The Second Throne

The Second Throne
Crimson Sky (2)



...---Langit Merah---...


...2nd Part...


Suasana mencekam menyelimuti ruang makan di suatu mansion mewah. Sebuah meja panjang dengan enam orang duduk memakan sajian mewah ala bangsawan. Tidak hanya makanan utamanya saja yang terlihat menggiurkan, makanan pembuka dan penutupnya pun tak kalah menggoyang lidah. Jean, sama seperti Luce --- dia suka sekali makanan manis terutama yang berperisa buah. Pria itu makan dengan lahap tanpa membuka topengnya.


"Ellgar sudah menceritakan semua tentang anda, Tuan St. Claire." Ferdinand sang Tuan Besar Brown menyelesaikan makannya dengan menyilangkan sendok dan garpu di atas piring. "Mengenai penyamaran anda di Aelsterville sebagai Oliver Clarke."


Jean berdeham sambil mengelap sisa krim stroberi di mulutnya, membuat sang putri dan Tuan Muda Brown menahan tawa. "Maaf," katanya lugu. Pria itu terlihat gugup sekali berhadapan dengan Abigail, wanita yang sedang dilamarnya hari itu. "Apa aku terlihat lucu bagi kalian?"



Baru kali ini aku melihat Tuan Besar berperilaku seperti ini. Jean St. Claire yang dikenal sebagai pemberontak kejam tanpa ampun dapat meleleh di hadapan seorang gadis... macam Aby?! Ellgar sampai menggeleng.


"Saya memang bisa membantu anda masuk dalam lingkar pergaulan para bangsawan Allegra, tapi cukup sampai di situ. Saya tidak bisa membantu anda untuk melakukan pemberontakan di sini, bahkan kalau bisa... saya yang akan menghentikan anda lebih dahulu sebelum berita ini sampai di telinga Yang Mulia." Ferdinand menambahkan kemudian memberi kode kepada sang istri untuk membawa kedua anaknya keluar dari ruang makan tersebut bersamaan dengan para pelayan yang mulai membereskan sisa makan malam mereka. Bahkan Ellgar pun turut meninggalkan Jean seorang diri bersama Ferdinand.


"Anda sepertinya salah sangka, Tuan Besar. Saya memilih Aelsterville sebagai tempat persinggahan untuk meminta bantuan pada Putri Mahkota yang merupakan teman lama saya," tukas Jean. "Menikahi putri anda adalah cara termudah untuk melakukan semua itu, walaupun saya mengakui bahwa Abigail, putri anda benar-benar membuat saya sampai kehabisan kata-kata." Wajah Jean pria tersebut memerah karena malu.


"Sebenarnya saya tidak ingin membuat Aby terlibat dengan masalah anda terlalu jauh. Aby hanya akan menderita jika dia sampai jatuh cinta padamu, Nak!" Ferdinand memukul meja tak berdaya bahkan sampai kehilangan formalitasnya sebagai kepala keluarga bangsawan. "Kalau bukan karena Fletcher St. Claire, tak mungkin aku menolongmu. Orang itu telah menyelamatkan hidup banyak orang di tempat ini. Bahkan kau sendiri tahu kalau Ellgar bisa hidup bebas karena kebaikan orang itu dan lagi... wajahmu yang tertutup topeng itu benar-benar mirip dengannya. Aku sudah tidak tahan lagi. Jadilah menantuku, tetapi jangan sampai membuat Aby jatuh hati padamu. Hanya itu syarat dariku."


Jean terdiam sejenak berpikir lalu membuka topengnya di hadapan Ferdinand. "Aku berjanji... akan mengikat putrimu dalam cinta yang penuh keputusasaan," ucapnya dalam aura kelam khas Jean. "Kegairahan tanpa henti dan kasih sayang yang penuh tantangan. Aku akan membuat putrimu menjadi wanita paling bahagia yang tidak pernah merindukan suaminya sendiri."


Lagipula... Aku sudah sadar kalau Abigail lebih menyukai Ellgar daripada aku, batin Jean. Bahkan Giovanni, adiknya pun sangat antusias bertemu dengan Ellgar. Apa aku terlalu bodoh karena membiarkan calon istriku jatuh ke dalam pelukan pelayanku? Pria tersebut menggeleng. Pokoknya, aku harus menakhlukkan gadis itu terlebih dahulu seperti aku menakhlukkan Ellgar dan para pengikut setiaku.


***


"Di sini kau rupanya!" Abigail mengejutkan Jean yang sedang berbaring di permukaan rumput taman milik keluarganya ---- membuat Jean membuka mata birunya. "Matamu cantik sekali..."



"Apa kau bilang?" Jean kemudian duduk dan menggaruk rambutnya asal. Dia memandang wanita yang sudah terlebih dahulu duduk di sisinya. "Mataku cantik? Kau pikir aku ini hiasan porselen!"


Aby, panggilan wanita tersebut ---- tersenyum riang mengetahui bahwa calon suaminya ternyata memiliki selera humor yang unik. "Aku bilang matamu itu sangat indah dan wajahmu juga ternyata tampan. Kenapa kau terus menutupinya dengan topeng. Aku tahu kau ini seorang buronan, tapi kenapa kau terus bersembunyi seperti itu? Bukankah itu melelahkan? Bersembunyi sepanjang waktu... bahkan dari ayahmu sendiri."


Hati Jean seperti tertusuk pedang saat itu. Aby seperti sedang berusaha mengujinya dengan kalimat-kalimat buruk yang terdengar indah. Pria tersebut tersenyum miring. "Sebagai seorang putri, ucapanmu itu terdengar kasar sekali ya? Apa keluarga Brown tak mengajarkan bagaimana etika berbicara di depan seorang buronan? Aku bisa saja langsung menghabisi nyawamu karena sakit hati."


Aby memandang Jean dengan tatapan penuh arti. Kedua mata mereka bertemu pada satu titik ketika wanita tersebut menjawab, "Aku ini sedang berbicara tulus pada calon suamiku, lho... dan aku percaya calon suamiku tidak akan menyakitiku."


"Whoah, darimana datangnya rasa kepercayaan dirimu itu?" Jean menghela napas panjang ketika Aby mengembalikan topeng miliknya. Hanya di tempat itu dia bisa berperilaku bebas sebagai Jean St. Claire. Dia kemudian mengenakan kembali topeng tersebut dan berdiri. "Hei, kuperingatkan Nona Bangsawan, hanya karena aku bersikap lunak seperti ini bukan berarti aku tidak berbahaya. Bukankah ayahmu telah menceritakan bahwa aku pernah membakar seluruh isi Kota Grissham beserta semua orang di dalamnya? Aku juga bisa melakukan itu pada keluargamu. Jadi jangan salah paham dan tetap jaga sikapmu itu, Nona Brown."


Aby ikut berdiri menantang Jean yang baru saja berusaha balik menyakiti hatinya. Wanita itu melipat tangannya dengan santai. "Kau pikir aku takut padamu hanya karena kau pernah membakar seluruh isi kota beserta semua orang di dalamnya, wahai Tuan Besar St. Claire yang agung. Kau yang sekarang ini adalah Oliver Clarke. Bagaimana mungkin kau bisa melakukan hal itu pada keluargaku di saat kau sendiri takut untuk menunjukkan wajahmu? Kau itu tak lebih dari seorang bocah yang takut dimarahi oleh ayahnya." Aby menunjuk dada bidang Jean dengan kesal.


Bocah katamu? Kau ini... benar-benar sedang menguji kesabaranku? gumam Jean.


Jatuh cinta? Sorot mata Jean tiba-tiba berubah. Wajahnya yang bersemu merah berubah pucat seperti seorang pesakitan. Kalau dia sudah mengatakan hal yang berkaitan dengan itu.... Pria itu memamerkan seringai paling jahat yang pernah dia miliki. Yeah, memang begitu seharusnya! Bisa dipastikan bahwa wanita ini sudah masuk perangkap yang kubuat! batin Jean penuh kemenangan. Pria itu tiba-tiba mendekap tubuh Aby yang sudah berada cukup dekat dengan dirinya.



"Apa ini? Kenapa kau memelukku?" Aby terlihat panik dan berusaha memberontak. Jelas sekali bahwa Jean melakukan semua itu secara paksa. Wanita tersebut merasa sesak dan sulit bernapas saking eratnya. Jean seperti berusaha meremukkan tulang rusuknya dan itu sangat menyakitkan. "Lepaskan aku atau aku akan berteriak dan memberitahu semuanya bahwa kau adalah seorang pria mes..."


"Jatuh cinta padamu? Kau bercanda, kan?" Jean memotong ucapan Aby dan membuat wanita itu langsung terdiam. "Kau ini hanya bidak untuk mencapai kepuasan hasratku sebagai keturunan Raja-Tertinggi negeri ini. Yang aku incar itu adalah Putri Mahkota, bukan wanita rendahan sepertimu," bisiknya membuat Aby merinding. Jean semakin mempererat pelukannya. "Kalau kau lanjutkan seperti itu terus pun, aku tidak akan tergoda, Sayangku. Mau kau bersikap lembut seperti seorang putri ataupun bersikap kasar seperti seorang pelacur... Kau pikir itu akan membuatku berubah pikiran?" Jean memainkan rambut pirang Aby yang sangat berkilauan.


"Kau hanyalah sebuah bidak," Pria tersebut mengulangi. "Begitu kau tidak berguna, dengan mudah aku bisa menyingkirkanmu... dan juga keluargamu. Aku bersembunyi, hah?" Dia melonggarkan pelukannya. "Kau pikir untuk apa aku bersembunyi? Kalau aku melepas topengku dan berjalan keluar dari mansion ini, kau pasti tahu kan, apa yang akan mereka lakukan padamu dan keluargamu? Hei Nona Bangsawan, aku bahkan tidak perlu mengotori tanganku untuk melakukan semua itu, jadi diamlah dan kunci mulut manismu itu rapat-rapat."


Jean mengusap lembut bibir Aby yang berwarna merah muda dan begitu menggairahkan sementara Aby terlihat ketakutan dengan tubuh rampingnya yang gemetar. "Begitu menjadi bidakku, tugas mulutmu sekarang hanyalah ini." Pria itu tanpa basa-basi mengecup bibir wanita yang masih berada dalam pelukannya tersebut. Semakin lama semakin intens ---- Jean tidak canggung untuk ******* habis mulut Aby padahal wanita itu sudah meneteskan air matanya karena ketakutan.



Pria brengsek ini... Aby berpikir semaunya padahal tubuhnya tak bisa bergerak sedikitpun menjauh dari Jean seolah pria tersebut adalah magnet. Bibirnya terus sibuk meladeni hasrat Jean yang membara sementara kedua tangannya berusaha melepaskan diri dan tak satupun orang yang bisa dimintai pertolongan. Bahkan untuk berteriak pun, Aby tak kuasa.


Di taman yang sengaja dibiarkan sepi tersebut, ternyata Ellgar yang menjadi saksi bisu kekuatan pengaruh dari seorang Jean St. Claire. Sama seperti Aby, dia tidak dapat melakukan apapun ketika Jean telah memantik api dalam dirinya. "Mata birunya bukan mata bangsawan biasa... Meskipun aku memiliki warna mata yang sama, mataku tak bisa kugunakan untuk melihat apalagi memanfaatkan kelemahan orang lain seperti yang Tuan Besar lakukan sekarang," ucap Ellgar sedih. Mengetahui bahwa gadis yang dia cintai selama ini jatuh ke dalam pelukan orang lain yang juga sangat dia hormati. "Andai Tuan Muda Luce juga berada di sini..."


***


NB:


Nah, bagaimana kemampuan author menulis romance? Sudah ada perkembangan? 😅😅


Ikuti terus kisahnya yaa...


Jangan lupa berikan komentar agar author semakin berkembang...


Illustrate by:


*Pinterest


*Return of The Female Knight


*Villainess Reverses The Hourglass


Edited by:


*Medibang Paint 😘😘😘