
KACA YANG MENYILAUKAN__5th Part
-BUUKK-
Aelfar terjengkang ketika seorang gadis tiba-tiba menabraknya tanpa sengaja. Punggungnya terasa sakit walaupun semua itu lenyap ketika memandang netra biru sang gadis yang hanya beberapa senti berada tepat di depan matanya. Gadis itu tampak panik seperti sedang dikejar seseorang hingga rambut hitamnya yang berantakan hampir menutupi wajah tampan Aelfar.
Kemudian tanpa basa-basi Aelfar langsung bangkit dan meraih lengan kanan sang gadis. Pemuda itu menggandengnya ke suatu tempat yang tak terlihat oleh siapapun — sebuah pilar raksasa dengan tanaman mawar yang tumbuh tak terawat di sekitarnya. Sampai beberapa prajurit melewati mereka, Aelfar terus berusaha melindungi sang gadis agar tidak ketahuan. Entah dengan alasan apa, pemuda itu sampai menggunakan sihir tak kasat mata selama beberapa detik.
"Sekarang sudah aman," kata Aelfar bergerak menjauhi gadis yang sempat dipeluknya. "Kau tidak apa-apa?"
"Terima kasih." Gadis itu mengangguk dan sama sekali tak mau memandang Aelfar sampai batinnya tenang. "Ini pertama kalinya seorang pria selain kakak memelukku."
"Namaku Ireene," ucapnya kemudian. "Aku kabur dari kakakku yang berusaha mempertemukanku dengan seorang pria yang tidak ingin aku nikahi. Sebenarnya aku sudah memiliki seseorang yang kusukai dan kami sudah bertunangan, tapi entah kenapa kakak berubah pikiran dan justru ingin menikahkanku dengan pria yang ternyata adalah adik sepupu tunanganku. Bukankah itu menyebalkan sekali? Aku jadi merasa dipermainkan."
"Ah, itu..." Aelfar menggaruk kepala karena memahami situasinya. "Apa kau putri tunggal dari Theodorias La Idylla, mendiang Raja Axton sebelumnya? Lalu nama kakakmu yang kejam itu adalah Eginhard Idylla?"
"Benar..." Ireene terperanjat. "Kau tahu darimana soal itu semua? Kau bahkan menyebut nama-nama Raja Axton seperti memanggil nama orang biasa. Siapa kau sebenarnya? Jangan-jangan kau itu..." Gadis itu langsung mundur beberapa langkah dengan cepat sebelum akhirnya terpeleset serasah basah di bawah kakinya.
"Sebaiknya anda harus lebih memperhatikan diri sendiri mulai sekarang." Aelfar sudah berada dalam posisi yang tidak nyaman dengan status pangerannya sekarang. Dia harus mencari alasan agar sang putri tetap mau berbicara dengannya setelah pelukan kedua dilancarkan. Aelfar dengan sigap menangkap tubuh ramping Ireene dan keduanya nyaris saja berciuman. "Maaf atas kelancangan saya, Tuan Putri."
Ireene melepaskan diri dari pelukan Aelfar setelah posisi tubuhnya kembali stabil. Gaun putih yang dikenakannya terlihat kusut sejak Aelfar berani menyentuhnya dari awal tadi. "Kau memang benar-benar lancang," kata sang putri. Mata birunya yang indah mengingatkan Aelfar pada Fletcher. "Tapi aku harus berterima kasih padamu untuk yang tadi."
Aelfar tersenyum. "Nama saya Aelfar Giselbert, kepala prajurit Alcander. Aku di sini untuk menemani Pangeran Kedua yang ikut serta dalam kompetisi berburu. Tapi karena beliau baik hati, saya diperbolehkan melihat-lihat pemandangan di sini," pria tersebut jelas sekali berbohong. Dengan setelan kerajaan semewah itu mengaku berprofesi sebagai seorang prajurit semakin menandakan kalau dia sedang membual. "Saya pikir anda harus kembali ke kediaman anda sekarang, Tuan Putri. Yang Mulia pasti tidak bisa berkonsentrasi dalam penjurian."
"Pangeran Kedua?" Wajah sang putri merona mendengar gelar Fletcher disebutkan. "Bagaimana dengan Putra Mahkota? Apakah dia ikut serta?"
Aelfar menggeleng. "Hanya ada Pangeran Kedua saja. Anda mungkin salah paham."
"Aku tidak mungkin salah paham!" Ireene nyaris berteriak. "Hari ini kakak harus membuat Putra Mahkota menang agar dia bisa bertemu denganku karena memang itulah hadiahnya, tapi kalau Putra Mahkota saja tidak datang, kenapa para prajurit sampai mengejarku tadi? Kau berbohong, kan?"
"Saya tidak mungkin berani menipu anda, Tuan Putri." Aelfar mulai kehabisan ide karena tak menyangka sang putri ternyata lebih pandai dan teliti daripada yang terlihat. "Kalau anda tidak percaya, bagaimana jika kita bertemu lagi setelah ini, tapi Tuan Putri harus berjanji bahwa kamilah yang akan menang. Dengan begitu, anda bisa memastikan sendiri apakah saya berkata jujur atau berdusta."
"Ah, berarti aku harus bertemu dengan Kutubuku ya?" Ireene mengangguk. "Baiklah, tak masalah. Aku sendiri ingin memastikan apakah Putra Mahkota sungguh tidak menghadiri kompetisi hari ini. Dasar ********, berani sekali dia mangkir dari tanggung jawab. Belum jadi suamiku saja sudah seperti itu. Lancang sekali. Kalau semua wanita di dunia berpikir jernih sepertiku, pasti mereka lebih memilih Kutubuku daripada Pangeran Sombong itu."
"Kutubuku dan Pangeran Sombong?" Aelfar menahan tawa. Baru kali ini ada orang yang berani melecehkan namanya. "Kalau saja dia tak secantik namanya, mungkin aku tak segan menghukumnya seperti kriminal lain, tapi memang kuakui apa yang dikatakan oleh Fletcher sebelumnya benar. Kecantikannya melebihi seluruh gadis di Alcander. "Kalau begitu sampai ketemu nanti. Pangeran Kedua pasti senang mendengar berita ini."
Aelfar tersenyum simpul. "Tentu saja."
***
"Sudah kubilang kan kalau kita yang akan menang," ucap Aelfar setelah kembali ke sisi Fletcher. Wajahnya bersinar begitu cerah seolah mendapat warisan tujuh keturunan, tapi begitu melihat apa yang dibawa oleh saudara sepupunya, dia langsung bertanya karena penasaran. "Gulungan perkamen apa itu?"
"Dari mana saja kau?" Fletcher memukul kepala Aelfar dengan benda tersebut. Tidak keras, tapi terasa sakit juga. "Pemenangnya adalah pria barbar yang hampir mencari masalah denganmu tadi. Dia mendapatkan seekor singa tanpa melukainya. Mengerikan sekali! Pria sepertimu bahkan tidak bisa memanah seekor kelinci."
"Lalu bagaimana dengan hadiahnya?" Wajah Aelfar berubah pucat. "Bukankah hadiahnya makan malam romantis dengan sang putri? Apa bisa gadis sepertinya dan pria liar itu..."
"Gadis sepertinya katamu?" Fletcher berkacak pinggang dengan kedua mata menyipit penuh kecurigaan. "Kau tiba-tiba kelihatan khawatir soal hadiahnya. Bukannya kau bilang tidak peduli soal pernikahan atau wanita itu? Ke mana hilangnya semua kepercayaan dirimu itu?"
Aelfar mundur selangkah untuk menutupi rahasia yang telah disimpannya. Pertemuan antara dia dengan Ireene bukanlah hal yang pantas diucapkan di hadapan Fletcher, tunangan sang putri. Walaupun demikian, wajah malu pria tersebut tak dapat disembunyikan lagi. "Ayolah, aku cuma kepikiran saja karena raja-tertinggi sudah menjanjikan kemenangan pada kita."
"Dia memang menjanjikan kemenangan, tapi setelah tahu kalau calon adik iparnya tidak berbakat, akhirnya dia mencari cara lain untuk mempertemukanmu dengan sang putri," ucap Fletcher setengah berpikir. "Pokoknya untuk hari ini kita pulang saja dulu. Lagipula kompetisinya juga sudah selesai."
"Hei, yang benar saja! Kalau kita pulang sekarang, kita tidak akan mendapatkan apapun dong!" Aelfar menarik jubah Fletcher yang telah berjalan lebih dulu.
"Lalu bagaimana?" kata Fletcher mulai tampak kesal. Dia mempercepat langkahnya menuju kereta kuda yang telah terparkir beberapa meter di hadapannya. Peserta lain juga tampak melakukan hal yang sama, bahkan gerombolan pria barbar sepertinya sangat gembira sampai membuat suara gaduh yang mengganggu telinga.
Aelfar kemudian duduk di dalam kereta kuda mengikuti Fletcher. Wajahnya muram. Seolah kehilangan sesuatu, dia terus memandangi kastil Axton dengan sedih. Fletcher sampai kesal dibuatnya. Sebagai seorang kakak sepupu, dia tahu benar apa yang sedang terjadi pada adiknya tersebut. Aelfar terlihat sedang memikirkan sesuatu dan Fletcher berusaha menebaknya. "Apa kau bertemu dengan Ireene tadi?"
"Ireene? Siapa itu?" tanya Aelfar cuek. Mata ungunya tak lepas dari pemandangan kastil bahkan sampai kereta kuda melaju meninggalkan alun-alun.
Fletcher mengusap dada lega karena sepertinya Aelfar tidak sedang memikirkan sang putri. Walaupun menjadi sebuah kewajiban, dia sebenarnya tak rela melepaskan tunangannya menjadi milik orang lain. "Sungguh disayangkan. Dari sekian banyak wanita, kenapa harus Ireene? Padahal aku sudah lama mengincar kekuatan phoenix, tapi setelah Yang Mulia sadar kalau Alcander membutuhkannya, tiba-tiba dia memintaku untuk membatalkan pernikahan."
Fletcher meremas gulungan perkamen sebelum menyimpannya dalam kotak sementara Aelfar sama sekali tidak mengingat soal benda yang tadi sempat ditanyakannya itu. "Baiklah aku tarik kembali perkataanku beberapa saat yang lalu. Dia bisa memiliki Ireene, tapi tidak dengan phoenix. Akan kubuat dia menyesal karena telah mengambil 'permata berharga' milikku," lirihnya.
"Ngomong-ngomong Fletcher, dua hari lagi tolong jadwalkan ulang semua kegiatanku," ucap Aelfar tiba-tiba. "Aku ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri dan mencari solusi atas masalah kerajaan kita akhir-akhir ini. Sepertinya terlalu gegabah kalau kita hanya mengandalkan phoenix dari hasil pernikahanku dan tuan putri nanti. Kita juga tidak tahu persis kapan Gretasha akan menyerang sehingga sebelum hal itu terjadi, kita harus segera menyelamatkan Alcander."
***