The Second Throne

The Second Throne
Silver Arrow (6)



PANAH PERAK_6th Part


Terence mengangguk bersamaan dengan Luce yang mengayunkan pedangnya ke arah Amore. Sulur-sulur tanaman kembali menyerang mereka bahkan kali ini akar-akar pohon ek raksasa di sekitar mereka mulai bergerak, keluar dari tanah dan menyerbu. Suara lengkingan Amore yang memekakkan telinga, membangkitkan makhluk-makhluk malam di sekitarnya. Hewan-hewan bermata merah muncul dari balik pekatnya kabut. Puluhan macan kumbang berusaha menerkam Luce sekaligus. Pemuda tersebut melempar hewan-hewan itu satu persatu dengan tebasan pedangnya.


Sementara Terence sibuk melindungi Luce dari akar tanaman yang mulai merangsek dengan pedangnya dan Eleanor menembakkan panah-panah sihir ke arah Amorea untuk mencari tahu kelemahannya. "Wanita iblis itu berdiri di permukaan air," Eleanor membatin. "Kalau saja aku bisa memutus aliran sungai dengan sihir, tapi bagaimana caranya?"


Terence tiba-tiba menarik Eleanor mendekat ketika Luce menyemburkan api dari tangan kirinya ke arah Amore. "Apa kau tidak berpikir untuk melindungi dirimu dari kobaran api Tuan Muda? Jangan terlalu jauh dariku!" Terence berteriak marah. "Tuan Muda benar-benar sudah dibuat kesal. Dia akan membakar semuanya seperti yang pernah dilakukan Tuan Besar."


"Tapi Tuan Muda tidak boleh membakarnya," kata Eleanor. "Selama sumber air masih ada, dia tidak akan melemah sedikitpun."


"Kau bilang sumber air?" Terence bertanya sementara tangannya masih sibuk menangkis serangan beberapa kelelawar penghisap darah yang muncul dari balik rimbunnya dahan pohon ek. "Maksudmu air sungai?"


Eleanor mengangguk. "Kau harus membuat Tuan Muda berhenti menggunakan kekuatan Phoenix agar aku bisa melakukan sesuatu pada air sungainya."


"Tapi bagaimana?" Terence berteriak. Suaranya nyaris tidak terdengar karena Amore kembali menjerit akibat serangan api Luce yang membabi buta. "Tuan Muda sepertinya mulai kehilangan kendali atas kekuatannya. Dia tidak akan mau mendengarkanku."


"Kalau begitu biar aku yang akan membuatnya mendengar," Eleanor membidik Luce dengan busur cahayanya yang berkilat hijau sementara Luce, dengan sayap apinya melompat di antara batuan gunung dan dahan-dahan pohon untuk menyerang Amorea yang terus menumbuhkan sulur-sulurnya.


"Rupanya kau masih belum menyerah," Luce berdiri di tepi sungai sambil membuka matanya yang baru saja terpejam sejenak. Dia sepertinya sadar tentang ucapan Eleanor meskipun tak mendengarnya dengan jelas. Pemuda itu menyarungkan pedangnya untuk menyegel kembali kekuatannya, membuat Eleanor mengurungkan niatnya untuk memanah Luce.


"Tuan Muda ternyata tidak kehilangan kendalinya," gumam Terence kemudian berpaling pada Eleanor yang ternyata sudah mulai mengucap mantera.


"Kalau kau tidak berhenti menyerang, aku akan membakar seluruh isi hutan ini!" Luce mengarahkan kedua tangannya ke depan untuk mengancam Amore. "Aku sudah bilang akan melindungi teman-temanku dari apapun dan aku tidak akan menarik kembali ucapanku."


"Apa kau pikir dengan menggunakan kekuatanmu yang bersifat merusak itu akan menyelamatkan mereka?" Amore berkata sinis dan mulai meremehkan kekuatan Luce. Dia menggunakan tongkat rantingnya untuk mengeluarkan akar dari dalam tanah tempat Terence dan Eleanor berpijak, kemudian menjerat keduanya hingga jatuh. "Kau bahkan tidak pernah berpikir apakah yang kau lakukan selama ini benar atau salah? Dengan menuruti semua isi hatimu, kau pikir semuanya akan berjalan sesuai keinginanmu?!" Amore berteriak. Serangga-serangga kecil berbisa yang juga muncul dari dalam tanah mulai menyerang Terence dan Eleanor yang tak bisa berkutik.


"Terence!" Luce menyemburkan api dari kedua tangannya, bermaksud menghabisi serangga-serangga itu dalam sekali serang. Pemuda itu sama sekali tak berpikir apa yang dilakukannya mungkin akan melukai Terence dan Eleanor, namun dia yakin kalau kedua rekannya itu mengerti maksud di balik serangannya. Dia terus menambah serangan ke arah serangga yang bermunculan tanpa henti tersebut.


"Menyerap energi semua makhluk hidup di Hutan Terlarang, baik yang hidup maupun yang mati. Berubahlah ke bentuk alamimu," suara Eleanor yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang punggung Amore. Gadis itu berteleportasi dari balik punggung Terence ke tempatnya mengucapkan mantera sekarang--sebuah batuan pipih berukuran besar yang berada di tengah aliran sungai. "Aquousia!" Eleanor mengarahkan kedua tangannya ke depan dan berteriak sementara Luce menghentikan serangannya pada Terence kemudian melompat ke salah satu dahan pohon.


Terence lalu disibukkan dengan kedua kudanya yang sempat bersembunyi di balik semak bersama hewan lain. Dia menunggangi salah satunya menuju ke arah Luce ketika Amore bersikeras mengarahkan tongkat rantingnya pada mereka. Air sungai yang deras tiba-tiba datang dari arah selatan. Begitu besar gelombangnya seolah akan menenggelamkan Eleanor bersama dengan iblis wanita tersebut. Tapi sebelum itu terjadi, gadis itu ternyata telah membuat tabir pelindung untuk dirinya sendiri, Luce, dan Terence.


"Membekulah, Einfrieren!" Eleanor berbisik sambil berteleportasi lagi ke belakang punggung Luce yang telah menunggangi kuda betinanya. Mereka bergerak ke arah barat untuk menghindari air bah yang mengkristal dengan cepat, membekukan semua makhluk yang ada di sungai termasuk Amore.


"Aku juga tidak tahu tentang hal itu. Semua aku lakukan dengan spontan dan berharap kalian dapat melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri kalian sendiri. Yang aku tahu, kau sepertinya satu-satunya yang kebal terhadap apiku, Terence," ujar Luce. "Tapi aku tak menyangka Eleanor memiliki ide brilian seperti tadi. Daripada meladeni wanita iblis itu tanpa henti, membekukannya, meskipun sesaat, akan memberikan kesempatan pada kita untuk kabur."


"Ngomong-ngomong, tidak bisakah kita berteleportasi dan berpindah ke jalur utara lagi? Kalau terus bergerak ke arah barat, kita mungkin akan bertemu salah satu pasukan yang mengejar kita bahkan sebelum esnya mencair," usul Luce.


"Tidak bisa," sambung Eleanor. "Aku tidak bisa membawa orang lain berteleportasi kecuali dia seorang magus."


"Kalau begitu kita berbelok saja ke arah utara dan berjalan di antara pepohonan," Luce tiba-tiba menarik tali kekang dan memaksa kudanya berbelok, membuat Terence berhenti mendadak. "Meskipun agak meleset dari tujuan kita, setidaknya kita terhindar dari kedua pasukan itu. Aku akan membuat tabir yang lebih besar daripada tabir tak kasat mata milikmu, Eleanor."


"Terence, menunduklah!" Luce berteriak sambil mengarahkan tangan kirinya ke belakang untuk membuat sebuah ledakan besar yang mengguncang seisi hutan. "Itu akan mengecoh semua orang," katanya sembari mempercepat langkah kudanya diikuti oleh Terence. "Ayo segera keluar dari hutan sialan ini."


***


Note from Author


Ketemu lagi dg author yg tak bosan-bosannya selalu mengingatkan untuk klik


*like


*favorite


*5 rate


setelah membaca novel ini...


Author jg mau mengabarkan klo ada rencana untuk membuat novel baru untuk mengangkat novel ini dengan genre romance tentang bangsa iblis dan manusia...


😋😋 kira2 ada yang punya usulan nggak yaa untuk author soal isi ceritanya...


Kalo ada, silahkan tulis juga di kolom komentar...


Sankyuu...