
KUTUKAN WAKTU_5th Part
"AHHH!" Luce menabrak seseorang di lorong batu ketika hendak berlari menuju persimpangan. Pria dengan zirah perak bernuansa kelabu dan busur raksasa di tangannya. Rambutnya yang kelabu serasi dengan warna matanya. Pria itu membuat Luce setengah tidak percaya. "Kenapa kau ada di sini?"
"Apa tidak boleh?" Pria itu balik bertanya. Archerias bernama Christopher Daryan yang telah diselamatkan oleh Luce dan teman-temannya itu, berdiri dengan gagah seolah tak pernah terluka sedikit pun. "Orang-orang sedang berjuang melindungi benteng ini sementara aku tidur di ranjang hangat sambil bermimpi tentang kehidupan setelah kematian. Kalau hanya luka seperti ini aku masih bisa mengatasinya."
"Apa maksudmu?" tanya Luce. "Kau hampir mati tadi siang."
Christoph tersenyum. "Aku telah menemukanmu. Jadi aku berniat membawamu melewati benteng ini dengan aman. Luka itu... Aku sendiri yang membuatnya."
Luce masih tidak paham dan menarik zirah Christoph dengan khawatir. "Kau benar-benar tidak apa-apa?" tanyanya ketika Christoph hendak bergegas menyusul teman-temannya yang bertarung di luar benteng.
"Aku tidak apa-apa," jawab Christoph. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan orang yang sudah menipumu dan berusaha melukaimu."
"Aku tidak tahu apa alasanmu mengincar nyawaku dan kakakku, tapi aku berharap semua itu untuk tujuan yang lebih baik bagi semua orang," kata Luce.
"Untuk semua orang?" Christoph nyaris berteriak ketika sadar ada keributan lain di ujung persimpangan. Dia kemudian berlari diikuti oleh Luce dan berhenti di sana sambil melihat sumber dari keributan yang dia dengar. "Aku hanya menginginkan kekuatan Phoenix karena kakakmu bilang itu bisa membantuku mengambil kembali Gretasha dari tangan Kegelapan."
Luce terkejut mendengar penjelasan Christoph yang ternyata di luar dugaannya.
"Kemudian karena tahu kakakmu juga memiliki setengah dari kekuatan Phoenix, aku berusaha membunuhnya juga. Tapi ternyata semuanya gagal. Kemudian aku mendapat tawaran bagus dari kakakmu untuk mengawalmu sampai ke Gretasha dan membiarkanmu mengambil alih kekuasaan di sana. Jadi aku hanya perlu membantumu dari belakang."
"Kakak menyuruhmu untuk membunuhku?" Luce berhenti berlari ketika kerumunan prajurit yang hendak menuju tangga di sisi kanan benteng dihadang oleh puluhan orc dan goblin -- makhluk yang datang dari balik kabut Kegelapan. Makhluk tersebut membawa golok dan pedang berlapis baja dengan perisai bundar yang mampu memantulkan sihir suci.
"Kenapa kau kaget sekali mendengarnya? Kakakmu itu sudah menjadi tahanan kota selama sepuluh tahun. Kalau bukan karena statusnya sebagai penerus Keluarga St. Claire, dia pasti sudah berada di sel bawah tanah sekarang." Christoph mengarahkan busur raksasanya ke depan. Butiran-butiran es yang menyerupai kristal runcing terbentuk di hadapannya, membidik beberapa makhluk Kegelapan sekaligus. Begitu dilepaskan, anak panah itu langsung berbelok dan menukik mengenai target yang sudah Christoph tetapkan, bahkan tanpa melukai prajurit di sekelilingnya.
"Tuan Daryan, terima kasih banyak," ucap para prajurit sembari menyeka peluh masing-masing. Beberapa di antara mereka ada yang terluka, walaupun tidak parah. Para Acolyte kemudian langsung menyembuhkan mereka dengan peralatan medis dan sihir pemulihan.
"Berterima kasihnya nanti saja." Christoph terlihat tegas di balik armor peraknya. "Sekarang masih banyak hal yang harus kita lakukan untuk mempertahankan benteng ini. Tuan Valeries dan Nona Cassandra saat ini pasti sudah membentuk barikade di sisi kanan dan kiri benteng. Kita akan ke atas untuk memastikan keadaan di bagian utara. Pastinya akan ada beberapa makhluk Kegelapan di sana, jadi sebelum ke atas kalian harus mempersiapkan diri. Jangan menggunakan sihir pada goblin berperisai karena itu akan melukai yang lain. Para Acolyte tetap berada di dalam sini untuk menjaga pintu masuk dari arah tangga dan yang lain, ikuti aku sekarang."
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?" Luce berlari ke tepian dinding untuk melihat kabut Kegelapan yang datang. Tidak hanya di bagian dasar benteng, makhluk-makhluk Kegelapan berjatuhan dari langit bersamaan dengan melintasnya gargoyle bersayap elang. Mereka meraung keras sambil mengangkat senjata sementara Luce tak tinggal diam. Dia mengikuti intruksi Christoph yang sudah menggenggam sepasang scimitar raksasa hasil dari mematahkan busur peraknya.
"Serang mereka!" Christoph berteriak.
Luce mengambil sebuah pedang yang terlempar ke sisinya kemudian menumbangkan beberapa orc bertubuh pendek dalam sekali serang. Dia melihat Terence dan Eleanor yang bertarung tak jauh dari tempatnya berdiri. "Aku bilang jangan mendekat!" Luce menjerit kesal sambil menebas kepala musuhnya satu persatu sedangkan kedua kakinya berlari mendekati Terence dan Eleanor.
"Aku sudah tidak peduli lagi sekarang. Informasi yang kuperoleh hanyalah fakta bahwa kakakku memang manusia berhati iblis yang mencoba memanfaatkan adiknya sendiri," batin Luce. "Tapi hanya itu saja. Yang tahu maksud di balik tindakannya hanya aku dan Raja-Tertinggi Eginhard. Jadi orang-orang yang ada di sini tidak ada hubungannya dengan semua itu. Mereka tidak boleh terluka, terutama Terence dan Eleanor. Mereka adalah orang-orang yang peduli pada kakak. Aku harus melindungi mereka."
"Luce!" Eleanor memanggil setelah dia berhasil melumpuhkan troll raksasa bergada kayu dengan panah cahayanya.
"Hei kau, ke mana saja?" Terence bertanya pada Luce yang berhasil mendekat dengan aman. "Kami mencarimu dari tadi lalu Nicodemus bilang kau sedang mencari Putri Illiana di dalam benteng." Pria itu memandang sekeliling. "Sepertinya kau belum menemukannya. Untuk apa kau mencari wanita itu? Kau tidak mengenalinya bukan?"
"Dia bukan wanita, dia masih seorang gadis," bantah Luce yang merasa kata 'wanita' terdengar seperti sarkasme jika Terence yang mengucapkannya.
"Apa bedanya? Wanita dan gadis, yang penting dia itu perempuan." Kaki kanan Terence tersangkut lengan seekor goblin sebelum akhirnya berhasil menerjang kembali dengan kaki kirinya. Tangan kanannya menggenggam pedang kuat-kuat untuk menebas semua makhluk yang mendekat. Kini dia, Luce dan Eleanor berdiri saling memunggungi dengan tenang.
"Apa kalian tidak bisa berhenti membicarakan Putri itu?" Eleanor berbisik. "Yang mengurus keperluan kalian setiap hari sejak kemarin adalah aku.. Kalian berdua seharusnya membicarakan aku dan bukannya dia."
"Tapi dia cantik sekali," Luce memukul orc-orc pendek di hadapannya dengan punggung pedang hingga dia sadar kalau Christoph sedang kewalahan menjaga pintu masuk benteng tempatnya datang bersama Luce tadi. Prajurit di sekitarnya juga tampak lelah dan makhluk kegelapan seolah tak ada habisnya. Darah segar bercucuran di segala tempat. Lantai batu di mana mereka berpijak seperti lautan merah beraroma amis yang mengingatkan Luce pada masa lalunya. Pemuda itu mendongak. Tak banyak gargoyle yang terbang, namun mereka selalu menjatuhkan setidaknya dua makhluk dalam semenit.
"Di mana Ira dan Nicodemus?" tanya Luce ketika Terence melemparkan belatinya pada salah satu goblin yang nyaris menyerang Christoph dari balik punggung pria itu. Christoph melambai seiring dengan mendekatnya Luce, Terence, dan Eleanor ke arahnya. Sekarang pertahanan berpusat di pintu masuk bagian puncak benteng.
"Mereka sepertinya di dasar benteng," jawab Terence. "Nicodemus tadi masuk ke dalam untuk mencarimu dan Putri Illiana. Kau benar-benar tidak bertemu dengan mereka berdua?"
"Aku bersama Christoph sejak tadi," kata Luce sembari berpikir. "Bagaimana jika mereka berdua masih di dalam? Apakah Ira bertarung sendirian mempertahankan pintu gerbang di dasar benteng ini? Aku tidak bisa mengandalkan prajurit-prajurit lemah seperti mereka yang bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Para Acolyte juga tidak diperbolehkan keluar dan justru mendapat tugas untuk menjaga bagian dalam benteng. Kalau begini terus korban yang jatuh akan semakin banyak. Aku tidak boleh hanya mengandalkan kekuatan Phoenix saja. Aku harus menggunakan sebuah strategi kalau tidak..."
***