
PELAYAN DAN TUANNYA__5th Part
Di tempat yang sama saat ini, Luce berbaring sepuluh tahun yang lalu, tepat pada hari ulang tahunnya yang kelima. Langit yang biru terbentang dari setiap ujung cakrawala. Bersih tanpa awan, sementara padang rumput yang menghijau ditumbuhi semak berbunga warna-warni yang indah. Kedua netra Luce membiru jernih, memandang keajaiban musim semi tahun itu.
"Tuan Muda, Pangeran Jean telah mencari anda ke mana-mana. Ternyata anda di sini," Ellgar mendekat. Usianya masih lima belas tahun, sebaya dengan Jean. Rambut pirangnya yang keemasan dikucir tidak lebih rapi dari setelan lusuh yang dia kenakan. Walaupun tidak selusuh gelandangan, pakaian milik Ellgar tidak boleh lebih bagus atau mahal dari milik Luce karena dia hanya seorang pelayan ingusan. Budak yatim piatu yang baru saja dibeli oleh Fletcher St. Claire dari transaksi ilegal di luar kerajaan.
"Pelankan suaramu, Ellgar," kata Luce sembari memejamkan mata. "Aku sedang tidak ingin mendengar nama pria keras kepala itu saat ini."
"Kita harus cepat kembali, Tuan" kata Ellgar di sela napasnya yang tersengal. "Mereka... Pangeran Jean maksudku... Mereka... Pokoknya kita harus cepat kembali. Kalau saja Tuan Muda tidak kemari, tidak mungkin ada kejadian seperti ini. Karena saya membela anda, Pangeran Jean habis dipukuli oleh anak-anak sombong itu dan," Ellgar menatap kedua tangannya yang tak bisa berhenti gemetar. "Tidak tahu harus berbuat apa. Saya hanyalah seorang pelayan, tak mungkin melawan mereka semuanya. Tolong ampuni saya yang terlalu pengecut ini."
Mendengar semua penjelasan Ellgar, Luce perlahan berdiri. Dia mengulurkan tangan pada pelayannya tersebut sambil berkata, "Kau berbicara seolah kau tak berusaha menolongnya. Dari kelusuhan tubuhmu, semua orang juga pasti tahu kau habis berguling-guling di tanah."
"Ah, bukan seperti itu ceritanya, Tuan Muda," Ellgar menggapai uluran tangan Luce kemudian ikut berlari bersamanya. "Anak-anak bangsawan yang sombong itu sedang menjelek-jelekkan Tuan Muda kemudian karena tidak terima aku memukul salah satunya dan setelah itu mereka menghajarku habis-habisan. Pangeran Jean yang kebetulan lewat saat mencari Tuan Muda, langsung datang menyelamatkanku dan kemudian dia melarangku untuk membantunya. Ah, bodoh-bodoh-bodoh!" Ellgar memukul kepalanya sendiri karena tidak terima dengan ketidakadilan yang baru saja dia terima.
"Kau kenapa memukul dirimu sendiri?" Luce bertanya ketika keduanya tiba di taman mawar. Lima orang anak sedang menginjak-injak tubuh Jean sembari bersenandung ria, "Dasar anak haram... Pangeran buangan... Berani-beraninya menyelundupkan anak monster ke dalam kastil... Sudah begitu, tampang pelayannya juga seperti sampah... Lihat! Karena pergaulanmu yang buruk itu, kau juga jadi terlihat seperti sampah... Iya, kan... Sampah ya sampah saja, mana bisa jadi seorang pangeran..."
Jean sama sekali tak menanggapi semua yang disenandungkan anak-anak tersebut. Dia hanya sibuk melindungi bagian perutnya yang diinjak-injak sedari tadi. Bahkan itu juga tidak lebih baik daripada harga dirinya yang diinjak. Di kastil Alcander yang mewah itu, Jean hanya diperlakukan sebagai parasit oleh teman-teman sebayanya. Karena itulah, Jean selalu melarang adiknya, Luce untuk ikut dengannya dan tinggal di kastil bersama yang lain. Dia hanya tak ingin Luce melihat statusnya sebagai putra pertama kerajaan terabaikan oleh semua orang.
"Dia hanya anak haram dari seorang pelac..." seorang anak tiba-tiba roboh sebelum menyelesaikan perkataannya. "Aku bisa menerima semua hal yang kalian ucapkan!" teriak Jean masih dalam posisi meninju. Entah kapan dia bangkit dari lamunannya selama dihajar tadi. "Tapi jangan pernah mulut kalian yang seperti lubang kotoran itu mengucapkan sesuatu tentang ibundaku. Dasar ******** sial!" Jean memukul anak yang lain satu persatu dengan kekuatan amarahnya sambil berteriak, "Saat ini, kalian boleh menghinaku. Tapi di masa depan, aku akan merebut kembali semua yang kalian ambil dariku dan keluargaku. Adikku bukanlah monster dan Ellgar adalah sahabat terbaikku. Sementara aku, Jean St. Claire adalah putra pertama kerajaan Alcander dan saat itu kalian semua akan bersujud di bawah kakiku untuk memohon ampun atas semua yang kalian lakukan pada kami hari ini. Ingat itu baik-baik!"
Kelima anak tersebut akhirnya terkapar di sekeliling tempat Jean berdiri. Mereka semua terlihat jauh lebih kesakitan daripada saat Jean dipukuli tadi. Luce yang dari tadi tak sabar ingin menolong kakaknya itu, tiba-tiba berlari dan memeluknya. "Kakak maafkan aku. Seharusnya aku tetap diam di mansion dan mendengarkan kakak. Semuanya bermula karena aku kan? Karena aku cuma anak monster," Luce sesenggukan di balik pelukan kakaknya. Sementara Ellgar yang berdiri tak jauh dari keduanya, tak kuasa membendung air mata juga. Mendengar Jean baru saja meneriakkan namanya sebagai seorang sahabat, Ellgar pun menangis tak berdaya.
"Hei kalian, berhentilah menangis sekarang juga," Jean menepuk dahinya karena kesal. Baginya, rasa sakit di sekujur tubuhnya saat itu tak ada artinya dibanding kebahagiaan yang dia peroleh bersama dengan Luce dan Ellgar. "Ikutlah denganku, akan kuantar kalian pulang ke Grissham sebelum ayahanda kembali."
"Putra pertama Alcander, hah?" Luce menertawai kakaknya sepanjang perjalanan di koridor kastil. Bocah itu menjadi anak dengan pakaian terbersih di antara Jean dan Ellgar, serta itu membuatnya lebih bahagia karena tak perlu khawatir akan diomeli oleh paman atau ibundanya setelah sampai di mansion nanti. "Kenapa kakak tak sekalian mengatakan kalau di masa depan nanti kakak yang akan jadi raja? Kakak kan putra pertama, sudah sewajarnya kalau kakak diangkat jadi raja. Aku tak bisa membayangkan wajah mereka saat kakak naik tahta nanti, ha ha."
Jean mengusap lembut rambut hitam Luce kemudian berhenti berjalan. "Di masa depan nanti kakak tetaplah seorang putra pertama. Sedangkan yang akan naik tahta nanti bukanlah kakak, melainkan dirimu, adik kecil."
"Tuan Muda masih berusia lima tahun," sahut Ellgar memamerkan senyum menghiburnya. "Di masa depan nanti Tuan akan tumbuh jauh lebih tinggi daripada Pangeran Jean sampai-sampai Yang Mulia Pangeran nanti tidak akan bisa mengusap rambut Tuan Muda lagi seperti sekarang."
Mendengar keinginan adiknya tersebut, Jean kemudian memeluk Luce dengan penuh kesedihan. Air matanya menetes perlahan di sela raut wajahnya yang penuh dengan ketegaran. "Hari ini adalah ulang tahunmu, kau bisa meminta apapun yang kau mau, kecuali bertemu dengan ayahanda." Jean mengusap air matanya lalu memandang Luce. "Buatlah permohonan apapun sebelum aku dan Ellgar memberikanmu hadiah yang sangat penting. Katakanlah sambil menutup kedua matamu."
"Benarkah? Kalian sudah menyiapkan hadiahnya?" Luce terlonjak saking senangnya. Kedua matanya berbinar dan wajahnya semakin bersemu merah ketika Jean dan Ellgar serentak mengangguk. "Baiklah aku akan menutup mataku dan membuat permohonan."
"Semoga setelah hari ulang tahunku ini, aku bisa hidup bahagia bersama dengan kakak, ibunda, dan juga Paman Fletcher. Ah, dan juga bersama Ellgar. Semoga kami semua bisa hidup dengan bahagia sampai akhir hayat nanti..." Luce membuka sebelah matanya untuk mengintip Jean dan Ellgar yang sibuk mencari hadiah di dalam saku pakaian masing-masing. "Yang terakhir semoga hadiahnya cepat ketemu. Aku tidak sabar ingin melihatnya. Ini pertama kalinya kakak memberikan hadiah padaku sejak pertemuan kami yang pertama saat usiaku masih tiga tahun. Semoga kakak selalu sehat dan semua yang diinginkannya selalu terwujud."
Jean tiba-tiba mencubit pipi Luce. "Mana ada permohonan yang mengharapkan hadiah cepat-cepat seperti itu."
"Sakit, kak," Luce mengusap pipinya sendiri ketika Jean akhirnya berkata, "Tapi kalau kau ingin cepat-cepat sebaiknya kau segera membuka kedua matamu. Selamat ulang tahun, adik kecil."
___________________
Luce membuka kedua matanya dan melihat benda yang sama dengan yang dia lihat saat ini. Sebuah emblem kerajaan dari pahatan batu berbentuk perisai dengan ukiran phoenix dalam genggaman tangan kanannya. Pemuda itu kemudian duduk meringkuk sambil memeluk lututnya. Di keheningan malam yang semakin larut, dalam kesendiriannya tersebut, Luce menangis tak berdaya. "Apa yang harus aku lakukan?" lirihnya. "Aku merindukanmu, Kak. Tapi aku tak bisa menemuimu. Aku tidak tahu apa yang akan diperbuat oleh mereka jika tahu aku telah menemukanmu dan membiarkanmu tetap hidup sampai saat ini. Kakak, tolong selamatkan aku."
*bersambung ke part berikutnya
NOTE from AUTHOR
Cerita berikutnya kembali ke masa sekarang
Stay tune on this story like this:
Klik like
Klik Favorite
Tinggalkan jejak di kolom komentar