
KACA YANG MENYILAUKAN_7th Part
"Kau benar-benar di sini rupanya." Aelfar menghampiri Ireene yang tengah termenung di sebuah taman mawar beraroma segar. Gaun birunya melambai seiring gerak ayunan yang sedang dimainkan oleh gadis tersebut. Decitan palang besi yang beradu dengan rantai ayunan membuat suara nyaring yang mampu mengalahkan bunyi ketukan sepatu Aelfar. "Yang Mulia memintaku kemari untuk menjemputmu dan membawamu kembali ke kastil. Banyak orang sedang menunggu kita di sana."
"Aku mencintai Fletcher," ucap Ireene tanpa mengacuhkan pria yang kemudian berdiri di hadapannya. "Kenapa aku harus menikah denganmu sementara aku mencintai orang lain dan bahkan kami sudah bertunangan sebelumnya. Aku masih belum bisa menerima semua ini. Semua, termasuk kebohonganmu padaku sebelumnya."
"Maafkan aku, Tuan Putri." Aelfar berlutut untuk menatap wajah sedih Ireene. "Saat itu aku juga masih berpikir kalau menikah denganmu adalah hal yang mustahil. Karena itu aku berbohong agar tidak membebanimu."
"Lalu kenapa hari ini kau berubah pikiran dan melamarku?" Ireene akhirnya memandang mata ungu Aelfar yang penuh ketidakberdayaan. "Pria setampan dan setulus ini... bagaimana aku bisa menolaknya hanya karena cintaku pada Fletcher," pikirnya.
"Apa kau yakin mencintai Fletcher sebagai seorang pria?" tanya Aelfar dengan lihainya memasangkan sekuntum mawar di salah satu jepit rambut Ireene. "Maksudku kalian sudah bersama sejak kecil. Kalian pasti punya perasaan saling melindungi dan memiliki satu sama lain. Dalam hubungan persahabatan, hal itu juga biasa terjadi, tapi apa kau pernah merasa jantungmu berdegup lebih kencang saat bersamanya? Atau wajahmu terasa lebih panas saat kau menatap wajahnya dan bulan terlihat lebih besar dari biasanya?"
"Apa maksudmu?" tanya Ireene. "Aku mencintainya atau tidak, itu tidak ada hubungannya denganmu. Apalagi dengan semua yang kau jelaskan barusan, aku pikir itu juga tidak ada hubungannya."
Aelfar tiba-tiba mengecup dahi Ireene tanpa peringatan sedikitpun. "Apa Fletcher juga pernah melakukan hal seperti ini padamu?" tanyanya kemudian.
"Kau benar-benar pria kurang ajar!" Ireene berdiri marah lalu meninggalkan Aelfar tanpa berkata apapun lagi. Wajahnya merah padam karena malu. Suhu tubuhnya semakin naik ketika Aelfar dengan cepat menariknya ke dalam pelukan. "Pernikahan kita ini bukanlah hubungan yang akan diatasnamakan karena cinta. Jadi meskipun kita tidak saling mencintai, meskipun kita tak ingin melakukannya satu sama lain, semua orang yang ada di balairung dan rakyat kita... Mereka semua ingin kita bersatu seperti ini. Sebagai pewaris tahta Alcander, aku tak bisa memupus harapan banyak orang hanya karena keegoisanku, karena itu aku mohon sekali lagi padamu. Menikahlah denganku, Putri Ireene el Idylla!"
"Aku tidak bisa." Sang putri bersikeras melepaskan diri dari pelukan putra mahkota. "Aku tidak bisa melakukannya dengan seseorang yang tak kucintai. Apa kau masih belum mengerti juga?"
Ireene kembali berjalan meninggalkan taman mawar dengan menjinjing gaunnya perlahan, sementara Aelfar mengikuti dengan sabar. Mereka terus berjalan dalam diam menyusuri lorong dan melewati para prajurit yang berjaga serta kumpulan pelayan yang sedang membicarakan mereka. Beberapa menit kemudian, Ireene terjatuh karena lelah. Kaki kanannya terkilir dalam perjalanan menyeberangi jembatan antar menara yang dibangun sebagai jalan pintas rahasia dengan pemandangan luar biasa. Kota Estefania mungil yang dikelilingi pegunungan dan lembah hijau yang indah.
"Sebenarnya kau mau ke mana?" Aelfar menghampiri sang putri dan berusaha menyembuhkannya. "Aku kan tidak minta kau untuk menjawab lamaranku sekarang. Kau bisa memikirkannya selama sebulan ini sebelum kita menikah. Aku hanya berusaha menyampaikan apa yang terpikirkan oleh seorang putra mahkota sepertiku dalam memenuhi kesetiaannya pada kerajaan. Sebenarnya aku membutuhkan kekuatanmu untuk mengusir Kegelapan yang mulai melahap perbatasan utara Alcander. Aku tidak ingin kerajaanku mengalami nasib yang sama dengan Kekaisaran Gretasha. Karena itu aku meminta bantuan dari kakakmu dan dia memberiku solusi seperti ini."
"Sudah merasa lebih baik?" Aelfar membantu Ireene berdiri dengan hati-hati.
"Kau menguasai sihir pemulihan sama seperti phoenix dalam tubuhku," ucap Ireene. "Ada beberapa hal yang harus kau lakukan untuk bisa memenuhi kriteria sebagai pemilik kontrak. Dengan phoenix, sihir pemulihanmu bisa membuatnya semakin berkembang. Namun bukan hanya itu, kau juga harus melakukan sesuatu dengan pemilik kontrak sebelumnya. Kau harus membunuhku."
Ireene tenggelam dalam kebisuan.
***
"Kau berhasil membujuknya?" Eginhard bertanya pada Aelfar yang baru saja memasuki ruang pribadinya. Tanpa satu pengawalpun, raja tersohor itu menyambut putra mahkota dalam jamuan teh sederhana di balkon kamarnya yang mewah. Dengan hanya mengenakan pakaian sutera yang menampakkan leher jenjangnya, sang raja mengajak Aelfar untuk minum seperti di rumah sendiri. "Dibandingkan dengan Fletcher, kau sepertinya lebih berguna dari dugaanku."
"Anda terlalu berlebihan, Yang Mulia. Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai pelayan setia Alcander." Aelfar menyeruput tehnya tanpa rasa sungkan. "Terlepas dari persetujuan sang putri, saya akan tetap mengambil alih kekuatan itu dengan cara apapun. Kalau tidak bisa dengan pernikahan, maka mencabut nyawanya pun tak ragu saya lakukan. Bagaimana pun kami berdua tidak punya hubungan darah untuk bisa saling berbagi kekuatan. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan hanya itu."
"Ahh, kau memang benar, tapi sebelumnya aku sudah yakin kalau Ireene akan jauh lebih menyukaimu dibanding Fletcher. Desas-desus mengenai kelihaianmu dalam merayu wanita rupanya benar."
"Tapi kau akhirnya rela menikahkan adik tersayangmu itu denganku. Bukankah kita ini sama?" Aelfar menyeringai. "Kau pikir aku tidak tahu bagaimana cara Ireene mengambil alih kekuatan itu darimu. Perjanjian darah hanya berlaku pada sesama saudara laki-laki dan sesama saudara perempuan atau diwariskan secara turun-temurun dari orang tua ke anaknya. Lalu bagaimana dengan kalian berdua?"
-PRAAANG-
Tiba-tiba teko teh di hadapan keduanya pecah berkeping-keping menumpahkan isinya, bahkan salah satu pecahannya melukai wajah tampan Aelfar. "Apa kau tidak bisa diam saja dan tak memprovokasiku, Putra Mahkota?" Sang raja mengepalkan kedua tangannya di atas meja, siap melayangkan tinju.
Aelfar tersenyum simpul. "Aku yakin dari lubuk hatiku paling dalam kalau kalian punya cara sendiri untuk melakukannya, Kakak Ipar. Karenanya aku tetap ingin mempersunting tuan putri yang cantik jelita dan menawan itu. Tak ada gadis yang seindah dan semurni dirinya di seluruh dunia manusia ini. Berkat Alcander akan menyertainya mulai sekarang."
Eginhard melonggarkan kewaspadaannya mendengar Aelfar yang sangat pandai memainkan kata-kata. Pria bermahkota itu menghela napas panjang lega. "Terima kasih sudah menemaniku sebentar. Untuk sekarang, tolong jangan lagi menerka-nerka tentang apapun. Kastil ini dipenuhi banyak rahasia. Tidak hanya bangunannya, tapi juga orang-orangnya. Kalau sampai kau salah meletakkan tanganmu, kau akan menanggung sendiri akibatnya."
"Baiklah, Yang Mulia Raja-Tertinggi Axton Eginhard Idylla, saya permisi dulu." Aelfar berdiri dan menyingkap jubahnya. "Terima kasih atas nasihatnya."
***