The Second Throne

The Second Throne
Glaring Glasses (6)



KACA YANG MENYILAUKAN_6th Part


Cahaya matahari menghangatkan sebuah kamar yang dibalut nuansa artistik nan indah. Jendelanya terbuat dari pahatan kayu berukir rumit dengan kain merah menutupi sebagian permukaannya. Aelfar berdiri di ambangnya untuk menyambut pagi hari di Kota Estefania yang padat penduduk. Dia bersama Fletcher menginap di sebuah lorong gelap berharga mahal dengan fasilitas mewah. Sambutan yang diterima oleh mereka juga tak kalah menarik. Sekelompok bandit dan mantan kriminal melayani keduanya seperti seorang raja karena tahu Aelfar adalah pria yang akan dijodohkan dengan sang putri tercinta.


"Aku pikir kau akan mengajakku kembali ke Axton," katanya sambil menyeruput teh mawar beraroma segar. "Mau tidak mau aku harus membatalkan pintaku yang tadi. Menurutku tempat ini tidak buruk juga untuk menenangkan diri."


"Sudah kuduga kau akan menyukainya. Yang Mulia sendiri yang membuatkan surat rekomendasinya." Fletcher menimang gulungan perkamen yang dia dapatkan pasca kompetisi. "Aku sendiri tidak mengerti bagaimana jalan pikiran beliau. Tamu agung seperti kita justru ditempatkan di pinggiran ibukota dan bukannya di salah satu paviliun kastil. Dia benar-benar tahu selera anda, Calon Menantu Axton."


"Kau meledekku atau memang tidak suka?" Aelfar mengernyitkan dahi kemudian berdiri sembari mengenakan mantel kelabunya untuk mengelabui semua orang. "Aku juga tidak ingin mereka tahu bahwa aku mengikuti kompetisinya, tapi karena Eginhard sudah kenal kau terlebih dahulu, pria itu jadi tak bisa ditipu. Matanya setajam elang dan dia bisa mengetahui isi hati lawan bicaranya setepat anak panah. Aku tidak akan meremehkannya lagi mulai sekarang."


"Memanggil nama seorang raja yang mulia seperti itu apa kau tidak takut langit akan menghakimimu?" Fletcher membantu Aelfar merapikan mantelnya. "Sejujurnya aku memang tidak suka kenyataan bahwa kau dan sang putri benar-benar akan menikah dalam waktu dekat. Walaupun begitu, mendengar ceritamu semalam, aku jadi sedikit lega karena Ireene masih memilihku dibanding dirimu."


Aelfar tersenyum renyah dan menepuk bahu Fletcher dengan penuh kemenangan. "Ini hanya pernikahan politik. Begitu aku mendapatkan kekuatannya, akan kukembalikan Ireene padamu. Satu hal lagi, tentu saja aku tidak akan menyentuhnya." Pria tersebut melipat tangan kemudian memandang langit melalui jendela. "Lagipula dia bukan tipeku dan aku akan segera menjadi seorang raja. Akan ada banyak selir di sisiku, kan? Aku juga akan memilih seorang permaisuri yang kusukai untuk menjadi pendamping hidupku. Anggap saja kalau ini perjanjian di antara kita berdua sebagai sesama pria."


"Hah? Setelah menolak Ireene yang begitu anggun itu apa kau masih berpikir kalau kau itu seorang pria?" Fletcher kembali meledek. "Apa kita harus melakukan hal senorak ini juga?"


Aelfar mengangguk senang. Kepalan tangan kanannya sudah siap beradu ketika Fletcher melakukan hal yang sama. "Apa boleh buat, kan? Hanya ini solusi terbaiknya."


-TOK-TOK-


Aelfar langsung mengenakan tudung kepala dan merapatkan syal miliknya sementara Fletcher membuka pintu untuk menyambut seseorang di baliknya. Pria berambut keemasan memberikan sebuah amplop pada Fletcher setelah mengintip keberadaan Aelfar. Tampaknya dia pun bisa membedakan yang mana putra mahkota sesungguhnya.


"Saya Erich Harbyn dari bagian militer Axton menyampaikan surat dari Yang Mulia," kata pria tersebut pelan. "Sepertinya Yang Mulia ingin mengadakan jamuan besar untuk mengenalkan Putra Mahkota pada seluruh keluarga kerajaan. Memang terdengar aneh karena biasanya putrilah yang bertandang ke kediaman sang pangeran, tapi karena Alcander termasuk wilayah kekuasaan Axton, hal seperti ini bisa terjadi."


"Terima kasih." Fletcher tersenyum simpul dan menerima amplop tersebut. "Baru di Axton juga saya mengetahui seorang kepala prajurit menjadi kurir pengantar surat."


"Itu juga bisa terjadi pada anda dan Putra Mahkota suatu saat nanti. Kalau begitu saya permisi." Erich meninggalkan tempat itu setelah memastikan bahwa Aelfar yang berada di balik tudung kelabu.


"Bagaimana ini?" tanya Fletcher setelah menutup pintu kembali. "Seluruh dunia akan tahu kalau kau adalah Giselbert Aelfar de Alcander, pria yang akan menikahi sang putri."


***


Suara ketuk sepatu menggema dalam ruang tahta Axton, tempat singgasana raja-tertinggi dunia manusia berada. Saat itu, Aelfar terlihat sedang berjalan melalui karpet merah berornamen dengan gagah dan penuh kharisma. Setelan kerajaannya lengkap dengan simbol mawar merah yang menjadi lambang Kerajaan Alcander kebanggaannya. Sebuah tiara berbatu rubi juga menghias rambut cokelatnya yang kini dipangkas pendek dan lebih rapi. Pria itu --- dengan jubah miringnya yang melambai --- ditemani Fletcher sang sepupu yang berjalan tak jauh di belakang.


Keduanya berhenti tepat di depan singgasana disaksikan banyak pasang mata yang merupakan anggota resmi Kerajaan-Tertinggi Axton. Seorang raja berambut panjang keemasan duduk pada sebuah kursi mewah di atas undakan tangga yang menjadi panggung sejarah pada hari itu. Dia tersenyum puas memandang Aelfar yang telah begitu siap meminang sang putri dan menatap sedih ketika tahu Fletcher juga turut hadir, bahkan menemani putra mahkota dengan penuh loyalitas.


"Dengan penuh kehormatan, Yang Mulia." Aelfar meletakkan tangan kanan di dada, berlutut dan menundukkan kepala seperti yang dilakukan Fletcher di belakangnya. "Terima kasih atas sambutan hangat yang diberikan oleh keluarga besar Axton hari ini. Saya merasa tersanjung."


"Tidak perlu sungkan, Putra Mahkota." Ratu Giselda Aylward menyela waktu emas sang raja untuk berbicara, membuat pria di sisinya tersenyum gemas. "Sebentar lagi kau akan menjadi salah satu anggota keluarga kami, jadi sudah sewajarnya kami menyambutmu dengan sedikit penghargaan dan rasa hormat."


"Rasa hormat itu terlalu besar untuk manusia biasa seperti saya, Yang Mulia Ratu," tukas Aelfar masih tetap dalam keadaan menunduk. "Saya hanyalah seorang pangeran yang tersesat di kebun orang lain dan menyadari ada sekuntum mawar nan cantik mekar di sana. Sebelum mendapatkan izin dari pemiliknya, saya tidak berhak menerima penghargaan seperti ini secara cuma-cuma. Jadi, mohon terimalah rasa hormat dari saya yang tidak seberapa ini."


Sang ratu sangat tersentuh dengan sajak indah Aelfar yang penuh kemurahan hati. Tak ada rasa sombong dan pemaksaan di dalamnya. Benar-benar perasaan tulus seorang pria yang ingin mempersunting wanita yang dicintainya. "Bagaimana ini, Yang Mulia?" Ratu melirik sang suami yang justru terlihat tak begitu paham dengan kalimat gombal yang telah dilontarkan Aelfar sebelumnya. "Aku benar-benar menyukai pria yang norak dan blak-blakan seperti ini."


Eginhard Idylla, sang raja-tertinggi langsung menghela napas panjang menerima rasa takutnya. Dia benar-benar tak rela harus melepas sang adik pergi seorang diri mengikuti pria yang belum pernah dikenalnya. Berbeda dengan Fletcher yang sudah menjadi teman bermain sang putri sejak kecil, mereka berdua sudah akrab satu sama lain. Aelfar terlihat seperti pria pada umumnya yang hanya melihat wanita sebagai wanita.


Apalagi sang raja dikejutkan dengan puluhan pelayan dan prajurit yang membawa hadiah dan tumpukan berlian yang berkilauan indah ke hadapan semua orang dalam ruang tersebut. Aelfar tak segan mengeruk semua kekayaan ayahnya hanya demi seorang gadis yang sebenarnya tak ingin dia cintai. Baginya, Alcander jauh lebih penting dari apapun.


"Berdirilah," titah sang raja disambut oleh Aelfar dan Fletcher yang kemudian berdiri. "Aku telah merestui kalian berdua untuk menikah, jadi semua hadiah yang kau bawa ini akan langsung kupersembahkan kepada adik kesayanganku, Putri Ireene el Idylla tanpa mengurangi rasa hormat darimu, Putra Mahkota. Ketika kau kembali nanti, tolong sampaikan salamku pada Raja Alcander dan beritahukan padanya bahwa pernikahan akan diadakan sebulan lagi sejak hari ini."


Aelfar tersenyum karena akhirnya dapat memandang Ireene yang duduk tak jauh dari hadapannya. Gadis itu tiba-tiba terlihat murka mengetahui wajah asli Aelfar sebagai seorang putra mahkota. Dia berdiri dan langsung meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun sehingga membuat semua orang terkejut keheranan.


"Ireene!" Eginhard berdiri dan berteriak marah karena dipermalukan di hadapan banyak orang. Dia merasa harus mengejar adiknya untuk banyak alasan yang tak masuk akal, yang hanya mereka berdua yang mengetahuinya.


"Yang Mulia!" Aelfar mengalihkan perhatian sang raja padanya. "Jika diperbolehkan, saya akan membantu Yang Mulia untuk membawa kembali sang putri dan menjelaskan situasinya lagi dengan cara yang lebih baik."


"Ah, kau benar." Sang raja memandang salah satu ajudannya yang berdiri di antara punggawa kerajaan. "Erich, tolong antarkan Pangeran St. Claire ke ruangannya. Aku sendiri yang akan memandu Putra Mahkota untuk menemukan adikku. Kemarilah!" Pria itu turun dari singgasana dan membuat semua orang yang duduk, berdiri secara tiba-tiba untuk menghormatinya. "Aku akan mengarahkanmu ke suatu tempat yang pasti akan didatangi Ireene pada saat seperti ini."


"Terima kasih, Yang Mulia." Tanpa rasa ragu Aelfar langsung mengikuti sang raja yang sebelumnya berbicara kembali pada seorang pria yang pangkatnya sedikit lebih rendah darinya. "Rick, tolong urus semua hadiah ini dan ambil alih acaranya. Aku harus segera menemukan anak nakal itu dan menceramahinya habis-habisan."


"Sepertinya anda tidak perlu ikut campur terlalu jauh, Yang Mulia," ucap pria tersebut sambil memukul bahu sang raja dengan kayu tepian kipas besarnya. "Ini adalah urusan anak muda. Yang Mulia hanya perlu melihat dari jauh dan mendoakan yang terbaik bagi mereka berdua. Bukankah itu tugas seorang kakak laki-laki?"


"Whoaaa, kau benar-benar melakukan tugasmu sebagai seorang penasihat, Rick. Akan kunaikkan gajimu dua kali lipat." Sang raja justru terlihat kesal karena ucapan pria tersebut. Dia kemudian melenggang pergi tanpa memberi salam pada orang-orang di sekitarnya. Benar-benar seorang raja yang tidak bertanggung jawab. Meninggalkan sang istri seorang diri di singgasana demi adik yang jauh lebih dicintainya. Ratu Giselda sempat menitikkan air mata untuk mengenang cinta buta sang raja tersebut.


"Sudah sekian tahun berlalu, dia selalu saja lebih mempedulikan Ireene dibanding anak-anak," lirih sang ratu. "Semoga pernikahan ini membawa aroma manis untuk hubungan keluargaku sendiri. Ireene akhirnya akan pergi jauh untuk mengikuti suaminya dan Eginhard hanya akan menjadi milikku dan anak-anakku seorang."


***