
PANAH PERAK_8th Part
Segerombol pria bertampang sangar tiba-tiba masuk ke dalam kedai dan mulai mengobrak-abrik semuanya. Mereka menendang kursi kosong dan membalikkan meja padahal ada orang lain yang sedang makan di tempat itu. Terence sampai berdiri saking kesalnya. "Jangan melakukan apapun. Itu bukan urusan kita," Luce melarang. "Tak satupun orang di sini berani berurusan dengan gerombolan itu, pastinya mereka memiliki peran penting di desa ini."
"Mereka itu cuma berandalan yang suka memalak orang-orang tak berdaya. Mereka sebenarnya tidak butuh uang itu. Mereka hanya bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Aku tahu itu karena aku pernah melakukannya," Terence menjelaskan dengan geram, membuat Luce menggeleng tidak setuju.
"Tenanglah, Terence. Kita butuh kepingan untuk membayar makanan ini, bukan?" Luce mengambil jubah barunya di atas sandaran kursi. "Biar aku yang mengurus semuanya. Kalian cukup duduk di sini dan menonton. Oh ya satu lagi," pemuda itu menunjuk jendela terbuka yang ada di belakang tempat duduk Terence. "Begitu aku melemparkan kepingan dari jendela ini, segera bayar makanannya dan tunggu aku di sisi utara desa."
Eleanor dan Terence saling pandang tak mengerti, tapi keduanya memaksakan diri untuk menurut. Luce kemudian pergi ke luar kedai dan menghilang untuk beberapa waktu sebelum kedai kembali ribut oleh orang-orang yang berhasil merampas uang dari pemilik kedai. "Kita mendapatkan sepuluh keping emas," seseorang berkata pada pria kasar yang tubuhnya dua kali lebih besar dan berotot dari Terence. Dia kemudian menenteng kantong kain berwarna cokelat yang diberikan oleh anak buahnya tersebut dengan bangga.
"Setidaknya kita bisa berpesta semalaman dengan ini," katanya setengah berbisik. Pria kasar itu berjalan keluar dari kedai tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Para pengikutnya juga melakukan hal yang sama seolah hanya dengan hasil rampasan mereka yang tak seberapa hari itu, sudah bisa hidup tenang bak di surga. Terence hampir tak tahan untuk menghajar mereka. Dia terus menggenggam pangkal pedangnya dengan tangan gemetar, sementara Eleanor berusaha mencegahnya untuk melakukan sesuatu di luar perintah Luce.
"Yang benar saja. Tuan Besar meminta kita untuk terus menjaga dan mengawasinya karena dia adalah tahanan kita," ucap Terence kesal. "Dan sekarang bocah itu berlagak seperti bos dan mulai memerintah kita," pria itu menepuk dahinya. "Apa kau tak sadar kalau dia sudah mulai mendominasi semua hal sejak kedatangan kita di desa ini. Cepat atau lambat kita benar-benar akan jadi salah satu pelayannya."
Eleanor mengusap punggung Terence untuk menenangkannya. "Kita tunggu saja, apakah dia benar-benar akan melempar kepingan emas pada kita lewat jendela ini."
"Terence!" seorang pemuda bertudung tiba-tiba berteriak dari luar jendela. Dia meletakkan sebuah koin emas yang dia curi dari salah satu preman, di ambang jendela dan melesat bagai angin. Gerombolan pria bertampang sangar yang baru saja keluar dari kedai tadi berlari mengejar pemuda tersebut yang ternyata adalah Luce. Sang pria kekar berteriak, "Kembalikan kantongku!"
"Kau menginginkan ini?" Luce berdiri di atas sebuah gerobak jerami dengan tawa nakalnya. Sedangkan Eleanor mengingatkan Terence untuk segera menggunakan kepingan emasnya untuk membayar apa yang sudah mereka makan dan segera pergi menyiapkan kedua kuda mereka yang sudah dititipkan di sebuah istal dekat dengan kedai tersebut. "Bocah itu akhirnya menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya," ucap Terence kemudian.
Setelah tahu bahwa Eleanor dan Terence telah menunaikan tugas mereka dengan baik, Luce memulai aksinya dengan melempar kantong yang direbutnya ke wajah pria kekar. "Kau kemanakan sepuluh keping emasku?" tanyanya dengan wajah marah. Dia kemudian berteriak keras setelah Luce menaikkan bahunya, "Hajar bocah bertudung itu!"
"Baiklah, aku akan mengembalikan semua kepingan emasnya kalau kalian bisa menangkapku," pemuda itu menantang ketika sadar bahwa dirinya telah dikepung. Salah satu pria kemudian maju dan melawan Luce dengan golok di tangannya. Luce menghindar sambil menangkap tangan kanan pria tersebut dan memelintirnya ke belakang. Tak hanya itu, Luce juga menendang bokong mereka satu persatu dengan lihainya. Pemuda itu tanpa sadar memperlihatkan wajah aslinya di hadapan semua orang. Pergerakannya yang gesit dan lincah menyingkap tudung jubahnya ke belakang, serta menampakkan simbol Phoenix berwarna kemerahan pada dahinya.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya pria kekar. "Kau bukan warga desa ini. Berani-beraninya mengusik kesenangan kami."
Luce berhenti setelah semua pria yang mencoba menghajarnya berjatuhan ke tanah layaknya orang sekarat. Dia kemudian menjawab, "Apa di antara kalian tidak ada yang mengenal Kelompok Red Phoenix dari Axton? Aku adalah pemimpin mereka. Namaku Lucas Androcles."
"Red Phoenix?" pria kekar mengernyitkan dahinya berpikir. "Aku ingat pernah sekali berhubungan dengan pemimpin kelompok itu, tapi bukan kau, bocah ingusan."
"Apa kau masih tidak mau mengakuinya bahkan setelah aku mengalahkan semua anak buahmu?" Luce berkacak pinggang dan terlihat sangat congkak dengan mendongakkan kepalanya sedikit. Dia kemudian meremas kedua tangannya sambil berkata, "Baiklah, aku akan membuatmu merasakan hal yang sama dengan orang-orang ini."
Luce menyerang pria kekar dengan menggunakan salah satu punggung anak buahnya yang tergeletak sebagai tumpuan untuk melompat. Pemuda itu meraih sebuah kain yang tergantung di atas tempatnya berada untuk menendang wajah sang pria kekar hingga terjengkang. Dia kemudian mendarat dengan cantik tepat di depan pintu kedai. Semua orang di sekitarnya tiba-tiba bertepuk tangan mengetahui bahwa Luce berhasil mengalahkan semua preman tersebut seorang diri. Pemuda itu melempar kantong emas pada pemilik kedai sambil berkata, "Mereka semua ini hanya sampah. Mereka bahkan tidak pantas melawanku sedikitpun. Lainkali kau harus melunasi hutangmu pada mereka sebelum mereka berbuat hal yang lebih nekad lagi."
Sang pemilik kedai mengangguk, "Terima kasih, Tuan Muda. Saya berjanji akan membayarnya sebelum mereka marah lagi."
"Dan kalian!" Luce mendekati wajah pria kekar yang merah karena terkena serangan sepatu bot milik pemuda itu. "Sebentar lagi Putra Mahkota Alcander, Pangeran Illarion akan tiba di desa ini. Kalau kalian tidak mau dipenjarakan olehnya, lebih baik segera bersembunyilah. Aku tidak akan melaporkan apapun padanya asalkan kalian mau menjaga tingkah laku kalian selama aku tidak ada. Lalu sedikit penjelasan, pemimpin Red Phoenix yang pernah kalian temui sebelumnya adalah pelayanku yang bernama Ellgar Wagner. Jadi mulai sekarang kalian harus ingat wajah dan namaku. Lucas Androcles, kriminal paling dicari di seluruh wilayah kekuasaan Axton."
***