarna cokelat sedang memandang kastil Alcander yang sangat dia kagumi sejak kecil untuk terakhir kalinya sebagai seorang Pangeran Pertama.
"Kita akan ke Allegra." Jean memalingkan wajah pada Ellgar yang sontak terkejut.
"Kerajaan itu... Tapi bukankah Raja-Tertinggi meminta kita untuk pergi ke Axton?"
"Tahan dirimu," Jean menggerakkan telapak tangan kanannya ke arah Ellgar. "Raja Eginhard sedang berusaha merahasiakan keberadaan kita dari para prajuritnya dan anggota keluarga St. Claire yang tersisa karena dengan begitu, semua orang akan terselamatkan."
"Untuk selanjutnya, kita akan mengumpulkan kekuatan yang tersisa dengan membangun kembali tanah kelahiranmu," Jean menjelaskan. "Mereka tidak akan menyangka kalau kau berasal dari tempat itu, kan? Hanya kita berdua dan Luce yang tahu soal itu. Aku yakin Paman Eginhard juga tidak akan memberitahu siapapun soal ini."
"Kalau dipikir-pikir lagi, berteman dengan seorang Raja memang sangat menguntungkan," batin Jean. "Pasti Devian yang telah memberitahukan semua ini pada ayahnya. Kalau tidak, bagaimana mungkin seorang Raja-Tertinggi seperti Paman Eginhard sampai turun tangan begini. Bahkan memberitahu mereka soal 'lubang kelinci'."
"Ha ha ha!" Jean tertawa dan membuat Ellgar sedikit ketakutan.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Ellgar.
"Aku tidak apa-apa." Jean langsung menarik tali kekang dan membuat kudanya meringkik keras. "Ayo pergi sebelum mereka menyadari keberadaan kita."
Ellgar mengangguk kemudian mengikuti Jean yang memacu kudanya menuju Ibukota Grissham. Sekali lagi mereka harus menembus semua pertahanan dari prajurit Alcander yang menjaga wilayah tersebut hingga berhasil keluar dari perbatasan.
"Berjalanlah di depanku dan lindungi kepalamu!" Jean berteriak pada Ellgar ketika puluhan prajurit mengejarnya di jalan utama ibukota serta lusinan lainnya yang menghadang mereka berdua di pintu gerbang. "Meledaklah!" Jean meluncurkan apinya ke atap gerbang hingga membuat seluruh dinding batunya pecah berkeping-keping mengenai prajurit yang ada di sekitarnya.
"Apa kita berhasil keluar?" Ellgar bertanya sambil tetap mempertahankan laju kudanya.
"Ya, kita berhasil," jawab Jean dengan perasaan gembira yang meluap-luap. "Sekarang pergi ke arah barat dan jangan menengok lagi ke belakang."
"Baik, Tuanku."
***