The Second Throne

The Second Throne
Crimson Sky (8)



...Langit Merah...


..._8th Part_...


Prosesi upacara kedewasaan Putri Samantha de Allegra berlangsung dengan khidmat di Katedral Kastil, dihadiri para bangsawan Kerajaan Allegra dan tamu undangan yang mewakili berbagai wilayah Axton, dari kerajaan kecil hingga kerajaan besar seperti Alcander. Jean, yang juga hadir di sana menyadari kehadiran sosok yang seharusnya tak dia temui selamanya, bahkan sampai akhir hayatnya.


Raja Illarion de Alcander dengan beberapa pengawal yang mendampinginya, membuat Jean tak bisa mendekati sang tuan rumah, yakni Raja Allegra, hanya untuk memberi salam. Hingga tiba pada acara berikutnya, yaitu pesta ulang tahun sang putri yang ke enam belas, Illarion sama sekali tak terlihat karena sedang beristirahat di ruangan pribadi yang telah disiapkan khusus untuknya sebagai tunangan sang putri. Barulah saat itu, Jean memberanikan diri untuk menyapa sang raja dan putri cantiknya.


"Saya Oliver Clarke mewakili kediaman Duke Brown, memberi salam pada Yang Mulia Raja." Jean membungkukkan badannya penuh rasa hormat. "Dan mungkin saja Yang Mulia masih ingat pada istri saya, Abigail putri sulung Duke Brown."


"Hormat saya, Baginda Raja." Aby melakukan hal yang sama dengan menjinjing roknya. Dia sama sekali tak berani menatap pria paruh baya di hadapannya meskipun orang tersebut berdiri sendiri tanpa kehadiran seorang pengawal. Bahkan, bisa dibilang kalau pria tersebut adalah orang paling berkharisma di tempat itu.


Herion el Cavendish adalah raja yang menguasai tanah Allegra pada masa itu. Dia memiliki seorang putri bernama Samantha di sisinya, yang selalu menarik perhatian Jean sejak awal pertemuan keduanya pada jamuan kerajaan bulan lalu. Selain gadis tersebut, sang raja tidak memiliki pendamping sama sekali karena ratu telah lama wafat semenjak Putri Samantha masih kecil. Hal itulah yang membuatnya sangat menyayangi sang putri hingga berakhir dengan menggelar pesta mewah tanpa memedulikan rakyatnya yang sedang kelaparan.


"Kau lagi?" sang raja tampak segan pada kehadiran Jean yang tak kalah bersinar dari dirinya. "Di mana Tuan Duke sekarang? Bisa-bisanya mangkir dari tugas dan mengutus anak bau kencur sepertimu untuk menghadiri acara sepenting ini."


"Dengan segala kerendahan diri, Yang Mulia. Mungkin lain waktu saya akan menyarankan ayah mertua untuk mengajak Yang Mulia berjalan-jalan menikmati pemandangan yang membuatnya sampai tidak enak badan hari ini," tukas Jean dengan berani. "Lagipula, ini bukanlah tugas. Ini hanyalah sarana untuk menunjukkan kewibawaan Yang Mulia sebagai penguasa negeri. Pesta semewah ini sangatlah tidak pantas diselenggarakan bila Yang Mulia tahu bagaimana keadaan di luar dinding kastil."


"Ah, itu memang benar, Tuan Viscount. Terima kasih banyak karena kau menjadi satu-satunya orang yang berani mengutarakan isi hatimu dengan penuh kejujuran." Sang raja menanggapi. "Akan tetapi, tidak mungkin kita menyambut tamu agung dengan cara yang sederhana seperti yang kau maksud. Bahkan pesta semewah ini pun masih belum cukup untuk memuaskannya. Bukankah kau yang paling paham kondisi Kerajaan Alcander, Pangeran Pertama Jean St. Claire?"


Jean mengerutkan dahinya kesal. Aby sampai mencengkeram lengan suaminya tersebut agar dia tak terbawa emosi. "Bagaimana pun keadaan di luar kastil saat ini sedang genting. Bisa-bisanya memprioritaskan Pangeran, maksudku Raja Bodoh itu di atas kepentingan rakyat Yang Mulia sendiri?"


"Ayahanda!" Putri Samantha akhirnya turun tangan. "Sudah cukup berdebatnya. Ini hari ulang tahunku. Aku yang akan bertanggung jawab atas semuanya. Kali ini kalian berdua sudah keterlaluan. Bisa-bisanya meninggikan suara di hadapan tamu-tamuku. Lebih baik sekarang ayahanda masuk ke dalam dan beristirahat. Sedangkan Tuan Viscount, anda sepertinya tidak perlu sampai mengritik Yang Mulia seperti tadi. Kalau Nyonya Viscountess mengizinkan, saya akan mengajak suami anda ke suatu tempat untuk menjelaskan semua hal padanya."


Suasana yang tadinya mencekam seketika menjadi hening. Para tamu yang hadir bahkan tidak ada yang berani berbisik ketika sadar bahwa kekuasaan sang putri ternyata lebih tinggi dibanding ayahnya. Sang raja pun akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan sang putri seorang diri. Sementara Jean yang masih geram, mengepalkan kedua tangannya tak sadar. Dia kemudian memanggil kedua pelayan setianya yang belum sempat memberi salam pada sang raja karena ambisinya untuk melaporkan keadaan rakyat Allegra yang sebenarnya.


"Hector, Silvia, tolong jaga Nyonya Viscountess sebentar," katanya. "Aku perlu membicarakan kebodohan Raja Allegra dengan putri semata wayangnya."


"Tidak, suamiku!" Aby tak mau melepaskan lengan Jean karena takut akan terjadi sesuatu. "Jangan tinggalkan aku!" Kedua matanya menatap tajam pada sang suami tak rela. Wanita itu akhirnya menyadari bahwa Putri Samantha dan Pangeran Jean, memiliki status yang sama tingginya dan jauh lebih tinggi dibanding dirinya yang hanya putri seorang duke. Memandang suaminya yang berdiri di sisi sang putri, membuat hatinya terasa perih. Aby benar-benar takut kehilangan sosok suaminya saat itu.


"Istriku, Nyonya Viscountess yang terhormat, percayalah padaku." Jean akhirnya menyadari bahwa Aby sedang dilanda cemburu buta. Dia kemudian mencium tangan kanan istrinya tersebut untuk meredam api yang membakar hatinya. "Tidak pernah sekalipun terbesit di pikiranku untuk meninggalkanmu meskipun nyawaku ada di ujung tanduk. Aku sudah berjanji padamu di hari pernikahan kita dan tidak akan melupakannya sampai maut memisahkan kita."


'WAAAAHHHH...' semua orang kembali berbisik menyaksikan adegan kisah romantis sebuah opera yang ada di hadapan mereka. Jean seperti tokoh utama pria yang sedang merayu tokoh utama wanita dengan latar taman bunga mengelilingi keduanya. "Bukankah dia itu saudagar kaya raya yang baru-baru ini mendapat gelar bangsawan dari Yang Mulia? Tidak hanya tampan dan kaya, tapi ternyata dia itu pria yang romantis ya! Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya itu? Pasti dia juga bukan wanita sembarangan, kan? Dia adalah putri sulung Duke Brown yang masih sekerabat dengan Yang Mulia Raja. Wah, benar-benar... Wanita berkelas pasti akan mendapatkan pria yang berkelas juga. Aku jadi iri. Iya, ya! Benar sekali!"


Aby benar-benar malu mendengar bisikan orang-orang di sekitarnya. Wajahnya yang merona merah terlihat sekali dari balik topeng keemasannya. Wanita itu ternyata berhasil membuat seekor singa buas bertekuk lutut di hadapannya. Jean yang dikenal selama ini, bukanlah pria yang berhati mulia, bahkan sampai bisa merendahkan tubuhnya di hadapan seorang wanita. Dia adalah tipe orang yang mengandalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Mirip sekali dengan ayahnya yang saat ini telah duduk di singgasana Axton sebagai Raja-Tertinggi.


"Atau jangan-jangan Tuan Besar bermaksud untuk..." Ellgar menggigit bibir karena larut dalam pikirannya sendiri. "Raja Hamlet juga waktu itu... pernah mengatakan hal yang sama pada mendiang istrinya, tapi kemudian..." Ellgar menggeleng. "Tidak mungkin Tuan Besar melakukan hal serendah itu, tapi kalau sifat ayahnya itu juga menurun padanya dan bukan pada Tuan Muda Luce, itu berarti Nyonya Viscountess sedang dalam bahaya."


***