The Second Throne

The Second Throne
The Hoodie One (5)



PEMUDA BERTUDUNG__5th Part


Luce terperangah, tapi meskipun itu benar. Yang di hadapannya juga berstatus sebagai raja. Dia tak bisa menyangkalnya hanya karena status Devian sebagai seorang anak. Luce akhirnya berdiri ketika pintu perpustakaan tiba-tiba terbuka. Pria lain berambut hitam-panjang menyambut mereka berdua. Dia adalah Frederick Rainar, sang Penasehat Agung. Pakaiannya yang terbuat dari sutera dan bermotif naga, berwarna biru dengan lis perak di beberapa bagian. Pria itu juga membawa kipas besar yang senada dengan warna pakaiannya. Dia menepuk kepala Devian dengan kipas tersebut kemudian.


"Kau apakan tamuku hingga dia terlihat frustasi seperti itu?" tanyanya saat Devian melenguh kesakitan.


"Maaf, Paman Rick," Devian berkilah. "Tadi dia tersesat, jadi aku berniat mengantarkannya kemari sambil menunjukkan beberapa hal yang bisa mengembalikan ingatannya waktu kecil. Tapi sepertinya, itu sia-sia."


"Sekarang pergilah. Biar aku yang mengurus sisanya," Rick melambaikan kipasnya pada Devian sebagai isyarat untuk meninggalkannya sendiri dengan Luce.


"Aku pergi dulu, Adik ipar," Devian menepuk bahu Luce sambil tersenyum hangat. "Cari aku jika kau memerlukan bantuan atau tersesat seperti tadi."


Luce menyambutnya dengan anggukan kecil. Masih terasa tepukan hangat seorang saudara yang tidak pernah dia dapatkan di Alcander dulu. Kalaupun dia memiliki seorang kakak, menemuinya saja begitu sulit. Sama seperti menemui mendiang ibunya yang telah tiada. "Kalau sejak awal memang begini, kenapa dulu ayahanda sampai mengeksekusiku?" Luce membatin. Netranya tampak sendu mengingat peristiwa yang dialaminya itu. "Sayangnya aku sama sekali tak ingat apa yang telah membuatku berkhianat waktu itu. Aku masih terlalu kecil. Yang kuingat hanya wajahnya yang diam melihat seluruh keluarganya dieksekusi."


"Masuklah dulu ke dalam," Rick membuyarkan lamunan Luce ketika Devian telah pergi meninggalkan mereka berdua. "Aku akan memberimu beberapa buku untuk melupakan sejenak kesedihanmu itu."


Luce akhirnya masuk ke ruang perpustakaan yang merupakan bagian dari Paviliun Naga tersebut. Di dalamnya, pemuda itu dipersilahkan duduk pada kursi yang mejanya telah tersedia satu teko teh mawar, sepiring biskuit, dan semangkuk buah persik berwarna merah muda. Beberapa buku bersampul cokelat diletakkan juga di meja tersebut, sementara yang lain berjajar rapi pada rak kayu setinggi dua meter. Pemandangan yang tidak asing bagi Luce, tapi tetap saja pemuda itu tak bisa mengingat apa yang telah dilakukannya dulu di tempat itu.


"Itu pasti ingatan yang paling tidak ingin kuingat," batin Luce sambil mengambil sebuah buku kemudian membaca lembaran demi lembaran. Tak begitu menarik, buku itu hanya berisi tulisan mengenai Tata Kelola Perpustakaan yang ditulis tangan oleh salah satu pegawai kerajaan.


"Sepertinya kau tak kehilangan kemampuanmu untuk hidup," Rick mendekati meja dan menuangkan secangkir teh untuk Luce kemudian duduk dan mengunyah beberapa biskuit sekaligus. "Kau masih bisa bertarung, masih bisa membaca, dan bicara layaknya seorang pangeran."


"Apa aku terlihat seperti itu di mata kalian?" tanya Luce sembari meletakkan kembali bukunya. Dia membuka tudung putih yang menutupi sebagian besar rambut hitamnya--sangat kontras dengan kedua mata birunya. "Sudah sepuluh tahun aku tinggal di jalanan. Selama itu juga aku hidup sebagai seorang kriminal. Mereka memang menahanku di ruangan khusus, tapi mereka tak bisa menolakku untuk mengendalikan mereka. Semakin lama, kriminal yang bekerja sama dengan kerajaan untuk mengekangku, sekarang berbalik melayaniku seperti seorang majikan saja. Ternyata waktulah yang telah membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku harap kau juga menyadari itu, Penasehat Agung."


"Panggil aku Paman," katanya sambil mengunyah. "Aku adalah kakak tertua dari Yang Mulia Ratu Giselda. Kau dan aku masih sekerabat. Tidak perlu sungkan begitu. Ceritakan saja apa yang ada dibenakmu padaku. Aku seorang Penasehat Agung. Bukan hanya Raja-Tertinggi yang bisa kuberi nasehat, tapi semua orang. Terutama pemuda yang tidak tahu arah dan tujuan sepertimu."


"Ngomong-ngomong soal yang kau katakan barusan, sejak sepuluh tahun lalu, aku sudah tahu siapa yang benar dan siapa yang salah," Rich mengakhiri senam mulutnya dengan minum teh kemudian menyalakan pipa tembakau. "Ellgar mungkin tak memberitahumu apa-apa karena menganggap kau masih terlalu muda. Tapi sebentar lagi kau akan memasuki usia enam belas tahun dan pada usia itu, semua anggota keluarga raja berhak mendapatkan upacara kedewasaan. Karena itu, aku perlu memberitahumu beberapa rahasia kecil agar kau bisa melaksanakan tugas dari Yang Mulia dengan tenang."


"Yang Mulia..." Luce menggenggam erat kedua tangannya yang tiba-tiba bergetar. "Paman, bisakah kau memberitahuku bagaimana dia, Raja-Tertinggi kita. Aku benar-benar sangat ingin berterima kasih padanya secara langsung. Bahkan meskipun aku tak tahu rahasia macam apa itu, aku akan tetap melaksanakan tugas darinya. Aku bahkan berpikir untuk melayaninya seumur hidupku karena tak tahu lagi bagaimana cara membalas kebaikannya."


Rick menegakkan tubuhnya yang sedikit condong ke arah Luce. Dia tahu benar, Luce tidak berdusta. Bisa dibilang kalau pemuda itu mengatakan semua kalimat itu dari lubuk hatinya yang terdalam.


"Bisa memiliki pelayan yang setia dan abadi seperti dia merupakan keuntungan terbesar bagi Axton," pikir Rick sambil bertopang dagu. Netranya tak luput dari wajah sedih Luce yang sedang meratapi nasib. Dia bahkan tidak bisa membendung air matanya ketika menyadari apa yang telah dan akan ditempuh keponakannya itu karena terbebani kekuatan yang sangat besar. Bahkan lebih besar dari keseluruhan kekuatan yang ada pada masa itu.


"Kau bertanya tentang bagaimana Yang Mulia Raja-Tertinggi?" Rick menjawab. "Baiklah aku akan memberitahumu sedikit tentangnya. Seperti yang kau tahu, dia sosok yang misterius. Tidak seorangpun di sini pernah menemuinya. Lebih tepatnya, Raja-Tertinggi tidak ingin menemui siapapun kecuali aku dan Yang Mulia Ratu. Bahkan Devian dan Illiana pun sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya sejak Devian diangkat menjadi Raja-Muda. Raja-Tertinggi hanya menjadi sebuah simbol saja sementara yang bertanggung jawab atas sistem pemerintahan di Axton adalah Raja-Muda."


"Jadi orang yang aku temui sebelum Paman tadi benar-benar bukan raja yang sesungguhnya?" Luce menepuk dahinya. Dia merasa konyol karena telah membungkuk di hadapan Devian dan mengira kalau dia adalah Raja-Tertinggi. "Padahal tadi dia sudah menjelaskan, tapi aku masih saja tidak mempercayainya."


"Dan lagi, apa maksud orang itu memanggilku adik ipar tadi," dalam batinnya Luce mendengus kesal dan semakin kesal ketika Rick menahan tawanya seolah tahu apa yang sedang dia pikirkan.


"Tapi jika kau beruntung, Raja-Tertinggi akan memintamu untuk menemuinya sendiri," Rick menepuk bahu Luce setelah meletakkan pipa tembakaunya, membuat asap tipis memenuhi hampir seluruah ruang perpustakaan.


"Aku rasa aku tidak mungkin seberuntung itu untuk saat ini," ucap Luce. "Jika Paman menemuinya nanti tolong beritahu pada Yang Mulia kalau aku sangat berterima kasih padanya karena memberi kesempatan kedua untukku hidup."


*bersambung ke part berikutnya